
" Zionathan..." Teriak Lidia.
" Kau sudah gila, kau bisa membunuhnya." Lidia histeris.
" Dengar.. dengar.. Biarkan ini menjadi rahasia kita sekarang kita keluar dan bersikap normal. Lalu bertingkah seolah olah kita lah yang menemukan nya dengan kondisi sudah bersimbah darah."
" Kau gila ya?" Ketus Lidia.
" Atau jika kau ingin membusuk di penjara silahkan."
" Tidak tidak.. Karir ku bisa hancur bahkan sebelum aku benar-benar memulai nya.."
" Kalau begitu lakukan saja rencana ku semua akan baik-baik saja."
" Lalu bagaimana jika dia sadar nanti dan memenjarakan kita."
" Kita pikirkan itu nanti."
" Lalu kita harus apa sekarang."
" Larilah dan cari bantuan."
" Baiklah."
Lidia kemudian berlari dan mulai berakting seolah olah diri nya menemukan Zionathan sudah tergeletak lemah.
Beberapa orang langsung mendatangi lokasi dan membawa Zionathan ke rumah sakit.
" Lidia, apa yang terjadi dengan Zionathan." Tanya PoHan yang saat itu datang untuk mencari keberadaan Zionathan.
"It...it..itu.. Aku tidak tau, saat aku berencana menemui nya dia sudah terkapar." Gugup Lidia.
" Kau.."
" Maaf bapak, apa anda keluarga dari korban.?"
Ucapan PoHan terhenti saat seorang satpam menemui nya.
" Iya benar."
" Ini barang barang korban yang di temukan tidak jauh dari lokasi."
" Ohya terima kasih."
PoHan menerima sebuah pena. Dengan nama Zionathan di atas nya.
" Aku harus menghubungi Briana.. Iya.. Briana."
PoHan segera mengambil ponsel nya, dan menelpon Briana.
" Halo?" Suara Briana.
"Nona Briana ..."
" Ah sekertaris PoHan . Ada apa menghubungi ku larut malam begini."
" Ituu.. anu.. Zionathan.."
" Iya, Zionathan kenapa?"
" Dia kecelakaan dan sekarang di bawa ke rumah sakit xxx."
Hening..
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik..
" Briana..."
" Hallo..."
" Briana..."
" Ah sial." Umpat Han kemudian bergegas menuju mobil.
" Aku akan mengawasi mu Lidia. Jika kau ada kaitan nya dengan ini habislah kau." Ancam Han kemudian masuk dan melajukan mobilnya.
Di mansion Zionathan..
Ting tong ...
Ting tong..
" Siapa yang bertamu malam malam begini ya?" Ucap Elena saat dirinya sedang berada di dapur untuk mengambil air.
" Bik, coba kau lihat. Barangkali tuan muda."
" Baik nyonya.."
" Mam..."
Han datang dengan tergesa-gesa
" Han, tumben datang larut malam begini?, apa semua baik baik saja."
" Dii.. dimana.. Briana.. hah hah hah.." Han masih mengatur nafasnya.
" Kenapa?, ada apa?" Elena mulai panik.
" Tadi..."
" Minumlah dulu Han."
Elena menyerahkan segelas air pada Han.
" Terima kasih, mam." Han menghabiskan minum nya.
" Katakan. ada apa Han?"
" Tadi aku menelpon Briana untuk mengabarkan jika Zionathan sekarang ada di rumah sakit."
" Apa.. Kenapa Han?"
" Aku tidak tau aku sedang ada di bar untuk mencari nya kemudian aku melihat Zionathan pergi. Aku pikir, dia akan pulang setelah mengetahui kebusukan Lidia yang dibongkar Rio. Tapi aku salah Zionathan justru di temukan pingsan dengan kepala berdarah. Aku curiga Lidia ada di balik ini."
" Ayo Han, kita ke rumah sakit sekarang."
" Tunggu, kita harus memastikan Briana baik baik saja."
" Baiklah ayo."
Di depan pintu kamar Briana..
Tok
tok
tok
" Briana..."
Tok tok tok..
Ceklek.. ceklek..
" Bagaimana?" Tanya Elena yang mulai cemas karena belum ada respon dari Briana.
" Dikunci mam.." Ucap PoHan yang berusaha membuka pintu namun pintu itu terkunci.
" Dobrak saja Han."
Satu
Dua
Tiga
Brak
Brak..
Brak..
Tidak ada pilihan lain selain mendobrak pintu itu karena baik PoHan maupun Elena khawatir terjadi sesuatu pada Briana.
