CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Mak phi-khun Libur...


__ADS_3

Maaf yaa...


Mak phi-khun terlalu sibuk di dunia nyata...


Jadi novelnya libur dulu yaa...


Nih di kasih cuplikan bab novel Mak phi-khun yang lain...


...----------------...


Yumna terbangun di sepertiga malam nya. Dia melihat dan memastikan bahwa Akifa tertidur.


Yumna memejamkan mata.


Tidak ada wanita yang tidak menginginkan kebahagiaan dalam rumah tangga.


Terutama Yumna.


Yumna yang lahir dan besar di keluarga broken home sangat berharap bisa menemukan kebahagiaan. Tapi sepertinya takdir tidak pernah menginginkan Yumna untuk bahagia lebih lama seperti para sahabatnya.


Yumna berharap dia akan menekan kebahagiaan bersama dengan keluarga kecil nya sendiri, kelak jika dia sudah menikah.


Satu tetes air mata mengalir di pipi Yumna mengingat ucapan dari sang nenek.


" Suatu saat jika kamu sudah dewasa, pilihlah laki-laki yang benar menyayangimu. Agar kehidupanmu jauh lebih baik dari yang sekarang." Ucap Nenek sambil meletakkan sebuah cobek berukuran sedang dengan sambal terasi yang menggugah selera.


" Iya nek."


" Ya sudah ayo makan."


Pagi itu, Yumna makan malam bersama neneknya hanya dengan lauk sambal.


Entahlah, Yumna tidak tahu kemana uang bulanan yang selalu dikirim oleh sang ibu untuk kebutuhan Yumna dan adiknya.


Yumna hanya tahu jika sehari hari, dia akan makan dengan lauk sambal. Ada nasi sudah cukup untuk mengganjal perut yang lapar.


Yumna yang saat itu masih duduk di bangku SMP, hanya menanggapi perkataan neneknya dengan ya dan mengangguk. Karena dia masih tidak tahu apa-apa tentang memilih laki-laki yang tepat dan benar.


" Kakek, aku berangkat ke sekolah dulu ya." Ucap Yumna, kakek hanya mengangguk dan memberi Yumna selembar uang yang bernilai 5.000.


" Ini keranjang kuenya, dan jangan lupa minta uang kue kemarin." Ucap Nenek.


" Baik nek."


Setiap hari, setiap berangkat ke sekolah Yumna selalu membawa keranjang kue dan mengantarkannya ke pasar. Pasar dan sekolah yang jalan nya searah membuat Yumna tidak malu untuk membawa kue dari rumah dan mengantarkannya ke pasar sebelum akhirnya pergi ke sekolah.


" Hati hati ya, nanti mama jemput."


" Iya ma."


Cup


Yumna melihat seorang ibu terlihat mencium pipi anaknya.


" Sudah sana, belajar yang rajin ya."


Anak tadi tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya melambaikan tangan dan masuk ke halaman sekolah.


Yumna yang kebetulan ada di sana dan melihat kejadian itu menjadi sangat miris, dadanya terasa sesak. Sungguh dia ingin sekali berada di posisi anak itu.


Tapi apalah daya, Yumna mengenal orang tuanya tapi tidak pernah tahu rasanya tinggal bersama orangtuanya.


" Yumna, kok disini? ayo masuk." Ucap Ika yang mengagetkan Yumna.


" Ayo"


Di dalam kelas, Yumna lebih banyak diam. Karena dia tidak tahu apa yang harus dibagi jika mengobrol bersama dengan teman-temannya.


Rata rata, temannya membahas soal kegiatan keluarga ataupun tentang acara TV yang Yumna bahkan tidak tahu apa itu. Karena di rumah yang Yumna tinggali tidak ada televisi ataupun melakukan kegiatan seperti yang teman temannya ceritakan.


" Eh kantin yuk, aku rasa kantin nya sudah cukup sepi Sekarang." Ucap LuLuk, teman Yumna.


" Enggaak ah, kalian aja. Aku tidak punya uang untuk membeli jajan." Ucap Yumna.


" Sudah ayo, hari ini aku diberi uang sangu lebih. Jadi aku yang akan teraktir." Ucap Luluk.


" Asik."


Yumna tersenyum, dia sangat senang dan bersyukur memiliki teman seperti Ika dan Luluk. Jika Yumna mendapat kiriman uang dari sang Ayah, maka Yumna akan meneraktir teman temannya itu.


