
Beberapa minggu kemudian Ethan kembali sehat.
Briana yang selalu merawat nya dengan penuh kasih sayang membuat Ethan bersemangat untuk sembuh.
" Sayang, kau hebat. Kau pulih dengan cepat." Ucap Briana saat mereka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dokter Candra.
" Ini semua karena momy. I love you mom." Ethan memeluk Briana.
" I love you to son."
" Karena kau sudah sehat dengan cepat, momy akan memberikanmu hadiah. Katakan, kau ingin apa?" Ucap Briana sambil memegang pipi Ethan .
" Aku tidak menginginkan hadiah apapun mom, hanya ingin momy selalu berada di sampingku." Ucap Ethan membuat Briana terharu.
" Oh sayang. Kau membuat momy merasa sangat bahagia."
Mereka kembali berpelukan, hingga seorang wanita hamil lewat membuat Briana ingat jika hari ini adalah jadwal dia untuk melakukan pemeriksaan terhadap janin dalam perutnya.
" Tapi momy ingin memberimu kejutan. Kau mau?"
" Tidak."
" Ayolah. Ini akan sangat menyenangkan, kau akan suka. Momy janji."
" Baiklah, janji akan menyenangkan?." Ethan mengangkat jari kelingking nya.
" Janji. " Briana menautkan jari kelingking.
Briana tau jika Ethan tidak pernah suka acara kejutan, hadiah, atau apapun seperti anak seusia Ethan pada umum nya.
" Mom, kenapa kita ke ruangan ini?" Tanya Ethan, saat meraka masuk ke ruang dokter obgyn.
" Untuk menunjukan padamu kejutan nya."
Briana tersenyum. Ethan semakin bingung.
" Hai Briana, kau tepat waktu ya kali ini." Ucap Kimi.
" Emm ya itu karena aku kebetulan ada di rumah sakit ini dan memastikan bahwa Ethan sudah sembuh total. Jadi.. sekalian aku datang. Jadi aku bisa memberi Ethan sebuah kejutan." Ucap Briana.
" Mom, ada apa sih?" Ucap Ethan yang frustasi karena belum bisa menebak apa kejutan Briana.
" Sabar jagoan.., Ayo ikut kami. Kau akan tau nanti." Ucap Kimi.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan awal, Kimi meminta Briana untuk berbaring di atas ranjang khusus.
Kimi membuka sedikit baju Briana dan mengoleskan gel.
" Wait wait wait. Apa momy sakit?." ucap Ethan cemas.
Kimi dan Briana saling melempar senyum. Membuat Ethan semakin penasaran.
" Lihatlah di layar itu?" Ucap Kimi.
Kimi mulai menggerakan transducer.
" Lihat. Itu adalah calon adik mu." Ucap kimi.
" Apa??, benarkah????." Ethan terlihat antusias.
" Ya boy, dan..., Briana...." Kimi menggantung kata kata nya.
" Ya Kimi, kenapa?".
Kimi masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
" Kimi, kenapa. katakan, apa bayiku baik baik saja?" Briana mulai panik.
" Kimi.."
" Ah iya, maafkan aku Briana, aku.. aku hanya terbawa suasana."
" Apa apa?" Tanya Briana lagi.
" Calon bayimu mel.."
" Iya..."
" Mereka..."
" Kimi !!!"
" Haha, baiklah baik. Calon bayi mu kembar." Ucap Kimi.
" APA...!!!" Ucap Ethan dan Briana bersama.
" Ya.. Lihatlah. Selamat Briana. Kau akan mempunyai bayi kembar."
..
Setelah selesai melakukan check up, Ethan dan Briana dalam perjalanan pulang.
" Ethan, berjanjilah. Kau akan merahasiakan tentang adikmu pada dady."
" Kenapa mom?"
" Karena..., dady sedang hilang ingatan. Dan dia tidak mengingat momy, jika sampai kita membuat dady terkejut, itu akan sangat berbahaya pada kesehatan dady."
" Ethan mengerti."
" Anak baik."
Sesampainya di mansion ...
" Everybody.. yuhuu..." Teriak Ethan
" Ada apa si Ethan teriak teriak." Ucap Cika dan Cila.
" Aduh Ethan.. Telinga oma terbakar ni." Ucap Elena.
" Ada apa sih."
" Kemari..."
Ethan menyuruh Elena, Cika dan Cila untuk mendekat. Kemudian Ethan mulai membisikan sesuatu kepada mereka.
Briana yang melihat hanya menggeleng-geleng kan kepala.
