
Entah apa yang membuat Erina merasa nyaman bersama Dilan, dia terlihat begitu sangat bahagia. Dia tidak sadar, kalau cuaca sudah mulai terasa panas.
"Kayaknya udah siang nih, kamu mau pulang gak? aku antar ya, sekalian aku ingin tau rumahmu,"
"Iya ya, gak terasa ya udah panas. Iya aku mau pulang, takut tanteku khawatir,"
"Baru sadar ya kalau sudah panas, wajar, karena yang dekat sama aku pasti rasanya sejuk,"
"Gak usah ngegombal, belum mandi juga," ejek Erina sambil mengayuh sepedanya lagi.
"Belum mandi juga tapi tetap ganteng kan?"
"Iya ganteng, dari belakang,"
"Iya, dari belakang aja ganteng. Apalagi kalau dari depan, tambah ganteng pastinya,"
"Tau ah, pusing ngomong sama kamu," jawab Erina, yang membuat Dilan hanya tersenyum.
Di sepanjang jalan, Dilan tidak berhenti membuat Erina tertawa, candaan-candaan terus dia lontarkan pada Erina, membuat Erina benar-benar merasa kalau pagi ini, pagi yang spesial. Yang membuat perasaannya begitu bahagia.
Akhirnya, sampai juga di depan rumah Erina. Dilan melihat sekitar rumah Erina, dia melihat beberapa orang sedang berjaga di rumah Erina, yang membuatnya jadi penasaran, siapa Erina sesungguhnya, kenapa ada penjaga di rumahnya. Namun dia hanya menyimpan rasa penasarannya itu dan akan mencari taunya nanti.
"Makasih ya udah anterin aku, makasih juga udah tolongin aku. Bye,"
"Iya, tapi tunggu. Kamu gak nyuruh aku mampir?"
"Gak mau ah aku terima tamu belum mandi,"
"Emang kamu udah mandi? bilang aja gak boleh mampir. Lagian aku juga gak berani kok, takut sama penjaga dirumah kamu tuh, serem-serem," ucap Dilan sambil tersenyum.
"Kamu bisa aja. Ya udah, aku masuk ya. Sampai ketemu lagi,"
"Tunggu Rin, besok kita bersepeda lagi ya. Aku jemput kamu ya,"
"Gak usah, karena aku gak janji aku bisa. Kamu tunggu aja aku di tempat aku terjatuh tadi. Kalau sampai jam tujuh aku gak datang, berarti aku gak bisa ya,"
"Oke, aku akan menunggu mu besok,"
__ADS_1
"Ya udah, aku masuk ya. Pulanglah, jangan lama-lama disini," tegas Erina yang takut kalau kehadiran Dilan akan diketahui Rossa.
"Emang kenapa kalau lama?"
"Udah, gak usah banyak tanya. Bye," ucap Erina yang lalu buru-buru masuk ke dalam dan langsung menutup lagi gerbangnya.
"Bye..." timbal Dilan yang langsung pergi meninggalkan rumah Erina dengan sejuta tanda tanya di otaknya.
Erina menaruh lagi sepedanya di garasi, setelah itu dia langsung masuk ke dalam sambil memegangi lututnya yang masih terasa sakit.
"Maaf non, kenapa dengan kakinya? non Erin jatuh?"
"Iya, tadi keserempet motor,"
"Wah, harusnya orang itu bertanggung jawab pengobatan non Erin atau setidaknya mengantar non sampai rumah,"
"Gak pa-pa, ini cuma luka ringan aja. Biar aku obati sendiri nanti setelah mandi. Ya udah, aku masuk dulu ya,"
"Iya non, hati-hati non,"
"Iya,"
"Tante?" panggil Erina dari luar sambil mengetuk pintu.
"Masuk sayang,"
Erina membuka pintu lalu masuk kedalam, dilihatnya Rossa masih berbaring dan masih memakai selimut. Erina mendekati Rossa, lalu menyentuh kening Rossa.
"Bagaimana keadaan Tante? Tante panas, Erina panggil dokter ya. Bentar ya Tante," ucap Erina yang langsung berlari keluar.
