Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 45


__ADS_3

Setelah menaruh sepedanya, Erina langsung masuk ke kamar. Dia menghempaskan tubuhnya di atas kasur lalu menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kak Dilan, maafin aku kak. Aku juga mencintaimu, aku benar-benar cinta sama kamu. Tapi aku takut, aku takut kamu tidak bisa menerima masa laluku, aku hina, aku gak suci lagi. Aku tidak pantas untukmu, aku malu kak Dilan..." ucap Erina lirih sambil terus menangis.


Erina tidak bisa lagi menahan air matanya, dia benar-benar terpukul dengan semua ini, hatinya hancur saat dia harus berpura-pura tidak mencinta Dilan, orang yang sangat dia cintai dan sebaliknya, dia harus pura-pura mencintai Doni, sedang kenyataannya dia sangat membencinya. Baginya semua ini benar-benar terasa sangat menyakitkan.


"Kenapa aku harus mengalami semua ini, kenapa...? aku ingin seperti gadis-gadis yang lain, aku ingin menikah dan bahagia dengan orang yang ku cinta, aku tidak ingin terus menderita...aku pun ingin bahagia...seperti mereka...tapi aku gak bisa...aku benar-benar tidak berdaya..." tangis Erina semakin menjadi, dia terus meratapi nasibnya yang malang, yang membuatnya hidup selalu menderita.


Tangis Erina terhenti ketika tiba-tiba handphonenya berbunyi, Erina mengambil handphonenya, lalu melemparnya kembali diatas kasur saat melihat kalau itu panggilan dari Doni. Erina mengusap kedua pipinya, lalu pergi ke kamar mandi.


Selesai mandi, Erina langsung pergi ke kamar Rossa, namun dilihatnya Rossa sudah tidak ada lagi di kamarnya. Erina pun langsung turun ke bawah.


"Mbok, Tante kemana ya? kok gak ada di kamarnya?"


"Nyonya tadi keluar non, katanya mau cari udara segar. Kayaknya dia di teras belakang non,"


"Oh, ya udah kalau gitu, Erin susul ke belakang ya mbok. Sekalian Erin bawain makan, Tante belum makan kan mbok?"


"Belum non, tadi sudah mbok tawarin, tapi katanya nanti, nunggu non Erin,"


"Ya udah, Erin siapin makanannya dulu ya mbok,"


"Iya non, mbok juga mau bersih-bersih di ruang tamu,"


Sementara itu, Dilan masih berada di jembatan tempat favoritnya. Dia masih terdiam dan belum berhenti memikirkan kata-kata Erina. Dia masih belum mengerti dengan ucapan Erina, yang membuatnya bingung, apa yang harus dia lakukan.


"Erin, siapapun kamu, aku tidak perduli Rin, aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu Rin," ucap Dilan lirih, yang kemudian mengambil sepedanya dan berniat pergi ke rumah Erina, untuk minta penjelasan pada Erina, tentang ucapan Erina yang belum dimengerti oleh nya.


Namun baru saja sampai di depan gerbang rumah Erina, Dilan melihat sebuah mobil mewah memasuki gerbang rumah Erina. Dilan pun terus memperhatikan mobil itu, tidak lama kemudian, seorang laki-laki dengan pakaian rapi, lengkap dengan jas dan dasi dilehernya keluar dari dalam mobil itu. Dilan pun mengurungkan niatnya untuk menemui Erina.


Dilan semakin penasaran dengan laki-laki itu, selain masih muda, tampan, laki-laki itu juga membawa sebuah bingkisan ditangannya. Dilan berpikir, tidaklah mungkin kalau itu tamu tantenya Erina, karena dia masih sangat muda. Pastilah itu tamu Erina, pikir Dilan. Tidak pikir panjang, Dilan pun langsung pergi meninggalkan rumah Erina dengan rasa kecewa. Dia berpikir, kalau itu pastilah pacar Erina.


Sementara di teras belakang, Erina sedang ngobrol dengan Rossa sambil menikmati sarapan mereka. Rossa terlihat semakin membaik, makannya pun sudah lumayan banyak. Erina pun sangat senang melihatnya.


"Abisin ya Tante makannya, dikit lagi kok," pinta Erina pada Rossa sambil terus menyuapi Rossa.

__ADS_1


"Udah sayang, Tante udah kenyang banget. Tante udah abis banyak loh, udah ya,"


"Gak bisa dong Tante, dikit lagi Tante, sayang kalau gak di abisin," Erina terus berusaha memaksa Rossa menghabiskan makannya, sambil berusaha menahan tawanya, karena sebenarnya dia sedang mengerjai Rossa.


"Sayang, udah dong. Kamu aja ya yang abisin, Tante beneran kenyang nih," timbal Rossa yang sudah hampir tidak bisa menelan lagi makanannya.


"Ishh, Erina kan lagi diet Tante, gak boleh makan banyak-banyak. Udah, abisin Tante, satu lagi nih. A'...a'...ayo dong Tante," paksa Erina.


