Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 42


__ADS_3

"Jadi bagaimana keadaan Tante saya dok, apa dia baik-baik saja? atau perlu dirawat di rumah sakit?" tanya Erina, usai dokter memeriksa Rossa.


"Tidak perlu, Bu Rossa baik-baik saja. Dia hanya demam, berikan saja obat sesuai resep yang saya berikan, dua atau tiga hari dia pasti akan segera sembuh. Tapi ingat, jangan biarkan dia beraktivitas dulu, perbanyak istirahat aja dulu, karena sepertinya dia juga kecapekan. Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu,"


"Iya dok, terimakasih banyak dok,"


"Sama-sama," jawab dokter yang langsung pergi, karena sudah ditunggu oleh pasiennya di rumah sakit.


"Tuh, Tante dengar sendiri kan. Tante harus banyak istirahat, minum obat biar cepat sembuh. Terlalu banyak yang Tante urusin, sampai Tante gak memperhatikan kesehatan Tante,"


"Lho, orang sakit kok malah diomelin sih. Awas ya kalau Tante sembuh, Tante omelin balik kamu,"


"Gak takut Tante, mana bisa Tante omelin Erin, kan Tante sayang sama Erin," ejek Erina.


"Iya, kamu benar sayang. Tapi Tante bisa kok marah sama kamu, kalau sampai kamu tergoda lagi dengan si Doni itu,"


"Tante tentang saja, itu gak akan pernah terjadi Tante, Erin janji,"


"Bagus sayang, Tante suka jawaban kamu,"


Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Sudah pasti itu mbok Minah.


"Tok...tok...tok,"


"Masuk mbok," seru Erina dari dalam.


"Non Erin, itu ada den Doni datang,"


"Oh iya, nanti saya ke bawah. Mbok Minah buatkan minum saja dulu ya mbok,"


"Baik non," timbal mbok Minah yang langsung keluar.

__ADS_1


Bukannya keluar, Erina justru malah berbaring di dekat Rossa. Sepertinya dia malas menemui Doni.


"lho, pacarnya datang kok malah tidur. Bukannya dandan yang cantik, terus temui pacarnya," ejek Rossa sambil menahan tawa.


"Apa sih Tante, gak lucu ah. Sebenarnya Erin malas banget Tante ketemu Doni, pengen rasanya Erin pukul dia sampai Erin puas,"


"Udah sana keluar, kamu sendiri kan yang memilih cara ini. Tante udah tawarin kamu jalan pintas, tapi kamu memilih menghancurkannya perlahan, jadi ya kamu harus ikuti cara mainnya dong, jangan seenak kamu sendiri, bisa gagal nanti rencana kamu,"


"Iya-iya Erin keluar, Erin tinggal dulu ya Tante,"


"Iya sayang, hati-hati ya jangan dekat-dekat, nanti kamu terlena," gurau Rossa sambil tersenyum.


"Gak akan," jawab Erina yang langsung keluar.


Dengan langkah malas-malas Erina menuruni anak tangga, tiba diruang tamu dia pun langsung duduk dan menyapa Doni dengan ramah, meski pun dia enggan melakukannya.


"Hai, tumben pagi-pagi kesini. Gak ke kantor?"


"Oh ya?"


"Iya, aku beneran kangen. Sayang, lutut kamu luka, kenapa sayang? kok bisa, kamu jatuh?" tanya Doni panik, yang kemudian menggeser duduknya mendekati Erina sambil menyentuh lutut Erina.


"Gak pa-pa, cuma luka ringan. Keserempet motor tadi pagi waktu bersepeda,"


"Lain kali hati-hati sayang, tapi udah dikasih obat kan?"


"Udah,"


"Baguslah, kasihan kamu sayang. Masih sakit ya, padahal rencananya nanti malam aku mau ajak kamu dinner. Tapi gak pa-pa, lain kali aja,"


"Iya, lain kali aja. Tanteku juga lagi gak enak badan,"

__ADS_1


"Oh ya?"


"Iya, ini juga aku lagi jagain dia. Kamu jangan lama-lama, gak enak sama tanteku,"


"Iya, aku juga mau ke kantor. Tapi aku masih kangen banget sama kamu sayang," ucap Doni yang tanpa Erina duga memeluknya dengan erat.


Erina pun langsung mendorong tubuh Doni, berusaha melepaskan pelukan Doni. Namun itu tidak mudah, karena Doni memeluknya begitu erat. Sepertinya Doni benar-benar sangat merindukan Erina, dia ingin meluapkan kerinduannya yang sudah tidak tertahan lagi.


"Doni, kamu apa-apaan. Lepaskan pelukanmu Don, aku minta lepaskan!" pinta Erina sambil terus mendorong tubuh Doni.


"Enggak sayang, aku gak akan melepaskan pelukanku, aku kangen banget sama kamu sayang, aku tersiksa, aku mohon mengertilah,"


"Iya, tapi kamu cukup menemui ku, kamu tidak harus memeluk ku kan?"


"Maaf sayang, aku tidak bisa lagi menahan perasaanku, aku ingin sekali memiliki mu, aku menginginkanmu sayang,"


"Tapi aku tidak suka dengan caramu ini, aku minta lepaskan aku. Oke, kalau kamu tidak juga mau melepaskan pelukanmu, aku akan teriak, biar kamu habis dipukuli para penjaga diluar. Aku hitung sampai tiga, kalau kamu gak juga lepasin, aku teriak nih. Satu..."


"Iya-iya sayang, oke aku nyerah," ucap Doni yang langsung melepaskan pelukannya.


"Awas, lain kali kalau kamu berani melakukannya lagi, aku tidak akan pernah memaafkan mu,"


"Iya sayang, maaf. Abisnya aku kangen banget sama kamu sayang. Kamu tau, aku bisa gila kalau tidak bisa meluapkan rasa kangenku ini. Rasanya berat sayang, tersiksa,"


"Udah ah, kamu lebay. Pulanglah, nanti kamu terlambat ke kantor,"


"Jelas aku sudah terlambat sayang, tapi aku gak perduli, yang penting aku bisa mengobati rasa rinduku sama kamu. Ya udah, aku pulang dulu ya, salam buat Tante kamu, semoga cepat sembuh,"


"Iya, nanti aku sampaikan,"


Sepulangnya Doni, Erina kembali lagi ke kamar Rossa. Dia sengaja menghabiskan waktunya untuk menemani Rossa, agar Rossa tidak merasa jenuh istirahat di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2