
Paginya, Doni pun terbangun. Suasana masih sepi, terlihat sisa-sisa botol minuman dan bekas bungkus makanan ringan yang berserakan di lantai. Sebagian orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi masih ada beberapa lagi pemuda yang juga menginap, sekitar empat orang. Mereka semua masih tertidur pulas di lantai yang hanya beralaskan tikar.
Doni langsung pergi ke kamar mandi, untuk cuci muka, dengan langkahnya yang masih sedikit sempoyongan karena kepalanya yang masih terasa pusing. Di dapur, dia lihat Rian sedang memasak yang jelas untuk sarapan Rian dan juga dia.
Selesai dari kamar mandi Doni kembali lagi ke ruang tamu, keempat temannya pun sudah bangun.
"Heh Don. Wah, parah kamu semalam Don. kok bisa sih kamu mabuk separah itu. Sampai kamu tega memukul sahabat kamu sendiri. Begitu berat kah beban hidup kamu, sampai kamu frustasi dan mabuk separah itu," ucap Rendi.
"Gak perlu aku ceritakan, tau sendiri lah bagaimana kisah cintaku," jawab Doni yang langsung mengambil sebatang r***k, lalu menghisapnya.
"Memang iya, aku juga kasihan sama kalian. Sudah bertahun-tahun pacaran, tetap saja belum mendapat restu orang tua Erin. Ya yang sabar aja bro. Ya udah, kita cabut dulu ya, udah kesiangan ini,"
"Oke, siap-siap aja disemprot bos kalian dirumah," ejek Doni.
Mereka semua pun pulang ke rumah masing-masing. Mendengar suara motor mereka, Rian pun keluar dari dalam.
"Sudah pada pulang mereka Don?"
"Sudah Yan, ini juga mereka udah kesiangan. Yan, aku minta maaf soal semalam ya, aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosiku. Entahlah, aku kacau. Semalam aku abis dari rumah Erina untuk minta restu, tapi aku ditolak mentah-mentah oleh ayahnya Erina. Sepertinya aku benar-benar sudah tidak ada harapan lagi Yan,"
"Iya gak pa-pa, aku bisa memakluminya. Jadi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
__ADS_1
"Mungkin aku akan bawa Erin pergi dari sini kalau dia mau, karena ayah Erin hanya memberikan dua pilihan pada Erin, pilih aku atau pilih ayahnya,"
"Wah, pilihan yang sulit juga tuh buat Erina,"
"Maka dari itu, niatku sudah bulat, karena sepertinya aku benar-benar sudah tidak punya harapan lagi. Jadi dengan Erina ataupun tanpa Erina, aku akan tetap pergi dari sini. Karena aku sudah tidak tahan lagi tinggal disini, aku merasa seperti sampah disini, yang tidak disukai dan dijauhi orang-orang. Setahuku, hanya kamu saja orang yang benar-benar tulus menerimaku, makasih ya Yan. Kamu memang sahabatku yang terbaik,"
"Ya...ya, tapi tetap saja aku kena tonjok. Kalau bukan sahabatku, sudah tak jeburin ke kolam kamu semalam,"
"Iya...iya, sekali lagi aku minta maaf ya,"
"Yo'i, terus terang sebenarnya aku kurang setuju dengan cara kamu menyikapi suatu masalah dengan cara seperti ini. Dengan mabuk-mabukan, karena itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Justru sebaliknya, itu hanya akan menambah masalah. Tapi ya sudahlah, kamu bukan anak kecil lagi yang harus selalu aku ingatkan. Mending sekarang kita sarapan terus pergi ke kolam, sepertinya kita sudah kesiangan ini,"
Mereka pun langsung sarapan, setelah selesai sarapan, keduanya pun langsung bergegas menuju ke kolam.
"Erin...Erin, bangun nak. Makan dulu sayang, dari kemaren sore kamu belum makan nak, nanti kamu sakit sayang,"
Sudah beberapa kali Bu Santi membangunkan Erina, tapi Erina tetap tidak mau menjawab. Bu Santi terlihat semakin khawatir.
