CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Ternyata itu..


__ADS_3

Lidia tersadar, dan merasakan tubuhnya remuk.


Sekuat sisa tenaga yang ada, Lidia berusaha meraih ponselnya. Mencoba menghubungi Zionathan .


Drttt... Drrrtt...Drttt


Ponsel Zionathan berdering, karena Zionathan sedang mengemudi, jadilah Briana mengambil ponsel Zionathan, yang di charger.


"Lidia."


Briana menunjukan layar ponsel nya kepada Zionathan.


"Biarkan saja."


"Bagaimana jika penting."


Zionathan menggeleng.


Satu panggilan..


Dua panggilan..


Hingga panggilan ke lima dari Lidia.


"Zi, angkat. Siapa tahu penting."


Zionathan binggung, bagaimana jika Lidia mengatakan hal romantis. Atau, bagaimana jika memang terjadi sesuatu pada Lidia. Mengingat Lidia tidak pernah menelpon nya hingga berulang kali.


"Berhentilah sebentar. Dan angkat telpon nya." Perintah Briana.


Zionathan akhirnya menepi kan mobilnya. Dan melihat pada layar ponselnya.


Lidia sudah menelpon nya sebanyak sepuluh kali.


Atas desakan Briana, akhirnya Zionathan balik menghubungi Lidia.


"Ya Lidia?, maaf tadi aku sedang menyetir."


" Zio..nathan.. To..long a..aku." Suara Lidia terbata.


"Lidia, kau baik baik saja?"


Tut tut tut tut tut tut...


Tidak ada jawaban. Zionathan mulai panik, ponsel Lidya tiba-tiba mati.


"Zi, kenapa?". Tanya Briana yang melihat perubahan wajah Zionathan.


" Tidak ada apa apa."


"Zionathan.."


"Lidia terdengar tidak sedang baik baik saja. Dia minta tolong. Dan belum sempat aku bertanya, panggilan nya terputus."


"Kalau begitu, kenapa kita tidak ke sana saja." Ucap Briana.


Zionathan terdiam.


Bagaimana jika ini hanya modus Lidia?, tapi bagaimana jika Lidia memang butuh bantuan?. Batin Zionathan berperang.


"Zionathan, ayo. Kenapa diam?"


"Ah iya iya.."


Zionathan segera memutar balik kendaraan nya, dan pergi ke apartemen Lidia.


"Kau tau alamat rumah Lidia?"


"Ya, aku sering datang mengantar nya, atau sekedar bermain kesana"


Zionathan tanpa sadar mengatakannya, membuat Briana yakin, bahwa mereka sudah melakukan hal yang lebih daripada sebuah kencan.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam.


Zionathan yang masih belum sadar, sudah membongkar kartu nya sendiri, memilih diam dan terus membayangkan apa yang terjadi dengan Lidia.


Sedangkan Briana, terdiam karena ingin tau lagi, sejauh mana hubungan mereka.


Sesampai nya di apartemen...


Zionathan langsung turun, dan berjalan menuju lift. Dia lupa jika dia sedang bersama Briana.


"Mari kita lihat, seberapa besar cintamu padanya ken. Kau bahkan langsung melupakan aku begitu Lidia menelpon mu." Gumam Briana.


Briana kemudian segera menyusul Zionathan.


Brak !!


Zionathan langsung membuka pintu, dan berlari menuju kamar.


Briana masuk, di lihatnya apartemen Lidia berantakan dan tak beraturan.


Dengan hati hati, Briana melangkah menuju kamar dimana Lidia mungkin berada.


"Lidia..."Teriak Zionathan. Lidia berusaha membuka mata.


"Zio... to..long... "


"Siapa yang melakukan ini padamu?"


" Al....ex.."


"Bertahanlah, aku akan membawa mu ke rumah sakit."


Lidia kembali tak sadarkan diri.


"Astaga, apa yang terjadi Zi?"


