Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 18


__ADS_3

Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Erina dan Rossa, terlihat seorang laki-laki tinggi, besar, kekar, keluar dari dalam mobil. Laki-laki itu langsung membukakan pintu mobil untuk Erina dan Rossa. Seketika Erina merasa sedikit canggung, karena sepertinya Rossa bukan wanita biasa, semua itu bisa dilihat dari cara anak buahnya memperlakukan dia dan penampilan anak buahnya yang terlihat seram itu.


Rossa langsung mengajak Erina masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Erina hanya terdiam, dia masih merasa bingung dan sedikit takut, melihat dua anak buah Rossa yang duduk di depan.


Hanya beberapa menit mereka sampai di rumah Rossa, karena rumah Rossa hanya disekitaran situ. Mereka langsung turun dari mobil, Erina langsung tercengang melihat rumah Rossa yang begitu besar dan mewah.


"Yuk sayang kita masuk," ajak Rossa.


"Eh, iya Tante," jawab Erina sambil mengikuti Rossa dari belakang.


"Ini rumah Tante, mudah-mudahan kamu betah tinggal di sini,"


"Rumah Tante bagus sekali,"


"O ya? semoga kamu nyaman tinggal di sini, anggap ini rumah kamu sendiri,"


Sesampainya di dalam, Rossa menyuruh Art nya mengantar Erina ke kamar nya, yang sudah ditentukan oleh Rossa kamar yang mana yang akan ditempati oleh Erina, karena masih banyak kamar kosong yang ada dirumah itu. Rossa pun menyuruh Erina mengikuti Art nya dan menyuruh Erina untuk segera mandi.


"Mandilah dulu sana Erin, mandi yang bersih. Lihat, tubuhmu sangat kotor,"


"Iya Tante, Erina memang sangat kotor, bau lagi," ucap Erina sambil meringis.


"Untung saja kamu gak gila. Y sudah, Tante juga mau mandi. Setelah mandi kita ngobrol di teras belakang ya,"


"Iya Tante," Erina pun pergi ke kamarnya dan langsung mandi.


Selesai mandi, Erina keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba mbok Minah, Art Rossa datang dengan membawa beberapa model pakaian yang terlihat sangat berkelas dan juga sedikit seksi. Rossa banyak mengoleksi baju-baju mahal. Saking banyaknya, banyak bajunya yang belum sempat dia pakai, yang jelas muat ditubuh Erina, karena bentuk tubuh mereka hampir sama.


"Ini non, pakaian untuk non Erin. Kata nyonya non Erin disuruh memakainya,"


"Iya mbok, terimakasih ya mbok,"

__ADS_1


"Iya non, kalau begitu saya permisi,"


"Tunggu mbok, saya mau tanya. Tante Rossa itu seperti apa orangnya? siapa dia sebenarnya, kok dia punya anak buah segala, serem-serem lagi,"


"Nyonya orangnya baik, tapi kalau masalah pribadinya nanti non Erina juga tau sendiri. Kalau begitu saya permisi non,"


"Iya mbok, terimakasih ya mbok," jawab Erina yang masih penasaran dengan sosok Rossa. Tapi untuk sementara ini, dia menepis dulu rasa penasaran nya.


Erina pun mulai mencoba-coba pakaian pemberian Rossa. Sepertinya Erina agak bingung memilihnya, dia merasa tidak ada yang cocok untuknya. Karena dia tidak pernah memakai pakaian model berkelas dan mahal seperti itu. Tapi kalau dia tidak memakainya, dia takut Rossa akan tersinggung. Akhirnya dia pun terpaksa memakainya juga meski awalnya ragu-ragu. Tapi begitu melihat dirinya di kaca, dia merasa aneh, dengan hanya memakai pakaian yang diberikan Rossa, membuat penampilannya terlihat sangat berbeda. Dia merasa seperti bukan dia. Erina terlihat lebih masa kini, lebih lincah, seksi, keren dan gak kampungan seperti penampilannya selama ini, yang hanya memakai pakaian yang dia bawa dari desa, yang culun dan sederhana.


Erina memutar-mutar badannya didepan kaca, entah apa yang membuatnya jadi menyukai penampilannya itu. Dia merasa lebih bersemangat dan centil mengenakan pakaian itu.


Erina keasyikan bercermin, sampai dia lupa kalau Rossa mengajaknya ngobrol di teras belakang. Rossa yang sudah menunggu, akhirnya menyusul Erina di kamarnya. Rossa hanya tersenyum ketika melihat Erina yang masih mutar-mutar didepan cermin memperhatikan penampilannya.


"Kenapa? kamu suka dengan penampilan mu seperti ini?"


