CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Kekacauan.


__ADS_3

Sepeninggalan Zionathan, Briana mulai merasakan sakit yang teramat dalam pada perutnya.


"Bik... Bibikk." Teriak Briana sekuat tenang.


Tap


tap


tap


tap


Terdengar suara kaki berlari.


"Nyonya..."


"Bik.. sakit bik.. tolong ambilkan ponselku."


"Ini nyonya..,"


Briana ngambil ponselnya dan segerap menghubungi Lala.


Tak lama berselang, Kimi datang..


"Briana, ada apa?" Tanya Kimi panik, yang melihat Briana lemas.


"Anu, tadi nyonya hampir terjatuh, dan perutnya kram. Tadi sudah lebih baik. Tidak tau kenapa, sekarang jadi begini." Terang seorang pelayan.


Kimi mulai memeriksa Briana.


"Astaga. Kita harus segera membawa nya ke rumah sakit. Denyut nadi Briana lemah, itu mempengaruhi detak jantung bayinya."


"Saya akan memanggil satpam untuk meminta bantuan."


Pelayan langsung keluar.


"Dimana tuan Zionathan?" Tanya Kimi pada pelayan.


"Tu..tuan..."


Belum selesai pelayan itu berbicara, Lala datang bersama Han.


"Kimi, apa yang terjadi?" Tanya Lala.


"Nanti saja ceritanya. Kita harus segera membawa Briana ke rumah sakit." Ucap Kimi.


"Apa ini?" Tanya Lala saat akan mengangkat kaki Briana.


"Oh my god." Kimi terkejut


"Ada apa?" Lala mulai panik.


"Briana mengalami pecah ketuban dini." Ucap Kimi.


"Lalu, kita harus bagaimana?"


"Segera bawa ke rumah sakit."


"Ayo pakai mobilku." Ucap Han.


"Bik, tolong jaga anak anak. Pastikan mereka tidak tahu hal ini, dan jangan sampai mereka tau. Itu akan membuat mereka panik." Ucap Lala pada para pelayan.


"Baik nona.."


"Terutama Ethan, jangan biarkan dia tau soal ini. Mengerti bik?" Imbuh Lala.


"Mengerti nona."


"Memangnya kenapa dengan Ethan ?" Tanyaa Kimi.


"Kau tidak tau?, Ethan sangat sensitif terhadap apapun yang berhubungan dengam Briana . Ethan sangat dekat dengan Briana." Terang Lala.


"Jadi begitu?"


Satpam datang, dan langsung membantu mengangkat Briana, menggunakan tandu. Mereka segera membawa Briana masuk ke dalam mobil, dan bergegas menuju rumah sakit.


"Kimi bagaimana ini, air ketuban nya terus mengalir." Ucap Lala panik.


"Han, bisakah kau lebih cepat lagi. Banyak nyawa yang harus kita selamatkan hari ini." Ucap Kimi.


"Baiklah.." Ucap Han.


"Briana , sadarlah..."


Lala menepuk perlahan pipi Briana.


"La...." Briana membuka mata.


"Hei, are you ok?" Tanya Lala, Briana mengangguk.


"La, tolong jaga Elo untukku."


"Kenapa kau bicara seperti itu, kau harus kuat." Lala memegang erat tangan Briana.


"Kimi, berjanjilah kau akan menyelamatkan anak anakku."


"Katakan apa yang kau rasakan?" Ucap Kimi.


"Berjanjilah Kimi, apapun yang terjadi selamatkan anak anak ku." Ucap Briana dengan suara terbata.


"Aku akan berusaha menyelamatkan kalian semua."


"Te..ri..ma.." Belum sempat Briana menyelesaikan kata kata nya,mata nya kembali menutup.


"Cepatlah Han." Teriak Lala dalam kepanikan.


"Briana bertahanlah.."


Kimi segera memeriksa Briana, terutama memantau detak jantung bayi nya.


...----------------...


" Tuan...."


Seseorang berlari tergesah gesah guna menemui tuan nya.


"Ada apa?, seperti ada hal serius yang terjadi." Ucap sang majikan.


"Itu tuan..nona Briana ..,"


"Kenapa dengan Briana ?" Tanya pria yang memakai kacamata hitam.


