
Doni benar-benar mulai kehilangan arah, karena setelah menemui Shella di rumahnya, semua tidak sesuai dengan yang Doni harapkan. Dia mengira Shella mau menikah dengannya setelah dia memberi tau kalau dia akan segera bercerai dengan Maya, namun ternyata Shella tetap tidak mau menikah dengannya, dengan alasan belum siap, yang membuat Doni semakin merasa dipermainkan oleh Shella.
Namun Doni tidak menyerah begitu saja, dia yang sudah sangat tergila-gila dengan Shella, tidak pernah putus asa mendapatkan Shella, bagaimanapun caranya.
Sampai suatu hari, Doni tidak sengaja melihat Shella jalan berdua dengan seorang pria dan mereka terlihat sangat mesra, pastilah pria itu Dilan, kekasih Shella.
Tanpa pikir panjang, Doni langsung menghampiri Shella dan Dilan. Dengan penuh amarah, Doni yang dibakar rasa cemburu, langsung melayangkan pukulan ke wajah Dilan, yang membuat Dilan hampir roboh. Belum juga puas, Doni mencoba melayangkan lagi pukulan ke arah Dilan, namun Dilan berhasil menangkisnya dan membalas pukulan Doni berkali-kali, yang membuat Erina hanya bisa berteriak dan berusaha melerai mereka.
"Sudah-sudah cukup. Sayang, sudah sayang," ucap Erina yang berusaha menghalangi Dilan memukul Doni lagi.
"Biar sayang, orang seperti dia harus diberi pelajaran. Sembarangan main pukul orang, memang salah aku apa?" gerutu Dilan yang belum tau kalau itu Doni, mantan pacar Erina.
Selama ini Erina sudah menceritakan semua tentang Doni, namun Dilan belum pernah melihat Doni sama sekali.
"Ohh...jadi ini pacar kamu Shell, hebat kamu ya. Setelah aku berikan semuanya untuk mu, ini kah balasan mu? jadi dia alasan kamu tidak mau menikah dengan ku, keterlaluan kamu Shell!" Doni benar-benar terlihat sangat kecewa dan sakit hati pada Shella.
"Kalau iya kenapa? apa kamu belum juga mengerti, kalau selama ini aku tidak pernah mencintaimu. Maafkan aku, pergilah, cari wanita yang benar-benar mencintaimu dan aku minta jangan pernah ganggu aku lagi, biarkan aku bahagia dengan orang yang aku cinta, aku do'akan kamu pun bahagia kelak, dengan wanita yang benar-benar mencintaimu. Ayo sayang, kita pergi," Erina mengajak Dilan pergi sambil menggandeng tangan Dilan.
"Tunggu Shell, kamu tidak bisa tinggalin aku begitu saja, sudah banyak pengorbananku untuk mu, sampai akhirnya aku diusir istriku dan sekarang kamu dengan mudahnya meninggalkan aku, gak bisa Shell, aku gak terima. Aku gak akan biarkan kamu pergi, kamu hanya milikku, tidak ada yang bisa memilikimu selain aku," ucap Doni sambil menarik tangan Shella dan berusaha membawa Shella pergi dari Dilan.
Dilan yang tidak terima dengan perlakuan Doni pada Erina, langsung menarik tubuh Doni dan kembali melayangkan pukulan ke arah Doni sampai Doni tersungkur, lalu Dilan buru-buru membawa Erina pergi meninggalkan Doni.
__ADS_1
"Shella, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu, kamu hanya milikku. Aku harus bisa mendapatkan kamu bagaimana pun caranya," ucap Doni sambil memegangi wajahnya yang terasa sakit.
Beberapa hari kemudian, ternyata Doni tidak main-main dengan ucapannya. Dia berhasil menculik Shella, saat Shella sedang bersepeda di suatu pagi.
Doni membawa Shella ke rumah yang dia beli untuk Shella dan dirinya. Disitu Doni mengikat kedua tangan dan kaki Shella diatas ranjang.
"Kamu benar-benar sudah gila Doni, lepaskan aku! aku bilang lepaskan aku!" teriak Shella yang tidak dihiraukan oleh Doni.
"Apa? lepasin kamu? dengar aku Shella, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan mu, karena kamu hanya milikku," ucap Doni sambil mencium kening Shella, yang membuat Shella merasa sangat risih.
"Aku akan pergi sebentar beli makanan sayang, kamu baik-baik dirumah ya," ucap Doni sambil menutup mulut Shella menggunakan kain, lalu dia bergegas keluar.
