
Dilan kembali masuk ke dalam, yang tentunya dengan suasana hati yang berbeda dari semula. Dia merasa gelisah, karena dia masih kepikiran dengan ucapan Erina yang tidak bisa dia pahami, mendengar ucapan Erina, seolah Doni memang bukan pacar Erina. Namun kalau melihat kenyataannya, mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih.
"Dil, kamu kenapa?" tanya Hengky.
"Kayaknya Dilan kesambet, setan dari luar barusan tuh," timbal Ari.
"Aku mau tanya, kalian punya pacar gak?" tanya Dilan pada kedua sahabatnya itu, yang membuat mereka sama-sama tertawa.
"Pertanyaan apa itu bro, ya jelas punya lah. Hari gini gak punya pacar, galau dong..." ejek Hengky.
"Emang kamu belum punya pacar Dil, aku aja punya tiga, mau aku kasih satu?" tambah Ari yang juga ikut mengejek, yang membuat Dilan semakin kesal. Karena setelah kisah cintanya berakhir dengan Eva saat masih SMA, Dilan belum pacaran lagi sampai sekarang.
"Sialan kalian, kalau kalian sudah punya pacar, kenapa sampai sekarang kalian belum pada menikah?"
"Itu dia masalahnya, mereka gak ada yang mau diajak nikah," jawab Hengky.
"Kalau gitu mah sama aja bohong," ejek Dilan.
"Iya, emang cewek tuh nyebelin, keliatannya aja cinta berat, giliran diajak nikah, ada aja alasannya. Padahal aku udah habis-habisan buat nyenengin mereka, sampai hampir separuh gaji ku habis buat mereka," gerutu Ari.
"Makanya cari pacar yang tulus, kalau itu namanya bukan cinta berat sama kamu, tapi cinta berat sama dompetmu," ejek Dilan.
"Iya juga ya, tapi ngomong-ngomong kenapa kamu tiba-tiba nanyain pacar, jangan-jangan kamu lagi jatuh cinta ya?" tanya Ari.
"Kayaknya iya, tapi masih galau. Tadinya aku mau tanya sama kalian tentang kepribadian cewek, bagaimana cara melihat kalau dia benar-benar suka sama kita. Tapi kayaknya kalian juga sama aja belum paham,"
__ADS_1
"Memang cewek itu susah ditebak Dil, tapi kalau cuma ingin tau apakah dia suka sama kita apa enggak, itu mudah. Tinggalin aja dia," sahut Hengky, yang membuat Dilan terlihat bingung.
"Gak waras kamu, kok malah ditinggalin. Kalau ngasih solusi yang masuk akal dikit napa," gerutu Dilan.
"Ya bener, coba aja kamu tinggalin cewek itu, kamu cuekin dia, kalau dia cinta, pasti dia akan cari kamu sampai ke ujung dunia sekalipun. Percaya deh sama aku," tegas Hengky.
"Iya Dil, apa yang dibilang Hengky itu ada benarnya. Cewek itu emang kebanyakan gengsi, yang kadang justru bikin ribet. Aku juga sering gituin pacarku, aku pura-pura cuek. Tapi begitu ketemu, bukanya nanyain kabarku, malah sibuk ngajak ke mall," gurau Ari yang membuat mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.
Mereka pun terus menyantap hidangan yang super mahal itu sambil terus mengobrol. Tanpa disadari, hidangannya pun habis tanpa tersisa sedikitpun.
"Gimana nih, mau nambah lagi gak, mumpung aku masih perduli sama kalian, besok-besok kalian kelaparan pun aku gak perduli," gurau Dilan.
"Parah kamu Dil, tapi kayaknya udah deh. Aku udah kenyang banget," sahut Ari.
"Kamu Hengky, mau nambah lagi gak?" tanya Dilan pada Hengky yang masih menghabiskan makanan di piringnya yang tinggal sedikit lagi.
"Iya gampang itu, tenang aja," jawab Dilan yang membuat kedua sahabatnya itu tersenyum bahagia.
Sementara itu, Doni dan Erina masih diperjalanan. Doni sengaja memperlambat laju mobilnya agar bisa berlama-lama dengan Shella. Ditengah jalan tiba-tiba mobil Doni menepi ke pinggir lalu berhenti, yang membuat Erina menjadi bingung dan was-was.
