CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Pernikahan...


__ADS_3

Beberapa hari berlalu....


Lidia kini sudah berhasil mendapatkan kembali hati anak anak, terkecuali Ethan .


" Mom.." Ucap Elo saat Briana datang menghampiri


" Sayang.., Elo sedang apa di sini?" Tanya Briana.


" Twins sedang pergi, jadi aku berada di sini." Ucap Elo.


" Kalau begitu, apa Elo keberatan jika momy yang menemani lulu di sini?" Ucap Briana .


Elo hanya mengangguk.


" Mom..."


" Iya sayang..?"


" Apa kita akan pergi setelah ini?" Tanya Elo.


" Apa maksud Elo?"


" Aunty jahat bilang, jika sebentar lagi kita harus pergi dari sini." Ucap Elo sedih.


" Benarkah?, kenapa dia mengatakan itu?"


" Karena sebentar lagi rumah ini adalah miliknya. Dan Elo tidak boleh lagi tinggal disini. Momy apa benar?, Lalu Elo akan tinggal dimana?"


" Sayang.. itu tidak akan terjadi. Jika itu terjadi. Momy pasti akan membawa Elo ke rumah baru. Kita akan membeli rumah sesuai yang Elo mau. Bagaimana?"


" Lalu bagaimana denganku?" Ucap Ethan yang tiba tiba muncul, entah dari mana.


" Ethan?"


" Momy sudah janji kan tidak akan meninggalkan aku?." Ucap Ethan dengan mata yang mulai berkaca kaca.


" Oh sayang, kemari lah." Ucap Briana.


Ethan berlari dan memeluk Briana, jadi lah mereka bertiga saling memeluk satu sama lain.


" Iya.. momy janji tidak akan meninggalkan Ethan." Ucap Briana sambil memeluk Ethan.


" Jika momy pergi, Ethan harus ikut."


" Ethan .."


" Momy.."


" Oke oke, momy kalah dan kau menang."


Mereka tersenyum, kemudian kembali berpelukan.


Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan?. Batin Briana .


" Uh uh uh... Ada apa ini?."


Sinis Lidia, yang melihat mereka sedang berpelukan.


" Bukan urusanmu." Ketus Briana.


" Tentu saja menjadi urusanku. Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya di rumah ini. Dan akan menjadi satu satu nya." Kekeh Lidia.


" Jangan mimpi. Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan apa yang kau inginkan?" Ancam Briana .


" Cih. Sudah kalah. Masih bersikap sombong pula." Ucap Lidia.


" Dan kau. Masih hidup rupa nya. Kenapa tidak go neraka saja." Lidia menatap Ethan .


" Aku tak kan membiarkanmu menyakiti nya lagi."


" Oh, really?, kenapa tidak kau bawa pergi saja anak sialan itu." Lidia menatap Ethan yang ketakutan.


" Cukup Lidia !!, Kau adalah ibu yang jahat. Kau mengaku ibu mereka. Tapi apa begini sikapmu?"


" Apa peduli ku. Bawa saja dia jika kau mau. Aku akan sangat berterima kasih." Ucap Lidia kemudian berlalu.


.....


Hari pernikahan Zionathan....


" Zionathan ..." Sapa Briana saat Zionathan hendak berganti pakaian.


" Ya.. ada apa Briana."


" Bisa kita bicara sebentar?"


" Tentu. Katakanlah."


" Zi. Aku mohon, jangan lakukan ini. Kita...kita..."


" Hai sayang..."


Belum selesai Briana meneruskan kata kata nya Lidia datang dan langsung memeluk Zionathan dan mencium bibir nya didepan Briana.


" Hai Briana.. Kau datang untuk menyaksikan pernikahan kami rupa nya." Ucap Lidia.


" Ayo sayang.. pemberkatan akan segera di mulai."


Lidia menggandeng Zionathan dan membawa nya ke ruang ganti.


Briana masih terdiam di sana. Masih berharap Zionathan yang akan keluar lebih dulu.


