
" Zi, kau mau kemana?." Tanya Briana, saat melihat Zionathan berpakaian rapi.
"A..aku harus mengecek proyek di XXX. Proyek ini sangat penting."
"Zi. Ini akhir pekan. Jangan bilang kau lupa lagi akan janjimu pada anak anak." Ketus Briana.
"Janji?, oh astaga. Maafkan aku sayang. Aku benar benar lupa."
Drrttt drtyt drttt..
Ponsel Zionathan berbunyi.
"Ya halo?"
" ----"
"Ya. Saya segera kesana."
"Maafkan aku sayang. Mereka sudah menungguku. Emm, bagaimana jika kau ke taman bersama anak anak ditemani Lala. Oke, aku akan menyusul begitu aku selesai. oke. Bye."
Cup.
Zionathan mencium bibir Briana, kemudian bergegas pergi. Bukan ke proyek, melainkan ke apartemen Lidia.
Ya, seseorang yang menelpon tadi adalah Lidia.
"Mom.. Dady pergi lagi?" Tanya Tia.
"Maafkan dady ya, dady sedang ada pekerjaan penting." Ucap Briana lembut.
"Kenapa sekarang dady selalu sibuk saat akhir pekan?." Celoteh Elo
"Iya, biasanya kita selalu pergi saat akhir pekan." Imbuh Lia.
"Bagaimana jika kita ke taman bersama aunty Lala. Kalian mau?"
Hening.
"Ayolah, ini pasti akan menyenangkan. Momy janji."
Briana mencoba membujuk anak anak yang terlihat sedih.
"Kalian boleh makan es krim sepuasnya. Bagaimana?" Tawar Briana.
"Momy janji?" Ucap Ethan.
"Kami boleh makan sepuasnya?" Timpal Elo..
"Momy tidak akan melarang kami memilih rasa apa saja yang akan kami makan?" Imbuh Lia.
"Momy akan membiarkan kami makan es krim sampai kami puas?" Ucap Tia.
Briana menghela nafas, kemudian tersenyum dan mengangguk, tanda setuju.
"Hore..."
"Terima kasih momy..."
Anak anak bersorak gembira. Mereka kemudian bergegas ke kamar untuk bersiap siap.
Briana menelpon Lala, untuk bertanya apakah Lala bersedia ikut mereka ke taman.
Dan seperti biasa, Lala dengan senang hati menerima tawaran Briana.
"Lala,. Kau bersama Han" Tanya Briana saat Lala datang bersama PoHan.
"Iya, ini akhir pekan kan. Jadi dia akan ikut kita ke taman." Ucap Lala.
"Bukannya kalian harusnya mengunjungi proyek?" Briana menatap Han.
"Proyek itu sudah rampung dua hari yang lalu. Memangnya kenapa?" Tanya PoHan.
"Emm, tidak apa apa. Ya sudah, aku panggil anak anak dulu ya."
Briana kemudian pergi meninggalkan Lala dan Han.
"Nona Briana, kemana tuan muda, apa dia tidak ikut." Tanya Han, sambil menyetir mobil.
"Dia bilang akan mengunjungi proyek. Aku pikir dia pergi bersama mu."
"Proyek?, proyek yang mana lagi ya?." Pikir Han.
"Entahlah.."
Hening.
Mereka memilih diam dengan pikiran masing masing.
Hanya suara candaan anak anak yang menghiasi perjalanan mereka.
"Hore.. kita sampai." Seru anak anak saat mobil sudah memasuki area taman.
"Ingat, kalian harus selalu bersama. Tidak boleh berpisah. Bermain permainan yang sama dan bergantian. Oke?" Terang Briana.
"Oke mom..." Jawap mereka serentak.
...
"Zionathan kau datang?" Ucap Lidia.
"Tentu saja, apapun untukmu.." Zionathan langsung mencumbu Lidia.
"Wo wo wo, tenang sayang. Kau begitu ambisi ya.." Ucap Lidia.
