Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 38


__ADS_3

Maya dan Amanda berangkat lebih dulu ke kebun binatang. Barulah setelah itu Doni bersiap-siap menjemput Shella.


"Pa, kita duluan ya. Kalau kesiangan kasihan Amanda nanti cuaca panas,"


"Iya ma, kalian hati-hati ya. Ni papa juga mau siap-siap berangkat,"


Maya dan Amanda pun bergegas ke kebun binatang.


Setelah beberapa jam di kebun binatang, akhirnya Amanda pun merasa puas, dia pun mengajak Maya pulang, karena sepertinya Amanda juga sudah sangat kelelahan melihat-lihat binatang ke sana kemari.


"Ma, pulang yuk. Amanda udah bosan nih ma dah capek juga,"


"Beneran udah? ya sudah, kita pulang yuk, tapi anterin mama ke mall sebentar ya, ada yang mau mama beli, abis itu kita makan siang dulu ya sayang. Setuju sayang?"


"Oke ma, tapi jangan lama-lama ya ma belanjanya, Amanda udah capek nih,"


"Iya-iya sayang, mama gak lama kok. ya udah, kita ke mall sekarang ya,"


Mereka pun bergegas pergi meninggalkan kebun binatang dan menuju ke mall yang tidak jauh dari tempat itu. Sesampainya di mall, Maya dan Amanda langsung masuk dan menuju tempat barang yang akan Maya beli.


"Mama mau beli apa sih?"


"Mama mau beli tas baru sayang, besok mama mau pergi arisan sama teman-teman mama. Mama harus beli tas baru dong, karena mama selalu pakai tas baru kalau pergi arisan,"


"Emang harus ya ma, pakai tas baru?"


"Iya dong sayang, teman-teman mama juga. Mereka juga pakai tas baru, tapi ada juga sih yang enggak. Tapi kalau mama harus dong sayang,"


"Tau ah, mama ribet. Buruan dong ma, Amanda dah lapar nih,"


"Iya-iya sayang, tuh sebelah sana. Kita ke sana yuk,"


Maya pun sibuk memilih tas mahal yang akan dia bawa pergi ke arisan, sementara Amanda hanya mengikuti mamanya dibelakang sambil terus memburu-buru mamanya.


"Sayang, menurut kamu ini bagus gak sayang?"


"Mana aku tau ma, kalau menurut Amanda semua jelek. Amanda gak suka tas kayak gitu. Udah dong ma buruan, Amanda dah lapar nih ma,"


"Sayang...kamu kok jujur banget sih, iya-iya, bentar lagi ya sayang. Mama belum dapat yang cocok nih. Mungkin sebelah sana," ucap Maya sambil berjalan melihat-lihat tas yang lain.

__ADS_1


Setelah memilih-milih, akhirnya Maya mendapatkan tas yang sesuai dengan keinginannya.


"Nah, ini baru bagus sayang, mama suka. Bagus kan sayang?"


"Iya ma bagus, udah kan ma. Ayo ma buruan,"


"Iya-iya sayang, yuk,"


Baru saja Maya akan melangkah, tiba-tiba sekilas dia melihat laki-laki yang mirip dengan Doni bersama seorang wanita cantik. Hati Maya langsung berdebar, dia berniat mendekati laki-laki itu, untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar-benar Doni atau bukan. Namun baru saja dia akan melangkah ke arah laki-laki itu, Amanda yang sudah kesal dengannya, langsung menarik tangannya dan mengajaknya pergi.


"Ayo ma, buruan. Amanda dah capek ma,"


"Tapi sayang, mama mau ke sana sebentar aja ya sayang,"


"Gak mau ma, ayo ma...Amanda lapar, ih...buruan ma,"


"Iya-iya sayang, kita pergi makan ya sayang,"


Maya pun tidak bisa lagi menolak permintaan putrinya, meskipun dia sangat penasaran dengan laki-laki itu, namun dia juga tidak tega melihat putrinya yang sudah lapar dan lelah dan terus saja merengek mengajaknya pergi. Akhirnya Maya pun mengurungkan niatnya untuk menemui laki-laki itu, yang memang benar dia adalah Doni yang sedang menemani Erina berbelanja.


"Kamu gak bosan temani aku belanja, gak takut juga dimarahin istrimu kalau uangmu habis?" tanya Shella.


"Makasih ya, kayaknya udah deh. Kita pulang yuk,"


"Jangan pulang dulu lah, aku pengen seharian ini sama kamu. Mau kan temani aku, aku masih kangen sama kamu sayang, mau ya?"


