CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Ingatan Zionathan


__ADS_3

" Oma..."


Tia berlari menuju Elena.


" Sayang.., dimana momy?, kenapa tidak keluar bersama momy?" Tanya Elena.


" Momy masih di dalam."


Zionathan yang melihat Tia, langsung menghampiri nya.


" Sayang.. dimana momy?" Tanya Zionathan dengan nafas tersengal.


" Dady. Momy masih ada di dalam."


" Apa?"


Sementara Ethan dan laki laki yang bersama nya terus mencari keluarga Zionathan.


Para petugas pemadam kebakaran yang baru saja tiba, langsung menyemprotkan air.


" Paman.. itu dady kami." Tunjuk Ethan .


" Dady.."


Elo, Ethan dan Lia langsung berlari memeluk Zionathan.


" Dady, selamatkan momy " Pinta Elo.


" Iya sayang, dady akan menyelamatkan momy. Elo tenang ya dan baik baik bersama oma. Jadilah anak yang baik oke. Dady menyayangimu."


Zionathan menciumi pipi Elo.


" Tia, dimana tepatnya momy?" Tanya Zionathan.


" Aku tidak ingat. Bangunan nya semua terlihat sama." Ucap Tia sambil memandang ke sekeliling dengan airmata yang mengalir.


" Aku tau dimana momy mereka." Ucap laki laki yang menolong anak anak.


" Dimana, ayo cepat tunjukan." Ucap Zionathan yang mulai panik.


Mereka pun bergegas menelusuri jalanan di luar gedung.


" Seperti nya dia ada disini. Lihatlah, itu satu satu nya ventilasi yang berlubang." Tunjuk laki laki tadi.


" Kau benar."


Zionathan mulai meloncat dan berpegangan pada lubang ventilasi berusaha melihat ke dalam ruangan.


" Oo ****.."


" Kenapa?"


" Dia pingsan. Kita harus masuk ke dalam."


" Kalau begitu. kita harus bergegas."


Api mulai bisa di kendalikan. Jadi Zionathan dan laki laki tadi menerobos masuk tanpa menghiraukan teriakan dan larangan dari para petugas.


" Di sini." Ucap laki laki tadi.


" Kau yakin. Ini tidak terlihat seperti sebuah ruangan. Sudah banyak material kayu."


" Aku yakin, dia ada di sini."


Mereka mulai bekerja sama menyingkirkan kayu yang menutupi pintu masuk. Pekerjaan yang cukup menguras tenaga.


Brak !!.


Akhirnya pintu terbuka.


" Briana.."


" Hei.. bangunlah.. hei sayang."


Zionathan menepuk-nepuk pipi Briana.


" Sebaiknya kita segera membawa nya keluar." Ucap laki laki tadi.


" Ya. kau benar."


Zionathan segera mengendong Briana, dar ah terlihat mengalir di kaki Briana. Membuat gaun nya bercampur warna merah.


" Ambulan.. Mobil.. Cepat. Siapa saja.." Teriak Zionathan saat mereka sudah keluar dari gedung.


" Pakai mobilku saja. Itu mobilku." Ucap laki laki tadi yang langsung berlari menuju mobil nya.


" Zionathan.. apa yang terjadi?" Tanya Elena.


" Dar ah.. Zionathan, jangan katakan jika Briana keguguran."


" Keguguran, apa maksud mama?"


Tin.


Suara klakson laki laki tadi membuyarkan pikiran Zionathan.


Dia langsung masuk ke dalam mobil.


" Mama akan menyusul bersama anak anak." Teriak Elena.


Han segera mengambil mobil dan saat semua nya sudah masuk. Dia langsung melajukan mobil nya menuju rumah sakit terdekat di kota itu.


" Haaaaaah.... Kenapa jadi begini."


" Kacau.. semua kacau...ahh."


Lidia berteriak frustasi.


" Tidak usah risau. Ayo aku akan menyenangkan mu." Bisik lelaki yang tak lain adalah Alex. Pacar Lidia.