Setelah Yumna membereskan buku, mereka bertiga sama-sama berjalan menuju kantin.


Yumna tidak tahu jika sedari tadi Rimba mengawasi gerak-gerik Yumna.


" Yumna, nanti sore kamu ada di rumah enggak?. Kita belajar kelompok bareng yuk." Ucap Ika.


" Boleh, aku pasti akan senang jika kita belajar bersama jadi aku tidak akan merasa kesepian saat di rumah." Ucap Yumna.


" Apa aku boleh ikut?" Ucap Rimba yang tiba-tiba saja datang.


" Cie cie.."


Ika dan Luluk jadi menggoda Yumna, siapa yang tidak tahu dengan kisah Rimba dan Yumna.


Rimba yang begitu menyukai Yumna namun tidak mendapat balasan yang baik dari Yumna.


Entahlah, Yumna hanya merasa malu bahkan mungkin minder jika teman-teman di kelasnya menggoda dirinya dan juga Rimba. Karena itulah Yumna tidak pernah membalas perasaan Rimba.

__ADS_1


Yumna hanya menganggap bahwa perasaan suka Rimba kepada nya hanya sesaat.


Yumna tidak tahu, dan tidak akan pernah menyangka bahwa Rimba lah yang selalu setia mendengarkan keluh kesannya terhadap kehidupan sampai sekarang.


Jika di ingat, kejadian di masa SMP Yumna sangatlah memalukan.


Dimana Yumna selalu saja berusaha menghindari Rimba, namun terkadang juga mencoba mencuri perhatiannya. Namun Yumna dan Rimba sama-sama tidak mau mengakui perasaannya.


Hingga saat kelulusan, entah bagaimana ceritanya tapi Yumna benar-benar kehilangan kontak dengan Rimba.


Dan Yumna juga lupa kapan kali terakhir dia memulainya, namun Yumna dan Rimba sudah kembali berkomunikasi.


Bahkan setelah lulus sekolah SMA. Rimba sering mengajak Yumna untuk jalan-jalan.


Walau sekedar nongkrong di cafe atau mengcopy film yang ada di warnet, hal itu berlangsung setelah satu tahun kelulusan mereka.


Rimba yang sudah berada di semester akhir tingkat kuliahnya. Sedangkan Yumna masih belum mendapatkan pekerjaan lagi.


" Yumna, apa kamu mau ikut untuk melihat kampusku?. Hari ini aku ada jadwal kampus. Kalau kamu mau ikut aku akan menjemputmu satu jam lagi."


" Bolehkah?" Ucap Yumna yang sangat bersemangat saat Rimba menelepon dan mengatakan akan mengajaknya ke kampus.


" Tentu, Jadi kau bisa merasakan bagaimana Jadi anak kampus selama 1 hari."


" Boleh."


" Ya sudah kalau begitu bersiap-siaplah aku akan menjemputmu satu jam lagi lalu kita akan segera berangkat, oh ya jangan lupa untuk membawa laptop, aku akan mengajakmu untuk mengambil film yang ada di warnet."


" Oke."


Setelah panggilan berakhir, Yumna segera mengemasi laptop dan juga beberapa alat make-up yang mungkin akan dia butuhkan nanti.


Dalam perjalanan menuju kampus Rimba yang jaraknya sekitar 1 jam dari rumah Yumna, mereka saling bercanda tawa dan juga bertukar cerita.


Hingga saat mereka sudah tiba di kampus Rimba, Yumna menolak saat Rimba mengajaknya untuk masuk kelas. Karena Yumna takut akan ketahuan oleh dosen bahwa Yumna bukanlah siswi dari kampus itu.


" Aku akan menunggumu di luar saja." Ucap Yumna.


" Jangan, kalau kamu memang tidak mau masuk aku akan mengantarkanmu ke kosku saja, jadi kamu bisa beristirahat sambil menonton film di laptopku, bagaimana?"


" Tapi aku takut."


" Tidak apa, jam-jam segini tidak akan ada penghuni kos, semuanya sibuk kuliah dan ada beberapa yang sudah pulang. Jika memang ada yang datang kamu cukup diam di dalam jangan berisik dan jangan membuka pintu."


" Baiklah."


