
" Dokter... suster... tolong cepat..."
Teriak Briana begitu sampai di depan pintu masuk rumah sakit.
" Tolong.. tolong anak saya suster.."
" Bu.. Sebaiknya ibu tenang."
Ethan langsung di bawa ke ruang ICU, dan langsung mendapat perawatan intens.
" Briana, apa yang terjadi."
Dokter Candra, datang dengan tergesa-gesa setelah mendengar kabar tentang Ethan .
" Dokter Candra." Briana mulai menangis.
" Ada apa, tenang lah."
Dokter Candra menuntun Briana untuk duduk, kemudian meminta Briana menceritakan apa yang terjadi.
" Ini tidak bisa di biarkan." Geram dokter Candra.
" Hiks hiks..., kita bisa apa?, saat ini ingatan Zionathan masih belum pulih." Ucap Briana dalam tangis.
" Itu juga yang memberatkan kita, untuk mengambil tindakan."
" Apa Ethan akan baik baik saja."
Briana menatap dokter Candra.
" Kita akan berusaha melakukan yang terbaik. Tunggu dan kita berdoa untuk Ethan ."
" Hiks...Terimaa kaa...."
Brug.
" Briana ...."
Dokter Candra panik, setelah mendapati Briana pingsan.
" Suster.."
" Kimi?, kau di sini?." Ucap Candra saat dokter yang akan memeriksa Briana adalah Kimi. Tunangannya.
" Pergilah. Dia adalah pasienku." Ketus Kimi sambil mulai melakukan pemeriksaaan terhadap Briana .
" Sejak kapan." Tanya Candra heran.
" Emmm.. sejak.. Sejak hari ini, hehe." Kekeh Kimi, sambil mengusap tengkuk nya yang tidak gatal.
" Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan Kimi?" Candra melirik tajam Kimi.
" Tidak ada, tentu tidak." Ucap Kimi cepat.
" Benarkah.."
Candra berjalan ke arah Kimi, yang sudah selesai memeriksa Briana .
Dekat.. semakin dekat. Hingga Kimi terjatuh di sofa. kedua wajah itu saling menatap sekarang.
" Dasar dokter mesum" Sergah Kimi saat Candra akan mencium nya.
" Hei.. aku calon suami mu. Apa salahnya jika aku minta kiss..." Candra memonyongkan bibirnya, mirip seperti mulut bebek.
" Masih calon suami." Kimi memukul dahi Candra, menggunakan bulpen
" Aku pergi.." Ucap Candra.
" Pergilah."
Kimi menghampiri Briana yang terlihat mulai sadar.
" Hei, kau sudah bangun." Sapa Kimi lembut.
" Kimi.., dimana Ethan ?"
" Tenanglah, Ethan sudah melewati masa kritisnya. Sekarang dia sedang di pindahkan ke ruang VVIP."
" Boleh aku melihatnya?" Pinta Briana .
" Tentu, setelah aku memastikan bahwa kau baik baik saja. Setuju?."
" Baiklah." Ucap Briana pasrah.
..
Sedang di mansion Zionathan, tepatnya di dalam kamar.
" Sayang..., aku sungguh tidak melakukannya, itu sebuah kecelakaan." Ucap Lidia dengan penuh sandiwara.
" Sungguh. Aku adalah ibu kandungnya, tidak mungkin aku akan menyakiti anak ku sendiri." Lidia memeluk Zionathan .
" Tapi semua orang menganggap bahwa kamu yang mendorong Ethan."
" Aku tidak melakukannya, kau harus percaya padaku."
" Ini benar-benar membuatku pusing." pekik Zionathan .
" Minumlah sayang..."
Lidia memberikan segelas air kepada Zionathan . Dan Zionathan meminum nya.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Brug.
Zionathan pingsan. Lidia tersenyum smirk.
" Sayang kau percaya pada ku kan..?." Ucap Lidia setelah Zionathan sadar.
" Soal apa?." Tanya Zionathan binggung.
Obatnya benar benar bekerja, aku bisa memanipulasi nya. Batin Lidia.
" Ethan jatuh dari tangga dan mereka semua menuduhku melakukan nya. Padahal jelas jelas aku melihat Briana yang melakukan nya." Ucap Lidia.
" Ini tidak bisa di biarkan. Bisa bisa nya dia menuduh mu." Ketus Zionathan.
" Sekarang, dimana Ethan dan Briana?"
" Di rumah sakit."
" Kita kesana sekarang.."
Lidia dan Zionathan segera berangkat ke rumah sakit.
__ADS_1
Di Basement rumah sakit.
" Pssst.. Pssstt..."
Seseorang memanggil Lidia, Lidia menoleh.
" Emm sayang, kau duluan ya. Aku akan ku toilet sebentar. Sudah tak tahan, oke." Ucap Lidia.
" Hmm, baiklah."
Sepeninggalan Zionathan, Lidia menemui seseorang yang tak lain adalah pacar Lidia. Alex.
" Ada apa?" Bisik Lidia.
