
" Sayang.. kau mau kemana malam malam begini." Ucap Briana, saat melihat Zionathan berpakaian rapi.
" Aku mendadak ada pertemuan dengan rekan bisnis. Kau tidak masalah kan jika aku tinggal?" Ucap Zionathan.
" Tentu saja. Pergilah, dan lekas pulang. Aku menunggu."
Briana kemudian mencivm bibir Zionathan. Dan mengantarkan nya sampai ke mobil.
" Kau ingin beli sesuatu."
" Ah tidak."
" Kau yakin?"
" Iya, nanti jika aku berubah pikiran aku akan menghubungi mu." Ucap Briana.
" Baiklah, aku akan setia menunggu perintah dari mu, ratu ku.." Ucap Zionathan sambil mencium punggung tangan Briana.
" Sudah sudah, sana jalan."
" Bye..."
..
Ting tong...
" Itu pasti Zionathan." Ucap Lidia girang.
" Alex, Kau disini?."
Lidia terkejut, ternyata yang datang bukanlah Zionathan.
" Iya, kenapa?, kau tidak senang aku datang, hmm.."
Alex langsung menghujani linda dengan civman.
" Bukan begitu, hanya saja. Aku meminta Zionathan datang kemari."
" Ah ya. Bagaimana aku bisa lupa."
" Sebaiknya kau pergi saja."
" Tapi aku merindukanmu." Terus mencumbu Lidia.
" Alex dengar. Jika Zionathan sampai tahu. Itu akan jadi masalah besar."
..
" Ehem..."
Kedua nya terkejut. Entah sampai kapan Zionathan berada di sana.
" Jadi begini kelakuanmu?" Ketus Zionathan.
Lidia mendorong Alex. Dan segera berlari ke arah Zionathan.
" Zionathan. Hiks hiks, inilah asalanku meminta mu untuk datang. Karena hampir setiap malam. Orang itu selalu datang dan ingin melecehkan ku. " Lidia menangis.
" Kau tidak terlihat seperti sedang di lecehkan. Kau terlihat seperti sedang menikmati. Aku jadi ragu, jika bayi itu adalah bayiku." Ketus Zionathan.
Lidia megedipkan mata kepada Alex. Seolah olah menyuruh membantu nya menyakinkan Zionathan.
" Hei bug. Aku tidak tau ada hubungan apa antara kalian. Aku hanya tau, jika wanita ini tidak bisa memberikan aku bunga dari pinjaman yang dia berikan. Maka dia harus membayar nya dengan civman." Ucap Alex asal.
" Apa seperti itu?"
" Te..tentu saja." Ucap Lidia terbata.
" Kau. Pergilah. Sebelum aku murka." Perintah Zionathan pada Alex.
Lidia melirik Alex, mengkode agar segera pergi.
Setelah kepergian Alex.
" Ada apa kau menyuruhku datang." Tanya Zionathan, masih dengan nada ketus.
" Tak bisakah kau berkata lembut padaku. Aku sedang hamil anakmu Zionathan."
" Kau yakin jika itu anakku?" Ketus Zionathan.
" Kau bisa melakukan tes DNA jika ragu."
" Aku bahkan tidak ingat pernah melakukannya denganmu." Ketus Zionathan.
" Zionathan. Ini benar benar anakmu. Jika kau tidak percaya, ayo sekarang kita ke dokter untuk melakukan tes DNA."
Tanpa pikir panjang lagi, Zionathan segera mengajak Lidia untuk melakukan tes DNA malam itu juga.
Di klinik yang sama, tempat Lidia melakukan check up sebelum nya.
" Maaf pak. Mengingat usia kandungan Ibu Lidia, yang masih sangat muda. Melakukan tes DNA, akan sangat berbahaya bagi janin. Itu bisa menyebabkan pendarahan bahkan keguguran. Minimal memasuki usia 6 bulan baru bisa." Terang dokter.
" Baiklah kalau begitu. Kami permisi." Ucap Zionathan.
