
Satu bulan kemudian..
Zionathan, Briana, dan anak anak sudah kembali ke mansion. Sedang Cika dan Cila masih berapa di rumah Brham.
" Momy, tadi ada tante jahat yang memaksa kami untuk ikut dengan nya." Ucap Tia saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga.
" Siapa sayang?" Ucap Briana tanpa melihat Tia, karena sibuk membaca majalah. Sedang Zionathan tidur di pangkuan Briana.
" Tidak tau, tante itu mengaku sebagai momy kami." Ucap Lia.
Deg.
Zionathan dan Briana sama terkejutnya, Zionathan langsung bangun dari posisi tidur nya dan menatap Briana.
" Dia benar benar melakukan nya." Lirih Briana.
" Apa maksud mu sayang.?" Tanya Zionathan.
" Ha?, tidak ada apa apa." Gugup Briana, karena tak ingin Zionathan tau alasan Lidia mendekati anak anak hanya karena ingin kembali kepada Zionathan.
Briana akan berusaha sekeras mungkin agar kejadian dulu tidak terulang lagi.
" Ah, ya. Bagaimana aku bisa lupa, dia juga mengatakan hal yang sama pada ku dia ingin dekat dengan anak anak. Bahkan dia selalu mendatangi kantor, hanya untuk minta di pertemukan dengan anak anak. Katanya dia hanya ingin mengenal lebih dekat dengan anak anak."
Ucapan Zionathan membuat Briana sangat terkejut, bagaimana bisa Zionathan tidak menceritakan perihal Lidia yang selalu datang ke kantor nya.
" Lalu apa yang kau katakan?" Tanya
Briana dengan hati hati.
" Aku mengatakan jika dia sendiri yang menjauhi anak anak. Aku juga mengatakan jika anak anak sudah mendapatkan pengganti yang lebih baik" Ucap Zionathan.
" Briana. Apa aku terlalu kasar pada nya?, apa seharusnya aku memberinya kesempatan untuk bertemu anak anak?" Tanya Zionathan.
" Tentu, anak anak juga harus siapa ibu kandung mereka." Ucap Briana. walau sebenarnya dia tidak rela.
" Kau mengijinkan nya?" Zionathan menatap Briana.
" Sayang.. Lidia adalah ibu kandung mereka. Dan mereka juga berhak tau. Dari pada suatu hari nanti mereka tau dengan sendiri nya. Itu mungkin akan memberikan kesan buruk pada mereka karena kau tidak memberitahu yang sebenarnya." Terang Briana.
" Kau memang yang terbaik saayang.."
" Zi.. ada anak anak."
Briana menghentikan Zionathan yang akan mencium nya.
" Ah iya, kalau begitu nanti malam, berpakaian lah yang seksi." Bisik Zionathan membuat Briana geli.
" Dasar mesum." Briana mencubit pinggang Zionathan.
" Aw.. Awas saja kau nanti malam." Kekeh Zionathan.
" Weekk." Briana menjulurkan lidahnya ke arah Zionathan. Kemudian memilih bergabung bersama anak anak.
....
Keesokan harinya...
Ting tong..
" Ah, itu pasti dady. Tapi tumben sekali menekan tombol bel . Biasa nya juga langsung masuk." Ucap
Briana saat bermain bersama anak anak.
" Mungkin itu orang lain mom."
" Ah mungkin saja, kalian tunggu di sini. Biar momy melihatnya. Siapa tau itu aunty Lala." Ucap Briana yang berdiri dan mulai menjalan menuju pintu.
" Biar saya saja bik." Ucap Briana saat seorang pelayan juga berjalan ke arah pintu.
" Baik nyonya." Ucap pelayan sambil membungkuk.
Ceklek...
Briana membuka pintu dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang.
" Kau..."
" Hai.., aku datang untuk menemui anak anak ku" Ucap wanita yang tak lain adalah Lidia. Ya, tamu itu adalah Lidia.
" Kenapa kau bisa ada di sini?." Ketus Briana.
" Ohya, aku kesini dengan dia."
Lidia menunjuk Zionathan yang barusaja keluar dari mobil dan berjalan ke arah mereka.
" Zi." Sapa Briana, ketika Zionathan sudah ada di hadapannya dan mencium pipi Briana.
" Hei sayang. Aku berniat mempertemukan anak anak di taman, namun Lidia menolak, karena takut tersorot kamera. Kau tau kan dia adalah model terkenal."
