CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Keluarga Yang Abu-abu


__ADS_3

"Mam, ko kamar tamu rapi banget, memangnya siapa yang mau datang?" tanyaku sambil menyuap nasi.


Mami hanya tersenyum, kemudian mengedipkan matanya.


"Kejutan dong"


"Ih mami, kayak ABG aja," kataku penasaran


"Nanti juga tau, tunggu aja, jangan lupa dandan yang cantik malam ini ya sayang" Mami membelai kepalaku lembut


Meski cemberut, namun hatiku bahagia saat melihat senyum di bibir wanita berumur 40 tahun itu.


Sejak suami dan anak laki- lakinya pergi meninggalkannya, hari- hari kami memang di rundung duka.


Mami lebih banyak bekerja, mungkin untuk menghilangkan kesedihannya dipisahkan dari anak laki-laki yang sangat dicintainya.


Aku merasa bersalah, karna mami mengorbankan segalanya hanya untuk mempertahankan seorang anak angkat sepertiku.


Ya aku adalah anak perempuan yang ditemukan mami tergeletak didepan klinik tempat prakteknya, tanpa identitas apapun kecuali secarik kertas yang bertuliskan nama "Dinara safina".


Hal itu kutau dari mulut ember oma Clara, yang tanpa tedeng aling- aling menjelaskan segalanya, walau mami menangis memohon untuk tidak melakukannya.


Hal itu juga yang membuat aku merasa minder ketika berada di rumah besar itu, hanya Mami yang tak pernah membedakan antara aku dan Rhys, bagi Mami kami adalah dua buah hati tercintanya.

__ADS_1


Namun kesibukan mami di klinik, membuat aku terjebak dengan kondisi rumah besar yang menakutkan, dimana seorang nenek begitu mengatur kehidupan anak dan cucunya.


Oma melarang Rhys dan aku berdekatan, kata oma status sosial kami berbeda, ibarat nya Rhys langit dan aku hanyalah bumi yang kotor penuh debu dan polusi.


Usiaku dan Rhys hanya terpaut beberapa bulan saja, mami sedang mengandung sembilan bulan saat menemukanku. Itu juga yang jadi permasalahan besar baginya, karna saat itu keluarga papi tak mau menerima kehadiranku dalam keluarga mereka, namun, Mami teguh dengan niatnya untuk mengadopsiku.


Kehadiranku di anggap hanya membuat keluarga repot saja, ditambah asal usulku yang tidak jelas sama sekali. Menurut oma, kemungkinan besar aku adalah anak pelacur atau anak hasil hubungan gelap seseorang.


Oma tak pernah mengijinkanku memakan apapun tanpa Rhys terlebih dahulu yang memakannya. Hanya ketika ada Mami perlakuan itu tak berlaku. Dan akupun tak pernah membicarakannya dengan Mami, itu jadi rahasiaku dan Rhys tentunya.


Ketegangan Mami dan Oma, semakin jelas saat kami lulus dari taman kanak- kanak. Mami ingin aku masuk sekolah yang sama dengan Rhys, namun Oma menolaknya. Alasannya hanya takut omongan orang tentang keluarga kami.


Oma juga khawatir jika aku memiliki penyakit yang bisa menular pada Rhys jika selalu didekatnya, omongan wanita tua tapi modis itu begitu menyakitkan, hingga sampai raga ini tertutup tanah aku tak mungkin bisa melupakannya.


Ahirnya dengan segudang perjanjian yang dilakukan Mami, aku bisa masuk satu sekolah dengan anak ganteng itu.


Masalah tak selesai sampai disitu, Papi yang hobi clubbing dan menenggak minuman keras justru membuat suasana semakin tak menyenangkan, pengaruh alkohol yang sering membuat emosi Papi tak terkendali.


Setiap hari Papi dan Mami bertengkar


karna hal sepele, bagaimana bisa aku melupakan kejadian itu, saat tangan Papi melayang menghantam wajah Mami yang Putih tanpa noda, mencaci dan menghardiknya.


Aku hanya menangis melihatnya, rasa takut begitu terasa setiap kali semuanya terjadi. Sampai sepasang tangan lembut Rhys akan menariku kedalam pelukannya, walau masih berumur 8 tahun namun semuanya jelas terbayang di mataku.

__ADS_1


Pada ahirnya kami akan memeluk Mami secara bersamaan.


Dan Rhys, apakah masih mengingat kami, khususnya Mami, ibu kandungnya? Tanyaku dalam hati.


Mataku tertumbuk pada sebuah foto yang tergantung di ruang tamu. Dimana disitu ada aku, Papi, Mami dan Rhys.


Wajah tampannya, serta mata coklat plus hidung bangirnya membuat siapapun akan jatuh cinta saat melihatnya untuk pertama kali, mungkin itu juga yang terjadi denganku.


Peristiwa masa lalu kembali menyeretku untuk mengingatnya.



"Rhys mau kemana, Mam?" tanyaku bingung, saat melihat dua koper besar di depan rumah.


Mami tak menjawab, hanya menatapku


"Makanlah dulu, mbok Warti masak opor ayam kesukaanmu, jangan lupa ganti seragam dulu sayang" Mami malah mengalihkan pembicaraan.


Mata wanita itu tampak sembab, mungkin Mami kembali dapat teguran dari Oma Clara.


Tanpa membantah segera ku ganti pakaian sekolahku, namun nafsu makan ku langsung hilang, saat melihat koper yang berbaris di depan rumah tadi.


Bagaimana kalau Oma membawa Rhys keluar negri, ah membayangkannya saja hatiku sudah sakit.

__ADS_1


Sedangkan hubunganku dengan Rhys sudah mulai dekat dan membaik.


__ADS_2