Zionathan duluan keluar dari klinik. Sedang Lidia..
" Bagus. Bayaranmu sudah aku transfer." Bisik Lidia.
" Terima kasih nona. Senang bekerja sama dengan anda." Ucap dokter tadi.
Dalam perjalanan pulang...
__ADS_1
" Sekarang, apa yang akan kau lakukan." Tanya Lidia
" Menunggu janin itu hingga siap diambil sampel untuk tes DNA."
" Zionathan , kenapa kau sangat keras kepala."
" Cukup Lidia. Aku tidak mau lagi berdebat dengan mu."
Akhirnya mereka diam sepanjang perjalanan pulang ke apartemen Lidia.
" Zionathan, kau tidak mampir?. Aku bahkan belum membuatkan mu minuman."
" Tidak. Briana pasti sudah menunggu. Dia juga memesan makanan. Jadi aku harus membelikan nya."
" Baiklah." Ucap Lidia lesu.
Zionathan pun segera melajukan mobilnya.
...Flashback on...
Beberapa hari sebelum Lidia datang..
" Sayang, apa kau tau kenapa kau begitu lama mendapatkan kembali ingatanmu?" Ucap Briana.
" Kenapa?"
" Kau ingin tau tidak?"
" Tentu saja aku ingin tau, dan juga bagaimana bisa aku akan menikahi Lidia."
" Itu karena, Lidia memberikanmu obat, agar ingatanmu tidak kembali."
" Apa?"
" Ya. Dokter Candra yang mengatakannya. Saat aku berhasil mengambil dan menukar obat yang Lidia selalu berikan padamu."
" Kalau begitu, aku harus berterima kasih kepada Candra. Terutama pada mu. Berkatmu, aku jadi bisa mengingat semua nya sekarang.," Zionathan mencium Briana.
" Zi, jika suatu hari kau bertemu dengan Lidia. Dan dia memberikanmu minuman atau makanan atau apapun, jangan pernah meminum ataupun menerima nya."
" Kenapa?"
" Aku hanya takut ada niat terselubung di balik itu."
" Kau tenang saja. Aku akan selalu berhati hati.
...Flashback off...
" Untung Briana sempat mengingatkan ku. Aku harus lebih berhati hati sekarang. Aku tidak mau, hal dulu terulang lagi." Ucap Zionathan.
Zionathan melajukan kendaraan nya, menuju restoran dimana dia pernah datang dengan Briana.
" Sepertinya dia benar benar ketagihan dengan rasa steak itu ya. Aku akan membelikan nya dua dan spaghetti. Siapa tau dia juga akan suka." Ucap Zionathan saat mobilnya sampai di restoran.
..
Sesampainya di rumah, Zionathan langsung masuk ke dalam kamar. Saat hendak membuka pintu, samar samar dia mendengar suara tangis.
" Briana?, apa dia menangis?" Lirih Zionathan.
Brak !!!
Zionathan membuka cepat pintu kamar, membuat Briana terkejut.
" Zi, apa kau sudah gila?, kenapa kau kasar sekali?, memangnya apa yang diperbuat pintu itu sehingga kau membuka nya dengan kasar." Ucap Briana.
" Aku mendengar suara mu menangis, jadi.., aku pikir telah terjadi sesuatu pada mu."
Zionathan menggaruk leher nya yang tidak gatal.
" Benarkan kau menangis." Tanya Zionathan.
" Oh itu, haha. Kemari lah, dan duduk." Ucap Briana.
" Jadi katakan, apa yang terjadi, sehingga membuatmu menangis."
Zionathan mengusap mata sembab Briana.
" Uhh.. Suami ku sangat romantis dan perhatian sekarang."
Briana mengusap rambut Zionathan.
" Aku menangis karena terbawa perasaan saat menonton itu.,"
Briana menunjuk drama yang ia tonton di TV.
" Astaga, aku kira telah terjadi sesuatu."
" Hehe, tidak. Jadi.., Apa dady membawakan pesanan ku?"
