Cinta Dan Jodoh

Cinta Dan Jodoh
Bagai mimpi buruk


__ADS_3

Entah apa yg terjadi, kesehatan ayah nya yg semakin buruk dan wasiat ayahnya yg ingin menjadi wali nikah nya sebelum ayahnya meninggal membuat Manisa tidak bisa berkata-kata, Manisa tertunduk lesu di ruang tunggu rumah sakit Ardi kakak nisapun datang menghampiri.



"Keputusan ada di kamu nis, kamu tau Yudha kan, dia baik dan dewasa, dia bisa menjagamu". Ardi kemudian duduk di samping manisa.



Manisa kemudian memeluk erat kakaknya sambil menangis tersedu-sedu dan berkata "iya Nisa mau, Nissa bersedia, asal bapak sembuh Nissa siap. Lakukan apa yg Bapak mau, sudah cukup Nissa kehilangan ibu Nissa ga mau kalau harus kehilangan Bapak juga".


Ardi kemudian membalas pelukan adiknya untuk menguatkan adiknya "Sudah jangan menangis lagi, ga akan terjadi apa-apa pada bapak sekarang kakak akan mengabarkan ini pada Bapak, Bapak pasti senang" Ardi melemparkan senyum pada adiknya dan begegas pergi.


Beberapa saat kemudian pernikahan pun digelar dengan sederhana di rumah sakit dengan hanya di hadiri keluarga kedua belah pihak dengan peralatan lenggap rumah sakit ayah Manisa menjadi walinya.


Terlihat wajah bahagia Pak Tio ayah Nissa menyalami Yudha sahabat Ardi yg begitu ia kagumi "Yudha Alhamdani saya nikahkan engkau pada Manisa Aghnia Putri Putri kandung saya dengan mas kawin 20 gram emas dibayar tunai."

__ADS_1


"Saya terima nikah nya Manisa Aghnia putri dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"


"Bagaimana saksi sah??" ucap penghulu


"Sahhh" teriak para saksi semua pun berucap syukur dan mendoakan kedua mempelai,


Ini sungguh bagai mimpi buruk bagi manisa bagaimana tidak. di usia yg ke 17 tahun dia harus menikah dengan sahabat kakaknya yg berbeda 10 tahun. yg sungguh belum ia kenal dia hanya sekedar tau.


Ardi kakaknya sangat bahagia ia sangat mengenali sahabatnya itu yg sangat baik menurutnya.


Setelah beberapa saat pernikahan tiba-tiba kesehatan ayah Manisa kian memburuk semua orang panik Ardi pun langsung memanggil dokter


Manisa dan Yudha segera mendekati Tio, ayah Manisa


Manisa menangis tersrdu-sedu sambil memegang tangan ayahnya

__ADS_1


"Jangan menangis nak" ucap ayahnya "keinginan bapak sudah terpenuhi, jadilah istri yg baik untuk suamimu, buat bapak dan ibu bangga di surga. nak Yudha, jaga baik-baik Manisa, didik dia lindungi dia, buat dia bahagia,."


Manisa semakin tersedu-sedu mendengar pesan ayahnya di tambah langi suara mesin rumah sakit yg semakin menunjukak ayahnya tidak baik-baik saja."Sudah pak cukup, jangan bicara lagi semua akan baik-baik saja,"


Dokter yg tiba di ruangan tipun segera memeriksa ayah Nisa dan menyuruh semua keluar dari ruangan itu.


Setelah beberapa saat berlalu dokter keluar menemui keluarga pasien yg menunggunya dengan cemas semua keluarga segera mendekati dokter itu


Dengan berat hati dokter berkata "Kami sudah melakukan yg terbaik tapi tuhan berkehendak lain"


"Maksud Dokter apa?" teriak Ardi yg makin cemas dengan suara meninggi


"Pak Tio tidak bisa di selamatkan, beliu telah meninggal"


Tangis keluarga pecah mendengar berita itu sementara itu Manisa hanya terpaku sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2