Cinta Berujung Dendam

Cinta Berujung Dendam
PART 46


__ADS_3

Malamnya, Erina sudah siap dengan gaun malam berwarna merah. Dia duduk didepan meja riasnya, memperhatikan dirinya di depan cermin, untuk memastikan kalau penampilannya sudah benar-benar sesuai dengan yang dia inginkan.


tidak lama, pintu kamarnya diketuk.


"Tok...tok...tok...non?"


"Iya mbok, masuk aja," timbal Erina dari dalam kamar.


"Non, itu den Doni sudah datang,"


"Iya mbok, Erin segera keluar,"


"Kalau begitu saya permisi non,"


"Iya mbok,"


Erina pun langsung mengambil tasnya dan bergegas keluar menuju ke ruang tamu. Erina terlihat sangat cantik, dengan gaun berwarna merah dan makeup yang tidak terlalu menor, sehingga Erina terlihat cantik alami.


Doni hampir tidak berkedip melihat penampilan Shella saat menuruni anak tangga, Shella terlihat sangat cantik, elegan dan berkelas.


"Sayang, kamu cantik sekali. Kamu benar-benar membuatku semakin tergila-gila sayang,"


"Oh ya, apa kamu suka dengan penampilan ku?" tanya Shella yang masih tetap berdiri.


"Suka sekali sayang, aku benar-benar suka. Kau benar-benar terlihat sangat cantik," ucap Doni yang tidak berhenti menatap wajah Shella.


"Bisa kita berangkat sekarang, aku gak mau nanti kemalaman,"


"Bisa sayang, bisa. Yuk kita berangkat,"


"Oke," timbal Shella yang melangkahkan lebih dulu.


Sementara itu, dirumah Dilan. Dilan pun sedang sibuk mempersiapkan diri, ternyata Dilan juga ada acara ngumpul dengan dua sahabatnya, untuk menikmati makan malam bertiga. Mereka bertiga masing-masing pergi ke tempat yang sudah mereka janjikan, yakni di sebuah restoran mewah, karena Dilan sudah janji pada kedua sahabatnya itu, untuk mentraktir mereka di restoran mewah saat dia pulang dari Amrik.


"Ma, pa, Dilan keluar dulu sebentar ya," Dilan meminta izin kepada kedua orang tuanya, sambil mencium tangan keduanya.


"Memang kamu mau kemana sayang?" tanya mama dilan.


"Dilan cuma mau makan bareng teman-teman Dilan ma,"


"Oh... hati-hati ya sayang, pulangnya jangan malam-malam ya,"


"Iya ma, pa Dilan berangkat dulu ya,"


"Ya..." timbal pak Kusuma dan Bu Ratna berbarengan.


"Terimakasih ma, mama sudah mendidik anak-anak kita dengan sangat baik, sehingga mereka tumbuh menjadi anak yang sopan dan patuh terhadap kedua orang tuanya. Papa bangga pada mereka,"


"Iya pa, tidak ada yang lebih membahagiakan mama, kecuali memiliki anak-anak yang baik dan menghormati orang tua. Hanya mereka yang bisa membahagiakan mama dan tidak pernah menyakiti mama," ucap Bu Ratna yang sengaja menyindir suaminya yang telah menduakannya.


"Iya, papa tau apa maksud perkataan mama. Maafkan papa ya ma, karena papa belum bisa membahagiakan mama sepenuhnya,"


Bu Ratna tidak menjawab, dia melanjutkan lagi membaca majalah yang ada di tangannya. Sementara pak Kusuma juga hanya bisa terdiam, dia tidak berani banyak bicara, karena takut kalau itu justru akan memancing emosi istrinya.


Kurang lebih lima belas menit perjalanan, akhirnya Doni dan Shella tiba di sebuah restoran mewah. Doni keluar dari mobil lebih dulu, setelah itu dia langsung membukakan pintu mobil untuk Shella dan mempersilahkan Shella keluar bak seorang putri.


"Silahkan sayang," ucap Doni sambil menunduk.

__ADS_1


"Thanks," timbal Shella.


Lalu keduanya berjalan beriringan menuju ke dalam, Doni ingin menggandeng tangan Shella, namun Shella menolaknya.


"Udah jalan aja, gak usah lebay," gerutu Shella.