Rossa pun tidak bisa menolak permintaan Erina, akhirnya dia pun menghabiskan makanannya meski dengan perasaan ingin muntah.


"Ye... akhirnya abis juga. Hehehe...kenyang ya Tan, gitu dong harus makan banyak biar cepat sembuh,"


"Parah kamu Rin, suruh Tante abisin nasi sebanyak itu. Tante kan emang udah sembuh," gerutu Rossa.


"Hahaha...tapi abis kan Tan, Tante lapar ya, mau Erin ambilin lagi?"


"Oh...kamu ngerjain Tante ya, awas kamu Rin. Sini, mau Tante cubit kamu. Beraninya ngerjain orang tua," ucap Rossa sambil terus berusaha mencubit Erina.


Erina pun terus menghindar, membuat keduanya tertawa lepas.


"Maaf mengganggu," sapa Doni yang tiba-tiba sudah berada di tempat itu, membuat Erina dan Rossa seketika menghentikan tawanya.


"Maaf non, den Doni bilang mau sekalian menjenguk nyonya, jadi saya suruh langsung menemui nyonya,"


"Iya mbok gak pa-pa, tolong kamu buatin minum untuk Doni, taruh diruang tamu ya,"


"Baik nya," timbal mbok Minah yang langsung pergi.


Erina turun dari ranjang, lalu mengajak Doni duduk di kursi yang ada di dekat ranjang santai itu.


"Duduk Don, tumben datang gak bilang-bilang dulu," Erina mempersilahkan Doni duduk.


"Iya sayang, terimakasih. Aku tadi mau bilang sayang, tapi kamu gak angkat telepon aku.


"Oh..." Erina hanya diam, memang dia sengaja tidak mengangkat telepon Doni.

__ADS_1


"Oh ya, ini ada bingkisan untuk Tante. Bagaimana keadaan Tante? apa sudah baikan Tante?" ucap Doni sambil menyerahkan bingkisan yang dia bawa untuk Rossa. Setelah itu dia duduk di dekat Erina.


"Terimakasih Don, sudah repot-repot bawain bingkisan. Seperti yang kamu lihat, Tante sudah sembuh. Ini semua berkat Shella yang selalu merawat Tante dengan baik,"


"Syukurlah kalau Tante sudah sembuh, Shella memang spesial Tante dan hanya dia juga yang bisa membuat saya merasakan cinta yang sesungguhnya. Saya sangat mencintai Shella Tante, apa pun akan saya lakukan untuk Shella, asal bisa membuatnya bahagia Tante,"


"Ya...ya...Tante percaya sama kamu, tapi Tante minta satu hal sama kamu, jangan pernah sakiti Shella, kalau sampai itu terjadi, kamu tau sendiri akibatnya," tegas Rossa pada Doni, yang tidak ingin Doni menyakiti Erina lagi sedikitpun.


"Saya janji Tante, saya janji tidak akan pernah menyakiti Shella, karena saya sangat mencintainya Tante,"


"Oke, Tante percaya sama kamu. Shella, ajak Doni ke ruang tamu ya,"


"Iya Tante," jawab Shella yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Sekali lagi terimakasih ya Doni bingkisannya,"


"Sama-sama Tante, kalau begitu saya permisi dulu,"


"Ya, silahkan,"


Erina dan Doni berpindah duduk ke ruang tamu. Segelas teh hangat buatan mbok Minah pun sudah menanti Doni di meja ruang tamu.


"Duduk Don,"


"Ya sayang," Doni pun duduk di dekat Shella.


"Emang gak pa-pa ya kalau kamu sering telat ke kantor?"


"Gak pa-pa dong sayang, itu kan perusahaan ku, jadi suka-duka aku mau datang jam berapa aja," jawaban Doni jelas tidak bisa dibenarkan, sebagai atasan harusnya dia bisa memberikan contoh yang baik untuk karyawannya, selain itu, dia juga bukan pemilik perusahaan itu, melainkan itu milik istrinya.


"Minumlah teh nya mumpung masih hangat, setelah itu pergilah ke kantor, ini sudah siang," tegas Shella yang enggan berlama-lama dengan Doni.


"Iya sayang, oh iya, nanti malam kita dinner ya sayang, bisa kan? Tante kamu kan sudah sembuh. Mau ya sayang, please..." Doni memohon pada Shella agar mau diajak dinner sambil menggenggam jemari Shella.


"Iya aku mau, tapi jangan malam-malam pulangnya dan kamu juga jangan macam-macam sama saya," tegas Shella.

__ADS_1


"Iya sayang, gak lama kok, cuma sebentar. Iya-iya, aku gak akan macam-macam sama kamu. Makasih ya sayang, ya udah, aku ke kantor dulu ya. Jam tujuh aku jemput ya," ucap Doni sambil meminum lagi teh hangat buatan mbok Minah.


"Oke," jawab Shella.


__ADS_2