"Sudahlah Bu, biarkan saja Erin. Kalau dia lapar pasti keluar. Makanya ibu jangan terlalu memanjakannya, jadi ngelunjak kan dia sekarang," ucap pak Rahmat yang sudah siap pergi ke kantor kelurahan.
"Ayah juga keterlaluan, Erin anak kita satu-satunya yah, ibu tidak mau terjadi apa-apa sama Erin," ucap Bu Santi yang langsung pergi ke kamar sambil menangis.
__ADS_1
Pak Rahmat hanya menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya, lalu bergegas pergi ke kantor kelurahan. Sepertinya pak Rahmat masih kesal dengan kelakuan Erina yang tidak pernah mau menurut padanya.
Sementara di dalam kamar, Erina duduk di atas ranjang sambil menyandarkan kepalanya. Sepertinya Erina sedang memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Doni. Erina kembali menangis, dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa Doni, dia sangat mencintai Doni. Tiba-tiba handphonenya berdering, Erina buru-buru mengangkatnya karena dia tau kalau itu pasti telepon dari Doni.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya Doni lewat telepon.
"Aku baik-baik saja sayang," jawab Erina.
"Sayang, sepertinya kita memang tidak akan pernah bisa mendapatkan restu dari ayahmu. Ayahmu benar-benar sangat membenciku, aku menyerah sayang, aku sudah tidak sanggup lagi mendengar cacian dan makian ayahmu. Aku malu, aku benar-benar terlihat tidak berguna di mata ayahmu,"
"Iya sayang, aku juga sudah menyerah. Aku pasrah sayang, apapun keputusanmu aku ikut denganmu sayang. Karena aku sangat mencintaimu, aku tidak mau berpisah denganmu,"
Doni pun menyampaikan kepada Erina, apa yang sudah menjadi niatnya saat ini, kalau dia akan pergi mencari kehidupan di kota, karena dia sudah tidak tahan lagi tinggal di desa dengan segala cacian dan hinaan orang-orang di desa. Selain pak Rahmat, orang-orang pun ternyata banyak yang tidak menyukai sikap dan perilaku Doni yang urakan itu, ditambah dia yang juga seorang pemuda yang sepertinya tidak punya masa depan cerah.
"Sayang, bawalah aku kemanapun kamu pergi. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu, aku tidak bisa berpisah denganmu sayang," ucap Erina sambil menangis.
"Tapi bagaimana dengan orang tuamu, mereka pasti tidak akan mengizinkanmu, terutama ibumu. Seandainya kamu tetap memaksa ikut denganku, itu berarti kamu tidak akan dianggap anak lagi oleh ayahmu. Apa kamu benar-benar siap dengan semua itu sayang?"
"Aku sudah siap sayang, siap lahir batin. Aku benar-benar sudah yakin memilihmu dalam hidupku, karena hanya denganmu lah aku bahagia. Aku sungguh-sungguh sudah ikhlas dan rela meninggalkan mereka demi untuk hidup bersamamu, jadi aku mohon jangan pernah tinggalin aku, berjanjilah untuk selalu di sampingku, kamu bisa kan sayang?"
"Iya, aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu. Karena aku juga sangat mencintaimu, terimakasih sayang karena telah memilihku dalam hidupmu. Aku sangat bahagia sayang, bisa tetap bersamamu meski tanpa restu orang tuamu,"
__ADS_1
Doni pun tidak mengulur-ulur waktu, dia mengatakan pada Erina, kalau besok pagi mereka akan langsung berangkat ke Jakarta. Untuk memulai kehidupan baru mereka tanpa orang tua Erina dan juga tanpa orang-orang desa yang selalu menggunjing mereka. Doni pun menyuruh Erina untuk bersiap-siap mulai dari sekarang, supaya mereka bisa berangkat pagi-pagi sekali agar tidak diketahui oleh orang tua Erina.