
Malam harinya, saat Zionathan sedang mencoba menebak dimana kira kira keberadaan Brianna.
Drtt...drttt....drttt..
Ponsel Zionathan berdering. Dari nomer tidak di kenal.
"Halo?"
"Dengan bapak Zionathan?"
"Iya saya sendiri. Maaf, dengan siapa saya berbicara?"
"Saya satpam di apartemen XXX. Saya menghubungi anda. Karena salah satu penghuni apartemen ini. Lidia santika. Pingsan dan tak sadarkan diri. Karena dalam ponselnya banyak panggilan dari anda. Saya pikir anda mungkin suami atau anggota keluarganya. Jadi bisakah anda kesini?"
Zionathan memijat pelipisnya. Briana belum ketemu. Sekarang Lidia kembali dalam masalah.
"Halo, pak. Apakah anda masih di sana?"
"Oh ya ya. Maaf, saya akan segera ke sana."
Zionathan segera mengambil jas dan kunci mobilnya.
"Zionathan kau mau kemana?" Tanya Elena.
" Zionathan ada urusan sebentar ma. Tolong jaga anak anak."
"Baiklah."
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit. Zionathan sampai di apartemen Lidia.
"Siang. Saya mendapat telpon dari satpam, yang mengatakan Lidia pingsan." ucap Zionathan pada seorang resepsionis.
"Dengan bapak Zionathan?"
"Iya betul."
" Langsung saja menuju klinik kami di lantai 15. Ny. Lidia rawat di ruang anggrek kamar 03."
"Baik. Terima kasih."
Zionathan segera berjalan menuju ruang, dimana Lidia di rawat.
Ceklek..
Di lihatnya Lidia sedang tidur. Entah tidur, entah belum sadarkan diri.
Zionathan mendekat dan duduk di dekat Lidia.
Beberapa saat kemudian, Lidia membuka mata.
"Hei, apa yang terjadi denganmu?" Tanya Zionathan.
Lidia bukannya menjawab, dia justru menangis.
"Ak..aku.., aku sudah kehilangan semuanya Zionathan. Alex menghancurkan karirku. Dia.. dia juga sudah menjual apartemenku. Satu satu nya yang aku punya di kota ini."
Entah karena iba, atau karena memang masih ada rasa cinta pada Lidia. Zionathan meraih tubuh Lidia, dan memeluknya.
"Aku..aku tidak tau lagi harus apa. Hiks hiks hiks."
Lidia semakin terisak.
"Sudah.. tenanglah. Tenang, kau masih memiliki aku." Ucap Zionathan.
" Terima kasih. Maaf, jika aku membuatmu datang kemari."
"No problem. Tunggulah sebentar, aku akan memanggil dokter."
Lidia mengangguk.
"Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" Tanya Zionathan setelah dokter selesai memeriksa Lidia..
"Ya. Terima kasih."
"Dokter bilang, besok kau sudah boleh pulang."
Lidia terdiam. Menunduk, kemudian kembali menangis.
"Hei, ada apa?. Kenapa menangis lagi?"
"Aku harus pulang kemana?, aku sudah tidak punya tempat tinggal."
Lama Zionathan berpikir.
"Tinggal lah sementara di mansion ku."
"Tapi?, bagaimana dengan Briana dan keluargamu yang lain."
"Biar aku yang mengurusnya. Lagi pula, ini hanya sementara kan. Sampai kau dapat tempat tinggal baru. Atau kau ingin kembali ke kota asal mu."
"Tidak. Aku belum siap jika kembali dalam keadaan kacau seperti ini."
Zionathan menghela nafas panjang, dia tidak tahu keputusannya mengajak Linda tinggal sementara di mansion adalah keputusan yang benar atau justru akan semakin memperkeruh suasana.
Keesokan harinya..
Semua penghuni mansion geger, karena Zionathan pulang bersama Lidia.
"Zionathan. Kenapa kau membawa pulang wanita ini?, kau tau. Gara-gara wanita ini, menantu dan cucu ku pergi." Ketus Elena.
"Zionathan, apa maksud mama." ucap Lidia.
"Jangan kau panggil aku mama, aku tidak sudi mendengarnya."
"Ma, kita bicarakan nanti. Sekarang biarkan Lidia istrihat dulu. Dia sedang sakit."
"Huh."