"Eh Tante, o iya, Erina lupa. Kita kan mau ngobrol ya Tan, maaf Tante Erina benar-benar lupa,"


"Suka tante,"


"Bagus kalau kamu suka, kamu juga terlihat sangat cantik memakainya. Udah selesai kan bercermin nya, kita ngobrol-ngobrol dulu yuk,"


"Iya Tante, yuk,"


Mereka berdua pun menuju ke teras belakang, disana ada ranjang yang sangat besar dengan kasur busa yang sangat empuk dan lembut, sehingga membuat suasana terasa sangat nyaman. Rossa mengajak Erina bersantai diatasnya, sambil ngobrol. Disebelah ranjang ada meja yang sudah penuh dengan makanan ringan dan minuman yang sudah disiapkan oleh mbok Minah.


"Jadi gimana ceritanya sampai kamu bisa jadi gelandangan seperti itu?" tanya Rossa yang langsung memulai obrolan mereka, sambil mengambil sebatang r***k lalu menghisapnya.


"Tante Rossa mer***k?" tanya Erina yang kaget melihat Rossa mer***k.


"Oh, maaf. Kamu tidak suka asap r***k ya. Ya sudah, aku matiin ya," ucap Rossa yang langsung akan mematikan api yang ada di r***knya. Tapi Erina buru-buru melarangnya.

__ADS_1


"Gak usah Tante, gak usah dimatikan. Gak pa-pa, aku sudah terbiasa menghirup asap r***k, karena pacar aku dulu kuat banget mer***k,"


"O ya, jadi kamu punya pacar?" Rossa pun tidak jadi mematikan r***knya, dia menghisap lagi r***knya. Dia pun siap mendengarkan cerita Erina, bagaimana keadaannya bisa seperti sekarang ini.


"Punya, tapi sekarang gak lagi," jawab Erina.


Belum juga Erina memulai ceritanya, dia sudah menangis lebih dulu. Dia benar-benar masih merasakan sakitnya, menderitanya dia akibat ulah Doni. Rossa pun meletakkan r***knya, lalu memeluk Erina.


"Sudah-sudah, gak usah nangis. Sepertinya kamu benar-benar sangat menderita. Kalau kamu belum siap untuk cerita gak pa-pa, lain kali aja kamu ceritanya,"


"Gak pa-pa Tante, aku akan cerita semua yang aku alami. Aku ingin meluapkan semua itu, karena aku sudah tidak tahan memendam itu sendiri. Aku akan cerita Tante, tapi bisakah Tante tetap memelukku sampai aku selesai cerita," pinta Erina pada Rossa, karena dia benar-benar butuh kekuatan untuk menceritakan semuanya.


"Iya, aku akan tetap memelukmu. Mulailah cerita, aku mendengarkan mu," jawab Rossa yang masih tetap memeluk Erina.


Erina pun memulai ceritanya. Dari pertama kali dia mengenal sosok Doni, sampai pada akhirnya dia dicampakkan oleh Doni, setelah dia memberikan semuanya pada Doni dan rela meninggalkan kedua orang tuanya hanya untuk bisa bersama dengan Doni. Tapi bukan kebahagiaan yang dia dapatkan, justru penderitaan dan rasa sakit yang begitu dalam dia rasakan.


Setelah menceritakan semuanya, tangis Erina semakin menjadi. Dia benar-benar ingin mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya yang selama ini dia rasakan.


"Menangis lah Erin, menangis lah sepuas mu, keluarkan semua yang kamu rasakan, sudah cukup kamu memendam itu sendirian, ada Tante disini yang akan mendengar semua keluh kesah mu,"


"Sakit Tante... rasanya sakit sekali...aku gak sanggup lagi Tante...aku lelah...lelah dengan semua ini... kenapa nasibku semalang ini Tante... kenapa?"


"Ya sudah, sekarang jangan menangis lagi ya, hapus air matamu. Laki-laki seperti Doni tidak pantas kamu tangisi. Bukan cuma kamu saja yang merasakan sakit yang teramat sangat, Tante pun pernah mengalami hal yang sama seperti mu,"


"Benarkah Tante? Tante juga mau cerita kan sama Erin. Tentang masa lalu Tante,"


"Gimana mau cerita sama kamu, kalau kamu nya masih mewek gini,"


"Iya deh, Erin gak nangis lagi. Erina capek nangis terus Tante," ucap Erina sambil melepaskan pelukan Rossa, lalu mengusap air matanya dan berusaha tidak menangis lagi.


Sementara itu, Rossa mengambil lagi r***knya dan mulai menghisapnya lagi. Rossa benar-benar wanita kuat, Meskipun dia seorang wanita, dia sama sekali tidak menangis mendengar cerita Erina.

__ADS_1


__ADS_2