" Tentu. Ini dia, aku membelikan mu 2 porsi. Ditambah spaghetti, aku pikir mungkin kau akan tertarik mencoba nya." Ucap Zionathan sambil memberikan kantung makanan.
" Wah, ini sangat banyak. Sepertinya aku tidak akan bisa menghabiskan nya " Ucap Briana saat membuka kantung makanan.
" Makanlah dulu, jika tidak habis, akan aku makan. Kebetulan aku juga lapar. Aku akan membersihkan diri dulu."
" Baiklah."
Briana mulai memakan makanan yang sungguh benar benar membuat nya berselera. Hingga saat Zionathan kembali.
" Sayang..." Panggil Zionathan.
__ADS_1
" Ya??.."
" Dimana makanan nya?" Zionathan mencari ke sekeliling, namun tak dapat menjumpai kotak ataupun kantung makanan.
" Sudah habis." Ucap Briana santai.
" Habis??."
" Iya.."
" Siapa yang makan?"
" Aku.."
" Apa???!!" Zionathan syok.
Tadi bilang kebanyakan. Tidak akan habis, sekarang makanan sudah habis, dan dia terlihat seperti orang tanpa dosa. Batin Zionathan.
" Hehe, maafkan aku ya. Semua terasa enak. Dan aku tidak dapat berhenti memakan nya. Apa kau marah?"
Briana menatap Zionathan dengan mata indah berkaca kaca.
" Ha.. Itu..itu, tentu saja tidak. Aku kan memang membelikan nya untuk mu sayangku." Zionathan mencium pipi Briana.
" Terima kasih sayang." Briana membalas ciuman Zionathan.
" Aku mengantuk." Rengek Briana layaknya anak kecil.
" Ya sudah tidurlah."
" Tidak mau."
" Kenapa?"
" Mau nya di peluk sampai tidur, sambil di elus elus." Briana memperagakan elusan kepala yang di mau.
Astaga kenapa Briana jadi aneh begini. Apa Kimi salah memberinya vitamin?. Batin Zionathan.
" Tidak mau ya?" Ucap Briana sedih, saat melihat Zionathan hanya diam.
" Tentu saja mau. Ayo, tidur."
Zionathan mulai naik ke atas ranjang. Briana langsung tidur ber bantal dada Zionathan. Dan Zionathan mulai mengelus kepala Briana.
" Sayang.. Bernyanyi Lah.." Ucap Briana dengan mata tertutup.
" A..apa?"
" Bernyanyi.."
" Kenapa bernyanyi?"
" Aku ingin tidur sambil mendengar suara mu ber nyanyi."
" A..aku..."
" Tidak mau ya, hiks hiks hiks.."
Yah, jadi nangis. Sebenarnya ada apa sih dengan nya. Batin Zionathan.
" Stt stt stt.. Baik lah baik. Aku akan menyanyi."
" Hehe, terima kasih sayang."
CUP.
Briana mencium Zionathan.
" la la la la laaa πΆπΆπΆπ€π€πΆπΆπΆ Hmmmm hmmmm hmmm g
hmmm"
( Anggep aja nyanyi apa kek gitu)
..
" Apa sudah tidur?"
Zionathan melihat Briana yang sudah terlelap. Perlahan dia menggeser tubuhnya. Meletakan kepala Briana secara perlahan ke bantal.
" Aku sangat lapar, sebaiknya aku ke dapur. Barang kali ada yang bisa ku makan." Lirih Zionathan.
Di dapur...
" Hanya ada roti dan telur " Ucap Zionathan
" Hah!, tidak apa apa lah. Daripada aku kelaparan."
Zionathan mulai mengoles selai ke dalam roti, kemudian memakannya, sambil dia membuat telur mata sapi.
Karena Zionathan tidak menyalahkan lampu utama dapur. Jadilah dia memasak hanya dengan cahaya senter dari ponsel.
Bug. Seseorang memukul kepala Zionathan.
" Ah..."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1