Elena pergi meninggalkan Zionathan dan Lidia. Untung Braham tidak ada di rumah, jika saja ada. Mungkin Lidia dan Zionathan sudah di usir dari sana.
"Zionathan. Apa maksud mama tadi. Kemana Briana."
"Dia pergi membawa bayi dan Elo."
"Apa?, kenapa?"
" Semua salahku. Aku mengatakan hal yang mungkin menyakitinya."
"Lalu, dimana sekarang Briana." tanya Lidia, Zionathan menggeleng.
"Apa ini juga karena ku?"
"Kita bicarakan nanti, sebaiknya kau istirahat dulu."
"Baiklah.."
Zionathan keluar dari kamar tempat dimana Lidia beristirahat.
Malam harinya.. Zionathan terkejut saat melihat Braham sudah menunggunya dan lidia di ruang keluarga.
"Sekarang jelaskan kepada papa. Kenapa kau membawa wanita ini kemari." Braham dengan nada dingin.
__ADS_1
"Lidia sedang terpuruk. Karirnya hancur, dan dia barusaja di tipu rekan nya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi apa salahnya jika Zionathan membantu. Zionathan hanya simpati kepadanya."
"Simpati atau cinta?" Ketus Braham. Membuat Zionathan terkejut.
"Sampai kapan kau akan di buta kan oleh cinta palsu dia Zionathan?." ketus Elena sambil menunjuk Lidia.
Lidia terdiam.
"Oma.. Momy Briana bilang, kita tidak boleh menghakimi mama Lidia. Kata momy, kita harus memberi mama Lidia kesempatan" ucap polos Ethan yang datang mengagetkan semua.
"Sayang, kenapa kau masih belum tidur." Tanya Elena lembut.
"Tadi aku tidak sengaja mendengar suara bising saat aku akan turun mengambil snack."
"Sekarang katakan. Kenapa Ethan berkata seperti itu. Katakan pada oma, apa saja yang sudah momy Briana katakan."
"Momy bilang, jika kita harus memberi mama Lidia kesempatan. Mama Lidia sudah mendapat hukuman karena perbuatan nya."
"Lihatlah. Bahkan Briana tidak mengajarkan anak anak untuk membencimu. Dia bahkan membuat Ethan yang awalnya membencimu, sekarang jadi menerima mu. Apa kau tidak malu dengan perbuatan mu." Ketus Elena menatap tajam Lidia.
"Mama..."
Braham mengkode kepada Elena, agar tidak meneruskan nya. Karena ada Ethan disana.
" Ethan mau oma temani tidur?"
"Mau oma."
"Kalau begitu ayo."
Elena kemudian mengajak Ethan untuk naik ke atas, dan tidur.
"Apa Ethan merindukan momy Briana?" Tanya Elena sambil memeluk Ethan.
"Ya, Ethan sangat merindukan momy"
"Ethan tidak sedih?"
"Tentu saja sedih, tapi momy bilang. Ethan harus kuat, tidak boleh cengeng dan manja. Karena Ethan harus menjaga adik adik Ethan."
"Ya sudah. Sekarang Ethan tidur. Semoga dady segera menemukan momy."
Briana. Kau sungguh telah mengajarkan hal baik kepada cucu cucu ku. Kau bahkan tidak mengajarkan mereka untuk membenci Zionathan ataupun Lidia. Dimana kau sekarang nak. Semoga kau dan bayimu baik baik saja. Batin Elena.
..
" Tolong pa, ijinkan Lidia tinggal di sini. Setidaknya sampai dia mendapat pekerjaan dan tempat tinggal baru."
Braham menghela nafas. Perkataan Ethan, terus mengema di pikiran nya.
"Baiklah. Hanya sampai Lidia sehat, dan mendapat pekerjaan."
"Terima kasih pa." Ucap Zionathan.
"Terima kasih pa." Ucap Lidia.
"Tuan. Panggil aku tuan. Aku sudah tidak sudi kau panggil papa. Aku bukan lagi mertua mu." Ketus Braham.
"Maaf tuan." Ucap Lidia sambil tertunduk.
Braham kemudian pergi meninggalkan Zionathan dan Lidia.
"Hei.. Are you ok?" Tanya Zionathan.
" Yes, I'm."
"Ayo, aku antar kau ke kamarmu."
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi sepertinya orang yang membawa Briana punya kekuasaan yang besar. Terbukti, dengan tidak adanya jejak sedikit pun."