Dia kemudian berlalu hendak meninggalkan mereka karena Briana pikir tidak mungkin Ethan akan mengatakan perihal akan ada nya anggota baru dalam keluarga ini kepada mereka.
" APA !!!"
Teriak mereka semua, setelah mendapat bisikan misterius dari Ethan.
Lalu pandangan mereka tertuju pada Briana yang hendak menaiki tangga.
" Eh eh eh eh..."
__ADS_1
Cika dan Cila, membawa balik Briana menuju ruang keluarga.
" Kakak ipar.."
" Apa?" Ketus Briana.
" Kakak ipar..."
" Apa???"
Briana mulai merinding dengan tatapan kedua adik ipar nya itu.
" Sayang, kenapa tidak mengatakan pada kami jika kau hamil." Ucap Elena.
" Ethan..." Briana menatap tajam Ethan.
" Momy hanya bilang jangan beritahu dady kan, itu arti nya yang lain boleh mengetahui nya." Ucap Ethan sambil tersenyum tanpa beban dan dosa.
" Oh my god, Ethan..." Briana menepuk dahi nya.
Oke, ini salahku. Niat nya hanya ingin menyenangkan hati Ethan setelah peristiwa itu. Kenapa justru jadi begini. Batin Briana .
" Briana... Katakan, kenapa kau menyembunyikan nya pada kami." Ucap Elena lagi.
" Maaf ma, Briana tidak bermaksud untuk merahasiakan nya dari kalian. Briana saja baru tau saat Zionathan di rawat di rumah sakit." Terang Briana.
" Kak Zionathan harus tahu." Ucap Cika.
" Jangan."
" Kenapa?"
" Ingatan Zionathan masih belum pulih. Dokter Candra curiga, Lidia memasukan sesuatu ke dalam minuman Zionathan sehingga memori dia hanya tentang Lidia."
" Ya tuhan.. Kenapa dia begitu kejam."
" Kita harus bersama menyelidiki apa yang sebenarnya Lidia lakukan dan inginkan."
" Mama setuju. Kita harus bekerja sama"
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara langkah kaki.
" Itu pasti mereka." Ucap Elena.
" Hai semua..." Sapa Lidia.
Hening.
" Kebetulan kalian semua ada di sini. Aku ingin mengumumkan sesuatu." Tegas Zionathan. Dengan Lidia yang bergelanyut manja pada Zionathan.
" Apa itu."
" Aku...."
" Ayo sayang katakan." Desak Lidia.
Terdengar Zionathan menghela nafas.
" Aku ingin menikahi Lidia minggu depan." Ucap Zionathan mantap.
" Zionathan, apa kau sudah gila."
" Kak Zionathan, pikirkan lagi. Apa kau benar akan menikahi wanita bermuka dua ini?."
" Wanita snake."
" Wanita berbisa."
Cika dan Cila terus mem-bully Lidia. Sedang Briana merasa syok.
" Sayang, dia menyebutku wanita ular." Ucap Lidia dengan nada manja.
" Keputusan ini sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat. Siapa pun yang keberatan. Silahkan angkat kaki dari rumah ini."
Tengah malam..
Briana terbangun dan hendak menuju dapur. Samar samar, dia mendengar suara seseorang.
" Iya sayang, aku berhasil membuat Zionathan mempercepat pernikahan kami." Suara wanita yang tak lain adalah Lidia.
" Tentu saja sayang..."
"---"
" Aku bahkan memberi nya 2x sehari."
"---"
" Haha.. Baiklah Sampai jumpa."
Lidia mengakhiri telepon nya dan terlihat hendak menuju ke arah Briana.
Briana segera bersembunyi di balik gorden yang didepan nya terdapat sebuah guci.
Karena hari masih gelap dan lampu ruangan tidak di nyalakan, jadi Briana aman bersembunyi disana tanpa Lidia ketahui.
" Apa itu?"
Briana melihat Lidia memasukan sesuatu ke dalam minuman. Dan menyimpan kembali botol misterius itu ke bawah pot bunga yang ada di dapur.
" Jadi selama ini dia menyimpan obat itu disana. Pantas saja saat ku suruh Cika dan Cila mengeledah isi kamar dan barang barang Lidia. Mereka tidak menemukan apapun yang mencurigakan."
Setelah memastikan Lidia pergi dan tidak akan kembali, Briana segera mengambil botol misterius itu dan membuka nya.
Briana kemudian menukar isi nya dengan obat yang di beri dokter Candra pada nya.
