
Menjelang tengah malam, kudengar raungan mobil Papi memasuki garasi rumah besar itu.
Selanjutnya seperti biasa, berganti dengan bunyi berbagai benda yang di banting ke lantai.
Dengan pelan kulewati kamar Mami untuk pergi kedapur, sekedar mencari pengganjal perutku yang mulai keroncongan, maklum hati ini aku hanya sempat minum segelas susu tadi pagi.
"Sekarang, aku ingin kau memilih, Liz, tetap bersama anak angkatmu, atau ikut kami pindah ke Singapura?" Suara Papi terdengar keras, aku menghentikan langkahku.
"Demi Tuhan, kecilkan suaramu willy, aku mohon"
"Masa bodoh, biarkan anak setan itu mendengarkan semuanya, biar dia sadar diri jika kehadirannya sudah merusak rumah tangga kita" suara Papi terdengar lebih keras lagi.
"Please willy, pelankan suaramu" Mami terdengar memohon,
"Aku tak mau Dinar mendengar semuanya, karna bukan dia penyebab semua ini, justru keegoisan dan kemanjaanmulah yang membuat hidup kita menjadi seperti ini." ujar Mami disusul suara tamparan mendarat di pipinya.
Lututku bergetar hampir saja aku terjatuh karna tak mampu menahannya. Air mata menetes dari kedua mataku, rasa sakit serasa ditusuk ribuan jarum menghujam hatiku. Tak bisa kulukiskan dengan untaian kata kepedihan yang kurasa saat itu.
"Bedebah, anak jahanam itu selalu jadi nomor satu dihatimu."
"Willy, aku bisa saja menuruti kemauan mu, tapi apakah kamu benar- benar tidak merasa kasihan padanya, masa kecil anak itu sudah begitu suram, dia juga bukan binatang, yang bida seenaknya kita buang begitu saja. dia manusia Willy, berhak mendapatkan kasih sayang seperti Rhys, kamu dan juga aku." ratap wanita muda itu.
__ADS_1
"Terserah apa katamu, yang jelas jika masih ada anak setan itu, maka aku pastikan kau tidak bisa hidup bersama kami, karna aku tak mau putra kesayanganku di besarkan satu rumah dengan anak yang tidak kita tau asal usulnya". Papi membuka pintu dengan keras, lalu membantingnya kasar.
Sekilas mata merah penuh amarah itu menatapku yang tertunduk gemetaran.
Menyadari kehadiranku disana, Mami langsung memelukku. Tangan lembutnya membelai kepalaku.
"Jangan menangis sayang, Papi hanya sedang emosi, Mami ada disini dan akan selalu bersamamu" pelukannya begitu erat seakan menguatkan hatiku.
Tak ada yang bisa kulakukan selain menangis, mengapa aku ada di dunia ini, jika kehadiranku begitu tak diharapkan, aku pun tak tega jika aku hanya menjadi beban untuk dewi penolongku, Mami.
"Ayolah, malam ini tidur bersama mami," katanya membaringkan tubuhku diatas pembaringannya.
"Dia akan ikut oma pindah ke Singapura sayang, suatu saat dia sendiri yang akan mencari kita" Mami mengusap punggungku, suaranya dipenuhi nada sedih.
" Aku takut Mi, takut jika harus pisah sama Mami" kususupkan wajahku ke dadanya.
"Tidak akan sayang, Tuhan telah memilih Mami untuk menjagamu, dengan mengirimkanmu kedalam kehidupan Mami, dan Mami tidak akan menyia-nyiakan semuanya." wanita cantik itu mengecup keningku penuh kasih, tetesan air mata mengiringi kecupannya.
"Mengapa Mami lebih memilih aku dibandingkan Rhys?" Tanyaku penasaran.
"Sayang, Rhys akan tetap berlimpah kasih sayang, walau tanpa Mami disisinya, lihatlah cara oma dan Papi yang begitu menyayanginya,
__ADS_1
Sedangkan kamu cuma punya Mami." lagi, dewi cantik itu memeluku penuh kehangatan.
Ah Mami hanya ini yang kubutuhkan saat ini bisiku.
"Mami janji ya, jangan tinggalin Dinar"
Mami mengangguk, lalu tersenyum manis kearahku.
"Nanti jika Anak gadis Mami sudah punya pendamping yang mencintainya, baru Mami rela bobo dan hidup jauh dari gadis Mami yang cantik ini." katanya, memencet hidungku.
"Dinar gak akan ninggalin Mami, kalau Mami sudah tua, giliran Dinar yang rawat mami." kucium pipi Mami
Kami berpelukan kembali, masa yang tak pernah ingin aku ahiri adalah masa itu, saat berdua bersama dewi cantik penolongku.
Terima kasih, sayang bisik Mami di telingaku. Akupun terlelap dalam peluknya.
Hingga pagi hari aku tak melihat lagi koper itu ditempatnya kemarin. Ya Rhys telah pergi, tanpa pamit, dan tanpa sempat kulihat lagi wajah tampan serta senyum manis dibibirnya, seperti saat memberiku potongan kue, dan es krim tanpa sepengetahuan Oma dan Papi yang akan murka jika mengetahui semuanya.
Apakah kita akan berjumpa lagi Rhys? batinku.
__ADS_1