
" Lidia..." Ucap Zionathan saat melihat Lidia datang.
" Hai.. Bagaimana keadaanmu? apa kau baik baik saja?."
" Sangat baik setelah melihatmu."
Mereka berpelukan. Didepan Briana.
" Ehem.. Zionathan, apa kau mengingatku?" Tanya dokter Candra.
" Tentu, kau adalah Candra, itu adalah Han. Dan...., siapa itu?." Zionathan menunjuk Briana .
" Dia...diaa...." Han menatap dokter Candra, dokter Candra menggeleng cepat.
" Dia Pengasuh Ethan dan twins tuan." Ucap Han terpaksa.
Han menatap Briana, seolah ingin mengatakan 'maafkan aku, Aku tidak bisa memberitahu tuan muda sekarang bahwa kau adalah istri nya'
Briana mengangguk seperti dapat memahami arti tatapan Han.
" Pengasuh?, Ethan?, twins?. Siapa mereka." Ucap Zionathan.
Bagus. Kau bahkan tidak mengingat anak anakmu, arti nya kau hanya mengingatku. Ini sungguh berita yang menggembirakan. Aku akan dengan mudah menyingkirkan mereka. Batin Lidia.
" Emm, sayang.. Mereka adalah anak anak kita Ethan adalah putra pertama kita dia sekarang berusia 7 tahun dan twin berusia 5 tahun." Ucap Lidia sambil memegang pipi Zionathan.
" Apaa.. tapi.., bagaimana mungkin. Kita kan barusaja menikah." Zionathan mulai panik.
" Zionathan dengar. Kau mengalami Amnesia Retrograde', jadi ingatanmu mundur beberapa tahun lalu dan berhenti di tahun pertama kau menikah dengan Lidia." Ucap Candra.
" Apa.. Jadi kita sudah bersama selama beberapa tahun ini." Mata Zionathan mulai berkaca kaca.
" Iya sayang."
" Hiks.. maafkan aku tidak bisa mengingat kebersamaan kita, pasti hari hari kita penuh kebahagiaan. Bantu aku mengingat semua nya Lidia, aku ingin mengingat semua nya."
Zionathan menangis sambil memeluk Lidia, Lidia tersenyum jahat dan Briana menangis dalam diam.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Zionathan di perbolehkan pulang.
" Sayang ini adalah mansion kita. Kau membangunnya demi mewujudkan impian ku." Lidia memeluk Zionathan saat mereka memasuki mansion.
" Wah, sangat besar dan indah." Ucap Zionathan.
" Dady..."
Ethan, twins, dan Elo berhamburan memeluk Zionathan.
" Sii..siapa mereka?"
Anak anak saling berpandangan satu sama lain.
" Mereka adalah anak anak kita." Lidia ikut memeluk Zionathan.
" Bukankah ada tiga, kenapa sekarang empat?" Zionathan mulai bingung.
" Ah, dia adalah anak pengasuh putra putri kita, karena dia tidak punya ayah kau merasa kasihan. Jadi kau memperbolehkan nya memanggil dirimu ayah." Ucap Lidia.
" Apa dia juga tinggal disini?" Tanya Zionathan.
" Ya.. ibu nya tidak punya tempat tinggal, jadi dia memohon padamu agar di perbolehkan tinggal disini."
Lidia menatap Briana dan tersenyum jahat. Han geram, ingin menampar mulut Lidia namun ditahan Briana.
" Sekertaris Han, tahan emosimu." Bisik Briana.
" Tapi dia sudah menghina mu. Kamu adalah nyonya di rumah ini." Ucap Han.
" Tidak apa apa. Pelan pelan kita membantu Zionathan dan juga mengawasi Lidia." Bisik Briana.
" Ayo, kita langsung ke kamar kau perlu istirahat." Lidia membawa Zionathan menuju lift.
" Baiklah. Kau akan menemaniku kan." Ucap Zionathan.
" Tentu sayang.."
Lidia berlalu meninggalkan semua orang yang ada disana.
" Mom... dady kenapa?" Tanya anak anak.
" Kenapa dady melupakan kami."
" Apa dady tidak lagi menyayangi kami?"
" Kenapa dady pergi dengan tante jahat, bukan dengan momy."
" Sayang, dengar. Dady sedang sakit. Dia tidak bisa mengingat apapun. Jadi kalian harus membantu dady mengingat semuanya, tapi kita harus pelan pelan oke?."
" Baik mom.."
" Anak pintar, sekarang ayo masuk ke kamar kalian"
" Kami akan membawa nya kakak ipar." Ucap Cika dan Cila.
