
Hujan semakin deras, hal itu menimbulkan rasa khawatir Briana pada Zionathan.
Briana sangat gelisah, karena Zionathan tak kunjung datang walaupun hari sudah mulai larut malam.
"Momy.. momy kenapa?" Tanya Ethan.
"Tidak apa apa sayang. Momy hanya mengkhawatirkan dady. Sudah malam, diluar hujan deras. Apa dady baik baik saja." Ucap Briana.
"Sudah coba momy telepon?"
"Sudah sayang. Nomornya tidak aktif. Itulah kenapa momy jadi khawatir."
"Kenapa tidak menelpon paman Han saja." Celoteh Ethan.
"ya ya. Kenapa momy tidak kepikiran."
Briana segera menghubungi Han, untuk menanyakan perihal Zionathan. Namun Han yang tidak mengetahuinya, membuat Briana semakin risau.
"Sebenernya kemana dirimu Zi.." Lirih Briana.
"Mom.." Panggil Ethan.
"Ya sayang.."
"Apa dady bersama paman Han?"
"Iya. Ternyata dady bersama paman Han. Dan hp nya lowbat. Jadi dady tidak bisa menghubungi momy." Ucap Briana bohong.
"Benar kah. Momy saja terlalu khawatir."
"Iya iya. Ya sudah, ayo sebaiknya kita beristirahat.."
Briana mengantar Ethan ke kamar nya, dan memastikan semua anak anak sudah tidur.
Sementara di tempat tidur yang lain...
"Astaga apa yang sudah aku lakukan. Pukul berapa ini?."
Zionathan terkejut saat mendapati dirinya dan Lidia, tanpa sehelai benang pun.
Zionathan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ak..aku sudah menodai pernikahan ku dengan melodi." Ucap Zionathan, di bawah hangatnya air shower.
Saat Zionathan tengah membilas tubuhnya, sepasang tangan memeluknya dari belakang.
"Kau disini rupa nya.." Ucap Lidia.
"Hentikan Lidia. Kita sudah melewati batas."
"Kenapa?, bukankah kau juga menyukai nya. Kau bahkan menikmati permainan kita." Ucap Lidia.
"Apa kau ingin lagi.." Lidia memainkan sesuatu yang membuat Zionathan merinding.
"Stop Lidia." Zionathan menghempaskan kasar tangan Lidia, hingga ia terjatuh.
"Zio.. Kau mau kemana?" Teriak Lidia, saat Zionathan mengambil handuk dan keluar dari kamar mandi.
"Sial." Gerutu Lidia.
Saat Lidia sudah berganti pakaian, dia lihatnya Zionathan sudah hilang dari kamarnya. Dia melupakan pakaian yang ia kenakan sebelum nya, dan pulang dengan pakaian yang di berikan Lidia.
..
02.00 dini hari...
Ceklek...
Dengan sangat hati hati, Zionathan membuka pintu kamar.
"Darimana?" Ketus Briana mengejutkan Zionathan.
"Sayang.. Kau mengagetkan ku." Ucap Zionathan.
"Darimana? dan baju siapa ini? kenapa ponsel mu tidak dapat di hubungi?"
"Itu.., tadi aku dan Han terjebak hujan. Jadi aku tidur di rumah Han. Dan ini adalah pakaian nya." Ucap Zionathan.
"Hmm, ya sudah. Sebaiknya kau tidur. Kau pasti lelah kan." Ucap Briana.
"Kau tidak marah?" Tanya Zionathan.
"Tentu saja tidak." Briana tersenyum.
"Kau tidurlah dulu. Aku akan ganti pakaian. Pakaian ini terasa sesak." Ucap Zionathan sambil pergi ke ruang ganti.
"Kenapa kau berbohong Zi?, baru tadi kau berjanji akan berbagi semua nya dengan ku. Dan sekarang kau mengingkari nya. Aku harus mencari tahu sendiri." Guma Briana.
...----------------...
Hari demi hari, minggu ke minggu, di lalui Zionathan dengan rasa gundah dan gelisah.
Disisi lain ada Briana, istri nya. Disisi lain ada Lidia, yang begitu sempurna dalam memuaskan nafsu Zionathan yang tinggi.
Setiap hari bayangan Lidia di atas ranjang selalu menghantui pikiran Zionathan.
