CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Dibawa pergi


__ADS_3

Seseorang dengan topi, bermasker dan memakai kacamata hitam memanggil Lala, saat Lala sedang berperang dengan pemikirannya sendiri.


"Psstt, psst..., Lala..."


Lala menoleh, seseorang itu menjentikkan jarinya. Memberi syarat agar Lala datang pada nya.


Lala menunjuk pada dirinya sendiri dan seseorang itu mengangguk.


"Bibi, aku akan ke toilet sebentar." Pamit Lala pada Elena.


"Ya, lekas lah kembali, sebentar lagi kita bisa melihat Briana."


"Baik bibi."


Lala segera berjalan, dan mengikuti langkah kaki seseorang tadi.


Laki laki tadi segera membawa Lala masuk ke dalam gudang. Disana, laki laki tadi membuka topi, masker dan kacamata nya.


"Bang Ryan??"


Lala menutup mulutnya, tak percaya dengan sosok yang ada didepan nya.


"Hiks hiks, abang kemana saja?, kenapa baru muncul sekarang. Abang tau apa yang sudah di lewati Briana." Lala menangis di pelukan Ryan.


" Ya, aku sudah tau. Aku sudah mengawasi Briana sejak lama."


"Bagaimana abang bisa menemukan Briana." Tanya Lala.


" Temanku tidak sengaja bertemu dengan Briana, saat acara pernikahaan Lidia dengan Zionathan. Saat itu Briana datang pada temanku, dan meminta bantuan untuk menyelamatkan anak anak." Terang Ryan.


"Ah iya, aku ingat kejadian itu." Potong Lala.


" Temanku, tidak sengaja melihat tanda yang ada di bahu kiri Briana. Lalu dia segera memberitahu aku. Sejak itulah aku langsung mengerahkan semua anak buahku untuk mencari informasi sedetail detail nya tentang Briana. Dan yang terjadi ini sudah kelewatan. Aku tidak terima adikku di perlakukan begini. Sudah cukup dia menderita. Dia juga berhak bahagia."


" Tunggu.., apa maksud abang."


Ryan menghela nafas, kemudian menceritakan awal mula nya, hingga keadaan ini terjadi, keadaan yang membuat bayi Briana harus melahirkan bayi bayi nya.


" Astaga, aku tidak menyangka. Briana juga sempat menelpon ku, dan mengatakan jika dia bertengkar dengan Zionathan. Dan ingin aku segera datang." Terang Lala


" Seperti nya Zionathan mengatakan hal yang membuat batin Briana sangat terguncang, hingga dia jadi tak sadarkan diri. Sama seperti saat dulu orangtua kami bertengkar. Dan akhirnya kami terpisah."


Ryan sedih ketika mengingat keluarga ayahnya yang memperolok ibu Briana. Dan merebut paksa Ryan dari ibu nya . Hingga harus berpisah dengan Briana.


" Lalu, apa yang akan abang lakukan sekarang?" Tanya Lala.


" Aku akan membawa nya jauh dari pria brengsek itu."


"Tapi bagaimana jika Briana tidak bersedia?"


"Aku yakin dia juga menginginkan hal yang sama. Pergi dari pria seperti Zionathan."


"Aku rasa abang tidak akan bisa membawa Briana. Pak Brham dan juga Zionathan, adalah pemilik perusahaaan terbesar di kota ini dan negara XXX. Mereka pasti akan menyewa seluruh polisi untuk mencari Briana, dan jika abang tertangkap. Abang bisa masuk penjara."


" Hahaha." Ryan tertawa.


" Kenapa abang tertawa." Gerutu Lala.


" Hahahaa.. Tidak apa apa. Aku yakin mereka tidak akan bisa menemukan ku setelah aku membawa Briana. Tenang saja, aku akan bermain sangat cantik. Kau hanya perlu mengalihkan perhatian ibu mertua Briana. Aku akan segera membawa Briana pergi, bahkan kau mungkin tidak akan menyadari nya. Saat aku sudah berhasil membawa Briana keluar dari rumah sakit ini."


Tap


Tap


Tap


Tap


Terdengar suara kaki melangkah. Ryan segera memasang lagi masker, topi dan kacamata hitam nya.


" Ingat jangan beritahu siapapun jika kau juga ingin melihat Briana bahagia."


" Bang tunggu.."


" Ada apa?"


" Tolong jangan lakukan ini. Aku tidak mau abang masuk penjara."


" Sudah. Tenang saja. Kau lihat saja nanti."


Ryan kemudian pergi meninggalkan Lala yang terlihat gelisah.


Lala tidak tau, jika Ryan adalah mafia terkuat dan yang paling di takuti di kota itu.


