
Pagi-pagi sekali Erina pergi dari rumah, dengan hanya meninggalkan sepucuk surat di atas meja kamarnya. Erina pergi dengan membawa kesedihan kala mengingat wajah ibunya yang teramat sangat menyayanginya. Namun dia juga merasa lega, bisa membuktikan pada ayahnya kalau dia juga mampu bertahan tanpa ayahnya. Dia juga bisa membuktikan kalau cintanya pada Doni tidak main-main, dia bisa melakukan apapun yang lebih dari cara ayahnya menentang hubungan mereka.
Seperti biasa, pagi-pagi Bu Santi menyiapkan sarapan untuk suaminya yang akan segera berangkat ke kantor kelurahan. Setelah semua siap, Bu Santi pun menemani suaminya sarapan.
"Erina mana Bu? kebiasaan anak itu, anak gadis kok bangunnya siang. Ini pasti gara-gara ibu selalu memanjakan dia. Sudah makin gak jelas anak itu kelakuannya," gerutu pak Rahmat.
"Ya sudah, biar ibu coba bangunkan dia,"
Bu Santi melangkah menuju kamar Erina, dia memanggil Erina dari luar sambil mengetuk pintu kamar Erina.
"Erin...Erin, bangun nak sudah siang ini. Erin, bangun nak,"
Setelah beberapa kali memanggil tidak ada jawaban, Bu Santi pun membuka pintu kamar Erina yang sudah tidak terkunci lagi. Bu Santi sedikit terkejut, karena Erina sudah tidak ada di kamarnya. Dia berfikir mungkin Erina sudah bangun lalu keluar rumah. Tapi tiba-tiba mata Bu Santi tertuju pada selembar kertas di atas meja. Dia mengambil kertas itu dan ternyata itu tulisan tangan Erina. Bu Santi lalu membacanya, dia pun seketika langsung histeris. Yang membuat pak Rahmat langsung menghampirinya.
"Ayah...Erina yah, ayah Erina yah!"
"Ada apa Bu, ada apa dengan Erina?" tanya pak Rahmat.
"Erina anakku... kenapa kamu tega tinggalin ibu nak...kamu kemana nak..." tangis Bu Santi langsung memecahkan suasana.
Bu Santi Menangis sejadi-jadinya, tubuhnya seketika terasa lemas. Dia terduduk di lantai dengan air matanya yang terus berlinang. Pak Rahmat mengambil potongan kertas itu lalu membacanya. Wajahnya seketika menjadi emosi, dia tidak menyangka kalau Erina bisa senekat ini dan lebih memilih Doni ketimbang keluarganya.
__ADS_1
"Dasar anak durhaka, sudahlah Bu tidak usah menangisi anak seperti itu, dia bukan anak kita lagi, biarkan saja dia pergi. Ayah sudah menganggap dia tidak ada,"
"Cukup yah! ini semua gara-gara ayah yang terlalu keras pada Erina, Erina pergi pasti karena ucapan ayah yang seharusnya tidak perlu ayah ucapkan. Ibu sakit yah, sakit sekali kehilangan Erina. Ibu benci sama ayah, benci!" ucap Bu Santi yang lalu pergi ke kamarnya.
Pak Rahmat kemudian duduk di tempat tidur Erina, tidak terasa dia pun meneteskan air mata. Sesungguhnya pak Rahmat pun sangat kehilangan Erina, di hatinya yang paling dalam dia pun sangat menyayangi Erina. Pak Rahmat pun akhirnya menangis, dia menyesal dengan semua sikapnya selama ini. Dia tidak menyangka kalau Erina benar-benar akan pergi meninggalkannya dan istrinya.
"Erina, maafkan ayah nak. Sesungguhnya ayah tidak ingin kamu pergi nak. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Kenapa kamu tidak juga bisa mengerti itu nak. Doni bukan laki-laki baik nak, ayah tau itu. Ayah hanya tidak mau kamu kelak menderita, ayah ingin kamu mendapatkan suami yang baik dan yang bisa menjadi imam untukmu. Kenapa kamu tidak mengerti itu nak, kenapa," ucap pak Rahmat dengan air matanya yang terus menetes.
