
" Dady.. momy dimana?"
" Iya, biasanya momy selalu menunggu kita di meja untuk sarapan."
" Benar, kemana momy dady?"
" Apa momy marah karena dady berpelukan dengan paman Pohan?"
" Jadi momy memilih pergi?"
" Ck, sudah² kalian ini bicara apa. Dengar ya, dady dan paman Pohan hanya berpelukan. Mengerti. Hanya berpelukan, seperti saudara. Bukankah kalian juga senang memeluk satu sama lain." Ucap Zionathan .
" Duduk dan makanlah dulu, dady akan mencari momy."
Zionathan mulai mencari ke setiap penjuru ruangan dan bertanya pada setiap pelayan yang ada.
" Dimana Briana, apa mungkin dikamar nya?." Zionathan bergegas menuju kamar Briana.
Tok
tok
tok
" Bird, kau di dalam."
Tak ada suara.
Tok
tok
tok
" Briana..." Teriak Zionathan
Ceklek..
" Tidak di kunci rupanya." Zionathan masuk dan terkejut mendapati Briana tengah menangis.
" Hei hei, kau kenapa?"
Zionathan mengangkat tubuh Briana dan mendudukkan nya di ranjang.
" Ibuu Zi... ibu.."
" Kenapa ibumu" Tanya Zionathan cemas.
" Ibu Zi, Ethan ..."
" Katakan kenapa dengan mereka?"
" Rumah nenek ku terbakar. Ak..aku mendapat kabar dari rumah sakit bahwa 2 diantara mereka meninggal dunia dan 1 kritis Zi, bagaimana jika itu Ethan ." Tangis Briana semakin pecah.
" Tenanglah, semoga Ethan
dan ibu baik² saja. Kita terbang sekarang ke kota xx." Ucap Zionathan sambil memeluk melodi.
" Tapi bagaimana dengan anak²?"
" Tidak perlu cemas, biar Pohan yang mengurusnya". Zionathan mengambil ponsel dan mulai menghubungi Pohan.
" PoHan, persiapkan jet ku sekarang juga dan jangan lupa bawa seseorang yang terpercaya untuk menjaga anak²
selama beberapa hari ke depan. Cepat Pohan, ini sangat darurat."
Panggilan dimatikan.
Tak lama kemudian, Pohan datang bersama Lala.
" Kau membawa Lala?" Tanya Zionathan yang terkejut karena Pohan membawa Lala.
" Siapa lagi yang bisa ku percaya mengurus anak² selain Lala." Ucap Pohan.
" Kenapa?, ada apa sebenarnya?." Tanya Lala pada Zionathan.
Zionathan kemudian menceritakan apa yang dikatakan Briana padanya, Lala langsung berlari ke kamar Briana.
" Briana.." Lala membuka pintu dan dilihatnya Briana sudah siap untuk pergi.
" La.. ibu ku... Ethan ku.." Ucap
Briana terbata.
" Sttt... sudah sudah yakinlah mereka akan baik² saja. Sekarang cepatlah bersiap. Kau akan berangkat sekarang juga. Anak² biar aku yang mengurusnya." Lala kembali memeluk Briana .
" Terima kasih La, kau banyak membantuku."
__ADS_1
" Tidak perlu berterima kasih. Sudah sana cepat jalan."
Setelah melakukan perjalanan udara selama 1 jam, Briana dan Zionathan tiba di kampung ibunya.
Mereka segera mencari taxi dan menuju rumah sakit 'Bunda Santa'.
" Permisi suster, tadi pagi saya mendapat kabar bahwa keluarga saya mengalami korban kebakaran." tanya Briana pada perawat jaga.
" Siapa nama keluarga ibu"
Briana segera menyebutkan nama ibu dan juga putranya.
Setelah memeriksa data dan ruang rawat, perawat itu mengantar Briana dan Zionathan ke ruangan jenazah lebih dulu.
Bruk.
Briana tak dapat membawa diri, dia pingsan melihat salah satu yang meninggal adalah ibunya.
" Urgh... Dimana aku." Briana terbangun memegangi kepala nya.
" Kau pingsan sayang." Ucap Zionathan yang langsung berdiri ketika melihat Briana sudah sadar.
" Pingsan?." Briana mencoba mengingat kejadian sebelum nya..
" Jadi.. ini bukan mimpi?, Zi jadi ibu ku sudah meninggal?" Briana mulai histeris. Zionathan langsung memeluknya.
" Tidak mungkin.. Tidak mungkin..," Teriak Briana sambil menangis.
" Hiks hiks hiks hiks, perawat itu bohong kan Zi, ibu ku masih hidup kan?." Menggoyang² bahu Zionathan.
" Briana, tenangkan dirimu. Perawat itu benar."
" Hwaaaa.... ibu.. hiks hiks hiks.. ibu." Briana mulai menggila.
" Tenangkan dirimu Bri." Zionathan berusaha keras memeluk Briana yang meronta².
" Ibu ku Zi, dia tidak boleh mati.. ak.. akuu tidak punya siapa² lagi selain ibu dan Ethan Zi."
" Hei, kau masih punya aku."
" Ak aku ingin melihat jasad ibu dan keadaan Ethan Zi." Pinta Briana.
" Tapi berjanjilah kau akan kuat, oke."
" Hmm" Briana mengangguk, Zionathan menyeka airmata nya dan mencium kening Briana.
Briana dan Zionathan berjalan mengikuti perawat guna memastikan jasad itu benar jasad ibu dan neneknya.
" Mari bu, silahkan masuk."
Mereka masuk ke dalam ruangan, perawat membuka kain penutup pada jenasah untuk kedua kalinya
Briana sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menangis. Namun air mata nya turun deras tanpa bisa ia tahan.
