CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Kami Memang Beda


__ADS_3

"Mi, aku berangkat awal ya," kucium tangan yang sedang sibuk memasukan alat praktek dokternya ke dalam tas.


"Sarapan lah dulu, jangan lupa minum susu, sayang." Mami mencium keningku


"Siip" kuangkat jempolku sambil berlalu


Kulirik kamar Rhys, masih nampak sepi, paling pemuda nyebelin itu masih tidur, pemuda macam apa jam segini masih tidur balasku dalam hati.


Mataku tertegun saat melihat sosok ganteng itu mendorong sepeda, lalu meletakannya persis di sampingku.


"Kak, besok temani aku olah raga pake sepeda ya," matanya menatapku


Aku tak menjawab, sedangkan Rhys sibuk mengelap keringat dengan handuk kecil yang tergantung di lehernya.


"Eh iya, dah lancar kan naik sepedanya?" kini nada suaranya nampak sedang tidak minat meledekku


Aku mengangkat bahu, belom tau dia kalau aku juara di Komplek perumahan ini.


Banyak hal yang kini kau lewati Rhys, aku bukan lagi Dinara cengeng, dengan mata yang selalu berharap jika sepotong kue yang kau makan bisa kau berikan padaku.


"Bengong, udah sana berangakat, "Rhys menggertaku yang lagi-lagi termagu di depannya.


"Siapa yang bengong, orang aku nunggu babang Gojek ko," sahutku ketus.


"Who is babang Gojek?, calon kakak iparku kah, is heyou're boy friend?" mata coklat itu menyelidik, tubuhnya mendekat kearahku.


"Yes," jawabku sekenanya

__ADS_1


"I want to see him." katanya dengan mimik serius.


Tak lama babang Gojek langgananku datang, seorang pria berumur 40 tahunan


"Are you serious?" giliran pemuda itu yg bengong


"Why not, he's my steady, " jawabku enteng, dengan sigap aku naik ke motor babang Gojek sambil teriak.


"Tarik, bang!"


Lagi, Rhys hanya melongo melihatku tanpa basa -basi ngacir bersama babang Gojek kesayangan.


**


Saat makan malam, mataku melotot melihat menu yang terhidang diatas meja.


"Duduklah, malam ini pertama kita makan bersama lagi, setelah belasan tahun berlalu," Mami meletakan sepiring besar nasi goreng spesial khusus buat Rhys tentunya. Karna pemuda itu penggila nasi goreng.


"Cepat panggilkan dia Mbok, aku sudah kelaparan," kataku melirik si Mbok


Yang tengah asyik menata gelas dan piring diatas meja.


Lagi mataku menatap ceker berbalut warna merah saos cabai kesukaanku. Rasanya ingin segera menyantapnya.


"Siap Non," si Mbok paham juga, jika aku sudah tak tahan melihat menu yang dihidangkannya.


Tak lama Rhys datang, mengenakan kaos hitam, dan celana jeans pendek. Aroma tubuhnya mulai tercium, matanya menatap ke arah sepiring nasi goreng.

__ADS_1


"Waw it's very delicious! Mom," nampak sekali dia bernafsu untuk segera makan.


Namun matanya tertumbuk pada sepiring ceker yang berbaris rapi di atas piring.


"Singkirkan itu dari sana!" tangannya menunjuk ke arah ceker.


"Why?" Mami menatapnya


"Itu kesukaan Kakakmu, sayang," lanjut Mami.


"But, i dont like it Mom, itu berlemak, not good for health." serunya.


"Sometime boleh, sayang" jawab Mami.


"Lagian ini enak tau!" jawabku mencomot ceker pedas itu lalu melahapnya, tulang- tulang lunak ceker itu bergemelutuk di mulutku.


"Jorok!" Rhys mendelik kearahku.


"Hmm..." aku mengangkat bahu, cuek.


"Ini enak , sayang," Mami mengikuti langkahku, mencomot ceker juga, sama cara melahapnya sepertiku, mulut kami belepotan saos cabai.


"Mom, itu menjijikan!" Rhys menatap Mami, protes, dan Mami hanya tersenyum manis.


"Kau meracuni Mamiku juga." mata coklat itu menatapku sebal, aku terkekeh, kulanjutkan aksi melahap ceker-ceker spesial si Mbok malam ini.


Rhys menunduk, nampaknya mata menawan itu enggan menatap kami, lalu melahap nasi gorengnya, akupun tersenyum penuh kemenangan. satu sama untuk kali ini. batinku.

__ADS_1


__ADS_2