
Semakin hari Doni semakin disibukkan oleh keinginannya mendekati Shella. Berbagai macam cara dia lakukan untuk bisa mendapatkan cintanya Shella, wanita yang sangat dia cintai. Doni yang sudah paham kalau Shella menyukai barang-barang mewah pun tidak berhenti memberikan barang mewah kepada Shella sekedar untuk menyenangkan hatinya Shella.
Hari ini, Doni mengirimkan sebuah tas mahal ke rumah Shella, untuk memberikan kejutan kepada Shella, karena beberapa hari lalu Shella mengatakan kalau dia sangat menginginkan tas seperti itu. Doni tidak pikir panjang, dia langsung membeli tas yang diinginkan oleh Shella meski harganya selangit.
"Hai sayang, gimana, kamu suka kan tasnya?" tanya Doni saat menelpon Shella, sambil bersantai di ruangannya.
"Sudah, makasih ya. Kamu selalu bisa nyenengin aku. Sebagai ucapan terimakasih ku, gimana kalau besok kita jalan?"
"Besok?"
"Iy, kenapa? kamu gak bisa ya, besok kan hari minggu, aku pengen liburan sama kamu, tapi kalau kamu gak bisa, ya udah gak pa-pa, kapan-kapan saja kalau aku mau,"
"Bisa dong sayang, jangan ngambek dong, iya-iya kita jalan-jalan besok ya, aku jemput kamu, oke?"
"Oke... ya udah, bye,"
"Bye sayang,"
Usai menelpon, Doni terlihat sedikit gelisah. Dia harus memilih antara Shella atau anaknya, karena besok hari Minggu, sudah menjadi kebiasaan, setiap hari libur, Doni dan Maya selalu mengajak Amanda pergi jalan-jalan. Doni menyandarkan kepalanya di kursinya sambil terus berpikir, alasan apa yang akan dia berikan pada Maya dan Amanda karena dia tidak bisa ikut pergi jalan-jalan dengan mereka. Sudahlah pasti Doni lebih memilih pergi dengan Shella. Sedang berpikir mencari alasan, tiba-tiba pintu ruangannya ada yang mengetuk.
"Tok...tok..."
"Masuk,"
"Maaf pak mengganggu,"
"Iya gak pa-pa, ada apa?" tanya Doni pada Rita, sekretarisnya.
"Saya hanya mau menyampaikan, tadi pak Wahyu sudah memberi keputusan lewat telepon, kalau dia tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan kita. Dia juga menyampaikan permohonan maaf pada pak Doni,"
"Sialan! sombong sekali si Wahyu itu, mentang-mentang perusahaannya lebih besar dari perusahaan kita. O iya, Maya pasti tidak menyukai berita ini. Aku minta sama kamu, jangan pernah mengatakan pada Shella kalau saya tidak menghadiri rapat dengan pak Wahyu waktu itu, kalau kamu berani bilang, kamu saya pecat, ngerti kamu,"
__ADS_1
"Iya pak saya mengerti,"
"Bagus, sekarang kamu boleh kembali ke ruangan mu,"
"Baik pak, saya permisi,"
"Ya,"
Doni benar-benar dibuat pusing dengan masalah-masalah yang dia timbulkan sendiri, belum juga menemukan alasan untuk besok, sekarang dia juga harus memikirkan bagaimana menyampaikan pada Maya tentang penolakan pak Wahyu terhadap perusahaannya untuk bekerja sama, karena Maya pasti akan sangat kecewa mengenai hal ini.
Malamnya, sehabis makan malam Doni, Maya dan Amanda bersantai di ruang tengah. Mereka sedang membahas acara liburan besok.
"Jadi kamu mau pergi kemana besok sayang?" tanya Maya pada putrinya.
"Amanda pengen pergi ke kebun binatang ma, boleh kan ma?"
"Boleh dong sayang, Amanda mau pergi kemana pun pasti mama bolehin sayang, ya kan pa?"
"Yah...gak seru dong,"
"Iya, memang papa mau kemana sih. Besok kan libur pa," gerutu Maya.