" Lalu dimana anak kecil yang bernama Ethan ?" Ucap Briana dengan suara gemetar.
" Mari bu." perawat berjalan dan berhenti di sebuah ruangan ICU.
Briana melihat Ethan di pasangan banyak sekali alat bantu pernafasan. Membuat lutut Briana lemas dan dia jatuh ke lantai.
" Zi.. kenapa jadi begini.. Aku hanya berusaha melindunginya agar Johan tidak dapat menemukan Ethan. Tapi kenapa jadi seperti ini Zi?" Isak Briana .
"Sttt.. ini diluar perkiraan kita, ini sudah takdir Bri." Zionathan memeluk Briana
" Tidak Zi, aku menyebabkan ibu meninggal dan sekarang anak ku kritis. Ibu... Zi ibu..." Briana kembali menangis dan pingsan.
Tiga hari sudah Ethan berada di ruang ICU, dan selama itu pula Briana tidak pernah beranjak dari ruangan itu.
" Briana makan lah sesuatu. Kau bisa sakit nanti." Ucap Zionathan lembut
" Briana .. makanlah.."
" Briana.." Zionathan sedikit berteriak. Namun Briana masih termenung.
" Bird, kalau kau sakit bagaimana kau bisa merawat Ethan. Pikir kan juga kesehatan mu." Zionathan mulai kesal.
" Hiks hiks hiks, ini salahku. Aku.. aku bukanlah ibu yang baik." Briana mulai menangis lagi.
" Tenanglah, itu adalah kecelakaan. Bukan salahmu." Zionathan memeluk Briana.
" Zi.. ibu ku.. hiks hiks, aku kehilangan bagian dari kebahagiaanku."
" Ssttt, ada aku disini tenanglah. Ada aku."
" Bagaimana kalau kita bawa Ethan kembali ke kota, akan ku pastikan dia mendapat perawatan yang terbaik." Tawar Zionathan.
" Aku takut jika Johan menemukan dia Zi."
__ADS_1
" Tidak akan, aku janji."
" Baiklah."
" Tapi kau harus berjanji untuk tidak lagi menyalahkan dirimu sendiri atas insiden ini."
" Hmmm.. aku janji"
Setelah mengurus administrasi mereka langsung membawa Ethan ke rumah sakit terbaik di kota xxx.
Zionathan langsung menemui sahabatnya, Andika yang merupakan kepala rumah sakit di sana.
" Andika, bisa kah kau siapkan kamar terbaik untuk pasien koma akibat kebakaran." Ucap Zionathan .
" Tentu saja. Apapun untukmu."
" Dan tolong, privasi kan semua informasi tentang pasien ini."
" Hmm, baiklah. Tapi kau berhutang cerita padaku." Ucap Andika.
" Oke." Ucap Zionathan
Zionathan kemudian bergegas menemui Briana .
" Ayo, Ethan sudah ada di kamar VVIP kelas khusus."
" Terima kasih Zi, bagaimana cara ku membalas semua kebaikan mu."
" Kita bicara itu nanti. Sekarang kita fokus pada kesembuhan Ethan."
......................
...----------------...
Hampir dua bulan Ethan dirawat intensif oleh Andika. Dan sekarang kondisi nya mulai stabil.
Jadi Zionathan memutuskan untuk merawat Ethan di rumah.
Jadi Briana tidak perlu bolak balik RS-Rumah untuk merawat Ethan dan anak² yang lain.
" Terima kasih Zi, kau sangat peduli padaku dan juga Ethan." Ucap Briana saat Zionathan mendatangi nya di dalam kamar.
" Semua tidak gratis nona." Bisik Zionathan yang membuat Briana merasa geli.
" What the..." Belum selesai Briana berbicara Zionathan sudah mencivm bibir mungil Briana.
Semakin lama... ciuman itu semakin memanas Zionathan menggendong Briana dan menjatuhkan di tempat tidur.
" Emmm Zi...." Des ah Briana saat Zionathan mulai mencivmi leher Briana .
Briana begitu terbuai dengan sentuhan lain yang dilakukan Zionathan, des ahan dan erangan spontan keluar dari mulut Briana, membuat Zionathan semakin menggila.
Zionathan mulai membuka satu per satu kancing piyama Briana, hingga nampak lah dua gunung kembar yang sangat menggoda dengan ukuran besar.
" Emm Zi.. Kau mulai nakal." des ah Briana saat tangan Zionathan mulai mere mas bukit tinggi yang menjulang indah.
Dibuka nya perlahan bra yang membungkus gunung kembar Briana..
Tanpa aba², Zionathan langsung melahap nya dengan rakus.
" Emmm Zi..." Briana menekan kepala Zionathan agar lebih dalam melakukan nya.
Seperti mendapat jackpot, Zionathan semakin menggila bermain dengan bukit kembar yang kini terpampang jelas tanpa satu kain pun yang menutupi nya.
" I love you Briana." Bisik Zionathan di telinga Briana, kemudian mulai menci um bibir Briana lagi.
" I love you to Zi." Briana membalas ciuman panas Zionathan yang sudah mulai bernafsu.
Tangan Zionathan kembali memainkan bukit indah milik Briana, membuat Briana merasa sesuatu yang sangat enak.
" Emmm.. Zi..."
" Zziiii...."
Briana tak kuasa menahan rasa yang menyetrum dirinya saat Zionathan menghisap dengan kuat.
Zionathan terus melakukan nya dan meninggalkan jejak cinta.
Tangan Zionathan mulai masuk mencari lubang rawa rawa, tapi ada yang tidak biasa.
Zionathan melihat ke bawah dan....
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...