Rimba akhirnya kembali untuk mengatakan Yumna ke kosnya, setelah memastikan Yumna akan baik-baik saja Rimba kemudian pergi karena jadwal kelasnya akan segera dimulai.


Dua jam kemudian, Yumna terkejut karena kedatangan Rimba.


" Tidak apa apa."


" Pergilah cuci mukamu lalu kita akan makan siang lalu pergi ke warnet seperti yang aku janjikan." Ucap Rimba.


" oke."


Mereka kemudian kembali berkendara dan singgah sebentar di rumah makan sederhana. Setelah nya, Rimba langsung melajukan motornya ke warnet di mana di sana terdapat banyak film.


" Ini lagu nya bagus, jika aku mendengarkan lagu ini aku seperti merasa ada di dalam lagu itu." Ucap Rimba saat dirinya dan Yumna sudah mendapatkan satu meja yang kosong, dan Rimba yang terlihat menggunakan earphone mendengarkan sebuah lagu. Sementara Yumna sibuk memilih film yang akan dia copy.


" Benarkah?, apa judul lagunya?"


" Just give me a reason." Ucap Rimba sambil memaasang earphone pada Yumna.


" Hmm, lagunya bagus."


" Mirip Seperti kisah kita." Lirih Rimba, Yumna mendengarnya, namun dia pura-pura tidak mendengar.


Satu jam berlalu,...


Setelah puas mengcopy film. Rimba mengajak Yumna untuk beristirahat di rumah bibi nya.


Sore hari, setelah mereka selesai mandi, Rimba mengajak Yumna untuk menikmati pemandangan sore hari di atas bukit Rembangan.


" Rimb, aku rasa mungkin takdir kita memang jadi seperti ini." Ucap Yumna saat mereka tengah menikmati pemandangan kota di atas gunung.


Semilir angin membuat suasana hati keduanya menjadi sangat tenang dan sepertinya memang waktu yang pas untuk berbicara tentang masa depan.


" Apa maksud mu?"


" Ya lihat kita. Kita ini apa?, teman? sahabat? kekasih juga bukan. Terkadang kita terlihat seperti saudara saat saling menguatkan satu sama lain. Terkadang juga kita terlihat seperti teman. Sesekali terlihat seperti sepasang kekasih. Namun, saat kita mengungkapkan perasaan masing-masing selalu saja diwaktu yang tidak tepat."


Yumna terdiam, memejamkan mata dan membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya.


Yumna masih ingat betul kejadian dulu, saat Rimba menyatakan perasaannya saat itu Yumna sedang bersama dengan Yongki.


Dan jauh sebelum itu Yumna juga pernah mengungkapkan perasaannya kepada Rimba, dan itu Rimba sudah memiliki seorang kekasih.


" Tapi, setidaknya aku bahagia karena aku tahu bahwa kamu juga menyayangiku, sama seperti aku yang menyayangimu."


Yumna tersenyum dan menatap Rimba.


" Kau tahu, mungkin memang takdir kita harus seperti ini dan tetap seperti ini. Kita saling mencintai namun Tuhan tidak menghendaki kita untuk bersama. Dan aku juga tidak ingin kehilangan sosok seperti dirimu, kamulah satu-satunya yang dapat mengerti aku lebih dari siapapun." Ucap Yumna.


" Yumna, tapi aku berharap suatu saat nanti aku bisa, tidak tidak kita bisa bersama."


" Rimba, Aku tidak akan tega jika harus melihat intan tersakiti. Bagaimana pun juga aku tahu dia sangat mencintaimu. Jadi Aku mohon pertahankan dia dan bahagiakanlah dia."

__ADS_1


" Tapi bagaimana denganmu?" Ucap Rimba.


" Aku?, aku akan baik-baik saja. Kau hanya perlu membantu mendoakanku agar kelak aku juga mendapatkan seseorang yang begitu mencintaiku seperti intan yang mencintaimu."


Rimba menatap Yumna.


Yumna tahu ada kesedihan di dalam mata Rimba.


Rimba terlihat menghela nafas sebelum akhirnya mengatakan,


" Besok aku akan ikut training di Surabaya selama 3 bulan."


Yumna menatap Rimba, keduanya cukup lama saling menatap sebelum akhirnya kembali menatap pemandangan kota, di mana lampu lampu rumah dan lampu jalan mulai hidup.