Pintu berhasil di dobrak. Han dan Elena segera masuk ke dalam dan mencari Briana.
" Briana ..." Elena berlari ke arah melodi yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
" Seperti nya dia pingsan mam."
" Ayo kita bawa ke rumah sakit."
" Kau duluan Han, aku akan memberitahu Cika dan Cila."
PoHan segera mengangkat tubuh Briana dan memasukkannya ke dalam mobil serta langsung bergerak menuju rumah sakit.
Sesampai nya di rumah sakit.
" Suster tolong..."
Han berteriak sambil membopong tubuh Briana.
Setelah Briana dibawa masuk ke ruang UGD Elena datang.
" Han dimana Zionathan."
" Ayo kita tanya Candra."
PoHan langsung menemui dokter Candra, dan Candra mengantarkan mereka ke ruangan Zionathan
" Hiks hiks hiks..., apa yang terjadi dengan Zionathan." Ucap Elena menatap Candra.
" Kita masih melakukan pemeriksaan. Bibi tenang saja. Semoga Zionathan tidak mengalami cedera yang serius."
" Han, dimana Briana, apa dia baik baik saja."
" Briana sedang dalam masa pemulihan. Dia hanya shock." Ucap Candra.
" Mam, ayo kita istirahat dulu." Ajak Han.
" Awas kau Lidia, jika kau memang terlibat dalam hal ini dan terjadi sesuatu pada putraku. Habislah kau." Ucap Elena.
Sedang diruangan lain...
" Ergh, aku dimana?, apa yang terjadi pada ku?"
Briana memegang kepala nya, melihat tangan nya di infus. Dan mencoba mengingat ingat apa yang terjadi.
" Zionathan.."
Briana berusaha bangun.
" Eits... Jangan bangun dulu, kau masih lemah." Ucap seorang dokter yang barusaja masuk untuk memeriksa kondisi Briana.
" Sii..siapa kau?" Tanya Briana.
" Aku Kimi, dokter yang menangani mu semalam."
" Apa yang terjadi padaku."
" Kau baik baik saja, ohya, jika aku boleh tau. Kapan kali terakhir kau menstruasi?."
" Kenapa bertanya soal itu?."
" Jawap saja."
" Mungkin satu atau dua bulan lalu."
" Jadi benar dugaan ku."
" Kenapa?"
" Kau hamil nona, selamat." Ucap Kimi sambil tersenyum dan memberikan sebuah foto kecil hasil USG.
" Benarkah?." Mata Briana berkaca kaca sambil menatap foto yang ada di tangannya.
" Iya. Jadi jaga dirimu agar selalu sehat, kandunganmu masuk kategori lemah. Jadi perbanyak istirahat dan makan. Oke."
" Terima kasih dok, tapi harus menemui Han."
" Jadi kau istri tuan muda Zionathan?"
" Bagaimana kau tau, ah asti Han."
Kimi tersenyum.
" Emm, apa Zionathan baik baik saja?"
" Dia berada di ruang ICU dan sedang di tangani dokter ahli. Apa kau ingin melihatnya aku akan antar. Tunggu lah sebentar aku akan mengambil kursi roda."
" Panggil Kimi saja, kami berempat adalah teman dekat."
" Kami?"
" Aku, Zionathan, Han, dan Candra."
" Oh astaga, benarkah?"
" Ya, Dan salah satu nya adalah pendampingku." Ucap Kimi tersenyum, sambil mendorong Briana setelah Briana duduk di kursi roda.
" Biar ku tebak, dokter Candra."
" Bagaimana kau bisa tau." Kekeh Kimi.
" Ya, karena Han adalah tunangan sahabatku."
"Lala ?"
" Kau mengenalnya?"
" Kami bahkan sangat akrab sekarang setelah dia menjadi pasangan Pohan." Ucap Kimi.
" Oh astaga dunia sangat sempit." kekeh Briana .
" Kimi, bisa aku minta tolong padamu?"
" Apa?"
" Tolong jangan beritahu keluargaku jika saat ini aku tengah hamil."
" Kenapa?"
" Lain waktu aku ceritakan.,"
" Baiklah, kau berhutang janji padaku."
" Terima kasih."
" Mam..." Sapa Briana.
" Sayang, apa kau baik baik saja?" Tanya Elena.
" Aku baik baik saja mam. Bagaimana keadaan Zionathan?"
" Masih koma sayang."
" Apa aku boleh menjenguk nya?"
" Tentu, setelah dia dipindahkan ke ruang rawat."