Hingga, beberapa saat kemudian...


" Bagaimana gaun ku. Indah bukan??." Lidia berpose layaknya model.


" Cih, kau mirip *** ***." Ejek Briana saat tahu bahwa Lidia memakai gaun pengantin yang menunjukkan seluruh lekuk tubuhnya..


" Hemm... hari ini adalah hari bahagia untukku jadi.. aku akan memaafkan apa yang kau ucapkan padaku."


" Ohya, jangan sekali kali berpikir untuk mengagalkan pernikahan kami. Atau, kau akan tau akibat nya."


Lidia masuk kembali dan meninggalkan Briana.


Hingga saat Briana kembali keluar dari ruang ganti, dia sudah mengandeng Zionathan dan siap menuju altar.


Briana hanya bisa terpaku melihat Zionathan yang di bawa pergi oleh Lidia.


. Bahkan walau Briana sudah menggelengkan kepala kepada Zionathan. Namun Pria itu tidak menghiraukan nya.


" Mam, bagaimana ini?, aku bahkan tidak bisa menemui Zionathan." Briana menangis dalam pelukan Elena.


" Kita akan pikirkan cara lain sayang. Kau tenang lah. Kami akan selalu bersama mu. Ingat, kau sedang hamil. Kau harus menjaga kesehatan." Elena menenangkan Briana.


" Ayo sebaiknya kita menghadiri pemberkatan nya sebelum Lidia berbuat sesuatu yang membahayakan Zionathan." Ajak Elena.


Pemberkatan dilakukan di gedung ternama hanya saja Lidia menginginkan konsep pernikahan outdoor.


" Mam, dimana anak anak?" Tanya Briana karena sedari tadi ia tidak melihatnya.


" Iya, kemana mereka Cikw."


" Aku pikir dia bersama kakak ipar. Karena sewaktu di ruang ganti. Mereka bilang akan menemui kakak ipar." Ujar Cika. Membuat Briana seketika menjadi panik.


" Mam, aku harus mencari mereka."


" Tapi acara nya akan segera di mulai."


" Mam, aku harus memastikan mereka baik baik saja."


" Tapi..."


Briana berlari menuju gedung yang tak jauh dari tempat acara pemberkatan.


Briana langsung menuju ruang ganti.

__ADS_1


Briana bertanya pada semua orang yang ada. Namun satu pun dari mereka, tidak ada yang melihat mereka.


Briana mulai frustasi. Seluruh gedung sudah ia cari.


" Aku harus mencari mereka kemana?" Ucap Briana..


Sementara pemberkatan akan segera di mulai. Lidia sudah sangat bahagia, karena rencana nya sebentar lagi akan berhasil. Menikahi Zionathan dan mengambil alih semua harta dan perusahaan milik Zionathan.


Briana mulai lelah, dia mencari ke segala penjuru gedung namun nihil, dia masih belum bisa menemukan anak anak.


" Apa ke dua mempelai sudah siap?." Tanya pendeta.


" Sudah." Jawap Lidia mantap.


" Bagaimana denganmu?"


Pendeta bertanya pada Zionathan. Namun Zionathan terlihat melamun.


" Sayang..," bisik Lidia. Zionathan masih tidak bergeming.


" Zionathan.!!" Bisik nya lagi, kali ini setengah berteriak.


" Ah ii..iya, ada apa?" Zionathan kelagapan.


" Saya bertanya, apa anda sudah siap?"


" Iy..ya. sudah"


Kenapa aku seperti pernah melakukan ini?, tapi bukan dengan Lidia. Melainkan dengan Briana. Dan kenapa aku sangat gelisah. Batin Zionathan.


" Baiklah, sekarang ikuti kata kata saya.." Ucap pendeta.


" Mam, dimana kakak ipar?" Cika mulai gelisah


" Mama juga tidak tau." Ucap Elena


" Apa aku menyusul saja?" Usul Cika.


" Ide bagus, cepatlah."