Bahkan kelompok mafia nya sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia, mereka adalah kelompok mafia yang selalu membela mereka yang tertindas.


Lala berjalan kembali ke ruangan, dimana Briana akan di pindahkan.


"Lala, kenapa lama sekali?"


Elena mengejutkan Lala yang terlihat melamun.


"Ah, bibi. Iya, tadi aku tersesat, hehe." Ucap Lala asal.


"Ya sudah, sana temui Johan."


" Dia sudah sadar?"


" Belum. Aku ingin kau menemani nya. Aku ingin melihat cucuku."


Elena kemudian pergi meninggalkan Lala.

__ADS_1


Lala masuk ke dalam. Dan betapa terkejutnya dia, saat melihat Ryan sudah ada di sana.


" Bang Ryan?, kenapa bisa ada di sini. Bukankah, kita barusaja bicara disana."


Lala seperti orang linglung.


"Sttt.., sudah ku bilang kan. Aku akan bermain cantik, hingga kau sendiri tidak menyadari nya."


" Tapi, tadi kan ada bibi?"


" Oh, jadi tadi itu ibu mertua Briana?, dia bahkan tidak tau aku disini."


" Be..benarkah?"


" Tentu saja."


" Tunggu..."


Lala mendekati Ryan. Menyentuh kepala, tangan. Hingga mengangkat kaki nya.


" Berat." Gumam Lala.


" Hei, apa yang kau lakukan?"


" Aku hanya memastikan, jika abang adalah manusia."


" Kau pikir aku hantu?"


" Hehe. Maaf, habisnya bang Ryan seperti hantu."


Suara Ryan dan Lala, perlahan membuat melodi membuka mata.


" Bang.. Ryan..." Ucap Briana terbata.


"Briana.., kau sudah sadar?"


Ryan memeluk Briana dengan hati hati, kemudian kening nya. Briana menangis.


" Hei.. Kenapa kau menangis?"


Ryan mengusap airmata Briana.


" Ak...aku merindukan abang. Mama sudah meninggal, aku..aku tidak punya siapa siapa lagi.. Hiks hiks hiks hiks... Aku.., aku hanya beban bagi nya bang. hiks hiks hiks hiks"


" Abang sudah disini. Tenanglah.."


Ryan berusaha menenangkan Briana. Setelah Briana cukup tenang.


" Bang, bagaimana dengan anak anakku?, apa mereka baik baik saja?, aku ingin melihat mereka."


" Tenangkan dirimu. Mereka baik baik saja. Sekarang katakan dulu padaku."


" Katakan apa?"


Briana kemudian menceritakan segala yang bisa dia ingat sampai akhirnya dia pingsan.


" Kurang ajar." Gerutu Ryan.


" Bang, bawa Briana pergi." Rengek Briana. Lala tercengang dengan apa yang baru saja Briana katakan.


" Briana.. Kau bersungguh sungguh dengan yang kau katakan ?" Tanya Lala.


" Tidak ada guna nya lagi, aku tinggal disana. Zionathan tidak mencintaiku lagi. Dia.. dia lebih mencintai Lidia. Aku.. aku tetep ada di mansion, karena Zionathan terikat janjinya yang tidak akan meninggalkanku."


" Tenang saja. Aku sudah menyiapkan senua nya." Ucap Ryan.


" Briana.. Tolong pikirkan lagi keputusanmu." Ucap Lala.


" Lala. Kenapa kau seakan menentang keputusan Briana. Apa kau ingin Briana terus mendapat tekanan batin?" Ucap Ryan.


" Bukan begitu bang... Hanya saja..."


" Kau sebenarnya teman atau musuh Briana sih?" Ketus Ryan.


" Bang.." Briana menenangkan Ryan.


" Aku.. aku hanya memikirkan Ethan. Bagaimana jika Briana pergi begitu saja." Lirih Lala.


" Itu urusanku na, kau tidak perlu khawatir." Tegas Briana.


" Briana.. Kau yakin dengan keputusanmu?"


" Sangat yakin."


...


Sementara itu, Zionathan terus mencari ruangan Briana.


Han dan Braham kesal. Karena CCTV mereka telah di rentas dan menghapus kejadian saat Elo dibawa pergi oleh seseorang yang mengaku kerabat Elo. Mereka tidak dapat menemukan siapa yang membawa Elo.


Para satpam dan juga penjaga tidak mengetahui bahwa yang membawa Elo adalah orang lain.


Karena mereka mengaku melihat Zionathan lah yang membawa Elo.


" Sepertinya orang ini sudah merencanakan nya dengan rapi. Terbukti dia bahkan berhasil mengelabuhi para penjaga." Ucap Han.