Alex menarik Lidia dan mencumbu nya secara brutal.
" Alex, hentikan."
" I miss you." Alex terus mencumbu linda dan meremas bok ong Lidia.
" Sayang.. Ini di rumah sakit. Pasti banyak CCTV."
Ucapan Lidia membuat Alex menghentikan aksi nya.
" Bagaimana?, apa obatnya bekerja?." Tanya Alex penasaran.
" Tentu saja, Zionathan langsung melupakan kejadian yang terjadi sebelum nya." Ucap Lidia tersenyum bangga.
" Kalau kau butuh lagi. Katakan saja padaku. Asal ..." Meremas bukit Lidia.
" Iya iya.. aku tau. Sudah sana pergi lah."
" Aku minta uang."
" Apaa?, Alex, baru semalam aku memberimu 50 juta. Dan sekarang kau minta lagi?"
" Ayolah. Suami mu orang kaya. 50 Juta hanya jumlah yang kecil bagi nya."
" Dengar. Aku belum sah menjadi istri nya. Jika sudah sah aku akan memberikanmu berapapun yang kau mau."
" Baiklah, ku pegang janji mu."
" Pergilah, sebelum ada yang melihat kita."
" Oke.. Sampai jumpa di apartemen ku. Aku merindukan keganasan mu." Bisik Alex, membuat Lidia tersenyum.
...
Diruang rawat Ethan ...
" Hai are you oke, dear?."
Briana mengecup tangan Ethan, yang telah membuka mata.
" Mom...." Ucap Ethan terbata.
" Hai.., Perlu sesuatu?, Minum?" Tawar Briana, Ethan menggeleng.
" Mom...," Ucap Ethan lagi.
" Iya sayang.. Katakan apa yang kau inginkan?" Briana menekan tombol agar kasur sedikit terangkat.
" Pe..luk.." Ucao Ethan pelan.
" Apa?, momy tidak mendengar dengan jelas."
Briana langsung menangis dan memeluk Ethan.
" Don't cry, mom."
" Momy menangis bahagia nak, momy bahagia karena Ethan baik baik saja."
Ethan menghapus air mata Briana.
" Kau anak yang kuat sayang."
Briana mencium kening Ethan yang di balut perban.
" Lihatlah Zionathan. Apa begitu perlakuan Briana, jika dia lah yang benar benar mencelakai putramu." Ucap Candra di balik pintu.
" Bisa saja dia hanya bersandiwara. Lidia bilang, Briana mengincar hartaku." Ucap Zionathan.
" Hei bro.. Lihatlah. Lihat dengan hatimu. Apa kau tidak bisa merasakannya?, kehangatan yang di salurkan Briana pada Ethan?. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Bahkan Briana terlihat lebih menyayangi Ethan daripada Elo, anaknya sendiri.,"
" Elo?, Kau pernah bertemu dengan nya" Tanya Zionathan menatap Candra.
" Aku yang merawat nya selama beberapa bulan. Dia mengalami luka bakar. Kau yang membawa nya dan memintaku untuk merawatnya sendiri. Di rumahmu." Tegas Candra.
" Benarkah?, kenapa aku tidak bisa mengingat semua nya. Setiap kali aku merasakan sesuatu. Atau ingin mencari sesuatu tentang segala sesuatu yang, mungkin dapat mengembalikan ingatanku. Lalu setelah bersama Lidia, semua nya tiba tiba hilang. Dan aku tidak bisa mengingat apa apa lagi." Ucap Zionathan.
" Aku..aku seperti kembali disaat aku barusaja bangun dari koma. Hanya mengingat Lidia." Imbuh Zionathan.
" Kau mau aku melakukan pemeriksaan lagi?" Tawar Candra.
" Bo..."
" Sayang.."
Lidia datang sebelum Zionathan melanjutkan kata kata nya.
" Hai dokter Candra." Basa basi Lidia.
" Hallo."
" Bagaimana kondisi anakku." Ucap Lidia.
Cih. Anak. Aku tau, kau yang melakukan nya Lidia. Tunggu saja, saat aku tahu apa yang terjadi dengan Zionathan. Batin Candra.
" Kenapa tidak masuk dan melihat nya sendiri." Ucap Candra.
" Emm, sayang.. Baik kita biarkan Ethan istirahat dulu. Lagipula sudah ada Briana di sana."
Lidia gugup dan memegang pipi Zionathan ketika melihat ada Briana di sana, yang sedang bercanda dengan Ethan.
" Kenapa?, kau takut bertemu Briana." Sindir Candra.
" Bukan begitu, hanya saja.. Kami belum makan siang. Benarkan sayang." Ucap Lidia sambil memeluk lengan Zionathan.
" Ayo kita cari makan sayang." Rengek Lidia.
" Baiklah, ayo."
" Sungguh, aneh. Aku harus menyelidiki nya. Zionathan lebih mirip boneka Lidia sekarang." Ucap Candra sambil memandang Lidia yang terlihat manja dan menggoda Zionathan.
" Mom.. Aku takut." Ucap Ethan.
