
Setelah mengantar Erina, Doni putar arah, dia tidak langsung pulang, melainkan pergi dulu ketempat favoritnya, yaitu ke club'. Setelah puas minum-minuman, barulah Doni pulang ke rumah, untungnya dia tidak sampai mabuk berat, sehingga dia masih bisa mengemudikan mobilnya.
Sampai di rumah, Dengan langkah sedikit sempoyongan, Doni memasuki rumahnya, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat istrinya sedang duduk di ruang tamu, selama ini Maya tidak pernah tau jam berapa Doni pulang, lantaran dia sudah tidur lebih awal saat Doni pulang. Namun kali ini, entah apa yang membuat Maya sanggup menahan rasa kantuknya demi menunggu Doni pulang.
"Sayang, kok kamu belum tidur?" tanya Doni sedikit gugup.
"Pintar kamu ya pa, kamu suruh aku tidur, supaya kamu bisa bersenang-senang diluar sana. Keterlaluan kamu pa!" bentak Maya, yang terlihat sangat marah dengan Doni.
"Sayang, kamu bicara apa. Siapa yang bersenang-senang? kan aku sudah bilang, aku ada rapat mendadak dengan beberapa klien. Sayang lupa ya?"
"Saya gak lupa pa, tapi saya bodoh. Karena sudah percaya begitu saja sama papa. Kamu bilang ada rapat, saya tanya sama siapa, kamu bilang sama pak Budi juga. Tapi saya tadi telpon istrinya, katanya tidak ada rapat sama sekali malam ini, pak Budi pun ada dirumah. Jadi kamu pergi kemana pa? jawab, kamu pergi kemana pa sampai pulang larut malam begini?"
Doni yang sedikit pusing karena habis mabuk, membuatnya semakin bingung mau menjawab pertanyaan Maya. Dia pun diam sesaat, berfikir sejenak untuk mencari alasan yang bisa membuat Maya percaya padanya.
"Kok diam, bingung ya mau jawab apa?" gerutu Maya.
"Bukan bingung sayang, aku hanya sedang mikirin kamu, aku kasian sama kamu, gak tidur cuma untuk menungguku. Harusnya kamu tidak perlu seperti ini, jaga kesehatan kamu sayang, kamu tidak biasa tidur malam, aku takut kamu sakit. Pak Budi memang tidak jadi ikut, hanya aku yang berangkat menemui klien. Aku pulang malam juga karena sehabis rapat para klien mengajak bersenang-senang sebentar ke club' sekedar ngobrol dan cari hiburan untuk menghilangkan stres. Itu aja," Doni berusaha meyakinkan Maya dengan kebohongannya.
"Aku tidak percaya pa, sama sekali tidak percaya. Aku sudah terlanjur kecewa sama papa, bukan hanya sekali dua kali kamu pulang larut malam dan pergi sesukamu entah kemana, dengan siapa. Aku tegaskan sekali lagi pa, aku diam bukan berarti aku terima pa kamu giniin aku, aku diam demi Amanda. Tapi perlu kamu ketahui, sabar ku juga ada batasnya, camkan itu pa!" ucap Maya yang langsung pergi ke kamar dan mengunci kamarnya dari dalam.
Doni berusaha mengejar Maya, mengetuk pintu meminta Maya untuk membukakan pintu. Namun Maya tidak menghiraukan Doni, dia yang masih kesal dengan tingkah Doni, tetap tidak mau membukakan pintu. Akhirnya Doni pun terpaksa tidur di sofa, di ruang tengah.
Paginya, Doni terlihat sangat buru-buru. Maya sengaja tidak membangunkannya dan juga tidak menyiapkan segala keperluan Doni. Doni pun terlihat sangat kacau, Maya hanya bersantai menemani putrinya sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
"Ma, kok papa gak dibangunin sih?" ucap Doni yang baru menuju ke meja makan untuk sarapan.
"Amanda aku yang antar, yuk sayang," ucap Maya yang langsung mengajak putrinya berangkat ke sekolah, tanpa memperdulikan Doni. Namun Amanda tetap saja tidak bisa mengabaikan Doni, dia yang sangat menyayangi Doni, tetap berpamitan terlebih dulu pada ayah sambungnya itu.
"Pa, Amanda berangkat dulu ya pa," ucap Amanda sambil mencium tangan Doni.
__ADS_1
"Iya sayang, hati-hati ya. Nanti pulangnya papa jemput ya,"
"Gak usah, mulai sekarang aku yang akan antar jemput Amanda. Kamu urus saja urusanmu. Yuk sayang," tegas Maya yang langsung menggandeng tangan Amanda.