Cika mulai berlari menuju gedung yang tak jauh dari acara berlangsung.


Gedung semi permanen, yang dibangun hanya untuk keperluan pernikahan dan menyimpan segala yang diperlukan untuk pernikaahan dengan tema out door.


Juga tempat bagi para koki memasak hidangan untuk jamuan para tamu yang hadir.


" Ruangan apa ini?".


Briana menemukan satu ruangan yang seperti nya belum ia periksa.


" Halo, Elo?, Ethan ?. Twins??"


Briana mengintip dari jendela yang memang cukup tinggi. Jadi ia berpijak pada sesuatu yang bisa menjangkau nya menuju jendela.


" Anak anak??"


Ceklek Ceklek...


" Terkunci."


Dok


DoK


Dok


" Anak anak..." Teriak Briana.


Dilihatnya anak anak sedang tertidur.


Sungguh aneh bukan.


Mereka tertidur disini. Di dekat dapur.


Di sini juga terlalu berisik dengan suara dari dapur.


Briana segera mencari seseorang, agar bisa mendobrak pintu.


" Hai tuan, bisa membantu ku." Ucap Briana tergesah gesa


" Iya nona. Apa anda butuh kudapan? kue? jus? atau yang lain." Ucap pria yang memakai pakaian khas koki.


" Tidak tidak.., Aku ingin minta bantuan mu."


" Bantuan apa, tapi aku sedang sibuk nona."


" Aku mohon. Anak anak ku. Mereka terjebak di dalam ruangan."


" Dimana?"


" Disana, aku mohon."


" Baiklah ayo."


Setelah Briana menemukan orang yang dirasa bisa mendobrak pintu, mereka pun kembali ke tempat dimana anak anak tadi.


Brak..


Brak...


" Tidak bisa.." Ucap laki laki bertubur besar dan sedikit kekar.


" Coba lagi.. aku mohon." Ucap Briana.


"Minggir Lah." Perintah laki laki tadi kepada Briana.


Brak..


Brak...


Brak...


Pintu terbuka..


Briana segera berlari menuju anak anak nya.


" Sayang bangunlah."


Briana menepuk pipi mereka secara bergantian.


" Seperti nya mereka pingsan, tertidur. Atau semacam nya." Ucap laki laki tadi.


" Lalu bagaimana?"


" Kita harus membawa nya keluar. Setidaknya ke ruangan yang lebih baik kan."


" Ya kau benar."


" Momy.." Ethan terjaga.


" Hai sayang, kau baik baik saja?"


Ethan mengangguk.


" Apa yang terjadi denganmu dan adik adik mu?." Tanya Briana sambil memeluk Ethan .


" Dia.. dia memberi kami susu. Karena lelah, jadi kami tertidur." Terang Ethan.


" Ya sudah. Ayo kita keluar dari sini."


Tak lama kemudian...


Duar...!!!!


Suara ledakan berasal dari dapur.

__ADS_1


" Api api..." Suara teriakan dari arah dapur.


Bummmm....!!


Ledakan keras terjadi. Membuat api cepat membesar dan berkobar.


" Mom.." Ethan menatap Briana.


" Ayo kita bawa mereka cepat." Ucap laki laki tadi yang langsung meraih Elo dan menggendongnya.


" Baik."


Briana mengendong Tia di punggung nya dan mulai berjalan keluar menerobos kepulan asap yang sudah menyebar hampir ke seluruh penjuru gedung.


Sementara di altar pernikahan, Zionathan dan Lidia sudah selesai mengucapkan janji suci pernikahan.


" Dengan ini.. saya menyatakan ka..."


" Api .."


" Kebakaran.."


" Lihat, gedung nya terbakar."


" Kebakaran?"


Zionathan langsung menoleh ke arah gedung. Saat hendak pergi, Lidia mencekal lengan Zionathan.


" Zionathan, kau mau kemana?, pendeta cepat lanjutkan." Ketus Lidia


" Ta..tapi.." pendeta gugup karena api cepat membesar.