Kehamilan Briana membuat hubungan ranjang mereka tidak sepanas dulu
Sedangkan Zionathan selalu menginginkan hal lebih jika menyangkut hasratnya.
Itulah kenapa Zionathan, selalu merindukan Lidia.
Ya. Lidia sudah menjadi candu nya sekarang.
Ting..
Tong...
"Bi seperti nya ada tamu.." Ucap Briana kepada seorang pelayan yang lewat.
"Nyonya.., Ada yang ingin bertemu nyonya." pelayan lain datang dari arah pintu.
Briana menoleh, dan dia cukup terkejut melihat Lidia datang.
"Masih punya nyali kau datang kesini?" Ketus Briana.
"Santai. Aku kesini hanya mengantarkan ini."
Lidia menyerahkan paper bag pada Briana
Briana membuka nya, dan betapa terkejutnya dia, saat mengetahui isi dari paper bag tersebut adalah pakaian Zionathan.
"Kenapa ini a..."
Belum selesai Briana berbicara, Lidia sudah hilang dari pandangan nya.
"Aku harus segera mencari tahu."
..
Di apartemen, Lidia masuk dengan senyum mengambang di bibirnya. Saat dia hendak masuk, pintu nya tidak lagi terkunci.
"Alex." Gumam Lidia.
"Hai sayang. Darimana saja kau?, aku merindukan mu." Ucap Alex yang langsung menyerang Lidia.
"Aku baru saja memberi Briana kejutan." Ucap Lidia.
"Apa itu?"
"Aku memberi nya pakaian Zionathan yang selalu tertinggal disini." Ucap Lidia.
"Lalu?"
Alex tidak menangkap arah pembicaraan Lidia. Karena dia sibuk menjelajah tubuh Lidia.
"Zionathan sudah terbuai dengan sentuhan ku. Jadi aku akan dengan mudah menghancurkan rumah tangganya. Dan mendapatkan kembali Zionathan."
"Ya ya. Tapi ingat, kau hanya akan melayaniku. Bukan Zionathan. Tubuhmu adalah milik ku." Ucap Alex.
"Tentu saja." Ucap Lidia sambil mulai membalas sentuhan Alex.
__ADS_1
"Aku merindukan permainanmu. Ayo kita ke kamar." Bisik Lidia.
Alex membopong tubuh Lidia.
"Kau yang memimpin permainan, oke." Ucap Lidia sambil meninggalkan semua pakaian nya.
"Oke. Bersiaplah merasakan sesuatu yang sangat indah."
...----------------...
" Tuan..."
" Informasi apa yang kau dapatkan?"
"Ibu Briana meninggal sekitar dua tahun lalu. Dan sekarang, seperti nya sang suami menduakan nya."
"Kurang ajar. Apa Briana mengetahui nya?"
"Aku rasa belum tuan. Mengingat nona Briana masih tinggal di mansion itu."
"Hmm, pantau terus Briana dan suami nya. Jika terjadi sesuatu. Segera hubungi aku.
"Baik tuan.."
...----------------...
Hari berikutnya...
"Mom.. kapan kita akan jalan jalan." Ucap Elo.
"Sabar ya sayang. Nanti momy akan bicara dengan dady."
"Momy janji."
" ya sayang."
Briana mencium kening Elo.
Drrrttt drttt..
Ponsel Briana berdering.
"Halo Kimi.."
"---"
"
Astaga aku lupa. Maafkan aku."
" -----"
"Baiklah aku segera kesana." Briana menutup panggilan.
"Elo, bermainlah dengan twins, momy harus pergi sebentar."
"Momy mau kemana?"
"Memeriksakan adik Elo. Memastikan bahwa mereka baik baik saja. Elo tidak keberatan ada dirumah bersama pelayan kan"
"Tidak mom, momy hati hati ya."
"Anak pintar..."
Briana berjalan ke kamar, dia menelpon Zionathan, dan berharap dia bisa mengantarnya ke klinik Kimi.
Satu panggilan
Tiga panggilan
Sepuluh panggilan,
Tidak ada respon. Akhirnya Briana memutuskan berangkat sendiri dengan mobil.
"Kau ini bagaimana. Sudah ku bilang jangan telat jika sudah waktu check up. Kau ini hamil anak kembar. Tidak bisa di samakan ketika hamil anak satu." Omel Kimi.
"Iya iya maaf."
"Iya, sekali lagi maafkan aku."
