
Paginya, Erina bangun lebih awal. Dia pergi ke dapur untuk membantu mbok Minah menyiapkan sarapan. Karena Erina merasa tidak enak kalau cuma makan tidur tanpa melakukan apa-apa.
"Sini mbok, Erina bantuin,"
"Waduh, jangan non. Non Erin jangan ikut-ikutan, nanti dimarahi nyonya,"
"Gak pa-pa mbok, Erina juga bosan gak ada kerjaan,"
"Beneran non gak usah, nyonya pasti akan marah,"
Erina tetap tidak menghiraukan mbok Minah, dia tetap saja membantu mbok Minah memasak. Tidak lama kemudian Rossa datang, melihat Erina sibuk di dapur, benar yang dikatakan mbok Minah, Rossa langsung marah-marah.
"Sayang, kamu ngapain disini? mbok, kenapa Erin dibiarin ikut sibuk di dapur sih. Dia bukan ART saya ya mbok, awas kalau sampai aku lihat mbok Minah biarin dia bekerja di rumah ini,"
"Iya nyonya, maaf,"
"Tante, mbok Minah gak salah Tante. mbok Minah udah larang Erin, tapi Erin yang maksa bantuin,"
"Ya sudah, lain kali jangan diulangi lagi ya. Tante gak mau kamu melakukan pekerjaan rumah, apapun itu. Sekarang ikut tante, kita joging yuk. Tante paling suka menghirup udara segar di pagi hari, terasa sejuk dan menyehatkan. Sekarang kamu ganti pakaianmu dulu, Tante dah siapin dikamar kamu,"
"Iya Tante, Erin ganti baju dulu," jawab Erina.
"Oke,"
Setelah Erina pergi, Rossa pun menegaskan lagi kepada mbok Minah agar jangan sampai Erina hidup susah sedikitpun, selama tinggal dengannya. Meski hanya melakukan pekerjaan rumah, karena Rossa benar-benar sangat menyayangi Erina.
__ADS_1
"Maaf ya mbok, kalau saya marah-marah. Tapi saya memang tidak mau Erina menderita sedikitpun, karena dia sudah cukup menderita. Saya benar-benar ingin membuat dia bahagia, karena saya sangat menyayanginya. Masa lalu kami sama mbok, dia juga tidak punya siapa-siapa disini, selain itu dia juga gadis yang baik. Itu yang membuat saya sangat menyayanginya,"
"Iya nyonya, si mbok juga senang dia tinggal disini. Nyonya jadi punya teman untuk diajak ngobrol, biar nyonya gak kesepian lagi,"
"Iya, mbok Minah benar. Ya sudah, aku joging dulu ya. Kalau ada telpon penting, suruh anak-anak menyusul ku,"
"Baik nyonya,"
Setelah Erina siap, mereka berdua pun bergegas pergi keluar rumah dan memulai lari pagi mereka. Di sepanjang jalan Erina selalu memperhatikan, setiap bertemu dengan laki-laki, mereka semua menyapa Rossa dengan sangat ramah dan senyum lebar di bibirnya. Sangat jauh berbeda ketika mereka bertemu dengan ibu-ibu rumah tangga dijalan, mereka menatap Rossa dengan tatapan sinis penuh kebencian, bahkan ada yang terang-terangan menggunjing Rossa didepan matanya. Mereka semua sepertinya sudah paham, siapa Rossa.
"Lihat tuh, pasti itu barang baru yang akan dijual, kasihan ya cantik-cantik kok dijadikan pemuas nafsu ya. Dasar, perempuan gak punya hati, kerjanya cuma godain suami orang dan merusak anak orang," ucap salah satu ibu-ibu rumah tangga.
"Iya, emang gak punya hati banget dia," timbal yang lainnya.
"Ibu-ibu yang terhormat, perkenalkan ini keponakan saya, namanya Erina. Ingat baik-baik, dia keponakan saya. Jangan pernah sekali-kali menjelek-jelekkan dia, kalau tidak mau menanggung akibatnya. Satu lagi, saran saya jangan terlalu sering berkumpul seperti ini, mending sekali-kali luangkan waktu kalian untuk pergi ke salon, rawat baik-baik tubuh kalian, agar suami kalian betah dirumah dan gak kelayapan," ucap Rossa dengan santai, meskipun dia sangat marah. Inilah gaya bahasa seorang Rossa, yang selalu tenang menghadapi semua masalah.
