Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 25


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Rossa menegaskan lagi kepada beberapa anak buahnya yang sedang bersamanya agar lebih berhati-hati lagi. Rossa tipe bos yang sangat memperhatikan bawahannya, dia bertanggung jawab penuh atas keselamatan mereka. Dia juga paling tidak suka ada yang ikut campur urusan dia, karena dia sendiri juga tidak pernah mencampuri urusan orang lain, kecuali pada orang yang membutuhkan bantuannya.


Sesampainya di rumah, Rossa langsung disambut oleh sikap manja Erina yang sudah seperti adik Rossa sendiri. Inilah suasana yang sangat dirindukan Rossa selama ini, ada yang menunggunya dirumah saat dia pergi. Mungkin kalau saja Rossa mau menikah, punya suami dan seorang anak, itu akan membuat hidupnya lebih sempurna. Tapi sayangnya, prinsip hidupnya terlalu keras dan sangat sulit untuk diubah, yaitu tidak ada cinta untuk seorang laki-laki dalam hidupnya. Masa lalunya benar-benar membuatnya tidak percaya lagi dengan seorang laki-laki.


"Tante..., Tante dari mana saja, memangnya Tante gak capek ya baru pulang pergi lagi. Tante dari mana sih, Erina kok gak diajak?"


"Sayang... Tante gak kemana-mana, cuma keluar sebentar. Kamu udah makan belum?"


"Belum Tante,"


"Ya sudah, Tante ke kamar dulu sebentar ya. Sudah itu kita makan,"


"Ya Tante,"


Selesai ganti pakaian Rossa pun turun ke bawah lalu makan siang bersama Erina. Baru saja mereka akan menyantap makanan mereka, terdengar suara ribut-ribut di luar, yang membuat Rossa seketika langsung emosi dan langsung pergi keluar.


"Brengsek! ada apa lagi sih, gak tau orang mau makan, ada saja. Sayang, kamu makanlah dulu, Tante mau keluar dulu ya,"


"Iya Tante," jawab Erina.


Bagaimana Rossa tidak emosi, dia baru saja pulang ke rumah dan baru mau menyantap makan siang nya. Tapi sepertinya dia terus saja dibuat sibuk dengan masalah-masalah yang menghampirinya. Sementara Erina tidak jadi makan, dia yang juga penasaran ada apa diluar, langsung berlari ke atas. Dia tidak berani ikut mendekat, sementara dia hanya melihat dari lantai atas.


Erina terlihat sangat ketakutan, dia melihat dibawah ada sekelompok orang yang terlihat sangat menyeramkan, sepertinya mereka sekelompok gengster. Erina tidak habis pikir, bagaimana Rossa bisa berurusan dengan orang-orang seperti itu. Erina terlihat sangat gelisah, dia takut terjadi apa-apa dengan Rossa.


Sementara itu suasana didepan rumah Rossa terlihat sangat tegang, seorang laki-laki botak, gemuk, dengan perutnya yang buncit, yang sepertinya bos dari sekelompok orang-orang itu, terlihat sedang marah-marah dan ingin memaksa masuk ke rumah Rossa, namun anak buah Rossa berusaha menahannya. Salah satu anak buah Rossa berniat memberitahu Rossa, namun Rossa keburu keluar.


"Ternyata kamu Gunawan, mau apa kamu kesini?"

__ADS_1


"Sayang...lama tidak bertemu, kamu terlihat semakin cantik. Aku kesini hanya ingin minta ganti rugi, karena kalian sudah membuat adikku patah tulang di bagian lengannya tiga hari lalu,"


"Kita bicarakan itu empat mata didalam," ajak Rossa.


"Dengan senang hati sayang," jawab Gunawan.


Mereka berdua pun langsung masuk kedalam, sementara yang lain menunggu diluar.


"Aku tidak yakin bos akan berhasil membawa pulang uang lima ratus juta kalau sudah berhadapan langsung dengan Rossa," bisik salah satu anak buah Gunawan pada temannya.


"Kamu benar, aku juga tidak yakin," timbal temannya.


Sepertinya mereka sudah paham dengan bos mereka yang sangat mengagumi Rossa.


Sementara itu di dalam, Rossa mempersilahkan Gunawan duduk di ruang tamu. Setelah Gunawan duduk, Rossa menghampiri Gunawan. Dia langsung duduk dipangkuan Gunawan, lalu membahas soal adik Gunawan yang dihajar oleh anak buahnya tiga hari lalu.


"Jadi kamu mau apa tadi kesini?" tanya Rossa sambil memainkan dasi Gunawan, yang membuat Gunawan terlihat sangat senang.