Briana terkejut, saat masuk ke dalam kamar, dan mendapati Lidia telanjang dengan tubuh memar dan ada darah dimana mana.


"Cepat panggil ambulans." Perintah Zionathan, yang memeluk Lidia dan berusaha menyadarkan Lidia.


"Katakan apa yang terjadi, bagaimana dia bisa begini. Dan kenapa apartemen nya berantakan?"


"Jangan banyak tanya. Cepat panggil ambulan."


Briana mengambil ponsel dan menghubungi ambulans.


"Ambulans akan tiba dalam lima menit." Ucap Briana pada Zionathan.


"Apa yang kau lakukan?" Bentak Zionathan saat melihat Briana menutupi tubuh Lidia.


"Aku hanya akan menutupi tubuhnya. Apa kau akan membiarkan petugas melihat tubuh telanjang nya. Dan kenapa kau membentakku Zi."


"Pergilah. Biar aku yang melakukan nya." Ketus Zionathan.


Zionathan masih belum sadar jika Briana yang ada disana.


"Kenapa mereka sangat lama?" Teriak Zionathan.


"Mana ku tau, kenapa kamu sangat marah Zi?" Briana mulai emosi.


"Kau tidak lihat, dia sedang terluka."

__ADS_1


"Jika kau begitu mengkhawatirkan nya, kenapa tidak kau bawa saja dia ke rumah sakit." Kesal Briana.


Tanpa pikir panjang, Zionathan langsung mengangkat tubuh Lidia yang sudah di balut selimut.


"Zi, bagimana denganku?" Teriak Briana.


"Kau bisa pulang sendiri. Keselamatan Lidia lebih penting." Ketus Zionathan.


Zionathan langsung membawa Lidia turun, dan berjalan menuju mobil, meninggalkan Briana seorang diri.


Briana segera menyusul Zionathan turun ke bawah. Saat mereke tiba di bawah, mobil ambulans juga sampai.


"Bawa mobilku, aku akan ikut ambulans bersama Lidia."


Zionathan melempar kunci kepada Brianna.


"Zi? kau yakin aku menyetir dalam keadaan begini?"


"Ayolah, jangan manja. Biasanya juga kau pergi sendiri. Keselamatan Lidia lebih penting sekarang. Atau kau bisa naik taksi."


"Tapi Zi..."


Belum selesai Briana berbicara, ambulans sudah berangkat.


"Pulang atau ke rumah sakit?" Pikir Briana .


"Lebih baik aku pulang."


Ketika Briana hendak masuk ke dalam mobil.


Sebuah mobil lain berhenti tepat didepan mobil Zionathan.


"Briana."


Sapa pria yang barusaja turun dari mobil.


"Johan?"


"Hei.. Sedang apa kau di apartemen Lidia?"


"Kau tau, ah tentu saja kau tau." Sinis Briana .


"Bisakah kau jawap saja?"


"Lidia menelpon suamiku."


"Zionathan?"


"Ya."


"Kenapa Zionathan bisa kenal Lidia?"


"Karena Lidia adalah mantan istri Zionathan. Dan sekarang, menjadi selingkuhan Zionathan."


"Astaga. Maafkan aku, aku tidak berniat..."


"Sudah tidak apa apa, kau sedang apa disini?"


Briana memotong perkataan Johan.


"Aku kebetulan lewat sini. Dan melihatmu akan mengemudi sendiri. Apa tidak berbahaya?, mengingat perutmu yang sudah besar."


Ya ya, aku tau. Hanya saja, aku harus segera pulang. Anak anak pasti menungguku."


Briana hendak masuk ke dalam mobil. Karena perutnya yang sangat besar. Membuatnya binggung posisi yang pas untuk bisa masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Biarkan aku mengantarmu pulang." Tawar Johan.


"Jangan sungkan begitu. Aku memang akan menemui Elo setelah ini. Lihatlah, aku sudah membelikan beberapa mainan untuknya. Dan untuk anak anakmu yang lain juga."