Setelah dua hari berada di ruang ICU, Zionathan dipindahkan ke ruang rawat VVIP.
Sekarang sudah lima hari pasca kejadian dan Zionathan masih koma.
" Hei, Zi. Ini sudah hari ke lima kau belum menunjukan tanda akan membuka mata." Ucap Briana sambil memegang tangan Zionathan.
" Cepatlah sadar Zi, aku..aku hamil." Bisik Briana.
Jari jari Zionathan terlihat bergerak.
" Zi.. Sayang?."
Perlahan Zionathan membuka mata nya.
" Sayang.. Kau sudah sadar?"
" Kau.., kau siapa?" Ucap Zionathan.
" Ken. Aku Briana, istri kamu."
" Briana?, tapi istri ku Lidia."
Duar..
Apa lagi ini Tuhan??..
" Zi, jangan bercanda deh."
" Lidia, dimana Lidia, aku ingin melihatnya. Dimana dia.." Zionathan mulai histeris..
__ADS_1
Briana segera memencet tombol darurat.
Beberapa perawat dan dokter Candra datang.
Setelah di berikan suntikkan. Zionathan kembali tenang dan tertidur.
" Apa yang terjadi setelah dia siuman Briana?" Tanya dokter Candra.
" Diaa..dia tidak mengingatku sebagai istri nya. Hiks hiks hiks. Dia menganggap bahwa Lidia adalah istri nya." Briana mulai menangis.
" Yang kami takutkan, benar terjadi." Ucap dokter Candra sambil memandang ke arah Zionathan yang kembali tidur
" Apa maksud mu?"
" Ayo, kita bicara di ruanganku saja ajak juga Han dan mama oke."
" Baiklah.."
Briana menemui Elena dan mengajaknya untuk menemui dokter Candra.
" Briana, apa yang terjadi? apa ada hal serius?" Tanya Elena saat mereka bersama sama berjalan menuju ruangan dokter Candra.
" Mam, sebaiknya kita bicara di ruangan dokter Candra." Ucap Han.
Tok
Tok
Tok
Ceklek..
" Ayo masuk." Ucap Candra.
" Bawakan berkas yang ku minta sekarang ke ruangan ku." Candra menelpon seseorang.
Tak lama kemudian, seorang perawat terlihat masuk ke dalam ruangan dan memberikan dokumen yang diminta dokter Candra.
" Apa yang terjadi.." Tanya Elena dengan cemas.
" Bibi, apa bibi ingat cedera yang di alami Zionathan beberapa hari setelah Zionathan menikah?"
" Iya. Lalu?." Ucap cepat Elena yang sudah tak sabar ingin tau apa yanh terjadi pada Zionathan.
" Tunggu apa sebelum ini Zionathan pernah mengalami cidera?" Tanya Briana.
" Ya. Zionathan mengalami kecelakaan tunggal saat dia diam diam menikahi Lidia. Saat itu, dia barusaja pergi dari rumah setelah kami menentang pernikahannya. Karena kecelakaan itulah, kami terpaksa merestui hubungan mereka. Hika hiks hiks."
Elena tak kuasa menahan tangisnya saat mengingat momen dimana Zionathan begitu berani melawat mereka. Orang tua nya, demi wanita yang justru meninggalkan Zionathan hanya karena perusahaan mengalami penurunan besar.
" Tapi mam, kenapa mama dan papa tidak merestui hubungan mereka?" Tanya Briana lagi.
" Karena aku sudah menyelidiki semua tentang Lidia. Dan Lidia dulu menikahi Zionathan hanya karena harta." Tegas Han.
" Lalu.. Apa hubungannya dengan masa lalu Zionathan dan sekarang dok." Ucap Briana menatap Candra.
" Jadi begini.. Zionathan mengidap 'amnesia retrograde'." Ucap Candra mantap.
" Apa itu?" Tanya Elena.
" Amnesia retrograde membuat seseorang tidak mampu untuk menyimpan, dan mengingat memori baru.
Amnesia ini adalah jenis kehilangan ingatan yang memengaruhi kemampuan untuk membuat, menyimpan, dan mengambil kembali ingatan. Sehingga mempengaruhi ingatan yang terbentuk sebelum amnesia. Seseorang yang mengalami amnesia retrograde, mungkin tidak dapat mengingat apa yang terjadi selama bertahun-tahun, atau bahkan beberapa dekade, sebelum cedera itu."
Deg.