Ibu-ibu itupun tidak ada yang bicara lagi, mereka hanya terdiam. Sebenarnya mereka juga merasa takut dengan Rossa, yang mempunyai banyak uang dan memiliki banyak anak buah, yang jelas membuat Rossa bisa melakukan apa saja yang dia mau. Ibu-ibu itu juga berpikir, ada benarnya juga yang diucapkan Rossa, selama ini mereka memang tidak pernah memperhatikan penampilan mereka, mungkin itu yang membuat suami mereka berbuat macam-macam diluar rumah.
Erina hanya terdiam, dia teringat masa lalunya waktu dikampung. Saat tetangganya sering membicarakannya, namun dia tidak seperti Rossa yang menghadapi semua dengan tegas. Erina benar-benar sangat kagum dengan Rossa, mulai muncul dikepalainya keinginan untuk menjadi seperti Rossa.
Rossa dan Erina pun kembali melanjutkan lari pagi mereka, ini baru pertama kali Erina melakukan joging. Dia terlihat kelelahan dan nafasnya terengah-engah. Rossa hanya tersenyum melihat Erina, lalu mengajaknya istirahat sejenak. Erina pun langsung duduk. dengan tetap meluruskan kakinya.
"Haduh, Erina capek banget Tante. ternyata olahraga itu gak semudah yang Erin lihat. kayaknya cuma lari-lari kecil aja, tapi ternyata capek juga ya,"
" Erin sayang, jangan menyerah ya. Semangat dong, kamu harus terus olahraga supaya tubuhmu terlihat sehat dan segar. Menurut Tante ini olahraga yang paling menyenangkan kok,"
__ADS_1
"Iya Tante, maaf Tante, Tante gak terganggu ya dengan sikap ibu-ibu tadi?"
" Sama sekali tidak, hampir setiap hari Tante bertemu orang-orang seperti mereka, jadi Tante udah gak heran lagi,"
"Tante, Erina boleh gak tanya sesuatu sama Tante,"
"Boleh, mau tanya apa?"
"Masalah pekerjaan Tante,"
"Sudahlah sayang, kalau masalah itu kamu tidak perlu tau. Biar itu menjadi urusan Tante ya, kamu fokus saja dengan tujuan hidupmu, fokus dengan niat kamu untuk balas dendam. Tante gak mau kamu banyak pikiran,"
"Iya Tante, tapi Tante baik-baik saja kan, meski orang-orang membicarakan Tante?"
"Kamu gak usah khawatir, Tante baik-baik saja kok. Tante kuat Erin, apa kamu masih meragukan Tante?"
"Enggak Tante, Erina percaya Tante wanita kuat. Justru Erin ingin seperti Tante,"
"Ya udah, kita pulang yuk. Abis ini kita pergi ke salon ya, kita ke mall juga, Tante mau beliin baju baru yang banyak untuk kamu. Mulai hari ini kita ubah penampilanmu, biar gak culun," ejek Rossa.
"Ih...Tante jahat ya. Ledekin Erin, iya deh Erin memang culun, makanya Doni gak cinta sama Erin," ucap Erin yang balik bercanda, tapi dengan gaya bahasa yang sedikit ngambek.
"Erin sayang...jangan ngambek dong, Tante bercanda kok. Kamu cantik kok, tapi culun," ucap Rossa yang langsung berlari.
Erina yang kesal pun langsung mengejar Rossa, mereka bercanda disepanjang jalan, mereka benar-benar terlihat seperti dua sahabat yang sudah lama kenal. Keduanya sama-sama tertawa lepas, tawa bahagia yang sudah lama tidak ada di kehidupan mereka. Meski Rossa bergelimang harta, tapi dia kesepian, tidak punya siapa-siapa. Namun kehadiran Erina, mampu membuatnya tertawa dan tidak kesepian lagi. Begitu pun sebaliknya, Erina pun bisa tertawa lagi setelah dia merasakan penderitaan dalam hidupnya, yang membuatnya hanya bisa menangis dan menangis lagi. Tapi bersama, mereka bisa bahagia Dan tertawa.
__ADS_1