"Intel kami mengatakan jika Briana dibawa ke rumah sakit XXX. Saya sudah menyelidiki nya tuan, kemungkinan bayi nya akan dilahirkan."


"Tidak mungkin."


"Benar tuan. Sepertinya telah terjadi sesuatu antara nona Briana dan suami nya."


Brak !!


Pria tadi menggeprak meja.


"Ayo kita lekas ke rumah sakit."


"Baik tuan.."


"Kau !, cari tau apa yang terjadi antara Briana dan suami nya. Dan berikan aku laporan nya segera" Ucap pria tadi, pada anak buah nya yang lain.


"Siap tuan."


Sementara itu ..


Drrtt drttt drttt...


Ponsel Kimi berdering.


"Ya halo?, sudah kau siapkan ruang operasi?"


"-----"


"Baiklah, kami akan sampai dalam dua menit."


" ----"


"Stand by di pintu masuk."


Tut.


Kimi mematikan panggilannya.


"Operasi?, siapa yang akan di operasi Kimi?" Tanya Lala.


"Tentu saja Briana, kita harus mengeluarkan bayinya. Itu satu satu nya jalan untuk menyelamatkan mereka." Terang Kimi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Briana langsung di bawa para perawat yang sudah menunggu di pintu masuk.


"Kimi.. tolong selamatkan Briana ." Ucap Lala, saat Kimi akan masuk ke ruang operasi.


"Aku akan berusaha semaksimal mungkin." Ucap Kimi.


"Hiks hiks hiks..."


Lala menangis di pelukan PoHan.


"Tenanglah. Briana akan baik baik saja." Ucap Han.


"Ini semua gara gara Zionathan." Ketus Lala.


"Memangnya apa yang terjadi." Tanya Han


Lala kemudian menceritakan, saat Briana mengatakan perihal pertengkaran nya dengan Zionathan . Hingga dia meminta Lala untuk datang.


"Ini benar benar kelewatan." Geram Han.


..


Di sisi lain, di rumah sakit yang sama. Zionathan sedang gelisah menunggu Lidia yang masih ditangani dokter.


"Zionathan." Teriak Candra


"Candra, hei.."


" Bagaimana keadaan Briana ?" Tanya Candra.


"Briana l?," Zionathan tampak binggung.


"Iya, bukankah kau menunggu Briana?" Ucap Candra.


"Tidak, aku menunggu Lidia."


Candra kemudian melihat papan nama ruangan.


"Oh astaga, aku salah ruangan. Baiklah." Candra hendak pergi.


"Hei tunggu, memangnya Briana ada di rumah sakit ini?" Tanya Zionathan.


"Kau ini bagaimana?, kau kan suami nya. Masak kau tidak tahu?"


"Emm, tidak. Aku tadi mengantar Lidia kesini dan..."


"Astaga.. jadi kau tidak tahu?, ckckck. Zionathan, Zionathan, suami macam apa dirimu ini?, istri sedang berjuang antara hidup dan mati. Kau malah menunggu wanita lain."


"Berjuang?..."


"Keluarga pasien?" Tanya dokter yang baru keluar dari ruang ICU.


"Aaaa.., saya dokter."


"Mari ikut saya sebentar. Ada yang harus saya sampaikan."


"Ba..baiklah."


Candra meninggalkan Zionathan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.


Zionathan tidak mengetahui jika melodi juga sedang kritis.


Sekarang, pikiran Zionathan terpecah, dia mulai berpikir apa yang terjadi pada Briana hingga Briana dibawa ke rumah sakit.


"Silahkan duduk tuan..."


" Zionathan." Ucap Zionathan .


"Ah iya, tuan Zionathan. Jadi, dari hasil visum mengatakan jika nyonya Lidia mengalami kekerasan seksual. Terbukti dari, di temukan nya luka pada organ vital dan juga duburnya." Terang dokter.


"Lalu, bagaimana kondisi bayinya?" Tanya Zionathan.


"Bayi?"


"Iya, bukankah pasien hamil?"


"Maaf mengecewakan tuan Zionathan. Tapi nyonya Lidia tidak sedang dalam kondisi hamil."


"Apa??, tidak mungkin. Anda pasti salah. Dia sedang hamil. Saya sendiri yang menemani nya ke klinik untuk menjalani pemeriksaan kehamilan."