" Tenanglah, ada momy yang akan selalu melindungi mu."
" Sayang.. apa yang sedang terjadi?." Tanya Cika.
__ADS_1
" Katakan pada kami." Ucap Candra selembut mungkin.
Ethan menatap Briana, seakan bertanya apakah boleh aku menceritakan nya. Briana mengangguk.
Ethan pun menceritakan awal mula yang terjadi hingga Lidia yang menghina Briana.
Semua yang ada di sana terkejut, sekaligus bangga dengan apa yang dilakukan Ethan.
Dia membela Briana, walau Briana bukan ibu kandungnya.
" Briana, bisa kita bicara sebentar?" Ucap Candra yang sedikit berbisik pada Briana.
" Tentu."
" Sayang. Momy akan menemui dokter sebentar, kau tidak keberatan kan, jika di temani aunty Cika."
" Yes, mom."
" Anak pintar, momy segera kembali." Briana mencium kening Ethan.
..
Diruangan dokter Candra..
" Apa ada?" Tanya Briana.
" Aku curiga Lidia memberi sesuatu pada Zionathan." Ucap Candra.
" Apa maksud mu?"
" Begini.. Zionatha bercerita, ketika dia akan mencari sesuatu yang bisa membantu nya mengingat memori yang hilang, dia langsung melupakan nya ketika bersama Lidia. Jadi aku menduga Lidia memberi semacam obat yang membuat memori Zionathan berhenti di saat dimana dia begitu mencintai Lidia. Itu sebab nya Zionathan begitu menuruti Lidia sekarang."
" Memangnya ada obat seperti itu?"
" Tentu saja ada. Dan itu sangat rahasia. Tidak bisa bebas di perjual belikan."
" Lalu bagaimana?"
" Aku ingin kau terus mengawasi gerak gerik Lidia. Kau harus mencari tau jika ada hal yang mencurigakan tentang dia."
" Baiklah. Hanya itu?"
" Jika kau dapat menemukan obat yang akan dia berikan pada Zionathan. Ambil, dan bawalah kemari."
" Baiklah."
Briana pun kembali ke ruangan Ethan.
...
Di mansion Zionathan...
" Sayang, kapan kita akan melakukan pemberkatan lagi." Ucap Lidia yang berada dalam pelukan Zionathan.
" Tunggu Ethan sehat." Dingin Zionathan.
" Hanya itu?" Lidia terlihat kecewa.
" Tentu saja, apa kau tidak ingin dia hadir di acara penting kita." Ketus Zionathan.
" Bukan itu. Hanya saja, menunggu itu membosankan." Ketus Lidia.
" Aku terkadang heran denganmu. Kenapa kau begitu menginginkan kita melakukan pemberkatan pernikahan lagi. Seakan akan kita sudah pernah bercerai." Ucap Zionathan.
" Aa..mmm... Bukan begitu sayang. Baiklah baiklah. Kita akan menunggu Ethan sehat."
...
Tiga hari berlalu, kini Ethan dirawat di rumah, didalam ruangan khusus.
Ruangan itu bahkan selalu dikunci. Dan hanya Briana yang memegang kunci nya.
" Briana." Sapa Zionathan saat jam makan malam.
" Apa!!." Ketus Briana tanpa melihat ke arah Zionathan.
" Kenapa kau selalu mengunci Ethan. Kau bahkan tidak membiarkan aku dan Lidia masuk dan melihat nya.,"
" Kau pikir aku akan membiarkan mu atau wanita mu menyakiti Ethan lagi.* Ketus Briana.
Brak !!!
" CUKUP BRIANA ." Zionathan menggeprak meja.
" Kau tidak punya hak atas Ethan. Kau hanya pengasuhnya. Bukan ibu nya." Teriak Zionathan dengan nada marah.
Zionathan pergi, kemudian kembali dengan membawa dokumen berisi surat perjanjian kontrak antara dirinya dan Briana.
" Baca!!"
Zionathan melemparkan dokumen itu kearah Briana.
Bukannya membaca, Briana justru mendatangi Zionathan.
Plak !!!.
" Kau boleh melupakan siapa aku. TAPI.. aku tak kan membiarkan Lidia mendekati Ethan lagi. Sekalipun dia adalah ibu kandung nya."
Briana menangis dan pergi meninggalkan Zionathan.
Di sebuah apartemen di pusat kota...
Dua sejoli baru saja selesai melakukan ritual aduhai.
" Kau memang luar biasa Lidia.."
Alex mengecup bibir Lidia.
" Tentu saja."
" Jadi kapan kau akan mengambil alih perusahaan Zionathan. Ayolah, aku sudah tidak sabar melihat nya bangkrut."
" Sabar. Aku saja harus menunggu Ethan sembuh untuk bisa menikah lagi dengan nya." Ucap Lidia.
" Paksa dong."
" Tidak bisa. Itu justru membuatnya curiga bahwa kita pernah bercerai."
" Lalu bagaimana?,"
" Kita harus membuat rencana.."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1