Tuhan, apa lagi ini?, apa kau sedang menghukum ku. Gagal menjaga Johan. Sekarang aku juga gagal menjaga Zionathan. Kenapa takdir tak pernah berpihak padaku?. Batin Briana.
" Lalu, apa dia bisa kembali mengingat apa yang terjadi sekarang?.
" Bisa, beberapa pasien Amnesia retrograde, yang aku tangani mendapatkan kembali ingatan mereka. Dan, beberapa lain nya, tidak."
" Bagaimana jika Zionathan tidak mendapatkan kembali ingatan nya." Elena mulai histeris.
" Bibi, tenanglah. Kita akan berusaha membantu agar Zionathan bisa mendapatkan kembali ingatan nya. Zionathan hanya butuh sedikit pemicu agar otaknya bisa kembali mengingat memori yang terlupakan. Tapi untuk saat ini yang Zionathan butuhkan adalah Lidia."
" Han.." Candra menatap Han.
" Lidia ada di sel tahanan."
" Kenapa?." Ucap Elena dan Briana secara bersama.
" Karena dia terbukti melakukan percobaan pembunuhan terhadap Zionathan."
" Jadi kita tidak bisa membawa nya?, kunci utama ingatan dan kesembuhan Zionathan saat ini adalah Lidia." Ucap Candra.
" Aku akan segera mengajukan pembebasan bersyarat." Ucap Han.
Brug.
Briana kembali pingsan tak kalah dia mendengar kabar bahwa Zionathan hilang ingatan dan juga akan membawa Lidia kembali.
Candra dan PoHan langsung membawa Briana menuju ruangan Kimi.
" Nona.. Kau tidak menuruti kata kata ku untuk selalu menjaga kondisi mu, perbanyak istirahat dan makan." Ucap Kimi saat Briana baru saja siuman.
" Maafkan aku."
" Ck, memang nya apa yang terjadi. Apa semua baik baik saja. Aku dengat Zionathan sudah siuman."
Kimi tersenyum sambil memberikan segelas susu kepada Briana.
" Hiks hiks hiks..." Briana menangis.
" Hei.. ku kenapa?"
Briana pun menceritakan apa yang terjadi, tanpa sadar air mata Kimi ikut menetes. Dia memeluk Briana erat.
Briana menceritakan tentang awal pernikahannya dengan Johan yang kemudian harus berakhir karena Johan lebih memilih pergi bersama dengan Lidia, hingga kemudian Lidia yang sama hadir dan sekarang sedang mencoba mendapatkan kembali Zionathan.
Briana juga menceritakan kepada Kimi bahwa apa yang terjadi pada Zionathan adalah ulah Lidia, tapi karena Zionathan sangat bergantung pada Lidia kini Lidia yang sudah ada di penjara harus di bawa kembali pada Zionathan.
" Kau yang sabar. Jadilah kuat, demi buah hati kalian. Semoga Zionathan cepat pulih"
" Terima kasih Kimi."
" Ohya, aku sudah meminta Lala untuk datang."
" Kenapa?"
" Untuk membantu menjaga kondisi mu."
" Kimi.. Aku..aku tidak tau harus bagaimana lagi untuk menyampaikan rasa terima kasihku."
" Dengan menjaga kondisi mu tetap fit demi bayi dalam kandunganmu."
Kimi tersenyum dan menyerahkan segelas susu pada Briana.
...----------------...
Di penjara..
" Kau sudah bebas." Ketus Han.
" Secepat itu?" Lidia tersenyum smirk.
" Jika bukan demi kesembuhan Zionathan. Aku bahkan jijik untuk melihatmu lagi." Ketus PoHan.
" Memangnya dia kenapa?, Hilang ingatan?."
" Ya. Tapi ingat. jika kau macam macam, aku tak akan segan membunuhmu."
Ha?, jadi benar Zionathan hilang ingatan. Baguslah, jadi aku tidak perlu berakting lagi. Aku hanya perlu menyabotase Zionathan agar dia menuruti semua keinginanku termasuk menyingkirkan Briana. Batin Lidia
Lidia tersenyum penuh kemenangan..
Lidia benar-benar tidak menduga bahwa apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu bahwa sekalipun Zionathan sadar Dia mungkin akan lumpuh atau mengalami hilangnya.
Lidia benar-benar harus berterima kasih kepada kekasihnya itu namun sayangnya kekasihnya itu sudah melarikan diri entah ke mana.
Ah Tapi itu semua tidak penting sekarang bagi Lidya karena sekarang yang penting adalah menyabotase pikiran Zionathan.
" Zionathan , sayangku.. Aku datang."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1