"Tuan, saya sudah memeriksa. Dan di pastikan, nyonya Lidia tidak dalam kondisi hamil."


"Tidak mungkin."


"Ba..baik"


Zionathan keluar, dan di lihatnya Lidia sedang di dorong oleh beberapa perawat.


"Apa Lidia membohongi ku?, tapi kenapa?. Aku harus mendengernya sendiri dari Lidia." Lirih Zionathan


Semua orang menunggu dengan cemas, didepan ruang operasi Briana. Sementara Zionathan menunggu Lidia sadar, untuk menanyakan kebenaran nya.


Keluarga Zionathan yang lainnya langsung pulang ke Indonesia dia sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menemui Briana.


Begitu mendapat kabar dari Han, keluarga Braham langsung terbang dari negara XXX menggunakan jet pribadi.


Sudah dua jam mereka menunggu Briana. Namun belum ada tanda tanda operasi sudah selesai.


"Han.." Sapa Elena.


"Bibi.."


"Bagaimana Briana?"


Elena menatap Han dan Lala secara bergantian. Mereka menggeleng lemah.


"Cika, Cila, sebaiknya kalian pulang dan menjaga anak anak." Perintah Braham.


"Benar, mereka pasti gelisah sekarang, karena tidak bisa menemukan Briana ataupun Zionathan." Imbuh Lala.


"Ayo aku antar." Ucap Han.


Han kemudian mengantar Cika dan Cila pulang.


Di sisi lain, Lidia mulai tersadar.


"Eugh... dimana aku?"


Kau di rumah sakit. Mau minum?" Tawar Zionathan. Lidia mengangguk.


"Sudah lebih baik?" Tanya Zionathan.


"Iya, terima kasih."


"Mau ku panggilkan dokter?" Tawar Zionathan.


"Tidak perlu, nanti saja."


"Baiklah.."


"Zionathan .." Panggil Lidia.


"Iya?"


"Terima kasih sudah membawaku kemari."


"Ya sama sama."


Kenapa Zionathan cuek. Apa yang terjadi. Batin Lidia.


"Permisi, saya ingin memeriksa kondisi Lidia."


"Silahkan dokter." Ucap Zionathan.


Setelah Lidia selesai di periksa.


"Zionathan .." Panggil Lidia.


"Ya.."


"Bisakah kau temani aku?"


"Aku sudah menemani mu kan."


"Maksudku disini, di ranjang ini."


Zionathan melangkahkan kaki nya, dan duduk di tepi ranjang.


"Begini?" Tanya Zionathan.


Lidia langsung memeluk Zionathan, dan menangis di pelukan nya.


Zionathan yang merasa iba, membalas pelukan Lidia dan Lidia.

__ADS_1


..


"Tuan."


"Ada apa?"


"Ini yang tuan minta. Kami berhasil merentas CCTV yang ada di apartemen wanita bernama Lidia."


Pria itu melihat adegan dimana Zionathan menggendong Lidia, dan meninggalkan Briana.


Disana juga terlihat, bagaimana Briana mencoba untuk mengemudi sendiri.


"Kurang ajar. Ini sudah kelewatan. Aku akan membawa Briana mulai sekarang."


..


Tring..


Kimi keluar dari ruang operasi. Membuat semua yang menunggu disana dapat bernafas lega.


"Kimi bagaimana operasi nya?" Tanya Lala.


"Operasi nya berjalan lancar."


"Syukurlah." Ucap semua orang.


"Kedua bayi dapat di selamatkan. Dan karena berat badan nya di bawah standart, maka mereka harus di inkubator untuk sementara waktu."


"Lakukan yang terbaik untuk ke dua cucu ku." Ucap Elena.


"Tapi.." Perkataan Kimi terjeda.


"Tapi kenapa?," Tanya Lala.


"Briana. Jika dalam 12 jam melodi tidak sadar, maka kami sudah di pastikan dia dalam masa kritis.."


"Apa????!!"


Semua terkejut. Beberapa suster keluar dari ruang operasi, membawa baby boy twins yang baru saja di lahirkan.


"Hiks hiks hiks. Bagaimana ini pa?"


"Tenanglah ma. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik."


Braham menenangkan Elena. Sedang Lala, masih menangis di pelukan Han.


Sementara di ruangan dimana Lidia di rawat.