"Oke, aku temani kamu. Sebagai ucapan terimakasih juga karena kamu udah belanjain aku sebanyak ini,"


"Iya, makasih sayang. Sekarang kita makan siang dulu yuk,"


"Oke,"


Sementara itu, Maya dan Amanda sedang menikmati makan siang mereka ditempat yang berbeda dengan Doni dan Shella. Amanda yang sudah sangat lapar, menyantap makanannya dengan lahap. Sementara Maya, terlihat sangat gelisah, dia masih saja memikirkan tentang laki-laki yang baru saja dia lihat di mall tadi, yang sangat mirip dengan Doni. Maya yang tidak tenang pun langsung menelpon Doni.


Setelah beberapa kali mencoba menelpon Doni, namun Doni tetap saja tidak mau mengangkatnya, membuatnya semakin kesal.


"Huh, kenapa sih gak diangkat," ucap Maya kesal.


"Kenapa sih ma marah-marah? Mama gak makan?"

__ADS_1


"Ini lho papamu kok gak mau angkat telepon mama, sayang lanjutin makannya ya, mama mau coba lagi telepon papa,"


Setelah beberapa kali mencoba dan mencoba lagi, tetap saja, Doni tidak mau mengangkatnya. Membuat Maya benar-benar sangat marah.


"Udah lah ma, mungkin papa masih sibuk mancing. Kalau gak lagi makan siang sama teman-temannya. Mama makanlah dulu ma, nanti mama sakit lho kalau telat makan,"


"Iya sayang, mama makan. Kamu juga abisin makannya ya sayang,"


"Iya ma,"


Maya berusaha bersikap tenang, meski hatinya penuh dengan kebimbangan dan kecurigaan terhadap Doni. Dia tidak mau Amanda mengkhawatirkannya.


Selesai makan, mereka pun langsung pulang ke rumah, karena Amanda sudah sangat kelelahan. Sesampainya di rumah Amanda langsung istirahat di kamarnya, sementara Maya masih terus berusaha menelpon Doni. Namun hasilnya tetap saja nihil, Doni masih belum juga mengangkat teleponnya. Akhirnya Maya pun menyerah dan menunggu Doni pulang untuk mengeluarkan semua unek-unek nya yang dia pendam sedari tadi.


Sementara itu, Doni dan Shella baru saja selesai makan siang, selanjutnya mereka berencana pergi ke kolam renang untuk menghabiskan waktu berdua sambil berenang.


Sesampainya di kolam renang, Doni langsung melepaskan pakaiannya dan menghempaskan tubuhnya ke kolam renang, sementara Erina hanya duduk memperhatikan Doni. Dia menatap tubuh Doni yang putih tinggi, tubuh yang dulu pernah memeluknya setiap kali bertemu, tubuh yang dia rindukan setiap saat, yang mendekapnya saat dia gelisah, sedih dan putus asa kala orang tuanya melarang keras hubungan mereka.


Air mata Erina hampir saja menetes, namun dia berusaha keras menahannya, agar jangan sampai dia mengeluarkan air mata lagi untuk Doni, dia berusaha kuat seperti yang telah diajarkan Rossa padanya.


"Sayang, kamu kok diam saja. Kamu gak pengen berenang, ayo dong sayang," ajak Doni yang masih didalam kolam renang.


"Gak ah, aku disini aja,"


"Yah, gak seru dong," ucap Doni yang lalu berenang lagi ke tengah.


Setelah beberapa menit, Doni kembali ke tepi kolam, kali ini dia duduk didekat Erina, yang membuat Erina merasa sangat risih. Doni terus menggeser duduknya mendekati Erina, Erina pun berusaha terlihat tenang meski kenyataannya dia sudah tidak tahan dengan posisi ini.


"Shella?"


"Iya, kenapa?"


"Aku sangat mencintaimu Shella, aku benar-benar sangat mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi milikku," ucap Doni sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Shella, berusaha mencium bibir Shella.


Namun Shella langsung menyentuh bibir Doni dengan jari telunjuknya untuk mencegah, agar jangan sampai Doni menciumnya sedikitpun.


"Kenapa? ayo dong sayang, boleh kan aku mencium mu" rayu Doni.


"Belum, belum waktunya," jawab Shella sambil memencet hidung Doni. Yang membuat Doni hanya tersenyum dan semakin penasaran dengan Shella.

__ADS_1


"Oke, aku akan menunggu sampai waktunya tiba," ucap Doni sambil mencium tangan Shella, lalu kembali berenang.


__ADS_2