Zionathan memeluk pinggang Briana dan Briana dapat melihat raut wajah Lidia yang menahan amarah melihat pemandangan di depan nya.
" Jadi begitu..., ya sudah ayo masuk." Ucap Briana.
" Waow.. Rumah ini sangat besar, Kau benar benar pekerja keras. Kau mewujudkan impian kita untuk membangun sebuah mansion" Ucap Lidia.
" Ehem. Kau kesini untuk bertemu dengan anak anak atau akan bernostalgia." Ketus Briana.
" Tapi itu benar. Apa Zionathan tidak menceritakan padamu jika mansion ini adalah impian dari kami berdua." Ucap Lidia yang sengaja memancing emosi Briana sekaligus mengorek kembali kenangan Zionathan.
" Lidia. Hentikan." Dingin Zionathan.
" Tunggulah di sini. Aku akan memanggil anak anak" Ucap Briana, saat mereka sampai di ruang tengah.
" Bik, tolong siapkan beberapa cemilan dan minuman untuk tamu yang bersama tuan Zionathan." Ucap Briana pada seorang pelayan.
" Baik nyonya."
Sepeninggalan Briana ...
" Zionathan. Terima kasih." Lidia memegang tangan Zionathan.
" Jangan seperti ini Lidia. Aku tidak mau Briana berpikir yang tidak tidak." Tegas Zionathan.
" Tapi aku masih mencintai mu Zionathan. Sungguh, kau masih ada di hati ku."
Lidia tidak melepas tangan nya, justru semakin erat memegang tangan Zionathan.
" Lidia dengar, hubungan di antara kita sudah berakhir. Hanya karena aku masih menghargai mu sebagai ibu dari anak anak lah aku bersedia membawa mu menemui nya. Itupun atas ijin Briana."
Zionathan melepas paksa tangan nya, dari genggaman Lidia.
Briana. Aku harus bisa menyingkirkanmu. Batin Lidia.
Di ruang bermain...
" Momy, siapa datang." Tanya Elo saat Briana datang.
" Emm itu...," Briana binggung bagaimana cara menjelaskan pada anak anak nya.
" Mom.. siapa?" Tanya twins.
__ADS_1
" Emm, begini. Apa kalian ingat dengan tante jahat yang menemui kalian di sekolah." Ucap Briana dengan hati hati.
" Iya.." Jawap mereka.
" Oke, dengar momy. Tante jahat itu adalah momy kalian."
" Momy kami momy Briana."
" Emm, dengar, tante jahat itu adalah momy yang melahirkan kalian. Dan sekarang dia datang ingin bertemu dengan kalian."
" Kenapa baru datang sekarang?"
" Karena... emmm.. "
Aduh, bagaimana cara menjelaskan nya. Batin Briana.
" Sudah, ayo. Turun, dan sapa lah momy kalian. Dan..., bersikaplah baik. oke."
" Sayang.. apa Elo tidak keberatan, untuk menunggu sini." Ucap Briana.
" Baik mom."
" Anak pintar." Briana mencium pipi Elo.
Saat Briana membawa anak anak menemui Lidia.
" Sayang..."
Lidia hendak memeluk anak anak, namun anak anak justru semakin bersembunyi di balik Briana.
" Hei.. Ayo, sapa momy kalian."
" Hai.." Ucap mereka.
" Ini momy sayang... ini momy kalian."
Lidia merentakan ke dua tangan berharap setelah mengatakan itu anak anak akan langsung berhamburan dengan mereka.
Hening.
Lidia akhirnya memilih untuk kembali duduk.
" Ayo kita duduk di sana." Ajak Briana pada anak anak.
" Sayang. Aku adalah ibu kandung kalian. Bukan dia." Ucap Lidia yang mulai geram karena anak anak lebih memilih terus memeluk Briana.
" Kemarilah.. Peluk ibu nak." Ucap Lidia lagi.
Tak ada respon.
" Ethan. Tia. Lia. Aku ibu kandungmu. Apa wanita ini sudah mencuci otak kalian, sehingga kalian tidak mau mengakui aku." Teriak Lidia, yang sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi.
Brak !!
Briana menggebrak meja, membuat semua yang ada di sana terkejut. Terutama Zionathan.
" Kau sebut dirimu sebagai ibu mereka?!, tapi perlakuan mu sama sekali tidak mencerminkan seorang ibu." Briana dengan suara lantang.
Hening.
