
Seperti biasa, Erina bangun pagi-pagi. dia sudah bersiap-siap untuk melakukan lari pagi dengan Rossa, olahraga yang rutin dia lakukan bersama Rossa di pagi hari. Setelah beberapa menit menunggu Rossa, namun Rossa tidak juga keluar dari kamarnya. Erina pun mendatangi Rossa di kamarnya.
"Tok...tok, Tante...Tante Rossa?"
" Masuk sayang," jawab Rossa dari dalam kamar.
Erina pun masuk ke dalam, dilihatnya Rossa masih berbaring di tempat tidurnya dan masih memakai selimut.
"Loh, Tante kok masih tiduran. Tante kenapa? Tante sakit ya Tan, apa perlu aku panggilkan dokter?"
" Tidak usah sayang, Tante gak apa-apa, Tante hanya merasa sedikit pusing aja, Tante mau minum obat saja. Bisa tolong kamu ambilkan obat sakit kepala dan segelas air untuk Tante?"
"Iya Tante, sebentar ya Tan,"
Setelah memberikan obat pada Rossa, Erina pun menyuruh Rossa istirahat lagi dan berniat menjaga Rossa dikamar, sewaktu-waktu Rossa membutuhkan sesuatu.
"Tante istirahat aja, biar Erina jagain. Tante tinggal bilang aja kalau butuh apa-apa,"
"Gak usah sayang, kamu gak perlu jagain Tante, Tante baik-baik saja. Gak pa-pa, kamu pergi saja olahraga sana, iya,Tante mau istirahat saja. Gak pa-pa kan kalau kamu olahraga sendiri?"
"Gak pa-pa Tan, tapi beneran nih Tante gak pa-pa Erin tinggal?"
"Gak pa-pa sayang, Tante baik-baik saja, pergilah kalau mau pergi. Beneran, Tante gak pa-pa sayang,"
"Oke, Erin tinggal dulu ya Tante. Erin udah ikut-ikut kebiasaan nih Tan, gak segar kalau gak olahraga dulu. Bye Tan,"
"Bye sayang, hati-hati ya,"
"Ya Tante," timbal Erina yang sudah melangkah keluar pintu.
Erina sudah berada diluar rumah, dia memandang cuaca hari ini sangat cerah. Anak buah Rossa yang sudah standby di teras rumah, sudah paham kegiatan Erina di pagi hari, yakni olahraga lari pagi.
"Kok sendiri non, Bos gak ikut?"
"Enggak, dia lagi gak enak badan,"
"Apa perlu kami mengawal non Erin?"
"Tidak perlu, aku hanya keliling sekitar sini aja,"
Baru mau melangkah memulai lari paginya, tiba-tiba Erina teringat sepeda Rossa yang diletakkan di garasi, dia pun jadi berubah pikiran. Erina jadi ingin bersepeda, karena sudah lama sekali dia tidak mengendarai sepeda. Dia pun bergegas pergi ke garasi untuk mengambil sepeda Rossa. Mereka berdua tidak pernah bersepeda, karena Rossa hanya mempunyai satu sepeda, jadi mereka lebih sering olahraga lari pagi. Selain karena itu, Rossa juga memang sangat menyukai olahraga itu.
__ADS_1
"Lho non, kok jadi naik sepeda?"
"Iy, pengen aja,"
"Hati-hati non,"
"Ya, makasih ya," jawab Erina yang sudah langsung menaiki sepedanya.
Erina begitu menikmati olahraganya, dia mengayuh sepedanya perlahan, menikmati udara segar pagi hari.
"Hai Rin, tumben naik sepeda?" sapa salah seorang warga sekitar, yang sudah paham dengan Erina, lantaran hampir setiap pagi mereka bertemu.
"Hai mbak, iya nih lagi pengen aja," jawab Erina sambil terus mengayuh sepedanya.
Setelah beberapa menit, sampailah Erina disebuah pertigaan jalan. Tanpa Erina duga, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor melaju dengan sangat kencang dari arah berlainan, hampir saja Erina tertabrak sepeda motor itu, untung saja dia berhasil menghindar. Sehingga sepeda motor itu hanya menyerempetnya. Namun tetap saja itu membuat Erina terjatuh dari sepedanya. Namun malang, pengendara motor itu bukannya menolongnya justru malah pergi berlalu tanpa menghiraukan Erina.
"Aw..." Erina mengeluh kesakitan.
