
" Lidia?, benarkah kau Lidia?" Ucap Zionathan .
" Zionathan?." Lidia pura pura terkejut padahal dia sudah mengintai Zionathan dan mengikutinya hingga masuk ke dalam toko perhiasan.
" Ah, maaf maaf, aku tidak sengaja menabrak mu, tadi aku sedang buru buru." Ucap Lidia lagi.
" Tidak apa apa." Ucap Zionathan yang menoleh ke arah Briana yang mendekat ke arahnya.
" Sayang.." Briana datang dan langsung memegang tangan Zionathan.
" Kau sudah selesai." Ucap Zionathan.
" Sudah." Briana terkejut melihat ada Lidia di sana. Orang yang masuk ke dalam rumah tangga nya dan merusaknya.
" Siapa dia ?" Tanya Lidia pada Zionathan.
" Ah, kenalkan, Briana, istriku." Ucap Zionathan sambil memeluk pinggang Briana.
" Briana..." Lidia seperti mengingat sesuatu.
" Ah.. ya. Aku ingat. Wah mencari yang lebih mapan rupa nya." Ucap Lidia dengan sombong.
" Apa maksud mu?" Briana mulai emosi.
" Tidak ada." Ucap Lidia santai.
" Jaga mulutmu, jangan sampai aku merobek nya." Ucap Briana.
" Sayang, sudahlah, kenapa kau marah. Ayo kita pulang. Maaf Lidia tapi kami harus pulang." Ucap Zionathan kemudian berlalu meninggalkan.
" Senang bertemu denganmu lagi Zionathan." Lidia sedikit berteriak, karena Zionathan sudah mulai berjalan menjauh.
" Zionathan, kau harus menjadi milik ku lagi" Ucap Lidia sambil mengepalkan tangan saat melihat Zionathan bermesraan dengan Briana.
Di dalam perjalanan pulang...
" Sayang kau kenapa terlihat begitu marah?" Tanya Zionathan saat mereka berhenti di lampu merah.
" Dia... Dia Lidia yang merusak rumah tanggaku." Mata Briana mulai menggembun.
" Apa?, tidak mungkin." Zionathan begitu terkejut.
" Kenapa?"
" Lidia yang merusak rumah tangga mu adalah Lidia mantan istriku." Ucap Zionathan.
" Apa?, tidak mungkin." Kali ini, Briana yang terkejut.
" Seperti sebuah kebetulan bukan Lidia merusak tanggamu dan secara tiba tiba kau menjadi pengasuh anak², hingga menjadi pendampingku."
" Tapi Zi, aku takut dia akan kembali pada mu."
" Tenanglah, aku sudah melupakan nya, kami sudah menjadi mantan sejak lama. Dan sekarang aku adalah suami mu. Dan aku berjanji akan selalu bersama mu."
" Zi, Lidia adalah orang yang licik, dia akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan."
" Sayang, tenanglah. Percaya padaku."
" Aku takut Zi, aku takut hal dulu akan terulang kembali."
" Sayang, lihat aku. Aku berjanji tidak akan terjadi apapun pada keluarga kita."
" Hiks hiks hiks.." Briana tak kuasa menahan tangisnya dan memeluk Zionathan.
" Tenanglah, aku janji tidak akan membiarkan Lidia masuk ke dalam rumah tangga kita."
--
" Zionathan... Tak ku sangka kau ada di negara ini. Baguslah, aku harus bisa mendapatkan mu kembali." Ucap Lidia.
" Nona.. kau disini?, Ayo kita ada jadwal pemotretan."
" Hmm,.. ayo. Ohya, aku ingin kau mencari informasi tentang orang ini." Memberikan foto Zionathan kepada asisten nya.
" Siapa dia?"
" Mantan suamiku, seperti nya dia tinggal di kota ini."
" Baiklah."
__ADS_1
--
Setiba nya di kediaman Braham...
" Kalian sudah pulang." Ucap Braham
" Bagaimana jalan jalan nya, apa menyenangkan" Sambung Elena.
" Tentu, ma, pa. Briana pamit menemui anak anak dulu ya"
Sepeninggalan Briana..
" Apa kalian bertengkar?" Tanya Elena yang merasa sikap Briana berbeda.
" Tadi......" Zionathan menceritakan kronologi nya.
" Tidak bisa di biarkan. Kau tenang saja. Papa tidak akan membiarkan dia merusak rumah tangga kalian."
" Terima kasih pa, kalau begitu, Zionathan akan pergi menyusul Briana."
Zionathan berjalan cepat menuju kamar dimana dia dan Briana tidur. Namun Briana tidak ada disana.