"Ya sudah. Ngomong ngomong kemana Zionathan?, biasanya dia yang mengantarkan mu."
"Entahlah. Mungkin dia sibuk."
"Jadi, kau kesini diantar supir?"
"Tidak."
"Naik taxi?"
"Tidak"
"Lalu??"
"Menyetir sendiri."
"APPA?!, kau sudah gila ya?"
"Kimi, jangan lebai deh. Kandunganku kan baru enam bulan. Dan aku baik baik saja. Sungguh, aku pergi yaa. Bye"
"Hei kau.." Teriak Kimi, namun Briana sudah melangkah keluar dari ruangan Kimi.
"Seandainya bukan temanku. Sudah ku hajar dia." Celoteh Kimi seorang diri.
Saat mobil Briana berhenti di lampu merah, dia tidak sengaja melihat mobil Zionathan.
"Mau kemana dia?"
Briana mengambil ponselnya..
"Hai sayang..." Suara Zionathan.
"Lagi dimana sayang" Tanya Briana
"Di kantor, kenapa?"
"Lagi sibuk ya?."
"Iya sayang. Hari ini banyak kerjaan."
"Ya udah kalau gitu. Padahal aku ingin mengajakmu melakukan check up."
"Aduh, aku lupa. Maafkan aku ya. Ohya Briana, udah dulu ya.. Aku akan mulai meeting. Bye. I love you."
Zionathan mematikan sambungan telepon nya. Briana melihat mobil Zionathan memasuki area parkir di salah satu mall.
Mobil Zionathan terparkir. Briana segera mencari tempat parkir yang cukup jauh, namun masih dapat melihat gerak gerik Zionathan.
"Lidia?!!"
Briana meremas kemudi nya, saat Lidia datang dan melakukan ciuman dengan Zionathan, sebelum masuk ke dalam mobil.
"Apa yang mereka lakukan?. Kenapa mereka tidak pergi?." Gumam Briana.
Karena rasa penasaran nya. Briana memilih berjalan mengendap endap menuju mobil Zionathan.
Yang terjadi di dalam mobil...
"Sayang.. aku merindukanmu." Ucap Lidia dengan nada manja.
"Aku juga merindukanmu." Ucap Zionathan
"Apa yang kau rindu dariku."
Lidia menyentuh bidang dada Zionathan dan bermain main di sana.
"Semua nya..." Ucap Zionathan.
"Benarkah?, kau ingin melakukan nya di sini?." Bisik Lidia.
"Kau sudah gila ya, bagaimana jika ada yang melihat."
"Kalau begitu, biarkan aku memuaskan mu. Nanti giliran kau yang harus memuaskan ku. Bagaimana??"
__ADS_1
"Coba saja. Apa kau bisa memuaskan ku disini." Tantang Zionathan.
Lidia yang sudah mengetahui apa yang paling disukai Zionathan, langsung menunduk. Melonggarkan sangkar yang berisi pusaka Zionathan.
Lidia mulai bermain main disana. Menciptakan sensasi luar biasa yang tak pernah Zionathan rasakan.
"Ck. Sedang apa mereka di sana." Kesal Briana yang tidak bisa melihat apapun dari jarak jauh.
Saat Briana mulai berjalan mendekati mobil Zionathan.
Seseorang mengejutkan nya..
"Briana..."
Briana berbalik.
"Johan??."
"Johan.., kau benar Johan??" Ucap pria yang tak lain adalah Johan.
"Johan?, sedang apa kau di sini?" Ucap Briana
"Aku.. aku bekerja disini. Manajer mall ini."
"Ohh.."
"Kau sedang apa?" Tanya Johan
Briana kemudian melihat mobil Zionathan berjalan keluar mall.
"A..aku harus pergi." Ucap Briana. Dia tidak ingin kehilangan jejak mobil Zionathan.
"Briana tunggu."
Briana menoleh.
"Ada apa ?"
"Aku ingin minta maaf."
"Untuk?"
"Untuk semua nya. Setelah keluargaku mengusirku. Aku jadi sadar, betapa bodohnya aku dulu yang meninggalkanmu demi seorang wanita licik. Dan maafkan juga atas perlakuan keluargaku padamu dulu."
"Ya ya ya.. Sudah selesai kan. Kalau begitu aku pergi."
"Briana tunggu."
"Ada apa lagi?"