" Dan kau, ayah macam apa dirimu, yang hanya diam saja melihat wanita yang KATA NYA adalah ibu mereka, justru kasar kepada anak anak mu." Ucap Briana lagi.
" Ayo anak anak, kita kembali ke kamar."
Briana membawa anak anak kembali ke ruangan meninggalkan Zionathan dan Lidia yang masih tercengang.
Sepeninggalan Briana...
" Zionathan lihat lah, istri mu berani sekali membentak ku bahkan dia membawa anak anak pergi." Ucap Lidia.
" Lalu aku harus bagaimana?" Lidia pura pura menangis sambil memegang lengan Zionathan.
" Aku juga tidak tau, ini pertama kali nya aku melihat Briana begitu marah."
" Zionathan kau harus membawa anak anak bertemu dengan ku ditempat lain. Ajak lah anak anak tanpa Briana."
" Itu akan sangat sulit." Ucap Zionathan.
" Ayolah, kau sudah berjanji padaku kan?" Lidia memelas.
..
Flashback on
" Kenapa kau ingin bertemu denganku?" Ucap Zionathan.
" Duduklah." Ucap Lidia.
" Cepat katakan." Ketus Zionathan
" Hiks hiks hiks... maafkan aku Zionathan, maafkan aku karena sudah pernah meninggalkanmu." Lidia menangis dan memeluk Zionathan.
" Sudahlah, aku sudah memaafkan mu."
Zionathan berusaha melepaskan pelukan Lidia, namun Lidia justru semakin memeluk erat.
" Aku.. aku sudah mendapat karma, aku sekarang mengidap kanker xxx. Kata dokter mungkin hidupku tidak lebih dari tiga bulan." Lidia semakin menangis.
" Apa??!, Tidak mungkin."
" Benar. Jika kau tidak percaya lihatlah ini."
Lidia menyerahkan dokumen dari rumah sakit kepada Zionathan.
Dan Lidia tersenyum smirk saat melihat ekspresi terkejut dari muka Zionathan.
" Sekarang apa kau percaya?"
" Aku... aku tidak menyangka, ini akan terjadi padamu." Ucap Zionathan dengan intonasi suara yang lebih lembut.
" Aku ..."
Belum selesai Lidia berbicara dia sudah pingsan. Zionathan segera membawa nya ke rumah sakit.
Dirumah sakit..
" Eugh.. Aku dimana?" Lidia memegang kepala nya.
" Jangan bangun, kau masih lemah. Dan kau ada di rumah sakit." Ucap Zionathan menahan tubuh Lidia agar tidak bangun dari posisi tidur nya.
" Zionathan, bisa kah kau penuhi satu keinginan yang mungkin akan menjadi keinginan terakhirku"
" Apa itu?"
" Aku ingin dekat dengan anak anak, aku ingin kembali bersama mu dan anak anak. Merasakan indahnya kebersamaan kita seperti dulu."
" Aa.. aku..."
" Aku mohon Zionathan..." Mata Lidia mulai berkaca kaca.
" Aku akan membawa mu agar dekat dengan anak anak, tapi untuk bisa bersama mu. Maaf, aku tidak bisa."
__ADS_1
" Terima kasih Zionathan, terima kasih. Itu sudah cukup bagi ku." Lidia memeluk dan menangis di pelukan Zionathan.
Pertama anak anak. Kedua dirimu.. Zionathan.
Flashback off
.....
" Aku tau, hanya saja sikap mu tadi membuat semua nya kacau." Ketus Zionathan
" Ayolah, kau pasti bisa membujuk Briana."
" Akan aku coba."
" Terima kasih, kalau begitu aku pulang dulu." Lidia berdiri dan memeluk Zionathan.
" Good bye honey." Lidia berbisik dan mencium pipi Zionathan.
Lidia berjalan keluar dengan senyum kemenangan dia sengaja melakukan itu karena dia tau bahwa Briana sedang memperhatikan mereka tanpa Zionathan tau.
...----------------...
...----------------...
" Sayang kenapa pulang sendirian?" Tanya Briana saat Elo pulang sekolah dan hanya sendirian.
" Tadi Tia dan Lia pulang lebih dulu dengan dady mom. Mereka pulang sebelum pelajaran berakhir. Mungkin kak Ethan juga pergi."
Setelah mengatakan itu, Elo pamit ke kamar dengan raut muka sedih.
Pasal nya, hal ini sudah sering terjadi selama beberapa minggu terakhir.