" Terima kasih Cika, Cila."
" Sama sama.. Kakak ipar bersabarlah. Kami akan selalu mendukung dan melindungimu." Cika dan Cila memeluk Briana.
" Kau adalah wanita yang hebat Briana. Semoga Zionathan segera mengingatmu." Ucap Han.
" Terima kasih Han."
" Sama sama, kalau begitu aku permisi."
" Emm tunggu Han, jika Lidia tidur di kamar Zionathan. Bagaiman dengan semua barang dan pakaianku?"
" Astaaga, aku lupa. Nanti aku pikirkan cara untuk memindahkan barang²mu, oke."
" Terima kasih Han."
" Tidak perlu sungkan. Jika butuh sesuatu telepon aku."
" Tentu."
Briana mengantar kepergian Han kemudian memilih beristirahat di kamar Elo.
...
Malam hari nya...
" Apa aku menyelinap sekarang ya, aku yakin Zionathan pasti sudah tidur."
Briana mulai berjalan menyelinap ke kamar Zionathan. Membuka pintu kamar dengan hati hati.
Saat Briana berhasil membuka pintu, dia melihat Zionathan sedang tertidur pulas.
" Zi.. kau jahat, kau jahat telah melupakan aku, hiks hiks.."
Briana mulai menangis.
" Sebaiknya, aku segera membereskan barang barangku."
Belum sempat Briana beranjak, Zionathan terbangun.
" Kau sedang apa?"
" Aa.. anu tuan, tadi tuan berteriak karena hanya saya yang terjaga, jadi saya langsung menemui tuan barang kali tuan membutuhkan sesuatu." Ucap Briana asal.
"Hemm. Pergilah, aku tidak membutuhkan apapun." Ketus Zionathan sambil bangun dari tempat tidur nya.
" Baa...baik tuan." Briana hendak pergi, namun..
" Tuann, tuan tidak apa apa?"
Briana menangkap tubuh Zionathan yang hampir terjatuh.
" Kepala ku, kepala ku, tiba tiba sakit." Zionathan memegangi kepalanya.
" Mari tuan, saya bantu."
Wangi ini, kenapa aku merasa sangat familiar?. Batin Zionathan.
__ADS_1
" Tolong ambilkan aku air." Perintah Zionathan.
" Baik tuan."
Briana bergegas mengambil gelas yang ada di sisi lain ruangan itu. Dan menyerahkan nya pada Zionathan.
" Terima kasih, kau boleh kembali ke kamar mu." Ucap Zionathan.
" Apa tuan yakin?"
" Ya."
" Baiklah, kalau begitu, saya permisi." Briana pamit undur diri.
...----------------...
Satu bulan kemudian...
Kesehatan Zionathan mulai membaik, kini ia sudah mulai bekerja kembali. Walau ingatan nya masih belum pulih.
" Sayang..."
Lidia mencium pipi kanan kiri Zionathan didepan Briana saat sarapan.
" Hai sayang."
" Kau akan ke kantor hari ini?" Basa basi Lidia.
" Tentu,"
" Ayo, biar aku menyuapi mu." Ucap Lidia.
" Hmm, apa dulu kau selalu seromantis ini?" Ucap Zionathan.
" Tentu saja sayang. Ohya, kau tidak akan lupa kan. Kita akan melakukan pemberkatan?"
" Bukankah kita sudah menikah, kenapa melakukan pemberkatan lagi?"
" Kau sudah janji, sebelum kecelakaan itu sayang." Lidia dengan nada manja.
" Benarkah?"
" Benar sayang.. kau bahkan berjanji akan mengadakan resepsi ke dua untuk ku." Lidia melirik Briana.
" Ah, maafkan aku sayang. Aku akan membicarakannya dengan Han."
" Terima kasih sayang."
" Aku akan berangkat sekarang." Ucap Zionathan sambil bangun dari duduk nya.
" Tunggu.." Ucap Lidia.
" Ada apa?"
" Ada saus di bibirmu."
" Dimana?, tidak ada. Aku sudah membersihkan nya."
"Disini, kemari. Biar aku yang membersihkan."
Lidia mendekati Zionathan.
Lidia mulai berjinjit dan mencium bibir Zionathan. Ciuman itu berlangsung lama didepan Briana.
" Apa kau ingin aku dirumah sayang." Goda Zionathan.
" Tidak tidak. Kau pergilah sekarang."
Sepeninggalan Zionathan..
" Kau lihat, sebentar lagi aku akan menjadi istri Zionathan dan akan menjadi satu satu nya. Bersiaplah, setelah ini kau akan ku usir dari sini." Ucap Lidia pada Briana.