"Bolehkan aku bertemu dengan Elo."
Deg.
Briana menatap tajam Johan.
"Drama apa lagi yang kau ciptakan Johan?" Ketus Briana.
"Tidak ada drama. Aku bersungguh sungguh ingin bertemu Elo. Aku tahu, aku banyak salah padamu dan juga Elo. Terutama sikap kasarku saat terakhir kita bertemu. Aku sungguh minta maaf. Aku ingin menebus kesalahan ku." Ucap Johan dengan wajah tertunduk.
"Tolong. Beri aku kesempatan untuk bertemu dengan anakku, Briana. Aku mohon." Imbuh Johan, sambil berlutut di hadapan Briana .
"Johan. Apa yang kau lakukan. Bangun."
"Aku tidak akan bangun sebelum kau memaafkan aku, dan mengijinkan aku untuk bertemu Elo."
"Astaga Johan. Sebenarnya ada apa ini?"
"Aku hanya ingin bertemu dengan anakku. Aku mohon.."
"Baiklah baiklah. Minggu depan temui kami di taman bermain. Aku sudah berjanji pada Elo akan mengajak nya ke sana." Ucap Briana terpaksa. Agar dia bisa segera menjauh dari adam.
"Benarkah, kau tidak membohongiku kan?" Ucap Johan dengan mata berbinar.
"Iya"
"Terima kasih Briana." Johan hendak memegang tangan Briana.
"Tidak perlu bersikap berlebihan, Johan. Ya sudah aku pergi dulu."
Briana bergegas meninggalkan Johan.
Kenapa aku harus bertemu Johan sekarang?, aku jadi kehilangan Zionathan. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Batin Briana .
Di apartemen Lidia..
Zionathan langsung mengendong Lidia ala koala, berjalan masuk ke dalam apartemen sambil saling melahap bibir.
Brak !!
Zionathan menendang pintu, tanpa melepaskan bibirnya. Rupa nya hasrat kedua nya sudah tak tertahankan.
Zionathan merobek gaun Lidia, sambil terus menempelkan bibirnya.
"Aku suka gaya mu." Bisik Lidia, saat Zionathan mulai menyerangnya secara brutal.
"Kau pikir, hanya kau yang bisa bermain keren. Aku juga bisa sayang." Ucap Zionathan.
"Yeah.. Lanjutkan baby.. I like it."
Zionathan mulai bergulat dengan Lidia. Dia sungguh sungguh sangat brutal. Dia sangat berambisi. Lidia juga merasakan permainan Zionathan begitu kasar dan liar, namun Lidia menyukainya. Zionathan seperti menjadikan Lidia ratu. Memberikan Lidia sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari Alex.
Satu jam berlalu. Permainan mereka berakhir. Kedua nya sama sama merebahkan diri di atas sofa.
"Terima kasih sayang. Kau membuatku terbuai." Bisik Lidia.
"Asal kau bisa membuatku puas, aku juga bisa memuaskan mu."
..
Briana pulang dengan kekecewaan. Dia kehilangan Zionathan.
"Apa aku harus minta bantuan Lala?" Guma Briana
"Ah tidak tidak. Aku harus mencari tahu sendiri."
Briana berjalan menuju kamar nya. Briana memilih tidur dan melepaskan rasa kesalnya sejenak.
Sedangkan di tempat lain...
"Tuan.."
"Apa yang kau dapat hari ini?"
"Briana mengikuti suami nya. Namun dia kehilangan jejak karena dia bertemu dengan mantan suaminya."
"Mantan suami Briana?"
"Benar tuan, sebelum nya Briana menikah dengan laki laki bernama Johan. Dan memiliki satu orang putra bernama Elo. Ini foto nya."
Menyerahkan foto Elo dan beberapa dokumen lain nya.
"Jadi anak ini adalah anak Briana dan Johan?, bukan dengan Zionathan?."
"Bukan tuan. Briana dulu nya adalah baby sister anak anak Zionathan. Tak lama setelah Briana kehilangan ibu nya, dalam sebuah kebakaran. Zionathan meresmikan hubungan mereka."
"Jadi ibu Briana sudah meninggal?" Pria tadi begitu terkejut.
"Benar tuan."
"Lalu, dimana makam nya?"
"Desa XXX kota XXX tuan."
"Jadwalkan keberangkatan ku kesana."
"Baik tuan.."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1