Lidia masih memeluk erat Zionathan. Seakan tidak membiarkan Zionathan pergi.


"Lidia.."


"Iya.."


"Bolehkan aku bertanya sesuatu?."


"Tentu."


"Katakan padaku, apa kau benar benar hamil?"


Glek.


Lidia melepas tangan yang memeluk Zionathan.


"Aku... aku..."


"Katakan."


"Ak..ku.. aku.."


"Katakan dengan jelas." Zionathan dengan nada tinggi.


Lidia menunduk. Membuat Zionathan frustasi.


"Dokter mengatakan jika sebenarnya kau tidak hamil. Apa itu benar?"


Lidia meremas selimut yang menutupi nya.


"Katakan Lidia. Apa benar yang dikatakan dokter."


"Ma..mafkan aku Zionathan.."


Brak!!


Zionathan memukul meja. Membuat Lidia ketakutan


"Kenapa mau membohongi ku Lidia. Katakan kenapa?"


Lidia akhirnya mengatakan alasan dia mendekati Zionathan.


"Kau.. kau benar benar menyakitiku Lidia. Disaat aku sudah sangat mencintaimu. Kenapa kau lukai aku lagi."


"Zionathan. itu dulu, sekarang aku benar benar mencintaimu." Isak Lidia.


"Aku tidak lagi menginginkan hartamu. Aku sungguh ingin menjalani kehidupan yang baru bersama mu."


Jadi kau hanya ingin hartaku?. Berapa 50% ? 70 % ,90% . Ambil, ambilah semua."


"Tidak Zionathan. Tidak. Aku..aku benar benar mencintaimu sekarang."


"Cinta seperti apa yang kamu katakan Lidia. Tidak kah kau memikirkan perasaanku?"


"Maafkan aku Zionathan . Aku sungguh minta maaf."


"Kau tau, hanya demi dirimu, aku sampai melupakan keluargaku."


Sring...


Memori Zionathan seperti menampilkan lagi, bagaimana sikap nya kepada Briana, dan pertengkaran dari awal dia menemukan Lidia hingga saat ini. Zionathan mengingat semua nya.


Zionathan tersadar, dia terlalu mementingkan Lidia, daripada Briana yang sedang hamil.


"Briana. Aku.. aku sudah menyakitinya.." Lirih Zionathan.


"Zionathan. Kau mau kemana?"


Lidia mencengkal tangan Zionathan.


"Lepas aku, aku harus menemui Briana."


"Tidak. Kau miliku Zionathan. Hanya miliku."


Zionathan melepas paksa genggaman Lidia. Dan terus berjalan keluar ruangan. Zionathan tidak mengubris teriakan Lidia.


Zionathan berlari menelusuri koridor rumah sakit, mencoba menemukan ruangan Briana.


Zionathan kemudian menghubungi Han.


Ponsel Han berdering, bukan Zionathan. Tapi panggilan dari mansion.


"Hallo?" Sapa Han


" ___"


"Apa?, bagaimana bisa kalian mengijinkan nya?"


" ---"


"Oh astaga. Baiklah, aku akan ke sana agar bisa melihat CCTV."


Han mengakhiri panggilan nya.


"Ada apa Han?" Tanya Elena


"Elo."


"Ada apa dengan Elo." Ucap Lala.


"Ada seseorang yang mengaku paman Elo, dan membawa nya pergi?"


"Astaga. Di mansion itu ada banyak satpam dan penjaga. Bagaimana bisa mereka membiarkan orang asing masuk dan membawa pergi seorang anak." ketus Braham.


"Menurut penuturan Cika, dia punya alibi yang kuat, sehingga mereka membiarkan dia membawa Elo. Aku harus ke mansion, dan menyelidiki nya." Ucap Han, dan bersiap akan pergi.


"Aku ikut denganmu Han." Ucap Braham.


"Baiklah."


" Pa, tolong bawa kembali Elo. Bagaimana jika Briana bangun dan menanyakan Elo." Isak Elena.


"Bibi tenang saja. Aku akan segera menemukan Elo."


Han dan Braham pergi. Sedangkan Lala masih berperang dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


Mengaku paman Elo?, itu artinya dia adalah kakak Briana. Oh astaga, mungkinkah dia bang Ryan?. Batin Lala.


__ADS_2