Yumna kembali menatap wajah Rimba dengan saksama. Wajah yang sudah 5 tahun mencintai nya dalam diam.


" Lalu Kenapa kamu merasa sedih?, bukankah seharusnya kamu senang karena sebentar lagi kuliahmu akan tuntas." Tanya Yumna.


" Tidak kah kamu merasakan kesedihanku?, 3 bulan. Itu artinya aku tidak akan bertemu denganmu."


" Ck, Rimba waktu 3 bulan itu sangat singkat. Percayalah setelah ini kita pasti akan dapat bertemu."


" Hmm,"


Rimba terdiam, Yumna tersenyum lalu mengelus-ngelus bahu Rimba.


" Boleh aku tidur di pundakmu?" Tanya Rimba. Yumna menatap Rimba sebelum akhirnya dia tersenyum dan mengangguk.


Yumna memejamkan mata, dan mungkin juga Rimba melakukan hal yang sama.


Dua orang yang sejatinya saling mencintai, namun tidak pernah menjadi satu pasangan.


Mungkin takdir memang tidak menginginkan mereka untuk bersama.


 


Yumna selalu saja menangis, jika mengingat kisahnya dengan Rimba.


Kadang terbesit dalam pikiran Yumna untuk membukukan kisahnya dengan Rimba.


Tapi butuh waktu tenang dan santai untuk dapat kembali mengingat kisahnya dengan Rimba.


Getaran cinta masih dapat Yumna rasakan tak kala mengingat kisah cinta nya dengan Rimba yang terbilang cukup unik dan aneh. Saling mencintai, tapi tidak pernah bisa saling memiliki satu sama lain.


Semoga suatu saat keinginan Yumna untuk menuliskan kisahnya dengan Rimba dapat tercapai.


" Seandainya aku dapat memutar waktu, mungkin aku akan kembali di masa aku baru mengenal cinta. Sehingga aku dapat memperbaiki segalanya. Dan tidak terjebak dalam pernikahan yang terasa hampa ini." Lirih Yumna di sepertiga malam nya.


" Tuhan, berikanlah aku kesabaran dan ketabahan yang melimpah. Jadi kan aku pribadi yang kuat dalam menghadapi setiap cobaan yang kau berikan, Aku percaya pasti akan ada terang dalam gelap. Dan aku yakin pasti akan ada secercah kebahagiaan yang akan aku dapatkan suatu hari nanti." Imbuh Yumna


Rimba.


Laki-laki yang dulu begitu sabar menanti balasan perasaan Yumna sejak duduk di bangku SMP.


Tapi sepertinya memang takdir tidak mengijinkan mereka untuk bersama.


Yumna Dan Rimba selalu saja kembali merasakan cinta saat salah satunya punya pasangan.


Rimba sendiri dari dulu sering disakiti Yumna, tapi masih tetap menerima Yumna.


Mereka saling bertukar kisah hidup, hingga keduanya menjadi sangat dekat.


Teman lebih.


Sahabat lebih dari sekedar sahabat.


Pacar ? Yumna rasa tidak. Karena mereka sama sekali tidak pernah menyatakan cinta dalam waktu yang tepat.


" Rimba, apa kamu tahu cerita Radha Krishna?" Tanya Yumna saat Rimba hubunginya karena ingin berbagi kisah hidup.


" Tahu lah. Kenapa?"


" Kisah cinta kita seperti itu, walaupun itu hanya film. Tapi seperti mewakili perasaan kita. Krishna dan Radha walaupun sudah menikah tapi cinta diantara keduanya masih ada. Tidak ada ambisi untuk memiliki."


Rimba terdiam.


" Halo?"


" Yumna, apa masih ada cinta di hatimu?"


" Rimba, sudah aku katakan. Aku sangat bahagia jika mengingat kisah kita. Bertemu dengan mu mengajari ku arti cinta yang sesungguhnya."


" Seandainya saja kita bersama. Mungkin kita akan menjadi pasangan yang bahagia."


" Aku tidak yakin. Tapi mungkin seperti inilah kita, tetap menjadi lebih dari sekedar sahabat namun tidak lebih dari sepasang kekasih agar kita tetap bisa berbagi kisah hidup."


" Iya, kau benar."


Yumna mengakhiri sesi komunikasi dengan Rimba karena rasa kantuk.


" Selamat malam Rimba."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2