" Selesai. Aku harus segera membawa ini pada dokter Candra."
...
Pagi hari nya...
Briana mendengar suara gaduh. Dia bergegas turun dan mendapati Zionathan dan Braham sedang bertengkar hebat.
" Ini sudah jadi keputusanku pa. Tidak ada yang bisa membantahnya. Sekalipun papa."
" Sadarlah Zionathan. Lidia hanya memperalat mu. Lihat itu."
Braham melempar beberapa berkas dan sebuah rekaman yang berisi bukti rencana jahat Lidia.
" Aku tidak mau. Bisa saja papa mengarang semua ini. Agar aku tidak menikahi Lidia. Pa, aku mencintai nya."
__ADS_1
Plak.!
Semua yang ada di sana terkejut.
" Briana..." Ucap Zionathan.
Ya.., Briana yang telah menampar Zionathan.
" Sadarlah Zi. Berusaha lah mengingat semua nya. Ini. Kau ingat ini?, ini adalah pena yang kau bawa sebelum kau koma. Han bilang, itu adalah pena khusus. Dan dia memberikan nya padaku. Dia berpikir hanya kau yang bisa mengetahui bagaimana cara kerja pena ini."
Briana memberikan pena pada Zionathan kemudian memilih untuk pergi.
" Briana." Teriak Braham dan Elena.
.☘️☘️☘️
" Han, bisa kau datang sekarang.."
" ---"
" Baik. Aku tunggu."
Zionathan mematikan panggilan nya. Mengambil berkas yang di lempar Braham.
Beberapa saat kemudian Han datang, menemui Braham dan Elena.
" Ma, pa. Ada apa?" Tanya Han.
Elena kemudian menceritakan apa yang terjadi, hingga insiden Briana yang menampar Zionathan didepannya.
" Han, apa kau tau jika Briana hamil?" Tanya Braham.
" Apa?, Briana hamil." Han terkejut.
" Kau pura pura terkejut atau memang benar terkejut?." Ucap Elena.
" Ma, pa.. Jika aku mengetahui nya. Aku pasti akan memberitahu kalian. Buat apa berita bahagia di sembunyikan."
" Kau benar juga."
" Jadi.., dimana Zionathan sekarang?." Tanya Han.
" Mungkin di ruang kerja nya."
" Aku akan menemui nya dulu."
" Pergilah."
..
..
Tok
Tok
Tok
" Tuan muda, ini saya."
" Masuklah Han."
Ceklek..
" Han, duduklah."
" Baik tuan muda."
" Bersikaplah biasa, jangan formal."
Han menghela nafas.
" Apa masalah apa Zi."
" Ceritakan, apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu." Ucap Zionathan sambil melihat berkas dari Braham.
Han pun menceritakan kembali dengan hati hati.
" Jadi begitu?. Putar ini Han."
Zionathan menyerahkan sebuah kaset dan memori kecil yang ada pada pena.
" Apa ini benar diriku, Han?"
" Tentu, saja."
" Kau yakin ini tidak di rekayasa?"
" Hahaha, kau sungguh aneh Zionathan. Kau sekarang mirip orang lain. Bukan lagi seperti Zionathan yang ku kenal. Kau seperti mainan Lidia sekarang. Ups, maaf."
Zionathan tidak mendengarkan ucapan Han karena dia fokus dengan apa yang dia lihat.
..
Di rumah sakit.
" Jadi benar dugaan ku.." Ucap Candra setelah melihat obat yang di berikan Briana .
" Lalu, kita harus bagaimana?. Pernikahaan akan di lakukan lima hari lagi."
" Tenanglah. Selama obat ini tidak lagi di berikan. Zionathan akan baik baik saja. Dia akan mulai mengingat kembali."
" Semoga saja. Dan, obat apa yang kau berikan sebagai pengganti itu?"
" Itu hanya vitamin. Ya anggap seperti penawar dari obat ini."
" Kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Anak anak pasti mencari ku." Ucap Briana.
" Baiklah. Hati hati di jalan."
...
Sesampainya di mansion..
" Hai.. Kau tidak ingin memberiku selamat, aku akan menikah dengan suamimu dan akan menjadi madu mu." Kekeh Lidia.
" Selamat ya.. semoga pernikahanmu berjalan lancar." Ucap Briana kemudian berlalu meninggalkan Lidia.
" Kau???..."
" Apa?, bukankah kau ingin ucapan selamat?, aku sudah mengucapkan nya. Jadi apa lagi."
Briana tersenyum kemudian terus berjalan menuju kamar anak anak.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...