" Aku tidak akan membiarkan rencana mu kali ini berhasil wanita ja.lang." Ketus Briana.
" Uhh... Takut. Hahahaha. Kita lihat saja siapa yang akan menang. Dan semua pasti tahu jika akulah yang akan menang. Kau ingat, aku selalu menang. Dan akan selalu menang."
...----------------...
" Tentu, aku tidak ingin calon bayi kami kenapa napa." Ucap Briana sambil mengelus-elus perutnya yang datar.
" Bagaimana Zionathan, apa ada kemajuan?"
" Tidak, dia masih belum mengingatku dan juga anak anak." Ucap Briana sedih.
" Kuatkah hatimu, aku tau kau wanita hebat." Kimi memegang tangan Briana.
" Terima kasih kimi."
" Sama sama."
Setelah selesai memeriksakan kehamilannya yang menginjak usia tiga bulan, Briana menunggu bus di halte yang tak jauh dari klinik Kimi.
Ya, selain Kimi bekerja di rumah sakit besar, Kimi mempunyai klinik sendiri.
" Astaga kenapa tiba hujan?"
Halte bus yang tidak ada atap. Membuat Briana terpaksa menutupi kepala nya dengan tas, agar tidak terkena guyuran hujan.
" Sebaiknya aku mencari tempat berteduh. Hujan nya sangat deras."
Briana melihat ke kanan dan kiri untuk mencari tempat bernaung.
" Disana saja."
Briana berjalan menuju sebuah pondok tak jauh dari halte dimana ia berdiri sekarang.
" Han. Bukankah itu Briana, pengasuh anak anak". Tanya Zionathan saat mobilnya melewati Briana yang berjalan menembus hujan.
" Seperti nya itu memang nona Briana." Ucap Han sambil melihat ke spion mobil.
" Apa yang dia lakukan. Kembali Han." Perintah Zionathan.
" Tapi ini jalan satu arah tuan muda."
" Cepat putar balik. Lihatlah, dia bisa sakit jika terlalu lama dibawah hujan. Hujan nya sangat deras." Ucap Zionathan.
" Baik tuan muda."
Han segera mencari jalan agar mereka bisa secepatnya putar arah.
Byur...
Mobil Zionathan sedikit melewati Briana dan membuat genangan air yang ada di jalannmengenai tubuhnya.
" Hei.. Apa kau tidak melihat seseorang berjalan?!!" Teriak Briana.
" Sttt ah..."
Zionathan merasakan sakit di kepala.
" Tuan, anda tidak apa apa?"
" Tidak, aku seperti mengalami dejavu.". Ucap Zionathan masih memegangi kepala nya.
" Dejavu?"
" Cepat buka pintu nya Han seperti nya dia mulai kedinginan." Ucap Zionathan.
Han turun dari mobil memakai payung dan menghampiri Briana.
" Nona, ini kami. Masuklah."
Han membukakan pintu belakang dan Briana segera duduk di samping Zionathan.
Ya, pasca kejadian itu. Han sementara tidak mengijinkan Zionathan untuk duduk disamping sopir ataupun mengendarai mobil seorang diri.
" Apa yang kau lakukan?, kenapa kau ada di daerah ini?"
Zionathan tanpa sadar langsung menyelimuti Briana dengan jas nya.
" Aku... emmm, aku.."
__ADS_1
Aduh, aku harus bilang apa. Tidak mungkin aku akan mengatakan yang sebenarnya sekarang. Bahkan PoHan saja tidak ku beritahu perihal kehamilan ini. Batin Briana.
" Hei, kenapa malah melamun?" Ucap Zionathan mengagetkan Briana.
" Ah, itu.. emm, aku membeli alat tulis untuk Elo. Iya, alat tulis." Karang Briana.
" Ohh, kenapa tidak pergi bersama supir?" Ucap Zionathan
" Tuan bisa saja. Mana berani saya minta antar pada supir saya kan juga pembantu." Kekeh Briana.
Hening..
" Bbbrrrrrr..."
" Kau kedinginan." Tanya Zionathan saat melihat Briana mengigil.
" Iii...iiya tu...tuan."
" Kemarilah." Zionathan merentangkan satu tangannya
" Ha???" Briana bengong.
" Hais, kemari. Kau kedinginan."
Zionathan meraih Briana dan membawa nya kedalam pelukan.
" Tuu..tuan, saya merasa tidak pantas." Ucap Briana.
" Stt, tidak apa. Daripada kau sakit, nanti kau tidak bisa merawat anak anakku mereka terlihat begitu dekat dan meyayangimu." Ucap Zionathan sambil mendekap Briana.
