CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Dia Memang Sempurna


__ADS_3

Seperti biasa, sebelum mengikuti lomba, Mami akan mengetesku terlebih dahulu. Begitupun dengan sore itu, aku bermaksud menemuinya untuk meminta penilaiannya, karna kebwtulan hari ini Mami tidak lembur seperti biasanya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, kudorong pintu kamar Mami sambil berkata.


"Mi tolong dengerin aku..."belum sempat kuteruskan kata-kata ku, segera kubalikan tubuhku, karna kulihat Mami dan Rhys sedang asyik melihat kearah Laptop.


"Aih, kebetulan, sini sayang, lihat poto-poto adikmu saat keliling Eropa." Mami menariku untuk gabung bersama mereka.


"Tuh, lihat saat adikmu nonton konser Coldplay dan Linkin Park, smuanya bikin Mami ngiler." Mami antusias, sementara Rhys Hanya tersenyum, manis memang namun terkesan pamer.


"Nanti kalau tabungan Mami sudah cukup, kita juga bisa ko jalan-jalan ke Eropa" Mami membelai rambutku.


"Aku mau ke Turki, ya , mi?" Lendotku manja di bahunya.


"Nanti ketemu Erdogan plus khalit ergens idolaku." Kataku bersemangat.


"Yakin ke Turki? Naik pesawat loh!" Kali ini dia melirik kearahku.


"Iya, emang kenapa? Ngiri ya?" Aku mencibir


"Bukannya kalo naik pesawat nangis!"Rhys menirukan gayaku saat menangis.


Kutarik rambut gondrongnya spontan, dia balas menarik tanganku kami bergulingan di atas kasur, kini tubuhnya menimpaku. tanganku direntangkannya sedangkan jemariku digenggamnya erat.


Dadaku turun naik, hembusan nafasnya lembut menerpa wajahku, aku memejamkan mata, sedangkan rhys terus menatap wajahku.


Dia tersenyum, wajahnya begitu dekat, darahku berdesir, jantungku berdegup kencang, sebelum semuanya lepas kendali, kudorong sekuat tenaga agar tubuhnya menjauh.


Rhys tertawa, kupalingkan wajah yang memerah, kembali dia menyentuh lenganku, namun kumengibaskannya.


"Apaan sih?" ketusku


"Flabby." Katanya setelah menyentuh lenganku yang lembek, maklum jarang olahraga .


" Bodo amat." Aku cemberut, sedangkan Rhys mengerutkan alis tebalnya.


"Huh...manjanya gadis Mami." Cowok itu berlalu dari kamar Mami, meninggalkanku yang semaput gara-gara kelakuannya tadi, sedangkan Mami hanya tersenyum melihat tingkah kami.



Pagi itu Rhys pertama masuk sekolah, Mami meminta pihak sekolah agar kami bisa satu kelas, awalnya ingin aku menolaknya, namun melihat sorot matanya yang begitu serius aku menahan semua keinginanku.


Ahirnya takdir menentukan jika aku harus kembali satu sekolah, bahkan satu kelas dengan cowok ganteng itu.


Jadi ingat masa lalu, dimana saat itu aku begitu bangga bisa satu sekolah dengannya, karna aku merasa begitu nyaman disisinya, dia jadi pelindungku, dan selalu ada di saat aku membutuhkan bantuannya. Namun sekarang, aku justru merasa terjebak ketika harus satu kelas dengan pria tampan itu.


__ADS_1


"Minta perhatiannya semua," tiba tiba pak Thomas walikelas sebelas A, berdiri dan disampingnya terdapat sosok memikat yang lebih terlihat mempesona mengenakan seragam putih abunya.


Seisi kelas bersorak, begitu pak Thomas memperkenalkan Rhys sbagai murid baru, semua mata tertuju padanya.


Apalagi saat pak Thomas berkata selain pintar Rhys juga adalah atlet basket di sekolahnya dulu.


Para siswi histeris sewaktu senyum andalan cowok itu di keluarkan. Aku memalingkan wajah, tak mau bernasib sperti zulaikha CS, Saat bertemu Yusuf. Pura-pura sibuk dengan buku yang ku pegang.


"Ya, Tuhan, mengapa cowok ini jadi 100 % lebih menarik saat berada di sekolah." Bisikku


"Apa Din?" Jovita teman sebelahku melirik ke arahku.


