Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 43


__ADS_3

Sementara itu di rumah Dilan, Dilan baru saja selesai mandi. Setelah ganti pakaian, dia turun ke bawah menuju ke meja makan. Mamanya yang baru saja selesai sarapan masih duduk di ruang makan.


"Pagi ma," sapa Dilan pada mamanya sambil mencium pipi mamanya.


"Pagi sayang, tumben jam segini baru mandi, baru bangun ya?"


"Enggak dong ma, Dilan tadi abis bersepeda keliling perumahan,"


"Oh ya? mama kok gak liat, berarti mama dong yang kesiangan. Ya udah, sekarang kamu sarapan ya. Mama udah masakin makanan kesukaan kamu nih, ayam kecap. Masih suka kan sayang? apa udah lupa, karena kelamaan di Amrik?"


"Masih suka dong ma, gak mungkin Dilan lupa masakan mamaku tersayang, pokoknya kalau menurut Dilan, gak ada yang bisa ngalahin masakan mama, selalu jadi nomor satu bagi Dilan,"


"Ah, bisa aja kamu sayang,"


"Papa sama melly udah berangkat ya ma?"


"Udah dari tadi dong, kamu sendiri kapan mulai bekerja?"


"Nanti deh ma, Dilan masih kangen sama mama. Dilan mau menghabiskan waktu dirumah sama mama, papa dan Melly. Melly lulus SMA tahun ini kan ma?"


"Iya dan rencananya dia juga mau kuliah di Amrik kayak kamu, tapi mama belum mengiyakan, mama gak tega dia pergi jauh-jauh, dia kan perempuan. Mama takut terjadi apa-apa sama adikmu,"


"Sama sih ma kalau masalah itu, Dilan juga gak tega. Tapi di Amrik kan ada om Alex dan Tante Siska, kita bisa titip Melly sama mereka. Ya seperti mama menitipkan Dilan sama mereka dulu,"


"Iya, tapi tetap saja beda sayang, mama tetap gak tega,"


"Ya sudahlah ma, kita bahas itu nanti saja. Kapan-kapan kita bicarakan itu sama papa dan juga Melly,"


"Oke sayang, sekarang kamu makan ya,"


Dilan pun menikmati sarapan pagi nya dengan sangat lahap, Dilan dan Melly sangat menyukai masakan mamanya. Itulah sebabnya, meskipun orang berada dan sudah mempunyai ART, Bu Ratna langsung turun tangan kalau urusan memasak, dia tidak pernah menugaskan ART untuk memasak kecuali saat dia sedang sakit.


"O iya ma, aku lihat papa sering dirumah ini ketimbang di rumah Tante Rini, apa karena aku baru pulang dari Amrik atau memang seperti itu?" tanya Dilan yang heran dengan papanya yang jarang pergi ke rumah istri mudanya, Rini.


"Memang papa sering disini, mama juga gak tau kenapa. Padahal dulu saat papa baru menikah sama Rini, mungkin hanya sebulan sekali papa pulang. Yang mama denger sih mereka sering ribut, karena Rini istri yang sangat boros, suka berfoya-foya, membeli barang-barang mewah hanya untuk menuruti gengsinya itu. Tapi mama gak pernah ikut campur urusan mereka, mama gak peduli, mama sudah bahagia memiliki kamu dan Melly yang mama harapkan bisa menjaga mama dihari tua mama nanti, seandainya papamu meninggalkan mama dan menikah dengan wanita lain lagi,"


"Dilan janji ma, akan selalu menjaga mama dan menyayangi mama, menjaga Melly juga,"


"Terimakasih sayang, cuma kamu satu-satunya harapan mama, mama tidak bisa percaya sepenuhnya lagi sama papa, setelah dia memilih menduakan mama,"


Dilan beranjak dari tempat duduknya, menghampiri mamanya lalu memeluknya.


"Ya sudahlah ma, gak usah dipikirkan lagi. Semua sudah terjadi, kita serahkan semua pada Tuhan, semoga kita selalu diberikan kekuatan menghadapi semua cobaan,"


"Amin, iy sayang,"


Dilan kembali duduk lalu menyelesaikan makannya. Bu Ratna sendiri hanya tersenyum puas, melihat putranya makan begitu lahapnya.


"Jadi, apa acara kamu hari ini sayang?"