Elo yang selalu pulang sendiri padahal mereka bersama saat berangkat.
Tok
Tok
Tok
" Sayang.. momy bawa makanan kesukaanmu, apa momy boleh masuk?" Teriak Briana di balik pintu kamar Elo.
Ceklek...
" Masuk lah mom.."
" Ayo, makan. Apa kau mau momy suapi?"
" Hiks hiks hiks..." Elo menangis dan langsung memeluk Briana.
" Sayang.. kenapa menangis?, katakan pada momy." Briana mengusap kepala Elo.
" Mom.. kenapa dady tidak lagi mengajakku saat mereka jalan jalan. Mereka bahkan pergi dengan momy twins, apa dady tidak lagi menyayangiku mom?"
Duar...
Hati Briana hancur mendengar penuturan putra nya.
Sejak kedatangan Lidia, Zionathan memang terlihat mulai berubah.
Dia jadi lebih sering membawa anak anak padahal jam sekolah belum berakhir dengan alasan yang tidak masuk akal.
Seperti, akan mencarikan mereka tempat kursus yang baru dan masih banyak alasan yang menurut Briana tidak masuk akal.
Lagi saat ditanya kenapa tidak mengajak Elo juga, alasan nya selalu Elo yang menolak.
Sungguh, ini sudah kelewatan. Aku harus mencari tahu sendiri. Batin Briana .
Saat Briana turun ke bawah dia melihat anak anak sudah pulang bersama Zionathan....dan ...
" Lidia..." Pekik Briana .
Kenapa Lidia membawa banyak sekali koper? apa dia akan tinggal di sini?. Ah, itu tidak mungkin. Batin Briana .
" Momy..."
Seperti biasa, anak anak selalu berhamburan ke pelukan Briana dan mencium pipi nya.
" Hai sayang."
Giliran Zionathan mencium pipi Briana. Briana hanya tersenyum tipis.
" Zi, kenapa dia ada di sini?" Tanya Briana.
" Ohya, mulai sekarang dia akan tinggal sini." Ucap Zionathan santai.
" Apa?, Zi kenapa kau memutuskan ini sendiri, kenapa kau tidak..."
Belum selesai Briana berbicara, Zionathan sudah menutup mulut Briana.
" Emmm, bik. Tolong antarkan nona Lidia ke kamar tamu." Ucap Zionathan pada seorang pelayan.
" Sekali lagi terima kasih Zi." Lidia tersenyum manis kemudian berlalu mengikuti pelayan menuju kamar tamu.
" Apa maksud semua ini Zi, pertama kau selalu membawa anak anak pergi bahkan saat masih jam sekolah. Dan sekarang kau membawa nya kemari. Apa mau mu Zi." Teriak Briana.
" Sttt.. pelan kan suara mu. Ayo kita bicara di kamar." Zionathan menarik
Briana dan berjalan menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Zionathan pun menceritakan tentang Lidia yang terkena kanker xxx hingga alasan nya membawa anak anak.
" Ck, jadi kau membawa anak anak menemui Lidia secara diam diam,"
" Maafkan aku Briana, aku tau kau tidak akan mengijinkan ku membawa anak anak apalagi menemui Lidia."
" Aku kecewa padamu Zi."
" Ayolah Briana, jangan egois. Pikirkan juga perasaan Lidia. Dia sedang sakit, jadi apa salah nya jika aku berusaha mendekatkan dia dengan anak anak. Jika kau di posisi Lidia, aku yakin kau akan meminta hal yang sama."
" Ck, apa jal*ng itu sudah mencuci otakmu ken."
" STOP MEMANGGILNYA JAL*NG BRIANA. Aku ingatkan padamu, kau hanya ibu sambung mereka. Lidia adalah ibu kandung nya. Jadi Lidia berhak dekat dengan anak anak nya." Teriak Zionathan.
" Kau membentak ku Zi?" Tanya Briana dengan mata berkaca-kaca.
" Bri, aku... aku tidak...."
Briana berlari keluar kamar dengan air mata yang siap terjatuh dan membanting pintu kamar Zionathan.
" Argh... Kenapa jadi begini sih." Ucap Zionathan frustasi.
Sedangkan di balik dinding ada seorang wanita yang tersenyum lebar melihat dua sejoli itu bertengkar.
" Rencana pertama berjalan mulus.. Tak ku sangka kau masih seperti dulu. Masih sama bodoh nya."
Wanita tadi tersenyum smirk, dan berjalan kembali ke kamar.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...