
Sementara itu, Doni yang baru saja pulang langsung masuk ke kamarnya. Terlihat Maya sudah tertidur pulas, karena malam memang sudah larut. Doni memandang sebentar wajah istrinya itu, tanpa mencium ataupun menyentuhnya sedikitpun, dia pun langsung ikut tidur. Sepertinya meski sudah lama berumah tangga, Doni belum juga bisa mencintai Maya sepenuh hati, sejauh ini, harta lah yang membuatnya bertahan mengarungi rumah tangga dengan Maya.
Paginya seperti biasa, Maya bangun lebih dulu. Sebelum beranjak dari tempat tidur, dia memandangi wajah suaminya. Tidak terasa air matanya menetes, bagaimana tidak, saat ini dia tengah merasakan kekecewaan yang mendalam pada Doni. Hampir setiap malam Doni pulang larut, sementara siang Doni sibuk bekerja di kantor, sehingga tidak ada waktu lagi untuknya bermanja-manja ataupun bermesraan dengan suaminya. Sementara itu, dia sudah tidak bekerja lagi di kantor. Maya memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Doni untuk mengurus perusahaannya, dia hanya sesekali pergi kekantor untuk memeriksa perkembangan perusahaannya. Sementara itu, dia memilih fokus menggerus putrinya dirumah.
Selesai menyiapkan segala sesuatu untuk putrinya yang akan berangkat ke sekolah, dia kembali masuk kamar. Terlihat Doni pun sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Maya memeluk Doni dengan erat, sepertinya dia benar-benar sangat merindukan Doni.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu. Bisa tidak kamu mengurangi kebiasaan kamu pulang malam, aku capek seperti ini terus. Aku sudah berusaha diam dan mengerti kamu, tapi sepertinya sedikitpun kamu tidak bisa mengerti aku. Aku butuh kamu sayang, aku butuh kasih sayangmu, aku merasa punya suami tapi seperti tidak punya suami. Aku lelah sayang, aku capek mengalah,"
Doni memeluk Maya, dia berusaha menenangkan Maya dan meyakinkannya.
__ADS_1
"Iy sayang, aku mengerti. Maafkan aku sayang, oke mulai sekarang aku akan mengurangi kebiasaan ku, aku akan pulang lebih awal supaya bisa menghabiskan waktu denganmu,"
"Janji ya sayang,"
"Iya aku janji,"
"Awas kalau sayang bohong, aku akan sangat marah dan aku tidak akan memaafkan mu, karena aku sudah cukup lama bersabar, aku benar-benar sudah lelah, aku diam karena aku tidak mau ada pertengkaran dalam rumah tangga kita, aku tidak mau kebahagiaan putriku terganggu sedikitpun. Kamu mengerti kan maksudku?"
Amanda sangat menyayangi Doni, meski Doni bukan ayah kandungnya. Dia yang sejak lama ditinggal sosok sang ayah, sangat bahagia dengan kehadiran Doni ditengah-tengah mereka. Itulah yang membuat Maya selalu mengalah demi mempertahankan rumah tangganya dan kebahagiaan anaknya, karena baginya kebahagiaan anak itu segalanya.
__ADS_1
Doni dan Maya pun pergi ke ruang makan untuk sarapan, sementara Amanda sudah menunggu mereka di meja makan.
"Pa, kenapa sih sekarang pulangnya malam terus. Amanda kangen pa, pengen main bareng papa, pengen belajar ditemani papa. Tapi sekarang Amanda gak pernah tau kapan papa pulang, papa selalu pulang malam, Amanda benci sama papa, papa gak sayang lagi sama Amanda,"
"Iya sayang, papa salah. Papa minta maaf ya sayang, iya deh nanti malam papa pulang cepat ya, kita main dan belajar bersama ya sayang,"
"Iya pa," jawab Amanda yang langsung menyantap rotinya.
"Kamu dengar sendiri, betapa Amanda sangat merindukanmu, aku tidak mau kalau sampai kamu mengecewakannya. Aku tidak akan terima kalau sampai kamu menyakiti hati putriku, putri kita,"
__ADS_1
"Iya sayang, aku janji. Aku tidak akan mengecewakan kalian berdua. Maafkan aku ya sayang, aku sudah membuat kalian bersedih,"
Doni berusaha meyakinkan Maya, karena dia tidak tau bagaimana nasibnya kalau sampai Maya marah dan tidak percaya lagi dengannya, apalagi kalau sampai Maya tidak lagi mencintainya, pastilah Maya akan langsung mengusirnya dari rumahnya. Sedangkan selama ini dia hanya menumpang hidup dari balik kekayaan Maya. Kalau sampai Maya mengusirnya, pastilah dia akan hidup susah dan kembali menjadi Doni yang dulu, Doni yang tidak punya masa depan sama sekali.