"Hari ini Dilan udah ada janji sama teman-teman Dilan ma, kita mau ada acara reunian, biasa lah ma, ngumpul sambil makan-makan gitu,"


"Wah, seru dong. Mama do'ain teman cewek kamu ada yang nyangkut dihati kamu, biar kamu bisa punya pacar,"


"Apaan sih ma, emang mama pengen punya menantu yang kayak gimana ma?"

__ADS_1


"Yang pasti, yang baik dan dari keluarga baik-baik juga. Masalah status sosial mama gak perduli, mau kaya, mau miskin, bagi mama sama aja. Kamu sendiri mau cari yang seperti apa? Mama perhatikan kamu sepertinya susah sekali menerima seorang gadis dihati kamu. Apa jangan-jangan kamu sudah ada pacar ya, tapi kamu gak mau bilang ke mama ya?"


"Belum ma, Dilan belum punya pacar. Belum ada yang cocok aja ma,"


"Iya deh, mama do'ain kamu dapat pacar yang baik, yang kelak bisa jadi istri yang patuh pada suami dan sayang terhadap keluarganya,"


"Amiin," timbal Dilan.


Malamnya, Erina sedang berbaring di dalam kamar. Dia terlihat senyum-senyum sendiri, rupanya dia sedang teringat sosok laki-laki tampan yang sudah menolongnya tadi pagi, laki-laki itu tidak lain adalah Dilan. Erina sepertinya sudah jatuh cinta pada Dilan, saat pandangan pertama, sehingga membuat Erina tidak berhenti memikirkannya.


Sedang asyik membayangkan Dilan, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dilihatnya itu panggilan dari Doni, dengan sangat terpaksa dia pun mengangkatnya.


"Iya, ada apa Don?"


"Sayang, kamu lagi apa? aku kangen banget sama kamu sayang. Aku ke rumahmu ya?"


"Kayaknya gak bisa deh, kan aku sudah bilang Tanteku lagi sakit. Aku lagi jagain dia, gak ada waktu untuk ngobrol sama kamu. Lagian tadi siang kan kita udah ketemu. Bohong kalau kamu sudah kangen lagi sama aku,"


"Sayang, ternyata kamu benar-benar belum paham apa yang aku rasakan. Aku sangat mencintaimu sayang, aku gak bisa hidup tanpa mu. Aku ingin selalu disampingmu, aku mohon mengertilah,"


"Iya, aku paham, aku mengerti. Ya udah, kamu bilang mau ngajakin aku dinner kan. Bagaimana kalau besok malam?"


"Beneran sayang, kamu gak lagi bercanda kan?"


"Bener dong, kalau besok sepertinya tanteku sudah bisa ditinggalin, sekarang dia juga sudah mulai membaik,"


"Oke sayang, aku jemput kamu besok jam tujuh malam ya. Makasih ya sayang,"


"Oke, udah dulu ya. Bye..."


Erina menutup telponnya lalu melempar handphonenya diatas kasur, dia benar-benar merasa kesal harus berusaha bersikap manis pada Doni, laki-laki yang sangat dia benci.


Selesai menelpon, Erina keluar kamar. Dia langsung menuju ke dapur untuk mengambilkan makan malam untuk Rossa. Setelah siap, Erina pun membawa makanan itu ke kamar Rossa.


"Malam Tante," sapa Erina pada Rossa sambil meletakkan minuman dan makanan di atas meja.


"Malam sayang,"


"Gimana keadaan Tante sekarang, masih pusing ya Tante?" tanya Erina sambil menyentuh kening Rossa, untuk memeriksa suhu tubuh Rossa.


"Gak sayang, udah gak pusing. Tapi badannya rasanya masih lemas,"


"Syukurlah kalau gak pusing lagi, itu berarti keadaan Tante sudah membaik. Biar gak lemas, Tante harus banyak makan tuh. Makan ya Tante, ini udah Erin bawain," ucap Erina yang lalu mengambil makanan yang dia taruh diatas meja.


"Iya sayang, suapin," pinta Rossa pada Erina


"Iya tante...Erin suapin,"


Erina merawat Rossa dengan penuh kasih sayang, seperti saat Rossa menolongnya saat dia menjadi gelandangan di jalan lalu menjadikannya seorang putri raja yang sangat cantik.


Belum selesai Rossa makan, mbok Minah datang, memberitahu kalau ada tamu.