" Lalu kita harus bagaimana Han?" Tanya Braham.


" Kita harus mengikuti alur permainan nya. Dengan rapi dan hati hati." Tegas Han.


...----------------...

__ADS_1


" Suster, dimana ruang rawat untuk pasien yang barusaja melahirkan?" Tanya Zionathan pada seorang suster jaga.


" Kalau ruang rawat biasa lantai empat, ruang rawat VVIP lantai lima."


" Terima kasih suster."


Zionathan segera berjalan menuju lift. Karena dia sekarang berada di lantai satu. Maka dia harus menunggu lift turun ke lantai satu.


Lantai lima


Lantai empat


lantai tiga..


Tanda lift terus menunjukan pergerakan penurunan angka. Hingga akhirnya lift terbuka di lantai satu. Tempat dimana Zionathan sedang berdiri menunggu pintu lift terbuka.


Tring...


Pintu lift terbuka. Terlihat beberapa orang keluar dari lift dengan membawa seorang wanita di atas kursi roda.


Setelah semua orang keluar. Zionathan dan beberapa orang lainnya masuk.


Zionathan tidak mengenali, dan tidak menyadari, jika wanita yang di dorong tadi adalah Briana.


Ya. Ryan telah membawa Briana keluar dari rumah sakit.


" Mama?" Lirih Zionathan saat melihat Elena setelah keluar dari lift.


" Mama.." Teriak Zionathan.


Elena menoleh sebentar, lalu kembali berjalan.


" Mama tunggu.."


Zionathan berlari mengejar Elena.


" Ma.. ini Zionathan ma."


" Iya mama tau."


" Lalu kenapa mama tidak berhenti saat aku memanggil mama?"


" Kau hanya memanggil kan. Bukan minta di tunggu." Ketus Elena.


" Ma, kenapa mama sangat kasar?"


Plak !!


" Kau masih tanya kenapa mama kasar. Harusnya kamu bisa menjawap nya sendiri. Jika bukan karena kelakuan kamu, Briana tidak mungkin mengalami kejadian ini." Ucap Elena dengan nada tinggi.


" Ma, aku tau aku salah. Aku khilaf. Sekarang dimana Briana ?, aku ingin bertemu dengannya."


Elena terdiam.


" Ma.. aku mohon. Aku akan memperbaiki semua nya. Aku janji."


Setelah Zionathan membuat banyak janji pada Elena. Akhirnya Elena luluh.


" Baiklah, mama beri kau satu kesempatan lagi."


" Terima kasih ma."


Zionathan hendak memeluk Elena.


" No, tidak ada pelukan sampai Briana benar benar memaafkanmu."


" Baiklah.


Zionathan akhirnya berjalan di belakang Elena. Hingga akhirnya mereka tiba di kamar rawat Briana .


Briana . Aku janji akan memperbaiki hubungan kita. Aku harap kau mau memaafkan aku, demi anak kita. Demi bayi twins kita. Memaafkan kebodohanku. Batin Zionathan.


Ceklek....


Elena membuka pintu. Dan mata nya tertuju pada Lala yang terduduk lemas di lantai.


"Lala..."


Elena berlari ke arah Lala, di susul Zionathan.


"Lala, apa yang terjadi?, dimana Briana." Tanya Zionathan mulai panik.


"Lala, katakan dimana Briana?"


Elena berlutut dan memegang bahu Lala.


" Bibi... Tadi Briana sadar, aku memanggil dokter. Setelah selesai diperiksa dokter, dia ingin makan makanan yang lain. Dokter mengijinkan. Jadi aku bermaksud membelikan makanan yang di minta Briana. Dan saat aku kembali, Briana sudah ada tidak ada di sini." Terang Lala sambil menangis.


" Tenanglah Lala. Briana mungkin pergi melihat bayinya. Ayo kita kesana." Ucap Elen.


" Bukankah bibi tadi dari sana?"


" Aku hanya sebentar melihatnya. Lalu segera kembali kesini. Mungkin saja Briana melewati jalan yang lain."


" Mama benar. Ayo kita ke sana. Lala, kau tenanglah. Briana tidak akan jauh dari sini." Ucap Zionathan.


"Ayo La." Elena mengandeng tangan Lala.


Briana . Semoga saja kau benar benar pergi ke ruangan bayimu. Karena tidak mungkin kau sudah pergi dari rumah sakit ini, sementara kondisi mu belum stabil. Bang Ryan!, tidak mungkin dia bisa membawa pasien yang barusaja melahirkan dan belum genap dari 24 jam. Apalagi Briana melahirkan secara caesar. Dokter pasti tidak akan membiarkan pasien pulang. Batin Lala.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2