"Kau bisa bertanya pada Joha. Mantan suami Briana. Aku pernah melihat Johan menemui Briana."
"Sebaiknya kau istirahatlah. Soal Briana, biar aku yang mencari nya."
"Zionathan."
Panggil Lidia saat Zionathan hendak pergi.
"Ya?" Zionathan menoleh.
Cup
Lidia mencium pipi Zionathan.
" Terima kasih sudah menolongku dan memberiku tempat tinggal." Ucap Lidia kemudian segera masuk kamar dan menutup pintu.
...----------------...
Keesokan harinya...
"Han, kau dapat sesuatu?" Tanya Lala, saat Han datang ke rumah Lala.
"Huft, sepertinya Briana di lindungi oleh orang yang punya kekuasaan tinggi. Kami sulit sekali melacak keberadaan nya."
"Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang?" Tanya Lala.
"Entahlah. Aku tidak tau. Sepertinya kita harus memikirkan cara lain."
Han menyandarkan kepala nya, di bahu Lala.
Haruskan aku memberitahu Han, jika bang ryan yang membawa Briana pergi dengan bang Ryan? tapi kalau pun aku beritahu. Han tidak akan bisa menemukan mereka. Batin Lala.
Sementara itu, di sebuah mansion mewah yang dijaga ketat oleh para mafioso tersembunyi..
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Ryan.
"Sudah lebih baik. Bagaimana dengan baby twins ku?"
"Mereka baik baik saja. Lekaslah sehat. Nanti kau akan aku ajak menemui mereka."
"Benarkah?" Antusias Briana.
"Tentu saja. Sekarang dengar, jangan pikirkan apapun selain dirimu, Elo dan bayi kembar mu, oke."
"Bagaiman jika Zionathan menemukanku, dan merebut twins dariku?"
"Itu tidak akan terjadi. Aku janji, mereka tidak akan bisa menemukanmu. Sekalipun mereka mengerahkan seluruh armada di dunia. Jika aku berkata tidak. Maka tidak seorang pun bisa menemukan mu dan anak anak mu."
"Terima kasih bang."
"Sama sama. Sekarang tinggalkan semua keterpurukan mu, kesedihanmu, dan segala rasa kecewa mu. Sekarang saatnya kau bangkit. Kau layak bahagia. Tunjukan kepada mereka bahwa kau bisa bahagia dengan cara mu sendiri."
"Ya. Aku harus bangkit. Aku tidak boleh lemah lagi."
"Bagus. Itu baru adikku."
Ryan dan Briana saling berpelukan.
Selamat tinggal Zionathan. Selamat tinggal kehidupan sedih dan menyakitkan. Sekarang aku harua bangkit. Aku bukan wanita lemah. Dan Terima kasih kevin, atas luka yang kau berikan. Berkat luka ini aku jadi bisa bertemu kembali dengan kakak ku. Batin Briana .
...----------------...
__ADS_1
Hari demi hari, kesehatan Lidia mulai membaik, dia di terima tinggal di sana. Walau tak ada satu pun dari anggota keluarga Zionathan yang menyapa nya.
Lidia hanya dianggap sama seperti pelayan di mansion itu.
Hanya Zionathan dan anak anak yang kerap menyapa nya.
"Hai, ma.. Perlu bantuan?" Tawar Ethan pada Lidia, yang sedang merapikan ruang bermain.
"Tidak perlu. Ini juga sebentar lagi selesai."
"Biar kami bantu. Jadi cepat selesai." Ucap Lia.
Mereka kemudian membantu Lidia merapikan ruang bermain.
"Terima kasih ya sudah membantu."
"Sama sama ma."
"Ethan tadi memanggilku apa?"
"Mama.."
Mata Lidia berkaca kaca. Dia sungguh bahagia mendengar kini putra sulung nya memanggilnya mama.
"Kemari sayang, peluk mama."
Lidia merenggangkan ke dua tangan, dan Ethan langsung memeluknya.
"Apa Ethan sudah memaafkan mama?"
"Tentu saja. Momy bilang kami tidak boleh membenci mama. Karena mama adalah orang yang melahirkan kami. Jika mama tidak ada, maka kami pun tidak akan ada disini."
Lidia kembali memeluk Ethan.
Briana, aku sudah banyak menyakitimu, tapi kau sama sekali tidak berniat membalas ku. Kau bahkan membuat kenan mau menerima ku. Aku janji, aku akan membantu Zionathan menemukan mu, dan menyatukan kalian berdua. Batin Lidia.