"Bagaimana bisa aku menahan nya, jika kau berpakaian seperti ini?."
"Baiklah baiklah. Ayo kita ke kamar."
Lidia menarik Zionathan masuk ke dalam kamar. Dan mereka melakukan nya lagi dan lagi.
Permainan itu membuat Lidia kelelahan dan tertidur.
"Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku jadi tergila gila pada nya. Aku..aku sudah menyakiti hati Briana. Hubungan ini, pernikahanku, bisakah aku mempertahankan semua nya." Ucap Zionathan sambil melihat Lidia yang tertidur pulas.
Zionathan melupakan tentang kehamilan Lidia, seandainya saja dia mau fokus, dia pasti akan menemukan kejanggalannya.
Zionathan mengambil ponselnya dan menghubungi Briana.
"Hai sayang.." Sapa Zionathan.
"Halo Zi.." Suara Briana.
"Apa kalian sudah sampai di taman." Tanya Zionathan.
"Sudah, kebetulan Han juga ikut. Jadi adalah laki laki untuk menemani Ethan dan Elo bermain." Sindir Briana.
"Maafkan aku, tidak bisa menemani kalian."
__ADS_1
"Tidak apa apa Zi, kau kerja juga untuk kebaikan anak anak."
Suara lembut Briana seperti pedang yang menusuk hati Zionathan. Seketika, perasaan bersalah menyelimuti hati Zionathan.
"Halo, halo.. Zi.. sayang, kau masih di sana?" Suara Briana mengejutkan Zionathan.
"Ah iya iya. Emm, aku tutup dulu ya. Aku akan menyusul begitu selesai."
"Tidak usah. Santai saja, ada han yang menjaga anak anak."
"Baiklah. Have fun.."
Zionathan memutus panggilan, meletakan ponsel dan berjalan menuju kamar mandi.
Saat Zionathan mandi, Lidia memeluknya dari belakang.
"Sayang.. lagi-lagi kau akan meninggalkanku." Ucap Lidia.
"Lidia. Aku berpikir untuk mengakhiri ini." Ucap Zionathan.
"Kenapa?, kau tidak lagi mencintaiku?, atau kau hanya mencintai tubuhku?" Ucap Lidia.
"Tidak. Aku, aku hanya memikirkan perasaan Briana. Aku sudah merusak kepercayaan nya."
"Ah Zionathan. Kau tidak merusak apapun. Aku bahagia, walau kita menjalin hubungan seperti ini. Lagipula aku juga sedang hamil anakmu. Satu bulan lagi, kita bisa melakukan tes DNA. Dan jika terbukti anak ini adalah anakmu. Aku yakin Briana mau menerimaku. Dan kau harus membawaku kembali ke mansion. Aku ingin tinggal disana, dan selalu dekat denganmu." Ucap Lidia dengan bangga.
"Lidia..." Desah Zionathan, saat Lidia mulai bermain di area sensitif Zionathan.
"Aku akan selalu memuaskan mu, tanpa kau minta." Bisik Lidia.
Kemudian mereka mengulang pergulatan panas yang memicu adrenalin.
...
"Briana, katakan. Apa yang terjadi di antara kalian. Lala bilang, kau pernah memergoki Zionathan menggendong Lidia." Tanya Han.
"Aku juga melihat dia berdua di dalam mobil. Mereka seperti melakukan adegan it it it..."
Briana mensensor perkataan nya, berharap mereka paham tanpa harus diucapkan dengan jelas.
"Kau yakin?" Tanya Lala.
"Ya, dan sebelum aku menangkap basah mereka. Johan datang mengejutkanku."
"Johan?" Alis Han mengkerut.
"Mantan suami Briana." Ucap Lala.
"Lalu?" Sambung Han.
"Dia ingin bertemu dengan Elo. Dia bilang ingin dekat dan mengenal Elo." Terang Briana.