Sementara itu disepanjang jalan, Erina tidak berhenti memikirkan ibunya. Dia tau bagaimana reaksi ibunya saat membaca suratnya. Tidak terasa air mata Erina menetes, dia tau bagaimana perasaan ibunya saat ini. Sesungguhnya Erina begitu berat meninggalkan ibunya, tapi dia juga harus mempertahankan cintanya. Erina hanya berharap, semoga dia tidak salah memilih dan tidak salah melangkah.
Seperti yang sudah direncanakan oleh Doni, sesampainya di Jakarta Erina langsung menempati kontrakan yang sudah disiapkan oleh temannya Doni.
"Sayang, kamu gak pa-pa kan tinggal dikontrakkan kecil seperti ini. Sementara hanya ini yang bisa ku berikan untukmu, nanti kalau aku sudah punya penghasilan, aku akan berikan yang lebih dari ini,"
"Enggaklah, kalau aku tinggal disini yang ada kita diusir. Kita kan belum jadi suami istri, sementara aku akan tinggal dengan Rudi,"
"Jadi kapan kamu akan menikahi ku,"
"Sabar sayang, aku akan cari kerja dulu. Setelah itu barulah aku akan menikahi mu,"
"Janji ya sayang,"
__ADS_1
"Iya aku janji,"
Setelah membersihkan seluruh ruangan, akhirnya mereka pun bisa istirahat, mereka sangat lelah usai menempuh perjalanan jauh. Erina tidur dikamar, sementara Doni diruang depan dan hanya tidur di lantai. karena tidak ada kursi dikontrakkan itu.
Sorenya, Doni bangun lebih dulu. Dia melihat Erina masih tertidur pulas. Doni kemudian pergi keluar, setelah beberapa menit dia kembali dengan membawa dua nasi bungkus dan beberapa makanan untuk mereka makan, karena Erina sendiri belum sempat memasak.
Untuk saat ini Doni tidak kesusahan menanggung makan dan keperluan dia dan Erina, karena dia masih mempunyai cukup uang dari pemberian paman dan bibinya, juga dari gajinya bekerja di kolam Rian. Sebagai sahabat yang baik, Rian juga memberikan uang cuma-cuma kepada Doni untuk keperluannya selama belum dapat pekerjaan, yang jumlahnya tidak sedikit.
Rian sudah paham betul bagaimana kehidupan di kota, karena selama ini orang tuanya tinggal di kota. Di sana semua serba mahal dan tidaklah mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Sebelumnya Rian juga berpesan kepada Doni, untuk berhati-hati dalam memilih teman. Karena di sana banyak pergaulan bebas yang mungkin akan membawa kita ke jalan yang salah. Rian takut Doni salah melangkah, melihat sikap Doni yang memang dari awal kurang baik.
Doni membangunkan Erina, karena hari sudah sangat sore. Dia juga harus segera pulang ke kontrakan Rudi.
"Bangun sayang, sudah sore banget nih, mandilah dulu setelah itu kita makan," ucap Doni sambil mencium pipi Erina.
"O iya, aku belum masak sayang. Kenapa gak bangunin aku dari tadi,"
"Udah tenang aja, aku sudah beli makanan barusan. Sekarang mandilah, sudah itu kita makan. Aku juga akan pulang ke kontrakan Rudi,"
"Aku takut sendirian sayang, kamu jangan pergi," pinta manja Erina sambil memeluk Doni.
"Jangan takut sayang, disini aman. Baiklah, aku akan pulang sehabis Maghrib,"
__ADS_1
Erina tersenyum, dia pun langsung pergi mandi. Setelah selesai mandi keduanya langsung menyantap makanan yang sudah dibeli Doni. Makanan sederhana, tapi terasa sangat nikmat jika dinikmati dengan orang yang sangat kita sayangi, itulah yang sedang dirasakan Erina saat ini.