
Empat bulan berlalu, inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh Erina. Setelah melewati proses yang panjang, akhirnya dia benar-benar siap untuk menemui Doni lagi. Setelah melalui berbagai macam perawatan di seluruh tubuhnya, Erina kini benar-benar menjelma menjadi sosok Erina yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Penampilannya benar-benar berubah total.
Sebelum memulai rencananya mendekati Doni, Rossa memberi tau Erina terlebih dulu semua tentang kehidupan Doni saat ini. Anak buah Rossa telah mendapatkan informasi lengkap tentang Doni, sehingga mempermudah Erina untuk menjalankan rencananya untuk mendekati Doni. Rossa pun menyuruh anak buahnya untuk selalu mengawasi kemanapun Erina pergi, untuk menjaga keselamatan Erina, karena dia tidak mau terjadi apa-apa dengan Erina.
Dengan diawasi oleh anak buah Rossa, Erina mendatangi sebuah club' malam, tempat dimana Doni sering nongkrong melakukan kebiasaannya yang sampai sekarang masih tetap dia lakukan meski telah berkeluarga. Doni benar-benar tidak bisa mengubah kebiasaan buruknya itu.
Seperti biasa, Doni sudah duduk dengan minuman ditangannya. Sepertinya dia baru saja tiba, karena dia belum begitu banyak minum. Erina yang melihatnya pun, langsung menghampirinya.
"Upzz, sorry gak sengaja," ucap Erina, yang sengaja menabrak Doni, yang membuat minuman Doni tumpah dan mengenai bajunya.
"Iya, gak pa-pa. Cuma basah sedikit, lain kali hati-hati kalau berjalan," jawab Doni cuek.
Selama ini Doni selalu bersikap dingin dengan wanita, dia juga tidak pernah berhubungan dengan wanita-wanita penghibur meski dia suka mabuk dan judi.
Erina kemudian duduk di sebelah Doni, dia juga terlihat cuek dengan Doni, barulah akhirnya Doni melihat ke arah Erina. Doni sangat terkejut, kalau ternyata yang menabraknya barusan seorang gadis yang sangat cantik. Mata Doni hampir tidak berkedip, menatap wajah cantik Erina. Baru pertama kalinya, Doni merasa kagum melihat gadis yang sangat-sangat cantik. Namun seketika tatapannya beralih ke arah kaki gadis itu.
__ADS_1
"Maaf, kenapa dengan kakinya?" tanya Doni yang penasaran melihat gadis itu memegangi kakinya.
"Oh, tidak apa-apa. Hanya terkilir," ucap Erina dengan sikapnya yang terlihat kurang ramah.
Doni terus memperhatikan wajah Erina, sepertinya Doni terpana dengan kecantikan Erina. Doni berusaha membantu Erina, karena mendengar Erina mengeluh kesakitan.
"Maaf, bolehkah saya lihat kaki kamu?" tanya Doni ragu-ragu, karena melihat sikap cuek gadis itu yang tidak lain adalah Erina.
"Silahkan," jawab Erina.
Inilah sosok Erina sekarang, dia terlihat lebih dewasa, lebih tenang dan berkelas. Dia juga terlihat lebih kuat dan tegas. Seperti itulah Rossa mendidiknya selama ini, agar dia tidak seperti Erina yang dulu, yang hanya bisa menangis dan sangat lemah.
"Aw..." seru Erina.
"Maaf, sakit ya? Tahan sedikit lagi ya," jawab Doni.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, akhirnya Doni pun selesai memijit kaki Erina. Dia pun kembali duduk di sebelah Erina.
"Bagaimana? masih sakit?"
"Tidak juga, thanks," ucap Erina.
Doni tidak berhenti menatap wajah Erina, sepertinya penampilan Erina benar-benar membuat Doni langsung tertarik padanya.
"Kenapa liatin?"
"Oh, maaf. Kamu cantik sekali, kamu mengingatkanku pada seseorang. Sekilas kamu mirip dengan seseorang di masa laluku,"
"O ya?"
"Iya benar, kamu mirip pacarku dulu, yang sudah pergi meninggalkan aku demi laki-laki lain. Kalau boleh tau, siapa nama kamu? perkenalkan, nama saya Doni," ucap Doni sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Shella," jawab Erina cetus, tanpa menyambut uluran tangan Doni. Yang membuat Doni hanya tersenyum.
Erina tidak percaya Doni bisa mengarang cerita seperti itu. Erina paham, kalau yang Doni maksud masa lalunya itu pastilah dia. Wajar kalau Doni masih bisa sekilas melihat Erina di wajah Shella, nama samaran Erina. Karena mereka sudah begitu lama bersama. Erina sangat kesal dengan ucapan Doni, karena faktanya Doni yang terang-terangan meninggalkannya demi wanita lain dan membuat hidupnya sangat menderita.