"Kau mengijinkan nya?" Ucap Lala.
Briana mengangguk.
"Astaga Briana.. Bagaimana jika dia mengambil Elo?"
"Lalu aku harus bagaimana, aku tidak bisa membiarkan Elo terus menganggap Zionathan adalah ayah kandungnya. Elo harus tau siapa ayah kandungnya. Untuk berjaga jaga, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan."
"Apa maksud mu?" Tanya Han.
"Han, aku tau, Zionathan menyembunyikan sesuatu dariku. Dan aku tidak tahu. Apakah kau tau atau tidak. Tapi aku yakin, jika Zionathan..."
Briana menghela nafas dan menjeda kata kata nya.
"Zionathan selingkuh dengan Lidia."
"Apa?!!" Han dan Lala saling menatap karena terkejut.
"Tidak mungkin. Jelas jelas Zionathan tau, bahwa Lidia itu jahat." Terang Han.
"Tapi itulah yang terjadi. Kau ingat Han, saat aku menelpon untuk menayakan keberadaan Zionathan."
"Ya aku ingat."
"Dia ternyata ada di tempat Lidia."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Beberapa hari setelah itu, Lidia datang ke mansion mengantar pakaian kevin."
Mata Briana mulai mengembun. Lala segera memeluk Briana.
" Stttt.. Kuatkan dirimu, jangan sampai anak anak melihatmu dalam keadaan ini." Bisik Lala.
"Terima kasih La."
"Aku akan membantu mu mencari tahu." Ucap Han.
Tak lama kemudian, anak anak datang dan menagih janji Briana, untuk membelikan mereka es krim.
Saat mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau, seseorang terlihat berjalan mendekati meja mereka.
"Briana..."
Semuanya menoleh.
"Johan."
" Hei, aku.. aku sudah mencari ke seluruh taman. Aku pikir kau tidak akan datang." Ucap Johan dengan nafas tersengal.
"Duduklah dulu Johan. Dan kenalkan ini Lala, sahabatku. Dan Han, tunangan Lala, sekaligus sekertaris Zionathan, suamiku." Ucap Briana.
"Hai, salam kenal." Ucap Lala
Han hanya tersenyum.
"Dimana Elo, bisa kah aku bertemu dengannya?" Tanya Johan.
"Elo, kemarilah.." Ucap Briana.
"Sebaiknya aku menemani anak anak, ayo Han." Ucap Lala.
"Jika butuh sesuatu, panggil kami." Lirih Han.
"Terima kasih Han."
Lala dan Han, sengaja memberi Briana dan Johan ruang, agar mereka dapat berbicara tanpa merasa canggung.
"Aunty, siapa yang bersama momy?" Tanya Ethan.
"Itu.. emmm..."
Lala menatap Han, dia binggung bagaimana menjelaskan kepada Ethan. Mengingat Ethan begitu dekat dengan Briana.
"Itu adalah dady Elo."
__ADS_1
Perkataan Han, membuat Lala syok. Bagaimana bisa dia begitu jujur pada Ethan.
"Apa itu artinya paman itu akan membawa Elo dan momy pergi?" Ucap Ethan.
"Tidak bukan seperti itu, Mere..."
Belum selesai Lala menjelaskan, Ethan sudah berlari ke arah Briana.
"Han, ini semua salahmu." Ketus Lala.
"Kenapa aku?, aku hanya berkata jujur."
"Lihatlah, kau membuat Ethan panik. Kau tidak tau betapa Ethan mencintai Briana."
"Astaga, aku lupa. Bagaimana ini?"
Lala dan Han yang panik, karena tidak bisa melakukan apapun. Akhirnya hanya menatap dan memperhatikan apa yang akan dia lakukan.
"Mom, siapa paman ini." Ucap Elo pada Briana.
"Dia.. dia adalah ayah kandung Elo sebelum dady."
"Benarkah?, lalu kenapa ayah baru datang setelah Elo punya dady?" Tanya Elo polos.
