Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 32


__ADS_3

Doni tengah menikmati sarapan pagi dengan keluarganya, saat tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dia pun buru-buru merogoh handphonenya dari dalam sakunya. Sejak mengenal Shella dan menyukainya, Doni jadi lebih berhati-hati, dia tidak sembarangan menaruh handphonenya, agar jangan sampai Maya mengetahui kalau dia sedang dekat dengan wanita pujaannya, Shella.


"Siapa pa pagi-pagi telpon? orang kantor ya?"


"Iya ma, papa angkat dulu ya. Kalian lanjutkan makannya," ucap Doni yang lalu menjauh dari meja makan.


Jelas saja Doni tidak berani mengangkat teleponnya didepan Maya, karena ternyata itu telpon dari Shella.


"Hai sayang... mimpi apa aku semalam, kok pagi-pagi udah dapat telpon dari kamu. Ada apa sayang?" tanya Doni di telpon dengan suara sedikit berbisik.


"Kamu memang benar-benar laki-laki buaya ya, sempat-sempatnya kamu panggil sayang, meski takut ketahuan istrimu. Aku cuma mau bilang, aku mau jalan sama kamu hari ini, jemput aku jam sembilan pagi,"


"Duh, gimana ya. Hari ini aku ada meeting penting dengan klien sayang, bisa gak jalannya ditunda besok?"


"Bisa, tapi bukan sama aku, sama pembantuku. karena aku maunya hari ini. Terserah kamu, kalau kamu memang sayang sama aku jemput aku sekarang. Kalau kamu tidak mau, jangan harap aku mau menemui mu lagi,"


"Iya-iya, aku jemput kamu pagi ini. Oke, kita jalan hari ini. Jangan bilang lagi kalau kamu tidak mau menemui ku, aku tidak bisa. Karena sehari saja gak ketemu, rasanya setahun sayang,"


"Oke, aku tunggu. Bye..."


"Bye sayang..." timbal Doni dengan senyum bahagia di bibirnya.

__ADS_1


Setelah selesai menelpon, Doni kembali ke meja makan.


"Siapa sih pa yang telpon?"


"Rita ma, dia mengingatkan kalau hari ini kita ada meeting penting, sama ada yang dibahas sedikit tadi soal pekerjaan,"


"Oh yang papa bilang kemaren ya, meeting sama pak Wahyu kan? dia pemilik perusahaan yang cukup besar dan maju pa, sangat bagus kalau kita bisa bekerja sama dengan perusahaannya, papa harus bisa mengambil hatinya agar mau bekerja sama dengan kita. karena kalau sampai kita bisa bekerja sama dengan perusahaannya, itu bisa sangat menguntungkan perusahaan kita pa,"


"Iya sayang, kamu tenang saja. Papa pasti bisa membuat perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaan pak Wahyu,"


"Iya, mama percaya sama papa. O iya, gimana kemampuan Rita menjadi sekretaris, masih oke kan?"


"Dan yang paling utama, dia gak ganjen," ucap Maya cetus, yang membuat Doni hanya meringis.


Selesai sarapan Doni dan Amanda pun langsung berangkat, Amanda selalu berangkat bareng papanya, karena letak sekolah Amanda yang searah dengan kantor mamanya, sementara pulangnya barulah Maya yang menjemputnya.


Sesampainya di kantor, Doni langsung memanggil Rita ke ruangannya, pastinya ingin membahas tentang meeting hari ini.


"Tok...tok...tok..."


"Masuk,"

__ADS_1


"Ada apa pak?"


"Bagaimana persiapan meeting hari ini dengan pak Wahyu?"


"Aman pak, semua berkas yang dibutuhkan sudah saya siapkan,"


"Bagus, tapi sepertinya saya tidak bisa ikut. Kamu saja yang berangkat ya, ajak Budi untuk membantumu,"


"Maaf, kenapa bapak tidak ikut? Sekarang kan bapak tidak ada jadwal apa-apa selain meeting dengan pak Wahyu. Maaf pak, ini meeting yang sangat penting pak, kehadiran bapak sangat diperlukan dalam meeting ini. Apa tidak sebaiknya bapak tunda dulu keperluan yang lain dan lebih mengutamakan meeting ini pak,"


"Saya mau tanya sama kamu, disini yang jadi bos siapa? aku apa kamu?"


"Bapak," jawab Rita yang terlihat sedikit ketakutan.


"Nah itu tau, jadi terserah saya. Saya yang mengatur semua disini. Kamu turuti saja semua permintaan saya, jangan sesekali melawan, kecuali kalau kamu sudah bosan kerja disini,"


"Iya pak, kalau begitu saya permisi," ucap Rita yang semakin ketakutan, karena selama bekerja dengan Doni, baru pertama kali ini dia dimarahi.


"Ya," jawab Doni.


Rita pun buru-buru keluar ruangan Doni, sebelum Doni semakin marah.

__ADS_1


__ADS_2