"Loh, kenapa berhenti?" tanya Shella yang mulai curiga dan berfikir negatif pada Doni.
Benar saja, Doni sepertinya memang sudah tidak bisa lagi menahan hasrat ingin memiliki Shella. Setelah menghentikan mobilnya, dengan perlahan Doni mendekati Erina, yang membuat Erina mulai emosi.
"Doni, mau apa kamu? sedikit saja kamu menyentuhku, aku tidak akan pernah memaafkan mu," tegas Shella yang semakin tegang.
__ADS_1
"Ayo dong sayang, kita sudah lama kenal. Aku sangat mencintaimu sayang, aku mohon, berikan juga cintamu untukku, kamu juga mencintaiku kan sayang. Jawab, setelah semua yang aku berikan padamu, kamu mau menerimaku kan sayang. Katakan, kalau kamu juga mencintaiku, katakan sayang," ucap Doni yang lalu menyentuh kedua pundak Erina, mencium bibir Erina lalu berlanjut ke leher Erina.
Melihat perlakuan Doni padanya, Erina langsung teringat masa lalu, saat Doni membodohi nya, hingga dia menyerahkan semuanya. Seketika Erina tidak bisa lagi menahan emosinya, dia lalu mendorong tubuh Doni dan langsung menamparnya.
"Kamu sudah gila Doni! sekarang juga turunkan aku! kamu sudah janji tidak akan macam-macam denganku, tapi apa ini? kamu benar-benar sudah gila, aku kecewa sama kamu!" ucap Erina, yang tidak bisa lagi menahan emosinya.
Doni yang mendapat tamparan dari Shella pun merasa malu, dia pikir dia bisa meluluhkan Shella dengan mudah. Tapi ternyata dia salah, Shella tetap tidak mau menyerahkan tubuhnya padanya.
"Maaf sayang, aku khilaf. Aku terlalu menginginkanmu, membuat aku tidak mampu lagi menahan hasrat ini. Maafkan aku sayang, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," Doni berusaha meminta maaf dan mengakui kesalahannya, dia tidak mau kalau sampai Shella marah dan tidak mau lagi berhubungan dengannya, karena kalau sampai itu terjadi, mungkin saja dia bisa gila, hidup tanpa Shella.
"Aku gak percaya sama kamu, aku minta turunkan aku sekarang juga," pinta Shella yang masih belum terima dengan perlakuan Doni.
"Jangan sayang, jangan turun bahaya. Ini sudah malam, apalagi ini tempat yang sangat sepi, aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Aku beneran janji, tidak akan mengulanginya lagi, aku janji sayang, percaya ya, aku mohon,"
Erina terdiam sesaat sambil memperhatikan keadaan sekitar, memang sangat sepi. Akhirnya Shella pun menuruti permintaan Doni untuk tetap didalam mobil, karena sepertinya Doni sungguh-sungguh dengan ucapannya, kalau dia tidak akan macam-macam lagi. Shella sendiri juga tidak yakin kalau dia berani sendirian dijalan yang sangat sepi itu.
"Oke, aku gak akan turun. Tapi awas kalau sampai kamu macam-macam lagi, aku beneran turun dan aku tidak akan pernah memaafkan mu," tegas Shella.
"Iya sayang, aku janji. Makasih ya sayang, masih memberi kepercayaan mu padaku. Oke, sekarang kita pulang ya," ucap Doni yang kembali menjalankan mobilnya.
Shella hanya terdiam, bahkan sampai di rumah pun dia masih terlihat sangat kesal dengan perlakuan Doni padanya.
"Sayang, kamu masih marah ya?" tanya Doni sebelum Shella keluar dari mobil.
"Sangat marah. Pulanglah, sudah malam, nanti dicari istrimu,"
__ADS_1
"Gak perduli sayang, aku gak perduli dengan istriku, yang ada di pikiranku hanya kamu, hanya kamu sayang," rayuan Doni sungguh manis, tapi tidak bagi Shella, justru sebaliknya, ucapan Doni membuatnya semakin muak dengan sosok Doni.