" Really?"


" Tentu saja, kita akan bersenang senang sambil memikirkan cara yang lain. Selama kau masih memberi nya obat itu, Zionathan tidak akan bisa mendapatkan memori nya kembali."


" Baiklah ayo gendong aku."


..


Di rumah sakit..


" Dokter... suster...." Teriak Zionathan.


" Maaf pak. Anda tunggu di luar." Ucap seorang perawat saat mereka sudah sampai di ICU.


Satu menit..


Lima menit...


Tiga puluh menit...


" Kenapa mereka sangat lama di dalam." Ketus Zionathan yang mulai frustasi.


" Hei bug. Tenanglah. Dia akan baik baik saja."


" Zionathan.."


Elena bersama semuanya..


" Bagaimana?"


" Dia masih ada di dalam ma."


Elena mengusap punggung Zionathan.


" Keluarga pasien.?" Ucap dokter yang barusaja keluar dari ruang ICU.


" Saya suami nya." Ucap Zionathan. Membuat semua orang tercengang.


Wanita tadi istri nya?, lalu kenapa dia menikah lagi. Aku jadi semakin tertarik dengan nya. Batin laki laki misterius .


" Bagaimana keadaan istri saya dok." Tanya Zionathan lagi.


" Istri bapak baik baik saja. Pendarahan yang terjadi, tidak tergolong berat. Jadi ibu dan janin nya baik baik saja."


" Syukurlah. Apa saya boleh melihatnya?"


" Tentu, setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat."

__ADS_1


Sepeninggalan dokter...


" Zionathan.. Kau sudah mengingat Briana nak?" Tanya Elena.


" Ya ma. Kebakaran itu mengembalikan ingatanku. Dan tunggu., dokter tadi menyebut janin?, janin siapa maksud nya?"


" Janin Briana sayang. Dia sedang hamil."


" Be..benarkah?"


" Kemungkinan Briana hamil anak kembar."


" Ma.. Ini adalah berita yang menggembirakan."


Zionathan memeluk ibu nya. Semua terharu.


" Ohya.. siapa nama mu?" Tanya Zionathan padan laki laki misterius itu.


" Ryan.."


" Terima kasih. Karena sudah menyelamatkan anak anakku."


" No problem. Dia yang datang pada ku meminta bantuan. Jadi aku menolongnya."


" Datang?.. Maksud nya?"


" Wanita itu, siapa tadi namanya?"


" Briana."


" Ah iya, Briana datang padaku, ketika aku berencana untuk melihat persiapan hidangan yang akan di sajikan. Dia mengatakan jika anak anak berada di dalam sebuah ruangan. Bla.bla bla bla bla......"


Panjang lebar Ryan menjelaskan. Membuat semua yang ada di sana juga terkejut.


" Sekali lagi terima kasih.."


Briana membuka mata dan merasakan ada sesuatu yang mengganjal tangan nya.


Briana melihat Zionathan ada di sana sedang tidur sambil memegangi tangan nya.


Perlahan Briana melepaskan tangannya agar tidak membangunkan Zionathan.


" Emm... Briana. Kau sudah bangun." Ucap Zionathan yang terbangun karena gerakan tangan Briana.


" Ah iya tu..tuan." Ucap Briana gugup.


" Bagaimana saya bisa ada di sini tuan?" Tanya nya lagi.


" Kau pingsan. Dan ya, jangan panggil aku tuan lagi. Aku sudah mengingat semua nya sekarang." Ucap Zionathan memandang Briana.


" Ha...?" Briana bengong.


" Aku sudah mengingatmu, sayang.." Zionathan memegang pipi Briana.


" Benarkah?." Mata Briana berkaca kaca.


" Tentu, mulai sekarang, aku akan menjaga mu dan calon anak kita." Zionathan memegang perut Briana.


" Hiks hiks...,"


Briana menangis dan memeluk Zionathan.


