Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 12


__ADS_3

Setiap hari seperti biasa, Erina bangun pagi-pagi, selesai mandi dia langsung sarapan, lalu bersiap-siap pergi kerja. Namun lagi-lagi dia merasa perutnya mual, kepala pusing dan badannya yang terasa lesu dan tidak bersemangat. Sudah beberapa hari ini dia merasakan semua itu, namun dia tetap memaksakan untuk bekerja, karena dia sekarang benar-benar memenuhi kebutuhannya sendiri. Doni pun tidak lagi membantu membayar uang kontrakannya.


Erina pun lagi-lagi berlari ke kamar mandi, setelah merasa agak mendingan dia pun langsung bergegas pergi menuju tempat dia bekerja, yang tidak terlalu jauh dari kontrakannya.


Di tempat kerja, pikiran Erina sangat kacau. Dia takut kalau ternyata dia hamil. Karena semua yang dia rasakan mengarah ke ciri-ciri orang hamil. Tanpa pikir panjang, pulang kerja dia langsung membeli alat tes kehamilan dan setelah dia melakukan pengetesan ternyata benar, dia positif hamil. Erina pun langsung gemetar, dia ketakutan, karena ini baru pertama kali dia alami. Tapi dia juga merasa bahagia, karena ini adalah buah cinta dari hubungannya dengan Doni. Erina pun ingin menjaga sebaik mungkin calon bayi yang ada didalam perutnya.


Selesai mandi, Erina langsung pergi ke klinik terdekat. Dia langsung memeriksakan kandungannya, dia takut terjadi apa-apa dengan kandungannya, karena dia baru mengetahui kalau dia hamil. Dia juga ingin tau berapa usia kandungannya.


Sesampainya di klinik, Dokter langsung memeriksanya lalu menjelaskan bagaimana keadaan kandungannya.


"Kandungan ibu sudah berusia dua bulan, tapi sepertinya kandungan ibu sangat lemah, usahakan periksakan kandungan ibu secara rutin. Hindari stres, kerja berat dan jangan terlalu banyak pikiran. Konsumsi juga makanan yang sehat dan bervitamin. Karena kalau ibu tidak betul-betul menjaganya dengan sebaik mungkin, bisa berakibat buruk, bahkan bisa terjadi keguguran. Mengingat kondisi kandungan ibu yang sangat lemah," ucap dokter yang memeriksa Erina.


Sepulangnya dari klinik, Erina menjadi semakin was-was, dia takut terjadi apa-apa dengan calon bayinya, karena saat ini dia benar-benar sedang banyak pikiran. Dia memikirkan sikap Doni yang tiba-tiba berubah dan hampir tidak pernah lagi menemuinya. Sekarang ditambah lagi dia yang tengah berbadan dua, sementara Doni belum juga menikahinya. Itu semua benar-benar membuatnya stres.


Sudah beberapa kali Erina mencoba menghubungi Doni, tapi Doni tetap tidak mau mengangkat teleponnya. Erina pun benar-benar sangat kesal, dia pun berencana pergi ke kontrakan Rudi untuk menemui Doni secara langsung.


Sementara itu, Doni yang sudah dikejar-kejar para penagih hutang, tidak bisa lagi tinggal dirumah Rudi. Karena hampir setiap hari rumah Rudi didatangi oleh para penagih hutang itu. Doni pun akhirnya menumpang ditempat temannya yang lain, tempat kerjanya pun pindah, dia tidak lagi bekerja di tempat steam motor tempat selama ini dia bekerja. Doni berusaha menghindari orang-orang yang menagih hutang, karena dia tidak mau lama-lama mati dihajar mereka.


Meski ditempat yang baru, namun profesi Doni masih saja sama dengan yang sebelumnya, bekerja di steam motor. Selesai makan siang, dia duduk sejenak sambil menghisap sebatang rokok dengan beberapa teman lainnya. Dia pun menyempatkan menelpon Maya walaupun cuma sebentar, karena dia benar-benar berniat mendekati Maya untuk bisa menikahinya agar bisa menikmati seluruh kekayaan Maya. Sementara Erina benar-benar sudah tidak dihiraukan lagi oleh Doni, mata dan hatinya benar-benar sudah tertutup oleh sosok Maya yang hadir dalam kehidupannya dengan seluruh kekayaannya.