Erina tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia terus berusaha melepaskan ikatan tali di tangannya. Setelah beberapa menit akhirnya Erina berhasil melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya, dia lalu buru-buru meraih handphone yang ada disaku celananya, untung saja Doni tidak menyadari kalau dia membawa handphon.
Usai menelepon, Erina menyembunyikan lagi ponselnya. Dia lalu berusaha melepaskan ikatan tali di kakinya. Namun belum sampai terlepas, Doni sudah keburu datang dan langsung mengikat lagi kedua tangan dan kakinya.
"Lepaskan aku Doni! aw...sakit, kamu benar-benar sudah gila Don!" ucap Erina yang mengeluh kesakitan tali yang mengikat tangannya.
"Ya aku memang sudah gila! kamu tau kenapa aku bisa gila? semua ini karena kamu Shell, kamu yang sudah membuat aku gila! sebenarnya aku tidak tega mengikat kamu seperti ini, tapi kamu yang memaksaku melakukan semua ini! seandainya kamu tidak meninggalkanku demi laki-laki lain, aku tidak akan pernah melakukan ini padamu Shell, tidak akan pernah. Sekarang makanlah," ucap Doni sambil menyuapi Shella, namun Shella menolaknya, dia tidak mau membuka mulutnya sedikitpun, membuat Doni semakin marah.
"Baiklah kalau kamu tidak mau makan, kita lakukan hal lain saja," ucap Doni yang tiba-tiba membuka baju Shella.
__ADS_1
"Doni, mau apa kamu. Lepaskan aku Don! jangan coba-coba menyentuhku. Doni, aku bilang lepaskan aku!" Shella terus berontak dan meminta Doni melepaskannya, namun Doni tetap tidak mau menghiraukannya, dia yang sudah kesal dengan sikap Shella tidak perduli lagi dengan permintaan Shella dan justru langsung memeluk Shella.
Tiba-tiba saja Doni terperangah, ketika melihat tanda lahir di punggung Shella, karena itu sama persis dengan tanda lahir yang dimiliki oleh Erina. Doni pun langsung melepaskan pelukannya.
"Tanda lahir itu, kau?" ucap Doni sambil menatap tajam ke arah Shella.
"Ya, aku Erina. Wanita yang telah kamu hancurkan, kamu campakkan dan kamu sakiti berulang kali, sampai dia menderita, sangat-sangat menderita," jawab Erina yang juga menatap tajam ke arah Doni.
"Tidak, tidak mungkin, kamu Shella, kamu bukan Erina. Kamu wanita tercantik yang pernah aku temui, ya kamu Shella kan? jawab aku! kamu Shella kan!" bentak Doni sambil mengguncang tubuh Erina.
Namun tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, ternyata itu Rossa dan beberapa anak buahnya. Tanpa aba-aba lagi dari Rossa, anak buah Rossa pun langsung menghajar Doni, sementara Rossa langsung melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kaki Erina dan langsung membantu Erina memakai lagi bajunya.
Setelah itu Erina pun langsung memeluk Rossa sambil menangis.
"Sudah Sayang, sudah. Jangan menangis ya, tenanglah ada Tante disini, kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Rossa yang lalu melepaskan pelukannya.
"Gak pa-pa Tante, Erin baik-baik saja," jawab Erina sambil mengusap air matanya.
"Bagaimana ini bos? apa kita habisi saja dia?" tanya salah satu anak buah Rossa.
"Jangan! jangan lakukan itu. Tante, Erin minta ampuni Doni, Erin tidak sampai hati kalau Doni harus dihabisi, biarkan dia hidup, dia sudah hancur sekarang. Bagi Erin semua ini sudah cukup, ya Tante?" pinta Erina pada Rossa, agar Rossa mau melepaskan Doni.
__ADS_1
"Ya sudah, Tante lepasin dia. Tapi kalau dia berani berbuat macam-macam lagi sama kamu, Tante tidak akan kasih ampun lagi sama dia. Sudah cukup, lepaskan dia!" perintah Rossa pada anak buahnya untuk melepaskan Doni.
Selanjutnya, mereka pun meninggalkan Doni dalam keadaan lemah tak berdaya. Erina sendiri merasa sangat puas, melihat keadaan Doni saat ini, dia teringat kala dia merintih kesakitan saat kehilangan calon buah hatinya akibat ulah Doni dan penderitaannya saat Doni mencampakkannya, sedang dia sangat mencintai Doni waktu itu. Bagi Erina, ini adalah balasan yang setimpal untuk Doni, akhirnya Doni bisa merasakan penderitaan yang dulu dia alami yang tidak bisa dia lupakan sampai detik ini.