
Tepat jam sembilan pagi Doni pergi ke rumah Shella, dia sama sekali tidak perduli dengan meeting penting yang harus dia hadiri, meski sekretarisnya Rita sudah berusaha mengingatkannya. Dia justru lebih memilih pergi jalan-jalan dengan Shella, mantan kekasihnya yang kini membuat dia tergila-gila.
Sesampainya di rumah Shella, Doni langsung membunyikan bel rumah Shella. Anak buah Rossa pun tidak lagi menghalangi Doni, karena mereka sudah diberi tahu Rossa agar tidak lagi melarang Doni datang, karena mulai sekarang Doni adalah tamu Erina yang harus dihormati.
Setelah beberapa kali membunyikan bel rumah, pintu pun terbuka. Doni sedikit terkejut melihat wanita yang membukakan pintu bukan Erina, melainkan Rossa. Doni belum pernah bertemu Rossa sebelumnya, dia juga tidak tau Rossa itu siapanya Shella.
"Doni ya?"
"Betul, maaf kalau boleh tau anda siapanya Shella ya?"
"Saya kakaknya, silahkan masuk," jawab Rossa yang mengaku sebagai kakak Shella, agar Doni semakin percaya kalau ini memang rumah Shella.
"Terimakasih,"
Doni mengikuti Rossa yang berjalan didepannya. Sementara itu, Rossa tidak langsung memanggil Erina, setelah mempersilahkan Doni duduk, dia pun ikut duduk. Dia sengaja ingin melihat seperti apa laki-laki yang sudah menghancurkan hidup Erina dan membuat Erina menderita.
"Sudah lama kenal Shella?" tanya Rossa.
"Belum e...?" Doni terlihat bingung mau memanggil dengan sebutan apa pada Rossa.
"Tante," ucap Rossa.
"Belum Tante, baru beberapa hari,"
__ADS_1
"Suka sama Shella?"
"Iya Tante, saya sangat menyukainya. Bukan hanya menyukai, saya sangat mencintainya,"
"Oke, saya panggil Shella dulu. O iya, jangan berani berbuat macam-macam sama Shella kalau tidak mau menanggung akibatnya,"
"Iya Tante, saya gak akan macam-macam sama Shella,"
"Good," ucap Rossa yang langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi ke kamar Shella.
"Pantas saja Shella sangat cantik, kakaknya saja cantik," ucap Doni lirih.
"Tok...tok..." Rossa mengetuk pintu kamar Erina.
Rossa membuka pintu kamar Erina, lalu masuk ke dalam, dilihatnya Erina sedang merias diri didepan cermin. Rossa terlihat sedikit cemas, dia takut Erina jatuh cinta lagi pada Doni, karena dia baru saja melihat Doni secara langsung, yang ternyata wajahnya lumayan tampan. Rossa mendekati Erina, dia menatap Erina lewat cermin sambil menyentuh kedua pundak Erina, yang membuat Erina sedikit bingung.
"Ada apa Tante, kok liatin Erina gitu?"
"Tante takut sayang,"
"Takut apa Tante?"
"Takut kalau kamu tidak sekuat yang Tante harapkan, takut kalau kamu kembali jatuh ke pelukan Doni lagi. Kalau sampai itu terjadi, itu berarti Tante gagal menjagamu,"
__ADS_1
"Tante bicara apa sih Tante, itu gak mungkin terjadi Tante, Doni sudah meninggalkan luka yang sangat menyakitkan, bahkan sampai sekarang rasa sakit itu masih terasa Tante, jadi gak mungkin Tante, aku dengan bodohnya mau kembali ke pelukannya. Tante jangan khawatir, aku bukan Erina yang dulu Tante, yang lemah. Erina yang sekarang kuat Tante, tegas, seperti Rossa," jawab Erina tegas, yang membuat Rossa tersenyum puas.
"Iya sayang, Tante percaya sama kamu. Kamu pasti bisa membalas dendam pada Doni," ucap Rossa sambil mencium rambut Erina.
Erina beranjak dari tempat duduknya, dia mendekati Rossa lalu memeluknya.
"Terimakasih Tante, selalu menyayangiku dan menjagaku, Erina sayang Tante,"
"Iya sayang sama-sama, Tante juga sayang sama kamu, Tante gak mau terjadi apa-apa sama kamu, Tante gak mau kalau sampai kamu menderita lagi,"
"Tante gak usah khawatir, Erin akan baik-baik saja. Ya udah, Erin berangkat dulu ya Tante,"
"Iya sayang, hati-hati ya,"
"Iya Tante,"
Erin pun pergi ke bawah menemui Doni dan langsung mengajak Doni berangkat. Sementara Rossa yang melihat kepergian Erin dan Doni dari atas langsung menelpon anak buahnya.
"Kalian ikuti kemanapun mereka pergi, jangan sampai lengah," perintah Rossa lewat telepon.
"Baik bos," jawab anak buah Rossa.
Dua anak buah Rossa pun langsung bergegas pergi mengikuti Doni dan Erina, dengan mengendarai mobil. Sementara yang lain masih tetap berjaga-jaga di rumah Rossa. Rossa tidak akan pernah sampai hati melepas Erina pergi tanpa ada anak buahnya yang mengawal, karena dia sangat menyayangi Erina, dia tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan Erina.
__ADS_1