"Iya-iya," timbal Doni tanpa ada rasa marah ataupun tersinggung, karena dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Shella.


Sesampainya di dalam, suasana sudah lumayan ramai. Namun Doni sudah memesan tempat lebih dulu, yang letaknya paling nyaman untuk dinner berdua.


Keduanya pun langsung duduk, ternyata Doni sudah mempersiapkan semuanya. Tanpa memesan lagi, para pelayan langsung menyiapkan menu makanan yang paling mahal dan tidak ketinggalan pula makanan kesukaan Shella.


"Kamu udah memesan makanan?" tanya Shella yang heran saat para pelayan itu langsung mengeluarkan berbagai macam hidangan dimeja mereka, sedang mereka belum memesan apa-apa.


"Iya sayang, aku sengaja memesan lebih dulu, untuk menyingkat waktu kita agar kita tidak kemalaman," ucapan Doni sebenarnya sangat terdengar seolah dia laki-laki yang pengertian dan bertanggung jawab, agar mereka tidak sampai kemalaman. Namun tetap saja Erina tidak bisa luluh hatinya dengan sikap Doni itu.


Setelah semua makanan siap, tiba-tiba datang seorang pria dengan membawa biola ditangannya.


"Selamat malam tuan, nona. Malam ini saya akan memainkan musik spesial untuk nona Shella, semoga nona Shella bisa terhibur dan senang mendengarnya," ucap pria itu yang lalu memulai memainkan biolanya.


Shella pun semakin tidak percaya kalau Doni akan mempersiapkan semuanya sedemikian rupa.


"Apa ini juga sebagian dari rencana mu?" tanya Shella lagi pada Doni.


"Iya sayang, aku sengaja mempersiapkan semua ini spesial untuk mu. Bagaimana? kamu suka kan sayang?"


"Iya, aku suka," jawab Shella, yang pura-pura senang, padahal dalam hatinya dia tidak tersentuh sama sekali.


Setelah selesai memainkan musik, pria itupun berlalu meninggalkan Doni dan Shella.


Tidak sampai disitu, Doni mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya. Doni kemudian duduk jongkok didepan Shella, dia membuka kotak berisi kalung berlian yang harganya selangit itu lalu memberikannya pada Shella.


"Doni, kamu apa-apaan sih. Ini pasti sangat mahal ya, apa kamu tidak berlebihan,"


"Untukmu, tidak ada yang berlebihan sayang. Apapun akan ku beri, sekalipun itu nyawaku," ucap Doni berusaha meyakinkan Shella, kalau dia benar-benar sangat mencintai Shella.


"Baiklah, aku terima pemberianmu. Tapi bisa sekalian kau pakaikan?"


"Tentu saja sayang, sini biar aku pakaikan di lehermu," Doni beranjak mendekati Shella dan langsung memakaikan kalung pemberiannya dileher Shella.


"Kalung itu benar-benar cocok untuk mu, kamu semakin terlihat cantik sayang. Gimana, kamu suka kan sayang?"


"Iya, aku suka. Makasih ya," timbal Shella sambil menyentuh dan memperhatikan kalung itu.


"Iya sayang, sama-sama. Aku ingin hubungan kita kedepannya semakin serius, karena aku benar-benar mencintaimu sayang. Ya udah kalau gitu kita makan yuk,"


"Oke," jawab Shella tanpa berkata-kata lagi.


Sementara itu, Dilan baru saja tiba di restoran. Kebetulan restoran yang dia tuju sama dengan restoran tempat Doni dan Shella dinner.


Dilan langsung masuk kedalam, karena ternyata kedua temannya sudah datang lebih dulu.


"Hai bro, sorry ya aku telat," sapa Dilan pada kedua temannya, Ari dan Hengky.


"Iya gak pa-pa, kita juga baru sampai kok," timbal Hengky.


"Kalian belum pesan makanan?" tanya Dilan, saat melihat belum ada hidangan dimeja mereka.

__ADS_1


"Ya belum lah, kita nungguin kamu. Kalau kita pesan dulu, terus kamu nya gak datang, lalu siapa yang mau bayarin. Cuci piring semalaman juga belum bisa membayar makanan disini," ucap Ari.