"Maaf nyonya, ada yang ingin bertemu. E... pak Kusuma,"


"Kusuma? ya udah, suruh dia kesini,"

__ADS_1


"Baik nyonya," timbal mbok Minah yang langsung keluar menemui pak Kusuma.


"Sayang, Tante udah makannya. Tolong kamu bawa sisa makanannya ke dapur ya,"


"Iya Tante, Tante jangan malam-malam tidurnya. Kalau tamu Tante gak pulang-pulang, Tante usir aja ya. Soalnya Tante masih sakit, gak boleh bergadang kan,"


"Iya...udah kamu gak usah khawatir, Tante ngobrol gak lama kok, cuma sebentar,"


"Ya udah, Erin keluar dulu ya Tante,"


"Iya sayang, makasih ya,"


Erina pun keluar dari kamar Rossa. Di depan pintu kamar Rossa, Erina berpapasan dengan pak Kusuma yang akan masuk ke kamar Rossa.


"Pak," sapa Erina sambil tersenyum.


"Ya, eh tunggu. Kamu Erina kan, keponakan Rossa?"


"Iya, betul pak,"


"Rossa pernah cerita soal kamu, sepertinya kamu memang gadis yang baik. Sopan dan ramah, pantas Rossa sangat menyayangimu,"


"Bapak bisa aja, permisi pak, mari,"


"Ya...ya..."


Erina pun langsung pergi meninggalkan pak Kusuma, sementara pak Kusuma langsung masuk ke kamar Rossa.


"Sayang, bagaimana keadaanmu? barusan mbok Minah bilang kalau kamu sakit. Kenapa kamu tidak mengabari ku sayang, aku sama sekali tidak tau,"


"Gak pa-pa, cuma demam. Tumben kesini, sudah lama kamu gak kesini. Sibuk juga kamu mengurusi dua istri,"


"Aku tidak perduli dengan istri-istri ku sayang, cukup aku kasih uang, mereka pasti diam. Tapi jujur, itu hanya berlaku pada istri muda ku, tidak dengan istri tua ku, dia tidak perduli dengan uang, dia hanya sibuk mengurusi anak-anak ku. Aku sangat sibuk di kantor akhir-akhir ini, ditambah putraku baru pulang kuliah dari Amrik, jadi aku tidak bisa sering-sering telat pulang. Putraku pasti akan marah dan curiga, dia satu-satunya yang aku harapkan jadi penerus ku, aku tidak mau kalau sampai dia membenciku dan tidak menuruti kemauanku,"


"Kenapa kamu harus takut kalau ketahuan belang mu, kurasa dia juga sama sepertimu,"


"Tidak sayang, dia tidak sepertiku. Dia anak yang baik, aku sangat bangga memiliki seorang anak sepertinya. Namanya Dilan. Dia anak yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya, saya, ibunya dan adiknya. Hanya dia yang aku harapkan bisa meneruskan mengurus perusahaan ku, karena istri mudaku tidak bisa memberikan aku keturunan,"


Tidak disangka, ternyata Dilan adalah putra pak Kusuma. Rossa hanya mengangguk-angguk mendengar cerita pak Kusuma, karena dia tidak terlalu perduli dengan rumah tangga Kusuma.


Setelah beberapa menit mengobrol, akhirnya Kusuma pamit pulang, dia yang sangat mengagumi sosok Rossa, merasa kasihan dan iba dengan keadaan Rossa yang sedang sakit. Dia pun tau diri dan tidak berlama-lama bertamu.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Nanti aku usahakan kesini lagi. Jujur, aku sangat merindukanmu, aku rindu semua yang ada pada mu. Sudah lama kita tidak bercinta, sebenarnya sekarang aku sangat menginginkannya, tapi apa boleh buat. Melihatmu seperti ini aku benar-benar tidak tega, cepat sembuh ya sayang," ucap Kusuma sambil mencium kening Rossa.


"Ya, pulanglah,"


"Ini untuk berobat kamu ya," ucap Kusuma sambil memberikan amplop berisi uang puluhan juta.


"Oke, makasih. Ini yang aku suka dari kamu. Kalau aku sudah sembuh, akan ku berikan yang kamu mau,"


"Ya, aku tunggu waktu itu tiba dan akan kubawa kan yang lebih dari ini. Aku pulang dulu ya," ucap Kusuma sambil mencium pipi Rossa.


"Ya,"


Kusuma pun keluar dari kamar Rossa dan langsung meninggalkan rumah Rossa menuju ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2