Doni pun hanya bisa terdiam dengan perlakuan Maya, dia tidak berani berbicara lagi ataupun memaksa kehendaknya, dia tidak mau kalau sampai Maya semakin emosi dan lebih membencinya, karena itu bisa berakibat fatal untuknya. Dia bisa kehilangan semuanya dalam sekejap kalau sampai Maya benar-benar membencinya dan tidak lagi membutuhkannya.
Beberapa hari kemudian, seperti biasa, pagi-pagi Erina pergi bersepeda keliling perumahan, sudah beberapa hari ini dia selalu sendiri, karena setelah sembuh dari sakit, Rossa jarang keliling perumahan, dia hanya berolahraga lari pagi disekitar rumahnya, dia tidak mau kalau sampai jatuh sakit lagi karena kecape'an.
Erina terus mengayuh sepedanya sambil matanya melihat kesana-kemari, lagi-lagi dia tidak melihat Dilan. Sudah jelas dia sangat merindukan Dilan, laki-laki yang sangat dia cintai. Erina mengayuh sepedanya menuju jembatan tempat favorit Dilan, berharap Dilan ada disana. Namun sesampainya disana, suasana sepi, tidak ada satu orang pun. Erina menaruh sepedanya, dia berjalan ke pinggir jembatan. Menyaksikan derasnya air yang mengalir dibawah jembatan. Tidak terasa air mata Erina menetes.
"Kak Dilan, kamu kemana...hanya sebatas ini kah cintamu. Kamu payah, kenapa kamu gampang menyerah. Mungkin memang kamu tidak serius cinta sama aku, sedang q terlalu berharap sama kamu," ucap Erina lirih.
"Kayaknya ada yang kangen nih sama aku," ucap Dilan yang sudah berada di samping Erina.
"Kak Dilan...?" Erina hampir tidak percaya melihat Dilan sudah berada disampingnya.
"Kamu kemana aja kak Dilan, aku kangen," ucap Erina manja.
"Aku gak kemana-mana sayang, aku selalu dekat, dekat sekali. Bisa kan kamu merasakannya, disini, di hatimu," bisik Dilan lembut.
"Iya bisa, aku bisa merasakannya, rasanya dekat, dekat sekali. Tetaplah disini kak, di hatiku, jangan kemana-mana," ucap Erina yang terus memeluk erat tubuh Dilan.
Rasanya Erina tidak ingin lagi melepaskan pelukan Dilan, pelukan yang sangat dia rindukan, pelukan yang terasa hangat, nyaman dan mampu menenangkan hatinya.
"Kak Dilan?" panggil Erina manja.
"Ya?"
"Kamu beneran mencintaiku?"
__ADS_1
"Sangat, sangat-sangat mencintaimu," jawab Dilan dengan penuh keyakinan.
"Tapi aku tidak sempurna, aku banyak kekurangan, aku juga punya masa lalu yang suram. Aku yakin,kamu tidak akan bisa menerima masa laluku," Erina berusaha mengungkapkan apa yang selama ini membuatnya ragu untuk menerima Dilan dalam hidupnya, dia takut Dilan tidak mau menerimanya setelah tau masa lalunya.
"Aku tidak perduli dengan masa lalu mu, yang aku tau aku mencintaimu dan jangan pernah biarkan masa lalu mu mengambil kebahagiaanmu. Teruslah melangkah ke depan, karena kebahagiaanmu ada di depan. Cukup jadikan masa lalu mu sebagai pengalaman sekaligus pelajaran berharga untukmu," Dilan terus berusaha meyakinkan Erina, agar Erina tidak meragukan lagi ketulusan cintanya.
"Entahlah, aku tetap tidak yakin kamu mau menerimaku,"
"Kalau kamu masih juga ragu, kamu bisa ceritakan masa lalu mu, maaf bukan aku mau ikut campur, tapi itu semua untuk kebaikan kita, kamu bisa lega setelah menceritakan semua dan aku janji apapun masa lalu mu aku akan terima, karena memang aku tidak perduli dengan masa lalu mu,"
"Baiklah, aku akan cerita. Tapi tidak sekarang. Sudah siang, aku harus pulang, nanti Tante Rossa mencari ku,"
"Ya udah, gak pa-pa lain kali aja. Pulanglah,"
"Gimana aku bisa pulang kalau kak Dilan masih terus memelukku,"
"Entahlah, rasanya berat melepasmu,"
"Aku kan cuma mau pulang, bukan mau ke pelukan orang lain," gurau Erina yang membuat Dilan langsung melepaskan pelukannya.
"Nakal kamu ya," ucap Dilan sambil memencet hidung mancung Erina.
"Ya udah, aku pulang ya. Bye..."
"Bye sayang, I love you,"
"I love you too,"
Erina pun pergi dengan senyum cerah diwajahnya, rasa rindunya yang selama ini membelenggunya, kini telah terobati, akhirnya dia bisa bertemu dengan pujaan hati yang sangat dia cintai dan yang juga mencintainya setulus hati.
__ADS_1