Johan membuka bagasi nya, disitu banyak sekali jenis mainan untuk anak laki laki dan perempuan.


"Johan, itu tidak perlu."


"Kenapa?, aku hanya ingin memanjakan anakku. Hal yang tidak pernah bisa aku lakukan dulu. Jadi, berikan kunci mobilmu. Biar aku yang menyetir."


"Bagaimana dengan mobilmu?"


"Aku dengan sopir. Ayo."


Joha sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Karena tidak ada pilihan lain, Briana pun memilih masuk dan duduk di kursi belakang.


Hening.


Sepanjang perjalanan mereka terdiam. Hingga sampailah mereka di mansion Zionathan.


"Bolehkah aku bertemu Elo?"


"Tentu, masuklah. Akan ku panggilkan dia."


Briana segera masuk dan ingin memanggil Elo. Tak lupa ia mengatakan pada pelayan untuk membuatkan minuman.


"Hai ayah..." Teriak Elo yang langsung berlari memeluk Johan.


"Hai Boy.."


"Ini kejutan yang menyenangkan, ayah datang mengunjungi Elo."


"Tentu saja. Dan ayah membawakan Ayo mainan. Ayo kita lihat." Ajak Johan.


" lWah, banyak sekali."


"Ini untuk Elo dan saudara Elo yang lain. Elo boleh memanggil mereka."


"Baiklah..."


Elo pergi dan kembali bersama twins dan Ethan.


Setelah mereka membawa mainan masuk ke dalam. Johan pamit undur diri.


"Terima kasih sudah mengantarkan ku, dan memberikan mainan untuk anak anak." Ucap Briana.


"Sama sama. Kalau begitu aku permisi."


Saat Briana hendak berdiri dan mengantar Johan, kaki nya terkilir hingga Briana hilang keseimbangan.


Dengan gerakan cepat, Johan langsung menangkap tubuh Briana .


"Hati hati. Kalau kau jatuh, akan sangat berbahaya."


" lMaaf.. Ah..."


Briana mencoba berdiri namun tak bisa, perut nya mendadak kram.


"Bibik... Pak satpam.. tolong." Teriak Johan.


Tak lama kemudian dua orang satpam dan beberapa pelayan datang.


"Tuan, nyonya kenapa?" Tanya salah satu pelayan.


"Tidak apa apa bik. Hanya terkilir, dan perut saya sedikit kram." Ucap Briana.


"Ayo kita mengangkatnya ke kamar." Ucap Johan.

__ADS_1


"Akan saya ambilkan tandu lipat tuan.." Ucap satpam.


"Tolong hubungi Kimi, Johan."


"Siapa Kimi?" Tanya Johan.


"Dokterku."


"Baiklah."


Johan mengambil ponsel yang diberikan Briana. Kemudian segera menghubungi Kimi.


"Dia akan segera datang."


"Teri..ma kasih."


Terlihat satpam berlari membawa tandu lipat.


"Cepatlah." Teriak Johan, saat melihat Briana kesakitan


Dengan hati hati. Johan dibantu 3


tiga orang satpam, dan di ikuti beberapa pelayan, membawa Briana menuju kamarnya.


"Terima kasih." Ucap Briana pada semua.


" Saya permisi, tuan, nyonya.." Pamit satpam.


"Saya akan bawakan minuman dan makanan untuk nyonya." Ucap pelayan.


"Sebaiknya aku pergi, sebelum Zionathan datang. Dan salah paham terhadap kita." Ucap Johan.


"Sekali lagi terima kasih."


"Sama sama."


"Bik. Tolong jaga nyonya." Ucap Johan pada pelayan yang akan masuk membawa makanan.


Saat Johan baru saja masuk kedalam mobil. Zionathan datang menaiki taksi.


Melihat ada laki laki asing ada di mansion nya. Membuat emosi nya mendidih.