"Maafkan ayah Elo. Ayah tidak seharusnya meninggalkan kalian. Apa Elo bersedia memaafkan ayah?, dan mengijinkan ayah untuk bisa dekat dengan Elo. Minimal kita bisa menjadi teman."
Elo tampak berpikir. Kemudian dia tersenyum.
"Baiklah Elo maafkan ayah."
"Jadi, apa kita jadi teman sekarang." Tanya Johan.
"Tentu saja." Elo terlihat semangat.
"Jika kita sudah menjadi teman. Bolehkah ayah memeluk Elo."
Elo menatap Briana seakan bertanya 'apakah boleh?'. Briana mengangguk tanda setuju.
"Mom.."
Ethan datang dan langsung menangis di pelukan Briana.
"Hei, apa yang terjadi?" Tanya Briana.
"Mom, apakah momy akan meninggalkan ku?" Tanya Ethan.
"Tentu saja tidak. Kenapa momy akan meninggalkanmu boy?" Ucap Briana dengan sangat lembut.
"Kata paman Han, paman itu adalah ayah Elo." Ucap Ethan.
"Iya, lalu?"
"Artinya momy akan pergi bersama nya. Hiks hiks hiks.."
Ethan menangis lagi. Briana terkekeh.
"Hei, dengar boy. Paman itu memang ayah Elo. Tapi momy tetaplah istri dady, dan tetap menjadi momy kalian. Dan momy tidak akan pergi kemana mana."
"Benarkah?, momy janji."
"Iya sayang. Momy janji."
"Terima kasih mom."
Ethan memeluk Briana.
"Siapa dia?" Tanya Johan.
"Dia adalah Ethan. Anak ku."
"Hay Ethan." Sapa Johan.
"Hai. Paman, paman tidak akan mengambil momy dariku kan?" Tanya Ethan.
"Tentu saja tidak boy. Kenapa kau berpikir begitu."
"Karena paman adalah ayah Elo. Jadi aku takut paman akan mengambil momy dari ku."
"Tenang saja. Paman tidak akan mengambil momy dari mu."
"Dengar kan, paman dataang hanya ingin bertemu dan berteman dengan Elo." Ucap Briana pada Ethan .
"Ya mom." Ethan tersenyum dan memeluk Briana.
"Ohya boy, paman dan Elo akan ke toko mainan itu, kau mau ikut?" Tawar Johan.
"Tidak. Aku akan disini menemani momy."
"Baiklah. Briana, bolehkan aku mengajak Elo ke toko itu. Aku ingin membelikan nya mainan."
Briana tampak berpikir. Jujur, dia masih belum bisa mempercayai Johan.
"Jangan khawatir. Hanya ke toko itu. Aku janji akan segera kembali ke sini setelah Elo selesai memilih mainan yang dia suka."
Johan mencoba meyakinkan Briana.
"Keberatan jika aku ikut." Ucap Han.
Briana menoleh, Han terlihat mengangguk.
"Tentu saja." Jawap Johan spontan.
"Bagaimana, boleh kan?" Tanya Johan lagi.
"Baiklah.." Ucap Briana.
Kini, Johan, Elo dan Han. Berjalan ke toko mainan yang berjarak cukup jauh dari tempat duduk Briana.
"Tenang saja, Han tidak akan membiarkan Johan membawa Elo." Ucap Lala.
"Ya, kau benar."
...
Di apartemen..
Lidia kembali tertidur nyenyak karena rasa lelah setelah pergulatan panasnya dengan Zionathan, yang kian hari kian panas. Lidia seperti merasakan kembali hasrat yang sudah lama hilang.
Saat Zionathan selesai memakai pakaian nya. Tiba tiba wajah Briana melintas di pikiran nya. Membuat rasa bersalah nya semakin besar.
"Aku harus menyusul mereka. Semoga saja mereka masih ada di sana." Gumam Zionathan.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1