" Ma.., kakak ipar masih ada disana. Aku.. aku tidak bisa menemukan nya." Ucap Cika.


" Zionathan.. Briana dan anak anak ada di sana." Teriak Elena pada Zionathan .


Zionathan kembali merasakan dejavu. Seketika ingatanya berputar cepat.


Kebakaran ini, mengingatkan nya pada kecelakaan yang menimpa keluarga Briana.


" Briana ...."


Zionathan berteriak dan langsung berlari menuju gedung.


" Zionathan... Ah sial." Pekik Lidia


Sementara di dalam gedung.


" Ayo cepat.." Ucap laki laki tadi.


" Iya..iya.."


Briana mulai sempoyongan karena asap yang semakin tebal.


" Itu jalur evakuasi.."


" Tunggu.." Ucap Briana.


" Ada apa...?"


" Kita melupakan satu anak lagi."


Briana baru sadar, jika Lia masih tertinggal disana.


" Sebaiknya kita keluar dulu, lalu kita akan mengambil yang satu lagi."


" Tidak tidak...."


" Momy, uhuk uhuk.. ada apa?"


Tia terbangun, Briana langsung menurunkan nya.


" Sayang, kau pergilah bersama paman ini dan kak Ethan oke." Ucap Briana pada Tia.


" No..." Tia mulai menangis


" Sayang, dengar. Paman ini adalah teman momy. Jadi kalian akan baik baik saja. Momy akan membawa Lia. Dan secepat nya menemui kalian. oke" Briana mencium pipi Tia.


" Baiklah."


Tia memeluk Briana, begitu juga Ethan .


Siapa wanita ini?, kenapa aku jadi tertarik ingin mengetahui semua tentang dia. Batin laki laki tadi.


" Momy harus segera kembali." Ucap Ethan.


" Sekarang pergilah. Go go go.."


Briana kemudian segera berlari kembali menuju ruang dimana anak anak tadi berada.


Sesampai nya disana. Briana melihat Lia terbangun dan menangis.


" Momy.." Lia berlari begitu melihat Briana.


" Sayang.." Memeluk Lia.


" Mom.. aku takut."


" Tenanglah, momy akan membawa Lia keluar dari sini oke."


Api dengan cepat menghanguskan properti yang ada di sana.


Termasuk menutup akses Briana untuk keluar dari ruangan itu.


" Mom.. Apa kita terjebak?"


" Tidak sayang.."


Briana terlihat berpikir. Lalu dia melihat ventilasi udara dari kayu dengan ukiran indah.


Tanpa pikir panjang Briana mencari apa apa saja yang bisa ia temukan untuk mendobrak ventilasi itu hingga ventilasinya terbuka.


" Seperti nya itu cukup."


" Sayang.. kemari lah ayo."


Briana mengintruksi kan kepada Lia agar dia naik ke atas pundak Briana dan melompat keluar supaya dia bisa mencari bala bantuan.


" Momy.. aku takut."


" Dengar, Lia adalah anak yang kuat. Kau bisa melakukan nya. Sekarang Lia harus keluar dari sana. Seperti yang biasa Lia lakukan saat olahraga. Lalu secepatnya mencari dady atau siapapun yang ada di luar sana. Dan meminta bantuan. Oke?."


" Tapi.."


" Sudah.. uhuk uhuk.. cepet sayang."


" Aku.. akan segera kembali mom."


Briana sedikt menanjak tembok dan bergelantung untuk melihat melalui ventilasi udara guna memastikan Lia baik baik saja.


" Uhuk..uhuk.. asap nya semakin tebal. Aku harus bisa keluar dari sini"


Briana berupaya menyingkirkan kayu besar yang menghalangi pintu masuk dengan cara mendorong pintu sekuat mungkin.


Namun apalah daya, tenaga Briana sudah terkuras habis.


Dan dia kini menjadi sangat lemah.


Brug...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2