"Nggak!"


Untunglah gadis itu begitu khusuk melihat perkenalan Rhys, matanya tak berkedip memandang wajahnya.


Baru beberapa minggu saja Rhys telah menjadi perbincangan hangat di skolah, topik tentangnya selalu enak buat di bicarakan, kecerdasannya, rupa serta segudang bakat yang dimilikinya membuat, dengan mudah menghipnotis para gadis di sekolah, mereka jadi lebih mendekat padaku, sekedar ingin tau bagaimana, apa saja yang di lakukan Rhys di rumah, dan itu semua membuat aku muak.


Seperti kejadian di kantin pagi itu.


"Eh, beneran Rhys itu adek lo?" Nadine cewek paling sok cakep dan sok kaya itu mndekat kearahku.


"Trus masalah buat lo!" Jawabku malas, lalu menyeruput teh manis hangat yang kupesan.


" Gila, ko bisa!" Mata bulat itu mendelik.


"Lalu, kenapa adek gue? keren, ganteng pinter?" Kubalas tatapan matanya dengan menyeringai menakutkan, otomatis si ganjen Nadine mundur.


"Mau tau jawabannya?" Semua menatap kearahku, mereka menungu jawabannya.


"Karna waktu Tuhan bagi- bagi itu gue gak hadir!" Jawab asal.


Semua tertawa, kecuali Nadine, gadis itu cemberut.


"Garing!" Katanya berlalu diiringi dayang- dayang alay peliharaannya. Tinggalah aku tergelak sendiri.


"Eh, Din, tuh lihat adek lo!" Tangan Jovita menunjuk kerah dua sosok yang asyik bercengkrama di kantin sebrang. Mereka tampak akrab, sesekali Rhys tertawa, tangan si gadis sesekali menepuk pundak Rhys.


Kupalingkan wajah dari keduanya, ada rasa aneh mnyelinap di hatiku, sakit, benci, marah semuanya jadi satu.


"Itu Bianca, Din, anak kelas dua belas excellent, amazing banget calon adek ipar lo!" Mata Jovita nampak kagum melihat keduanya.


Tiba-tiba teh manis berubah rasa menjadi pahit.


"Ayo Jo, kita masuk" kutarik tangan gadis itu yang menatapku penuh keheranan.


**

__ADS_1


"Ayo naik!" Cowok ganteng itu menghentikan motor Ninja keluaran terbarunya di sampingku.


"Ogah." Kataku cuek


"Ayolah Kak!" Mata coklat itu menatapku


"Please, Rhys, jangan panggil aku kakak kalo di sekolah." jawabku


"Oke, ayo...! Katanya menggoyangkan motornya.


"Aku dah ada janji," ucapku berkilah.


"Siapa? Babang Gojek lagi?" Tanyanya penasaran.


Aku tak menjawabnya.


"Ok, Dinara, ayo pulang, jangan buat Mami dan aku ribut gara-gara masalah ini." Wajahnya nampak memelas. Namun aku keukeuh dengan pendirianku, hal itu juga yang membuat aku menolak ajakannya, ya dia mengajaku karna takut dengan teguran Mami.


Tiba-tiba seorang gadis mendekat kearah kami.


"Hai," sapanya.


Hai juga, Bi," Rhys tersenyum kearahnya.


Mereka langaung ngobrol akrab, aku jadi sebal di buatnya.


"Eh, ini adikmu?" Gadis cantik itu melirik ke arahku


"Kakak," ujar Rhys cepat.


"Oh, maaf, kenalin kak, aku Bianca." Katanya menyodorkan tangan.


Aku tak membalasnya, pura-pura sibuk pesan Gojek langgananku.


"Mau ngasih tumpangan gak?" Bianca berkedip manja.


Sikapnya membuatku mual seketika.


"Boleh," Rhys mengangguk senang.


"Trus, dia?" Bianca melirik kearahku.


"Dia dijemput calon suaminya!" Jawab Rhys tanpa menoleh lagi kearahku.


Motor melaju cepat, sekilas kulihat Bianca melingkarkan tangannya memeluk pinggang Rhys.


Rasa aneh kembali hadir, mataku basah, dengan lunglai kutelpon babang Gojek kesayanganku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2