" Akhirnya.. Akhirnya kau mengingatku."


Cup


Cup


Cup


Zionathan menciumi seluruh wajah Briana, hingga sampai pada bibir.


Mereka kini saling ******* satu sama lain.


Tok


Tok


Tok


Ceklek...


Briana dan Zionathan menoleh ke arah sumber suara. Seorang dokter datang.


" Mmm.. saya akan kembali nanti." Ucap dokter tadi.


" Eh tidak, periksa lah sekarang. Maafkan kami." Ucap Zionathan.


" Ba..baiklah."


Mereka yang bercumbu, kenapa jadi aku yang gugup. Hah?. Nasib jomblo. Batin dokter tadi.


" Baik. Apa yang ibu rasakan?"


" Sedikit pening. Dok, bagaimana dengan bayiku."


" Janin ibu baik baik saja. Saya sarankan agar ibu istirahat total. Pendarahan kemarin, nyaris saja membuat ibu kehilangan bayi ibu." Terang dokter.


" Terima kasih dokter. Lain kali saya akan lebih berhati hati." Ucap Briana.


Sepeninggalan dokter..


" Sayang.. maafkan aku karena telah melupakan mu." Ucap Zionathan.


" Sudah lah, tidak usah di bahas lagi. Bukan kah kau sekarang sudah mengingatku."


" Ya.. ya.. aku bahagia sekali hari ini."


Zionathan memegang pipi Briana lagi, bersiap menabrakkan bibirnya...


" Momy..."


" Yuhu... menantu tersayangku..."


" Kakak ipar, i'm coming..."


" Oh astaga." Zionathan mengusap kasar kepala nya. Briana terkekeh.


" Hai sayang..." Sapa Briana pada anak anak.


" Dady minggir." Twins mendorong kasar Zionathan.


" Hei.. dady juga mau di samping momy."


" TIDAK!!. Dady sudah jahat kepada momy." Ucap Lia.


" Benar." Sambung Tia


" Betul." Imbuh Elo.


" Ethan .. Kau pasti mengerti dady kan?."


Zionathan menatap Ethan dengan mata anjing sedih.


" Of course........ No!."


Ethan segera memeluk Briana.


" Mom.."


Zionathan menatap Elena.


Elena mengangkat ke dua bahu nya, kemudian berjalan melewati Zionathan sambil tersenyum melihat tingkah para cucu nya.


" Kakak harus melewati para penjaga kecil, jika ingin dekat dengan kakak ipar sekarang." Kekeh Cika dan Cila.


" Han.."


Zionathan menatap Han, seperti hanya tinggal dia lah harapan Zionathan satu satu nya.


" Kau pikir dengan tatapan seperti itu, aku bisa membantumu. Kau harus berusaha sendiri sekarang. hahaha." Ejek Han


..


Dua hari sudah Briana di rawat di rumah sakit.


Dan dua hari juga Zionathan tidak dapat mendekati Briana sama sekali.

__ADS_1


Sungguh pria yang malang.


Dan hari ini, Briana di perbolehkan pulang dengan syarat harus istirahat total.


" Biar mama ambilkan kursi roda nya." Ucap Elena saat mereka sudah sampai di mansion.


" Ma, tidak perlu. Aku bisa berjalan."


" No mom, kata dokter momy tidak boleh banyak bergerak. Itu artinya momy juga tidak boleh berjalan." Ucap Elo.


" Elo benar. Jadi momy harus pakai kursi roda."


" Tapi momy merasa baik"


" Momy.."


" Ah, baik lah baik lah."


Briana hanya bisa pasrah melihat tatapan tajam dari ke empat anak nya.


" Astaga, kursi roda nya macet." Ucap Elena.


" Kalau begitu biar dady yang mengendong momy." Ucap Zionathan semangat.


" Ya.. itupun jika di ijinkan." Ucap Zionathan lesu saat menerima tatapan maut dari anak anak nya.