...----------------...
"Mom.." Panggil Elo.
"Ya sayang?" Jawap Briana
"Kapan kita kembali ke rumah dady.." Tanya Elo polos.
"Apa Elo tidak suka tinggal dengan paman?" Ucap Ryan yang datang dari arah lain.
"Suka, hanya saja, Elo merindukan kak Ethan dan twins. Biasanya kita selalu bermain bersama."
Ryan dan Briana saling pandang. Sungguh mereka tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Elo, bahwa dia tidak akan kembali ke rumah itu lagi.
"Sayang.. kemari." Perintah Briana.
Elo menurut, kemudian duduk di dekat Briana.
"Dengar, Elo sekarang sudah menjadi kakak dari Alvin dan Elvin. Jadi Elo tidak boleh lagi manja, dan tidak boleh lagi terlalu sedih karena kita tidak kembali ke rumah dady."
"Kenapa mom.."
"Karena.... Karena, tempat kita di sini sayang."
Elo terdiam, masih belum bisa mencerna perkataan Briana.
Briana kemudian mengambil dua buah puzzle.
"Lihatlah dua puzzle ini. Ini ibarat kita, dan puzzle satu lagi adalah dady, Ethan, dan twins. Puzzle akan terlihat indah dan rapi jika di tempatkan sesuai dengan letak masing masing. Coba Elo memindahkan bagian puzzle, walau hanya satu saja. Ke tempat yang berbeda. Apakah potongan puzzle itu akan pas di sisi yang lain?"
"Tidak. Puzzle nya tidak akan rapi dan indah." Jawap Elo.
"Jadi sekarang Elo mengerti kan?, tempat kita bukan di rumah dady, tapi di sini. Bersama paman, dan baby AL dan L."
Elo mengangguk dan langsung memeluk Briana.
"Ayo, bagaimana kalau paman belikan Elo es krim." Tawar Ryan.
"Tidak mau. Elo mau nya es krim dan mainan. Karena mainan Elo semua ada di rumah dady." Ucap Elo sedih.
"Jadi itu sebab nya..." Tanya Briana.
"Momy..."
"Baiklah baiklah, ayo paman belikan Elo mainan. Jika perlu paman beli semua dengan toko nya."
"Hehe, paman bisa saja."
Ryan kemudian mengandeng Elo, siap pergi membeli mainan dan es krim.
Briana memandangi bayi AL dan L yang masih di dalam inkubator.
"Cepatlah sehat sayang. Momy ingin memelukmu." Lirih Briana.
..
Sementara itu Zionathan, Han, dan Braham masih berusaha mencari keberadaan Briana.
Braham sampai meminta seluruh anak buahnya untuk ikut mencari Briana.
"Bagaimana? ada kemajuan?" Tanya Braham.
"Tidak ada. Sepertinya Briana di bawah seseorang yang punya kekuasaan penuh." Ucap Han.
"Bagaimana jika aku tidak bisa menemukan Briana."
"Jangan pesimis Zionathan. Kau harus yakin."
"Thanks Han. Kau selalu ada untuk membantuku."
"Sama sama. Aku hanya bisa membantu mu menemukan Briana. Hal selanjutnya yang akan terjadi, aku tidak akan ikut campur."
"Apa maksudmu ?"
"Dengar bung. Kau sudah terlalu dalam menyakiti hati Briana. Mungkin saja dia tidak lagi bisa kembali bersama mu."
"Aku yakin Briana bisa mengerti dan memaafkan aku Han. Demi anak anak kita."
Han menghela nafas, sepertinya Han tau, jika harapan Zionathan terlalu tinggi.
..
"Kau mau kemana?" tanya Elena dengan nada sinis, saat melihat Lidia berpakaian rapi dan siap untuk pergi.
"Nyonya, karena saya sudah merasa lebih sehat sekarang. Jadi, saya pikir akan mulai mencari pekerjaan." Ucap Lidia.
"Baguslah. Semakin cepat kau dapat pekerjaan, semakin cepat kau pergi dari mansion ini."
Lidia menunduk, kemudian segera pergi. Bukan untuk mencari pekerjaan. Melainkan pergi menemui Johan.
Lidia pikir, Johan mungkin mengetahui sesuatu tentang Briana.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...