"Ternyata kalian masih saja sama seperti yang dulu ya, ngenes," ejek Dilan.


"Emang dari dulu kamu yang paling beruntung diantara kita Dilan, kuliah aja diluar negeri. Kalau kita boro-boro mau kuliah, yang ada kuli payah di pabrik," timbal Hengky.


"Udah-udah, ngobrol terus kapan pesan makanannya, aku udah lapar nih," gerutu Ari.


Dilan pun langsung memanggil seorang pelayan, lalu menyuruh kedua sahabatnya pesan makanan sesuka hati mereka. Sambil menunggu makanan datang, mereka pun kembali mengobrol.


"Jadi kalian kerja dipabrik, pabrik apa?"


"Pabrik garmen, ya tau sendiri lah kalau lulus SMA paling mentok ya kerja begituan," jawab Ari.


"Siapa bilang, kalian bisa kok kerja di kantor,"


"Serius Dil, emang beneran bisa ya?" tanya Hengky serius.


"Bisa dong, jadi OB," gurau Dilan sambil tertawa. Dilan memang sangat merindukan saat-saat seperti ini, bercanda bersama kedua sahabatnya, tanpa diambil hati, karena mereka sudah memahami satu sama lain.


"Huh, sialan kamu Dil," gerutu Hengky.


Mereka pun hanyut dalam obrolan dan candaan-candaan yang mengocok perut mereka, sambil menikmati hidangan yang sangat lezat.


Sementara itu, Doni dan Shella baru saja selesai makan. Shella yang tidak mau kemalaman langsung mengajak Doni pulang. Doni pun menuruti Shella, meski dia masih ingin berlama-lama dengan Shella.


Keduanya pun berjalan keluar restoran, tanpa sengaja Dilan melihat mereka berdua, berjalan mesra dengan tangan Doni yang merangkul pundak Erina, membuat Doni yakin kalau laki-laki itu beneran pacar Erina.


Dilan pun hanya bisa menahan kesedihan dan rasa cemburunya melihat mereka berdua.


"Aduh sayang, perutku kok sakit banget ya. Aku ke toilet dulu ya, gak pa-pa kan aku tinggal dulu," ucap Doni sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Iya, tapi jangan lama-lama ya," jawab Erina yang terlihat kesal.


"Iya sayang, bentar ya," Doni pun langsung berlari masuk lagi ke dalam, menuju ke toilet.


Dilan pun merasa heran melihat Doni kembali lagi ke dalam, dia terus memperhatikan Doni, setelah itu barulah dia paham kalau Doni pergi ke toilet.


Dilan pun tidak membuang-buang kesempatan itu untuk menemui Erina. Dia pun langsung pergi keluar.


"Eh Dil, loe mau kemana?" tanya Hengky.


"Bentar, aku mau keluar bentar aja kok,"


"Awas ya kalau kamu kabur," ancam Hengky.


"Tenang, gak akan," timbal Dilan yang langsung berlari keluar.


Sesampainya di luar, Dilan langsung membahas laki-laki yang bersama Erina.


"Jadi dia alasan kamu tidak bisa menerimaku. Kenapa kamu tidak berterus-terang padaku, kalau kamu sudah mempunyai kekasih, Setidaknya jangan beri aku harapan dengan sikapmu selama ini padaku. Kalau kau bahagia dengannya, aku pasti ikut bahagia, karena itulah cinta yang sesungguhnya. Aku do'akan semoga hubungan kalian bisa langgeng selamanya. Maaf, kalau aku sudah mengusik kebahagiaanmu," ucap Dilan yang lalu berbalik arah berniat meninggalkan Erina, namun Erina masih sempat mencegah langkah Dilan.


"Tau apa kamu tentang aku, jangan sok tau kamu dan jangan pernah menyimpulkan sesuatu hanya dari apa yang kau lihat, karena itu belum tentu benar," ucap Erina tegas.


Belum sempat Dilan menjawab perkataan Erina, Doni sudah keluar dari dalam.


"Maaf sayang, aku lama ya. Yuk, kita pulang," ajak Doni.

__ADS_1


Erina pun langsung pergi meninggalkan Dilan. Sementara Dilan masih dibuat bingung dengan perkataan Erina, yang membuatnya menjadi gelisah.


__ADS_2