" Bsssttt bssstttt....,"


Anak anak terlihat berbisik.


" Kalian sedang apa sih?, apa kita akan terus berada di sini?. Momy sudah merasa gerah. Momy jalan sendiri nih." Ketus Briana.


" JANGAN..!" Teriak anak anak bersama.


" Baiklah. Kami ijinkan dady menggendong momy." Ucap Ethan .


" Yes..." Zionathan bersorak seakan di barusaja menang sebuah kuis.


" Tapi..."


" Hmmmm..." Zionathan kembali lemas...


" Kami akan selalu mengawasi dady. Sekali lagi dady menyakiti momy. Maka.... craaiisssss..."


Anak anak memperagakan orang yang sedang akan menyembelih sesuatu.


Glek....


" Sii..siap tuan dan nona muda.."


Zionathan membungkuk layaknya pelayan istana.


" Ya sudah, sana cepat gendong momy."


" Siap tuan putri, setelah anda turun."


Lagi lagi Zionathan membungkuk. Membuat Elena dan Briana tertawa.


" Lihatlah, betapa anak anak menyayangimu." Bisik Elena pada Briana.


" Ya. Aku sangat beruntung memiliki mereka."


" Tidak. Mereka lah yang beruntung, menemukan ibu sambung seperti mu."


" Ah mama. Itu terlalu berlebihan."


" Tidak sayang. Kau memang yang terbaik."


" Terima kasih mama."


Briana memeluk Elena. Kemudian Zionathan langsung menggendong Briana ala bridal.


" Zi.." Ucap Briana saat mereka berada di dalam lift.


" Ya sayang.." Menatap Briana .


" Apa aku berat?"


" Pffff.. Tentu saja..... Iya." Dari muka senyum langsung sewot.


" Huh. Ya sudah turunkan aku." Ketus Briana.


" Tidak tidak. Aku hanya bercanda."


Zionathan membuka pintu kamar dengan siku nya. Dan menutup pintu dengan kaki nya.


Zionathan meletakan Briana secara perlahan ke ranjang.


" Zi.."


" Ya sayang."


" Aku merindukanmu."


Mereka saling menatap sekarang.


" I love you Briana, maaf jika aku sempat melupakanmu. Tapi percayalah. Ini adalah hari paling bahagia untukku. Terima kasih sudah menjaga anak anak dan akan memberi anak untukku."


Zionathan mendekatkan wajahnya.. Terus.. terus mendekat. Hingga bibir mereka bertemu.


Briana memejamkan mata. Melihat itu, Zionathan perlahan mulai ******* bibir Briana .


Saat kedua nya mulai menikmati ciuman mesra yang sudah lama tidak mereka lakukan. Sang penjaga datang.


Brak..!


" Dady..."


Zionathan segera meloncat karena kaget.


" Iyaa tuan putri..."


" Dady pergi. Kami ingin tidur dengan momy." Ketus Lia.


" Tapi.. ini kan kamar dady. Jika kalian tidur di sini. Lalu dady tidur dimana.?" Ucap Zionathan dengan raut muka sedih.


" Terserah dady."


Anak anak kemudian langsung naik ke ranjanh dan berbaring di samping Briana.


" Kami merindukan momy.."


" Benarkah?, cuma 1 hari lo kita gak ketemu."


" Tapi rindu.."


" Ah iya iya. Ayo, katanya tadi mau tidur."


" Cium." Rengek Lia.


Cup.


" Aku juga mau.."


" Aku juga."


" Aku pun."


Briana menciumi anak anak nya secara bergantian.


" Dady juga mau." Zionathan merengek dengan wajah di tekuk dan bibir monyong.


" Tidak boleh. Ini momy kami."


" Lalu dady peluk siapa dong." Ucap Zionathan. Masih dengan muka cemberut.


" Nih.."


Ethan melempar sebuah guling pada Zionathan.


" Hiks hiks hiks.. Ku menangiss......"


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2