CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Dia Datang dengan Sejuta Pesona


__ADS_3

Walaupun masa kecilku tidak semanis dan sebahagia anak-anak pada umumnya, namun aku bersyukur bisa mengenal sosok Mami, Dewi penolongku.


Mami selalu memberiku semangat, katanya kesuksesan bisa diraih siapa saja, asal orang itu mau berusaha, bagiku Mami adalah motivator ulung yang selalu bisa membangkitkan semangat untuk menjadi yang terbaik.


Aku memang tak sepintar Rhys saat sekolah bersamanya, Rhys jago Matematika, biologi, bahasa Asing dan banyak lagi keahliannya.


Satu kekurangan yang dimilikinya, Rhys selalu gugup jika bicara di depan orang banyak, berbeda denganku, aku punya bakat dalam hal public speaking, aku juga jago debat, hingga Mami berharap suatu saat aku akan jadi seorang orator hebat.


Wanita itu tersenyum bangga saat aku bisa meraih juara umum lomba pidato kenegaraan dalam rangka perayaan hari kemerdekaan tingkat SMP sekabupaten, saat aku kelas sembilan, sayangnya Rhys tak melihat hal itu.


"Coba kalau Papi dan adekmu melihat semua ini, pasti mereka bangga juga kayak Mami." ciuman bertubi-tubi mendarat di pipi kiri- kananku


Kebiasaan Mami selalu menyebut Papi sebagai Papi ku, padahal selama kami tinggal bersama tak pernah pria itu menganggap aku anaknya.


Lalu adekmu, ah kata itu terlalu membuat perasaan risih saat Mami menyebutnya, aku malu mendengarnya, seorang adek yang lebih tinggi, lebih pintar, dan lebih segalanya di banding aku. Walaupun kini aku menyadari ternyata bukan itu yang membuat aku kurang suka saat Mami menyebut Rhys sebagai adekku.


**


Jam menunjukan pukul sembilan malam, namun Mami belum juga pulang. Dengan mata yang setengah terpejam aku selonjoran di sofa menunggu kedatangannya.


Terdengar deru suara mobil Mami yamg sudah kukenal seeblumnya. Setelah si Mbok membuka pintu pagar aku berlari menyambutnya, namun langkahku tertahan saat melihat sosok jangkung keluar dari dalam mobil dengan menyeret sebuah koper besar yang dikeluarkannya dari bagasi.


"Simpan disitu, sayang, biar nanti si Mbok yang membawanya masuk." Mami merangkul pemuda itu dan membawanya masuk.


Segera aku berbalik arah, berharap mereka tak melihat kehadiranku, syukurlah doaku terkabul juga.


"Where's my room, Mom?" kudengar suara berat pria itu, apakah itu Rhys? Benarkah dia setinggi itu, seatletis itu sekarang? Batinku.


"Di atas, sayang, ini kamar Dinar," balas Mami, aku tak berani leluar kamar.


"Oh iya, mana cewek cengeng itu, aku tak melihatnya!" kembali suara mengandung getar aneh itu terdengar.


Deg, jantungku berubah getarannya, bagaikan tersetrum listtik ribuan volt.

__ADS_1


"Nanti Mami bangunkan kakakmu, mungkin dia sudah tidur sekarang, gantilah bajumu dulu, sayang"


"Gadis macam apa jam segini udah ngorok" jawab Rhys sambil menaiki tangga.


Ya ampun Mami! Aku belom tidur kali, Mi, coba yang lebih keren penjelasannya, Lagi belajar kek, Atau lagi chatingan gitu! lah ini lagi tidur, kesannya aku gadis rumahan banget kan? gumamku.


Iya, dulu aku sering banget nangis, kesandung, jatuh dari sepeda, lihat kecoak, sampe naik pesawatpun aku menangis, maklum aku phobia ketinggian, dan Rhys akan tersenyum sampai tertawa melihat tingkah konyolku yang kata Mami adalah Kakaknya.


"Dinar, bangun, sayang, lihat siapa yang datang malam ini." Mami mengetuk pintu kamar.


"Iya, Mi!" sahutku dengan suara agak di buat serak serak basah, agar Mami percaya kalo aku tadi sudah tidur.


"Mami tunggu di ruang depan ya,"


"Oke, Mi," jawabku asal


Padahal hatiku berdebar- debar saat ini, apa yang harus kulakukan ketika bertemu dengan cowok ganteng itu.


Aku duduk di samping Mami, wanita cantik itu menatapku.


"Mbok, buatkan teh tiga ya!" seru Mami


"Iya, bu," si Mbok menjawab dari arah dapur.


Aku memainkan bantal sofa yang kupeluk, tak sabar menunggu kemunculan sosok itu.


" Mom, kayaknya AC di kamarku gak berfungsi tuh!" sosok cowok berbadan atletis dan berambut agak gondrong tiba- tiba duduk dihadapanku.


Jantungku serasa berhenti tak kala mata kami beradu pandang.


"Eits ini kak Dinara?" mata coklat itu menatapku lekat.


Sumpah, aku merasa salting dan grogi di buatnya. Ada yang salah dengan penampilanku malam ini? tanyaku dalam hati.

__ADS_1


"Mana ekor kuda yang selalu nempel disini?" Rhys menepuk kepalaku.


Aku tertunduk, malu banget jika ingat masa kecil itu, rambut dua helai dikuncir kuda, udah gitu pake pita merah lagi.


"Eh... Jangan gitu,sayang, ayo kasih salam sama kak Dinar," ujar Mami menepuk tangan jail Rhys yang menarik rambutku.


"Hei, apa dia menangis, Mom?" Rhys menunjuk wajahku yang memerah.


Sejak kapan cowok pendiam itu jadi berubah tengil dan menjengkelkan kayak gini, sungguh Singapura telah merubahnya.


"Aku gak nangis tau!" jawabku keras


"Akhirnya keluar juga suara emasnya," Rhys terkekeh, tangannya mencomot sepotong kue di atas meja.


Baru kali ini aku merasa sebal melihat tingkahnya.


Mami tersenyum melihat tingkah kami, nampak rona bahagia terpancar di wajahnya.


"Rhys, minggu ini juga Mami akan mengurus kepindahan sekolahmu,"


Rhys tersenyum, lalu melirik ke arahku


"Ok, Mom, kira- kira satu sekolah gak sama kak Dinar?"


"Boleh, Mami usahakan kalian satu sekolah, sekarang waktunya istirahat, besok pagi kita lanjutkan lagi obrolan malam ini." Mami beranjak ke kamarnya sebelumnya tak lupa mencium keningku dan juga pemuda ganteng itu.


"Mi, Dinar boleh tidur di kamar Mami?" kataku penuh harap.


Mami mengangguk, namun sebelum aku beranjak mengikutinya, tiba tiba Rhys berseru


"No, Mom, this change for me!" katanya merangkul manja Mami.


Mami menatapku, lalu berkata.

__ADS_1


"Boleh ya, sayang, untuk malam ini saja."


Giliran aku yang mengangguk. Kulihat sekilas Rhys tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2