"Sorry ma, papa sudah ada janji dengan teman-teman lama papa kalau kami mau pergi memancing bersama, reunian gitu ma. Gak pa-pa kan kalau sekali ini papa gak ikut kalian jalan-jalan. Soalnya itu sudah lama papa rencanakan sama teman-teman, jadi gak enak dong kalau papa gak ikut,"
"Ya udah, gak pa-pa papa gak ikut, mama bisa memakluminya. Gak pa-pa kan sayang jalan-jalannya sama mama aja?"
"Iya deh, gak pa-pa ma,"
"Ya udah, tidur sana udah malam,"
"Iya ma," jawab Amanda yang langsung pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Setelah Amanda pergi ke kamarnya, Doni dan Maya pun melanjutkan obrolan mereka.
"Bagaimana pa, apa sudah ada kabar dari pak Wahyu?"
"Sudah ma, tadi siang dia sudah memberikan keputusannya."
"Jadi gimana pa? dia mau bekerja sama dengan perusahaan kita kan pa?" tanya Maya penuh harap.
"Maaf ma, papa tidak berhasil mengajak pak Wahyu bekerja sama. Padahal papa sudah berusaha sebaik mungkin agar kita bisa bekerja sama dengan pak Wahyu, tapi sepertinya pak Wahyu terlalu sombong, terus terang papa tidak percaya kalau dia menolak kerja sama ini, kurang apa coba perusahaan kita, semua orang juga tau perusahaan Maya itu perusahaan yang terbaik dan ternama. Bedanya, perusahaan pak Wahyu memang sedikit lebih besar dari perusahaan kita, mungkin itu yang membuat dia dengan mudah memberikan keputusan seperti itu,"
"Terus terang mama sangat kecewa pa, karena mama tadinya sudah yakin kalau pak Wahyu mau bekerja sama dengan kita, selain mama merasa perusahaan kita layak bekerja sama dengan perusahaan pak Wahyu, mama juga sudah kenal baik dengan beliau, tapi kenapa dia menolak kerja sama ini?" ucap Maya yang masih tidak percaya dengan keputusan pak Wahyu.
"Sayang, kamu kok bicara seperti itu sih. Seolah-olah ini kesalahan papa,"
"Bukan begitu pa maksud mama, mama hanya masih belum percaya dengan semua ini, mama juga tidak menyalahkan papa. Kalau memang papa sudah merasa berusaha sebaik mungkin, ya sudah, papa tidak perlu merasa bersalah. Benar kan kata mama?"
"Iya sayang, maaf papa terbawa suasana, terus terang papa masih kesal dengan pak Wahyu,"
"Apalagi mama pa, mama lebih kesal, ya sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Bikin emosi," ucap Maya yang terlihat sangat kesal.
Melihat Maya kesal, Doni pun duduk mendekati Maya, dia berusaha menenangkan Maya. Selain itu, sebenarnya Doni pun merasa bersalah atas semua yang terjadi, kalau saja dia bersikap profesional waktu itu dan bersedia menghadiri rapat dengan pak Wahyu, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Mungkin pak Wahyu mau bekerja sama dengannya.
"Sayang, kamu marah ya. Iya maaf ini salah papa, papa memang tidak becus mengurus perusahaan. Maaf, papa sudah mengecewakan mama. Papa janji, akan berusaha lebih baik lagi. Sudah dong, jangan marah lagi ya sayang," ucap Doni sambil membelai rambut Maya.
Maya pun seketika luluh hatinya, dia tersenyum lalu memeluk Doni.
"Sudahlah sayang, gak usah dibahas lagi. Mama percaya sama papa, mungkin karena kita kurang beruntung saja. Mama gak marah, mama hanya sedikit kecewa, tapi ya sudahlah kita bahas yang lain saja ya. Jadi besok rencananya papa mau berangkat jam berapa? ada berapa orang teman-teman papa?"
"E...belum jelas jam berapa nya, terserah teman-teman, papa ikut aja. Kalau teman papa sekitar lima orang, ya lima orang," ucap Doni sedikit gugup.
Doni pun lalu mengajak Maya ke kamar, karena dia tidak mau Maya terus membahas soal memancing yang tidak pernah dia rencanakan sama sekali dan tidak akan dia lakukan, karena itu hanya sebuah kebohongan untuk bisa pergi jalan-jalan dengan Shella, wanita yang sangat dia cintai.
__ADS_1