"Gak usah sayang!" seru Rossa yang tidak didengar lagi oleh Erina, karena Erina keburu keluar.
"Dasar anak nakal, orang tua ngomong, main kabur aja," gerutu sayang Rossa pada Erina.
Setelah beberapa menit, Erina kembali lagi ke kamar Rossa, sambil membawakan sarapan pagi untuk Rossa.
"Sambil menunggu dokter datang, Tante makan dulu ya. Tante belum makan kan?"
__ADS_1
"Erin...kamu gak perlu panggil dokter sayang, Tante gak pa-pa kok, Tante baik-baik saja, hanya sedikit pusing nanti juga sembuh,"
"Gak bisa gitu dong Tante, badan Tante panas. Erina gak mau terjadi apa-apa dengan Tante. Cuma Tante yang aku punya disini, yang selalu menjaga dan menyayangi Erin. Erina gak bisa lihat Tante kayak gini, Erina sedih Tante, Erina sayang banget sama Tante," ucap Erina sambil memeluk Rossa.
"Dasar manja, Tante juga sayang banget sama kamu Erin. Sama, cuma kamu juga yang Tante punya disini. Tapi Tante gak pa-pa sayang, Tante baik-baik saja,"
"Biarlah nanti dokter yang memeriksa Tante, barulah Erin tenang Tante. Sekarang Tante makan dulu ya, dikit aja Tante, mau ya?"
"Gimana Tante mau makan, kalau kamu masih terus peluk Tante gini, dasar manja,"
"Iya ya, maaf Tante, Erin manja ya? Erina emang manja Tante, karena Erina anak satu-satunya. Erina juga kangen banget Tan sama ibu dikampung," ucap Erina sambil melepaskan pelukannya.
"Iya, Tante ngerti apa yang kamu rasakan, karena Tante juga pernah mengalaminya. Tante dulu juga tersiksa, saat Tante merindukan orang tua Tante dikampung. Ya udah, sini peluk lagi ya," ucap Rossa sambil memeluk Erina lagi.
Tidak terasa, Erina meneteskan air mata. Sepertinya dia memang benar-benar sangat merindukan orang tuanya di kampung.
"Erina ingin pulang Tante, tapi Erina sudah berjanji, Erina baru akan pulang setelah Erina berhasil membalas dendam pada Doni, laki-laki yang sudah menghancurkan hidup Erin. Menurut Tante apa Erin bisa menyelesaikan ini semua Tante?" ucap Erina yang tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Bisa sayang, kamu harus yakin pada dirimu sendiri. Jangan pernah ragu, Tante ada disini dan akan selalu mendukungmu, oke?"
"Iya Tante, makasih ya Tante. Tante selalu ada buat Erin, Erin sayang banget sama Tante,"
"Iya sayang, sama-sama. Udah, gak usah nangis ya. Sayang, siku kamu kenapa?" tanya Rossa yang baru melihat luka pada siku Erina.
Rossa pun langsung melepaskan pelukannya dan langsung memeriksa seluruh tubuh Erina. Dia melihat beberapa luka ditubuh Erina, terutama di lutut Erina yang terlihat paling parah.
"Sayang, kamu kenapa? dari mana kamu dapat semua luka ini. Jawab Erin?"
"Gak pa-pa Tante, Erina cuma keserempet motor tadi waktu naik sepeda,"
"Erin...kok bisa sih, lain kali hati-hati dong sayang. Beneran kamu gak pa-pa sayang?"
"Gak pa-pa Tante, tadi udah Erin kasih obat. Ya udah, sekarang Tante makan ya, Erina suapi ya,"
"Boleh, jadi kamu tadi bersepeda?"
"Iya Tante, abis gak enak lari pagi sendirian," timbal Erina sambil menyuapi Rossa.
__ADS_1
Mereka pun ngobrol sambil menikmati sarapan pagi mereka dengan sepiring nasi, karena Rossa tidak akan bisa menghabiskan nasi itu sendiri, dengan kondisinya yang kurang sehat. Dia yang tidak enak makan hanya makan beberapa suap, sementara Erina yang menghabiskannya.