" Ah, kenapa aku bisa lupa. Briana pasti ada di kamar anak anak." gumam Zionathan.
" Tidak ada disini." Zionathan menutup kembali pintu kamar Elo.
" Dia juga tidak ada dikamar Ethan dan twins. Kemana dia?" Zionathan mulai khawatir.
Saat Zionathan mulai mencari dari ruang satu ke ruang lainnya, seseorang mengagetkan nya.
" Ziosaurus.. " Briana menepuk bahu kevin.
" Brid.." Zionathan menatap Briana .
" Sedang apa di..."
Belum selesai bicara, Zionathan sudah menarik Briana dan membawa nya ke dalam pelukan.
" Hei, apa kau merindukan ku. Padahal kita baru berpisah beberapa menit." Ucap Briana yang masih berada di pelukan Zionathan.
Cup
Cup
Cup
" Zi, kau masih waras kan?" Briana meletakan tangannya di kening Zionathan.
" Aku mencemaskan mu."
" Hei, aku tidak apa apa. Sungguh." Briana memegang ke dua pipi Zionathan.
Cup
Zionathan kembali mencium Briana.
" Ehem.."
Zionathan dan Briana menoleh.
" Papa." Ucap ke dua nya.
" Kalian ini, sana pergi ke kamar."
Kedua nya berlalu sambil menahan muka yang tersipu malu. Bagaimana tidak, ini kali ke dua, Braham memergoki mereka sedang berciuman.
" Ada apa pa, kenapa Zionathan dan Briana berjalan sambil menunduk." Ucap Elena yang berpapasan dengan mereka.
" Rahasia..."
" ihh papa.." Elena mencubit pinggang Braham.
" Aw.... " Braham merasa kesakitan.
" Kenapa?" Tanya Elena lagi.
" Dih mama kepo."
" Papa ini, sudah tua masih aja kek anak ABG." Ketus Elena.
__ADS_1
" Tapi mama suka kan, cinta kan." Braham mengedipkan satu mata nya.
" Issss.. Tau ah. Malam ini tidur di luar." Elena berlalu meninggalkan Braham yang masih loading..
" Tidur diluar?, artinya tidak ada jatah." Braham mulai paham..
" Hei, mama. Tunggu, jangan begitu dong. Kasihan junior papa." Braham teriak dan mengejar Elena.
" Tau ah gelap." Elena terus berjalan, tanpa menghiraukan Braham.
" Ayolah ma, bagaimana jika junior minta di lepaskan."
" Bukan urusanku."
" Ma, mama cantik deh." Rayu Braham.
" Ma.." Memegang tangan Elena yang hendak masuk ke dalam kamar.
" Apa si pa." Menepis tangan Braham
" Papa tidur di dalam ya, please." Puppy eyes.
" E..N..G..G..A..K." Elena membuka pintu kamar dan hendak masuk.
" Ma, nanti papa belikan berlian."
Elena menoleh sekilas kemudian masuk ke dalam kamar.
" Satu kotak berlian." Tawar Braham.
Elena masuk dan menutup pintu kamar.
" Satu karung." Tawar Braham lagi.
Ceklek..
" Beneran.." Elena kembali membuka pintu dengan senyum lebar.
Astaga, perempuan ini. Giliran satu karung baru mau. Batin Braham.
" Pa, kenapa melamun, beneran satu karung berlian?" Mata elang mengedip seperti kelilipan.
" Ah.. iya iya. Tapi papa tidur di dalam ya, oke." Ucap Braham.
" Tentu, tapi janji lo ya sekarung ya."
" Iya, sekarung beras kan." Kekeh Braham.
" Ih.. papa."
Brak !!
Elena membanting pintu.
" Eh ma.. ma.. mama."
Ceklek ceklek. Braham berusaha membuka pintu.
" Ma.. mama." Braham mengedor pintu, namun nihil tidak ada jawapan.
" Ck, maaf junior, sepertinya kita harus bermain solo malam ini." Ucap Braham sambil memandang ke bawah.
---------------
Siang hari, sebuah mobil hitam misterius sedang berada tak jauh dari mansion Braham.
" Kenapa kita ke sini?."
"Itu ada mansion keluarga Braham, ayah Zionathan. Dan menurut infomasi dari orang suruhan ku, Zionathan dan anak anak nya sedang berada disini, karena mereka barusaja melangsungkan pernikahan yang mewah beberapa minggu lalu."
" Ah, jadi begitu. Tunggu, kau bilang apa tadi?, anak anak?"
" Ya benar, putra sulung dan kedua adik kembar nya."
Hmm, seperti nya. Aku bisa menggunakan anak anak, untuk mendekati Zionathan lagi. Batin wanita yang tak lain adalah Lidia.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...