Ternyata lutut Erina terluka sampai berdarah, membuatnya kesakitan dan susah untuk berdiri. Erina masih tetap duduk di tanah sambil terus memperhatikan sebagian luka yang ada di kaki dan tangannya. Tiba-tiba saja datang seseorang yang kemudian mengulurkan tangan, berniat membantunya berdiri.
Erina tidak langsung menyambut uluran tangan orang itu, dia menoleh ke arah orang itu yang ternyata dia adalah seorang pemuda yang sangat tampan, yang seketika membuatnya terpana dan tidak berhenti menatapnya.
"Yuk, mari ku bantu," ucap pemuda itu, yang membuat Erina tersadar seketika.
Pemuda itu lalu mengajak Erina duduk di tempat yang lebih nyaman, dia memakai handuk kecil yang dia bawa untuk membersihkan darah yang ada di lutut dan siku Erina.
"Aw...sakit, pelan-pelan dong,"
"Iya, ini juga sudah pelan. Kamu saja yang lebay,"
"Aw, sakit beneran tau. Kamu lagi bersepeda juga," tanya Erina yang melihat sepeda pemuda itu.
"Iya, rumahku sekitar sini,"
"O ya? tapi kok aku gak pernah lihat kamu,"
"Aku baru saja selesai kuliah di Amrik, aku baru pulang beberapa hari lalu dan baru ini juga aku bersepeda keliling perumahan,"
"Oh...gitu, pantas gak pernah lihat,"
"Oh ya, kenalin aku Dilan," ucap Dilan sambil mengulurkan tangannya mengajak Erina bersalaman.
__ADS_1
"Erina," jawab Erina yang lalu menyambut uluran tangan Dilan.
"Kamu tinggal dimana?"
"Sekitar sini juga,"
"Oh ya?
"Iya, aku tinggal dengan tanteku,"
Dilan membersihkan darah di lutut Erina dengan sangat hati-hati, sementara Erina terus saja memperhatikan wajah Dilan yang membuat matanya tidak berkedip. Ketampanan Dilan benar-benar membuat Erina terpesona, selain itu, Dilan juga sepertinya sosok laki-laki yang lembut dan penyayang.
"Bagaimana ceritanya kok kamu bisa sampai terjatuh?" tanya Dilan, yang tidak dijawab oleh Erina, karena Erina masih sibuk memandangi wajah Dilan yang sangat tampan itu, sampai membuatnya tidak sadar kalau Dilan mengajaknya bicara.
"Erin?" panggil Dilan sambil menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Erina yang seketika membuat Erina tersadar dari lamunannya.
"Eh iya, apa? kamu ngomong apa tadi?"
"Aku tanya, bagaimana kok kamu bisa sampai terjatuh? kamu kenapa liatin aku, aku tampan ya? jangan heran, emang udah dari dulu aku tampan,"
"Ih, siapa yang liatin. Aku tadi keserempet motor, tapi bukannya ditolong, tapi malah orangnya kabur, nyebelin banget tu orang," gerutu Erina.
"Makanya, lain kali hati-hati. Lihat Kanan kiri kalau bersepeda, untung cuma keserempet. Kalau ketabrak, bisa luka parah kamu. Apalagi kalau lukanya di wajahmu, sayang banget, lukanya bisa merusak wajah cantikmu,"
Erina hanya tersenyum mendengar ucapan Dilan. Namun dibalik senyumnya, jelas terlihat kalau hatinya sedang berbunga-bunga saat Dilan mengatakan kalau dia cantik.
Setelah beberapa menit, akhirnya Dilan selesai membersihkan luka Erina. Kemudian Dilan pun ikut duduk di sebelah Erina.
"Mending sekarang kamu pulang, cuci lukamu lalu beri obat. Aku antar kamu pulang ya,"
"Nanti ah sebentar lagi, aku masih ingin menghirup udara segar di pagi hari,"
"Alah... bilang aja kamu masih ingin denganku kan?"
"Ih...PD banget kamu, aku mau bersepeda lagi,"
"Kamu yakin mau bersepeda lagi? gak sakit emang kakinya?"
"Sakit sih dikit, tapi kayaknya aku masih bisa tahan deh,"
"Boleh aku temani?"
__ADS_1
"Boleh, yuk,"
Mereka berdua pun mengayuh sepeda mereka, menyusuri jalan di perumahan mewah itu. Canda tawa pun mengiringi perjalanan mereka, membuat Erina terlihat sangat bahagia karena dia bisa tertawa lepas.