
Setelah sampai di depan rumah Manisa melihat Diana keluar dari rumahnya di ikuti dengan Yudha yg mengantarkannya, terlihat Diana memeluk Yudha dan cipika cipiki,
Manisa langsung bersembunyi di balik pagar rumahnya
Yudha melambaikan tangannya ke Diana dan berdiri sampai mobil itu pergi.
Mobil Diana sudah berlalu, tapi pandangan Yudha beralih pada Manisa yg berjalan kearahnya.
" Manisa " teriaknya kaget. " Sejak kapan kau disitu? "
" Sejak tadi " Ucapnya sambil memasang wajah kesal
Manisa langsung memasuki kamarnya dan menutup pintu kamarnya " ternyata saat aku merasa bersalahnya setah mati, sepertinya dia malah bersenang-senang dengan wanita itu. "
Yudha tampak mulai resah, sepertinya Manisa salah paham, padahal Diana hanya singgah sebentar untuk mengantarkan makanan favoritnya yg ia beli dari luar kota kemarin.
Tapi tak bisa di pungkiri, Yudha sungguh sangat senang karena Diana masih peduli padanya.
Menjelang makan malam Manisa turun dari kamarnya, di lihatnya sepiring sedang makanan yg belum pernah ia lihatnya sepiring makanan yg menurutnya karena baru melihatnya.
" Apa itu " tanya nya
" ohh ini nasi palekko, makanan khas makasar. " ucapnya,
" Dari mana..?
" Diana yg membawakanya, Wanita itu masih saja mengingat tentang aku. "
__ADS_1
Manisa sangat merasa risih dengan pujian Yudha pada mantan istrinya itu walau iya tutupi
" Oya, sepulang tadi kenapa kau tampak kesal.?"
" Tidak, " jawab Nissa, " Hanya ada sedikit masalah yg membuatku kesal."
" Kakak kira Nissa akan pulang malam."
" Pantas mantan istri kakak kesini, karna aku ga ada kan?"
" Bukan begitu Nisss" ucap Yudha sambil sedikit meninggikan suaranya.
" Tapi iya sihh ,,, istri kakak cantik sekali ya, aku dengar dia disainer terkanal."
" iyaa, dia mandiri, smart dan keras kepala" ucapnya sambil mengagumi mantan istrinya itu,
" Tanpa sepengetahuan kakak ia melamar kerja di paris pada disainer ternal, "
" Lalu??"
" Dia di terima, walau kakak tidak mengijinkanya dia tetap memaksa pergi, wanita itu memang selalu berusaha mendapatkan yg dia mau, akhirnya kakak emosi dan menalaknya."
" kenapa semudah itu kakak menalaknya??"
" Mungkin karna waktu itu usia kakak masih sangat muda, kita sama-sama dengan emosinya dan ego masing-masing."
Dengan suara perlahan Manisa memberanikan diri untuk bertanya. " kakak masih mencintainya? "
__ADS_1
" lima tahun bukan waktu yg sebentar, kakak sudah mulai terbiasa tanpa dia, walau kehadiranya kini pun kakak masih mendambakanya."
Manisa mulai berfikir tentang hubunganya dengan Yudha, tak mungkin ia dapat menggantikan posisi wanita cantik itu. sepertinya memang tidak ada harapan untuk hubungan mereka.
Manisa mulai memberanikan diri untuk bertanya " Lalu kita..., berapa lama lagi kita terikan dalam hubungan di atas kertas ini??"
Yudha terdiam, sejujurnya hatinya tak rela jika harus melepas gadis yg ia sebut bocil itu, tapi ia juga berharap bisa kembali memiliki Diana.
" Sabar dulu yaa biarkan kakak berfikir dulu,."
Manisa memanyunkan bibirnya, entah apa yg ada di fikiran Yudha masih belum mau melepaskanya sedangkan waktu yg semakin lama mempersatukan mereka membuat Manisa takut jatuh cinta pada pria dewasa yg seperti labil itu,
" Tunggu sampai kau lulus SMA, tapi kalau kakak belum bisa memberi mu kepastian Manisa boleh mengambil keputusan sendiri."
" Kenapa manisa harus menunggu?"
" Karena emhh karena karena kakak gak mau hubungan kakak dan kak Ardi rusak, kakak harus menemukan alasan yg tepat untuk perpisahan kita." Yudha mulai beralasan untuk menutupi hatinya
" o.k jelass kak Yudha memang tak pernah suka sama aku " ucap manisa dalam hati
" Menurut Manisa bagai mana?" tanya ardi
" Ya baguslah.. " jawabnya cepat
" Pada intinya cepat atau lambat kita akan berpisah, karena hubungan kita hanya di atas kertas "
Yudha mulai menyadari alasan yg dia ucapkan salah besar, tapi bagai mana caranya untuk menjelaskan kalau dia mulai menyukai Manisa walau masih mengiginkan Diana.
__ADS_1