"Kamu tau apa kesalahan adik kamu? dia sudah membuat keributan di tempatku, dia juga sudah berbuat kasar dengan anak-anak. Kamu tau sendiri Gunawan, aku paling tidak suka dengan laki-laki kasar. Aku suka laki-laki lembut seperti kamu," ucap Rossa sambil membelai pipi Gunawan.


"Iya sayang, maafkan kelakuan adikku. Ini memang kesalahannya," timbal Gunawan sambil menyentuh jemari tangan Rossa, lalu menciumnya.


"Jadi, apa kamu masih minta pertanggung jawaban dariku? apa kamu tidak kasihan denganku, aku hanya seorang wanita yang butuh kasih sayang dan perhatian. Aku juga bekerja sendiri, tidak ada yang mencarikan ku uang. Apa kamu tega meminta ganti rugi dengan ku?" Rossa berusaha merayu Gunawan dengan cara memelas, agar dia tidak sampai mengeluarkan uang sepeserpun untuk Gunawan.


"Tidak sayang, aku tidak akan sampai hati melakukan itu pada orang yang sangat aku sayangi. Biar ini jadi satu pelajaran untuk adikku, agar dia tidak mengulang lagi kesalahannya,"


"Terimakasih Gunawan, kamu memang benar-benar laki-laki sejati, aku suka itu," ucap Rossa sambil memberikan satu ciuman di pipi Gunawan, yang membuat Gunawan serasa melayang ke udara.

__ADS_1


Sudah lama Gunawan tergila-gila dengan sosok Rossa, tapi Rossa tidak pernah meresponnya sedikitpun. Sudahlah pasti karena Gunawan bukan tipe nya Rossa, seandainya Rossa ada niat menerima laki-laki dalam hidupnya.


"Pulanglah, aku lelah sekali. Aku mau istirahat," pinta Rossa yang sudah sangat malas berlama-lama dengan Gunawan.


"Iya sayang, aku pulang. Maaf, sudah mengganggu waktu istirahatmu,"


"Iya, tidak apa-apa,"


Gunawan pun beranjak dari tempat duduknya, baru dua kali melangkahkan kakinya, dia berbalik menghampiri Rossa lagi, yang membuat Rossa sedikit heran, takut kalau Gunawan berubah pikiran dan kembali meminta ganti rugi. Tapi ternyata Gunawan hanya ingin memeluknya, sepertinya Gunawan masih ingin berlama-lama dengan Rossa.


"Bolehkah aku memelukmu sebentar saja, sebelum aku pulang?" pinta Gunawan.


"Boleh dong," jawab Rossa yang langsung memeluk Gunawan.


Gunawan terlihat sangat bahagia, ini baru pertama kalinya dia bisa sedekat ini dengan Rossa, hatinya pun berbunga-bunga, rasa amarah yang meluap-luap saat dia datang, seketika hilang kala berhadapan langsung dengan Rossa. Dia pun keluar rumah Rossa dengan senyum manis di pipinya dan tanpa membawa uang sepeserpun, yang membuat anak buahnya hanya bisa menggelengkan kepala dan mengikutinya melangkah meninggalkan rumah Rossa dengan penuh rasa kecewa.


Sementara anak buah Rossa, tersenyum puas. Mereka yakin, kalau bos mereka pasti dengan mudah bisa menyelesaikan ini tanpa kekerasan dan tanpa dirugikan.


Setelah menemui Gunawan, Rossa kembali ke ruang makan untuk melanjutkan makan siangnya. Sementara Erina baru turun dari lantai atas setelah dia melihat Gunawan dan anak buahnya pulang.


"Sayang, kamu dari mana? kamu sudah selesai makannya?"


"Belum Tante, Erina belum makan. Erina khawatir takut terjadi apa-apa sama Tante,"


"Kamu lihat, Tante baik-baik saja kan,"


"Iya Tante, mereka tadi siapa sih Tante?"

__ADS_1


"Ah...dia teman Tante. Sudahlah, jangan mikirin orang-orang tadi. Yuk kita makan, Tante sudah lapar,"


Rossa benar-benar tidak mau Erina tau tentang kehidupannya, dia hanya ingin Erina tenang dan nyaman tinggal di rumahnya, tanpa harus memikirkan tentang kehidupannya yang selalu dekat dengan masalah. Sementara Erina pun tidak memaksa Rossa untuk memberi tau tentang kehidupannya, dia juga memahami kalau Rossa tidak mau dia tau soal itu. Intinya mereka berusaha saling menjaga dan menghargai satu sama lain, berusaha saling membahagiakan dan tidak menambah beban pikiran masing-masing.


__ADS_2