Kejadian yang menimpa Lidia, benar benar membuat emosi Zionathan tak dapat terkontrol, dan pikiran nya kalang kabut. Saat ini yang ada di pikiran nya hanya Lidia.


Brak !!!


Zionathan membuka paksa pintu kamar. Briana dan para pelayan yang ada disana menjadi terkejut.


"Kalian boleh keluar." Perintah Zionathan pada para pelayan.


"Siapa dia?" Ketus Zionathan.


"Apa maksudmu?"


"AKU TANYA SIAPA DIA?" Zionathan dengan nada tinggi.


"Dia siapa?" Briana menahan sakit di perutnya.


"Laki laki yang baru saja keluar dari mansion ini?"


"Dia adalah Johan, ayah Elo. Dan dia yang mengantarku pulang. Dia kasihan padaku, tidak seperti mu. Yang memilih meninggalkan wanita hamil."


"Dengar, aku tidak ingin berdebat denganmu."


"Aku juga tidak ingin berdebat denganmu Zionathan. Kenapa kau menjadi sangat emosional." Briana dengan nada tinggi.


"Tentu saja aku sangat emosional. Karena wanita yang aku cintai sedang kritis di rumah sakit." Teriak Zionathan, juga dengan nada tinggi.


"Apa kata mu?, wanita yang kau cintai" Sinis Briana.


"Ya. Asal kau tau, dia jauh lebih baik daripada dirimu. Dia mampu menuntaskan hasrat ku. Dan kau, belum sehari aku meninggalkanmu. Kau sudah berani memasukan laki laki ke mansion ini?!!" Zionathan mulai emosi.


"Sadarlah Zi. Ini bukan dirimu."


"Sekarang katakan. Ada hubungan apa kau dengannya?" Zionathan dengan nada tinggi.


"Aku tidak ada hubungan apa apa. Dia hanya membantuku, saat aku merasakan kram."


"Baiklah. Kali ini aku percaya padamu." Ucap Zionathan, kemudian mengambil beberapa pakaian.


"Kau mau kemana?"


"Lidia seperti nya akan lama di rumah sakit. Jadi aku akan menemani nya."


"Zi. Sebenarnya istrimu ini aku atau Lidia?, kenapa kau begitu peduli pada nya?, kau bahkan tidak bertanya apa yang menyebabkan perutku kram." Ketus Briana.


"Jadi sekarang Lidia lebih penting daripada aku?" Imbuh Briana.


"Tentu saja Lidia lebih penting. Kau tidak ada apa apa nya jika di bandingkan dengan Lidia."


Plak !!!


Briana menampar Zionathan.


"Kau sudah mulai berani hah?, apa bajing an tadi yang mengajari mu?"


"Cukup Zi.. Dia Johan, kami tidak ada hubungan apa apa."


"Tidak ada hubungan apa apa katamu, mana tau jika kau dan dia sudah selingkuh. Atau jangan jangan anak ini juga anaknya."


Plak !!


Sekali lagi, Briana menampar Zionathan.


"Sekali lagi aku tegaskan, kau mencintai aku atau Lidia?"


"Lidia."


"Jika kau mencintai Lidia, kenapa tidak menikah saja dengannya. Kenapa tidak kau bawa saja dia tinggal di sini." Teriak Briana.


"Aku sudah pasti membawa nya, jika aku tidak..."


"Tidak apa?"


"Sudahlah, tidak perlu di bahas."


" KATAKAN ZIONATHAN " Teriak Briana


"AKU PASTI AKAN MEMBAWA NYA JIKA AKU TIDAK TERIKAT JANJI UNTUK SELALU MENJAGA DAN MELINDUNGI MU. SEWAKTU IBUMU MASIH HIDUP." Puas kau." Zionathan dengan nada sangat tinggi.


"Jadi karena itu?" Lirih Briana.


"Ya!!"


Zionathan kemudian pergi meninggalkan Briana yang mulai menangis.


Ternyata itu alasan nya..


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2