__ADS_1


Sorenya, pulang kerja Erina pun pergi ke kontrakan Rudi dengan menaiki ojek online. Sesampainya di rumah Rudi, dia langsung mengetuk pintu kontrakan Rudi. Tidak lama kemudian Rudi pun keluar, lalu mempersilahkan Erina masuk.


"Ada keperluan apa Rin, tumben jauh-jauh datang kesini,"


"Maaf Rudi mengganggu, aku kesini ingin bertemu doni. Dimana dia, sudah lama dia tidak menemui ku. Makanya aku bela-belain datang kesini, pengen tau apa alasannya tidak pernah menemui ku, aku sudah coba menghubunginya, namun dia tidak pernah mengangkat teleponku,"


"Lho, emang Doni gak bilang kalau dia udah gak tinggal di sini lagi?"


"Maksud kamu apa Rud, Doni gak tinggal disini lagi. Dia gak pernah bilang apa-apa sama aku. Memangnya kenapa dia pindah, kamu kan temannya, kamu juga setiap hari sama dia. Kamu pasti tau, kenapa dan kemana dia pindah,"


Erina terlihat sangat panik, dia takut kalau Doni benar-benar akan pergi meninggalkannya, karena dia sudah tidak pernah lagi menemuinya, bahkan pindah tempat tinggal pun dia tidak memberitahu Erina. Seolah-olah dia sengaja ingin menghindar dari Erina.


Mendengar penjelasan Rudi, Erina pun langsung menangis. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang, dia hanya bisa pasrah dan berharap Doni tidak berniat meninggalkannya. Melihat Erina menangis, Rudi bisa memahami bagaimana perasaan Erina saat ini, pastilah Erina sangat kecewa dengan sikap Doni yang tidak bertanggung jawab, meninggalkan kekasihnya tanpa kabar dan alasan yang jelas. Rudi pun berusaha menenangkan Erina.


"Sudahlah Rin, berhentilah menangis. Aku akan mencari tau dimana Doni tinggal sekarang. Aku juga sangat kecewa dengan sikap Doni, kamu tidak usah khawatir, aku pasti akan membantumu,"


"Terimakasih ya Rudi, aku memang sangat butuh bantuan mu,"


Hari sudah mulai gelap, Erina pun berpamitan pulang. Melihat keadaan Erina yang sedang sedih, ditambah Erina yang juga seorang gadis. Membuat Rudi tidak tega membiarkannya pulang sendirian. Dia pun mengantarkan Erina pulang sampai ke kontrakan Erina.

__ADS_1


"Terimakasih ya Rud, sudah mau mengantar aku pulang. Tapi kamu beneran janji ya, akan bantu aku bertemu dengan Doni,"


"Sama-sama, iya aku janji. Jaga diri kamu baik-baik ya, telpon aku kalau ada apa-apa. O iya, ini ada sedikit uang, bisa untuk bayar kontrakan kamu bulan ini," ucap Rudi sambil menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Gak usah Rudi, aku dan Doni sudah sering merepotkan mu. Aku sudah ada kok untuk bayar kontrakan. Beneran gak usah,"


"Udah terima aja, aku ikhlas kok. Uang kamu bisa kamu pakai untuk keperluan yang lain. Terima ya, aku marah nih kalau kamu tidak mau menerimanya,"


Rudi tetap memaksa Erina menerima pemberiannya, karena dia sangat kasihan dengan keadaan Erina saat ini. Erina pun akhirnya tidak bisa menolak lagi, dia pun mau menerima pemberian Rudi.


"Terimakasih ya Rudi, aku akan selalu mengingat kebaikanmu. Aku pasti akan membalasnya suatu saat nanti,"


"Udah, gak usah balas membalas. Aku ikhlas kok ngasihnya. Aku sudah anggap kamu dan Doni saudaraku sendiri. Jadi lain kali kalau ada apa-apa jangan ragu minta bantuan ku, kalau aku bisa aku pasti membantumu. Ya sudah, aku pulang dulu ya, sekali lagi jaga diri kamu baik-baik. Kamu cewek, kalau bisa jangan sekali-kali keluar malam, bahaya,"


"Iya, sekali lagi terimakasih ya. Kamu juga hati-hati,"


"Oke, da...Rin,"


"Da...,"

__ADS_1


Rudi pun langsung menjalankan motornya pergi meninggalkan Erina. Erina pun langsung masuk ke dalam dengan pikirannya yang masih tertuju pada Doni.


__ADS_2