Perasaan apa ini?, kenapa aku sangat nyaman bila dekat dan bersentuhan langsung dengan Briana?. Batin Zionathan.
(Itu karena dia bini elu, bambang. Batin author.)
" Hmm, sepertinya dia tertidur Han." Ucap Zionathan.
" Kita sudah sampai tuan, biar aku yang membawa Briana." Tawar Hana.
" Tidak perlu, biar aku saja. Lagipula baju nya tembus panjang. Dia mungkin akan malu jika kau juga melihatnya." Kekeh Zionathan.
" Jadi, apa dia tidak akan malu jika tuan yang melihatnya." Ketus Han.
" Haha, tentu saja dia tidak akan marah. Aku sudah beberapa kali melihat tubuhnya. Bahkan sering saat..."
Zionathan tidak meneruskan kata kata nya, karena dia tanpa sadar sudah bicara seperti itu.
" Sering apa tuan.." Pancing Han.
" Entahlah Han, aku merasa sudah berulang kali memeluknya seperti ini." Zionathan memandang Briana yang masih tertidur.
" Han.. sebelum aku hilang ingatkan, apa aku dekat dengan Briana ?"
" Dekat, sangat dekat." Ujar Han.
" Benarkah?"
" Ya tuan, bahkan sangat intim."
" Apa?, jadi apa aku pernah meniduri nya Han?. Jika benar aku pasti sudah melecehkan nya Han. Kata Lidia dia janda kan?." Zionathan terkejut dengan penuturan Han.
" Dia punya suami, tuan."
" Siapa?"
" Anda."
" Haha, jangan bercanda kau Han. Cepat bantu aku, bukakan pintu nya."
" Baik tuan"
Zionathan segera membopong Briana ke kamarnya.
" Kak Zionathan, kakak ipar kenapa?" Tanya Cika, saat melihat Zionathan datang mengendong Briana.
" Dia kehujanan, kau bantu dia ganti baju." Ucap Zionathan yang di sertai anggukan Cika.
Diruang kerja Zionathan...
" Kenapa Cika menyebut dengan sebutan kakak ipar?"
" Dan Han menyebut aku suami Zionathan?"
" Dan kenapa aku juga bisa bilang pernah melihat tubuh nya.."
" Kenapa aku merasa nyaman saat bersama nya?"
" Ada hubungan apa sebenarnya aku dengan Briana?"
Berbagai pertanyaan muncul di kepala Zionathan.
" Ah sebaiknya aku pergi tidur."
Zionathan berjalan menuju kamarnya. Saat menbuka kamar, dia mendapati Briana masih tidur di sana.
" Cantik..." Zionathan duduk dan membelai pipi Briana.
" ughh... " Briana mengeliat.
" Tuan.." Briana kaget mendapati Zionathan ada di depan nya.
" Tuan sedang apa di kamarku?"
" Kau sedang di kamarku."
Briana melihat ke sekeliling. Benar, dia ada di kamar Zionathan.
" Oh, hehe. Maafkan aku tuan. Kenapa aku bisa tidur di sini?"
" Aku tidak tau kamarmu karena kau sangat berat jadi aku memutuskan membawa mu ke kamarku saja."
" Lalu, pakaianku?."
" Oh.., tadi aku menyuruh Cika untuk mengganti pakaian mu." Ucap Zionathan yang mundur satu langkah dari Briana.
" Se..sebaiknya aku kembali ke kamar."
Briana menjadi gugup, karena sedari tadi Zionathan terus menatapnya.
Briana membuka selimutnya dan mulai berdiri, ketika hendak melangkah. Kaki nya terjerat selimut membuat Briana jatuh ke arah Zionathan.
Karena Zionathan juga belum sigap, jadilah kedua nya terjatuh bersama dengan posisi Briana berada di atas Zionathan hingga bibir mereka bersentuhan.
Zionathan kembali merasakan dejavu. Tanpa sadar, ia ******* bibir Briana.
Briana menikmati ciuman itu, sungguh ia merindukan kehangatan Zionathan.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Briana segera bangun dari tubuh Zionathan mengingat ada janin di dalam perutnya.
" Mari saya bantu tuan.."
" Maaf.. maafkan saya tuan, saya tidak sengaja."
" Tidak apa apa, ngomong ngomong bibirmu manis." Kekeh Zionathan sambil memegangi bibirnya.
" Dasar tuan mesum."
Briana berlari dan keluar dari dalam kamar Zionathan.
Dibalik pintu Briana tersenyum dan berdoa Zionathan segera mendapatkan kembali ingatannya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1