CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Sosok Misterius..


__ADS_3

"Terima kasih karena sudah mau meluangkan waktu untuk menemaniku jalan-jalan." Ucap Briana saat sudah sampai di mansion.


"Briana .. are you ok ?"


"Yes, I'm. Memangnya aku kenapa? Aku masuk dulu ya, bye Lala.."


"Bye.." Ucap Lala lesu.


Lala melajukan mobilnya meninggalkan mansion.


Tak lama kemudian, mobil Zionathan datang. Zionathan segera berlari memasuki rumah.


Brak !!


"Astaga Zionathan. Kau ini kenapa?" Tegur Elena saat Zionathan membuka pintu dengan kasar.


"Ma. Dimana Briana." Tanya Zionathan.


"Di kamar nya. Ada apa?"


Zionathan langsung meninggalkan Elena, dan berlari menuju kamar.


Ceklek...


"Briana..."


"Ya?, kau sudah pulang. Bagaimana apa kencan nya, menyenangkan?" Tanya Briana dengan nada sinis.


"Bri.. aku bisa jelaskan.."


"Menjelaskan jika kau tidak pergi ke kantor, Melainkan berkencan dengan mantan istri. Begitu?"


"Bukan begitu. Biar aku jelaskan dulu. Kasih aku kesempatan untuk menjelaskan."


"Oke. Silahkan."


" Lidia mengaku hamil anakku."


Briana menatap Zionathan, dengan tatapan membunuh.


"Aku bersumpah tidak pernah melakukan nya dengan Lidia. Aku sudah mengajukan tes DNA. Tapi kata dokter akan sangat rentan jika melakukan tes DNA saat ini. Usia kehamilan nya masih sangat muda." Terang Zionathan.


"Jadi.. Kau memilih menemani nya daripada aku?" Ketus Briana.


"Bukan begitu.. Dia.. Dia..."


"Cukup Zi. Aku sudah tidak mau lagi mendengar alasan mu. Jika memang dia hamil anak mu. Kau nikahi saja dia, agar kau tak perlu lagi bermesraan di tempat umum." Ucap Briana kemudian berjalan keluar kamar.


"Briana.. tunggu.."


Brak !!


Briana membanting pintu. Zionathan mengacak kasar rambutnya.


...


"Sayang.." Panggil Briana saat melodi tengah menonton film bersama anak anak.


"Mama akan kembali ke XXX."


"Kenapa ma?"


"Ingatan Zionathan sudah sepenuhnya kembali. Jadi mama pikir, kau bisa mengurusnya sekarang. Papa merindukan mama."


"Papa yang rindu, atau mama?" Goda Briana.


"Hais..., kau ini sama saja seperti Zionathan. Mengoda mama."


"Haahaha... Hmmm, jadi sepi rumah ini. Setelah Cika dan Cila pergi, sekarang mama." Ucap Briana sedih.


"Ah sayang.." Elena memeluk Briana.


"Hei.. Kenapa kau menangis, apa kalian bertengkar" Tanya Elena, sambil mengusap air mata Briana.


"Tidak ma. Aku hanya sedih mama akan pergi."


"Oh sayang. Mama janji akan sering mengunjungi mu."


"Kenapa mama dan papa tidak tinggal disini saja. Mansion ini sangat besar. Penghuni nya banyak para pelayan".


"Mansion ini hasil jerih payah Zionathan sendiri. Saat dulu Lidia meninggalkannya. Zionathan bertekad akan mencari jalan nya sendiri. Membangun istana nya sendiri. Dan sekarang, semua nya sudah Zionathan raih. Rumah yang besar, perusahaan yang berjaya. Ditambah dia mendapatkan istri seperti mu. Lengkap sudah kebahagiaan Zionathan." Ucap Elena tersenyum.


..


Beberapa hari kemudian, Elena yang sudah kembali ke kota XXX, membuat Briana merasa hampa.


Ditambah dia masih belum bisa memaafkan Zionathan.


"Sayang.. Maafkan aku. Seharusnya aku memberitahu mu dari awal. Maafkan aku." Zionathan memeluk Briana.


Briana tak bergeming.


"Beberapa hari ini kau selalu menghindariku. Aku mohon, jangan lakukan itu lagi. Aku..aku..aku sungguh minta maaf."


Tes..


Briana menangis. Entah apa yang harus dia lakukan.


Bagaimana jika ternyata Lidia memang hamil anak Zionathan.


Haruskan dia berbagi cinta dengan mantan istri dari suami nya.


"Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahui dengan pasti siapa ayah dari anak yang ada di dalam rahim lidia."


"Tunggu 2-3 bulan lagi. Aku akan segera melakukan tes DNA." Ucap Zionathan.


"Percayalah. Aku tidak pernah menyentuhnya. Maafkan aku Briana, maafkan aku."


Mom, apa yang harus aku lakukan?, haruskan aku percaya pada Zionathan?. Seandainya kau ada disini, pasti kau bisa memberitahu apa yang harus aku lakukan. Batin Briana menangis


...----------------...


"Bagaimana, kau sudah menemukan segala informasi tentang dia?" Ucap seorang laki laki pada bawahan nya.


"Sudah tuan. Semua informasi tentang wanita itu, ada di sini." Menyerahkan sebuah dokumen.


" adi benar... Dia lah wanita yang aku cari selama ini?" Gumam laki laki tadi.


"Kau. Kerahkan semua anak buahmu untuk mencari, dan mengawasi wanita ini."


"Baik tuan"


"Briana. Jadi kau Briana yang aku cari selama ini."

__ADS_1


...Ups... siapa yaa.....


Kediaman Zionathan ...


"Selamat pagi sayang."


Zionathan mengawali pagi dengan memberikan ciuman kepada Briana.


Selamat pagi." Briana memaksakan senyum. Walau hatinya enggan.


"Aku sudah bawakan makanan untuk mu makan." Ucap Zionathan .


"Tapi bagaimana dengan anak anak?"


"Anak anak sudah di urus para pelayan. Sebentar lagi mereka akan siap."


"Aku akan melihat mereka dulu." Ucap Briana.


"Tidak sebelum kau habiskan makanan dan susu yang ku bawa."


"Hmm, baiklah. Terima kasih."


Briana mulai menghabiskan makanan dan segelas susu yang di bawa Zionathan. Setelah habis, dia segera beranjak dan pergi menemui anak anak.


"Momy..." Anak anak berhamburan memeluk Briana.


"Hai sayang.. Apa kalian sudah siap berangkat?, maaf ya momy bangun kesiangan."


"Tidak apa apa mom. Dady bilang momy sedang sakit, karena semalam momy terus ada di kamar." Ucap Elo. Briana melirik ke arah Zionathan.


"Apa sekarang momy baik baik saja?" Tanya Ethan.


"Tentu saja momy sudah merasa jauh lebih baik, karena pelukan dari kalian."


Mereka kembali berpelukan.


"Sudah, sana berangkat. Nanti kalian terlambat." Perintah Briana.


"Bye mom. Jaga kesehatan, jangan sakit lagi. Nanti Elo sedih."


"Ah sayang. Momy baik baik saja. Hanya momy merasa lelah."


"Baiklah. Kami berangkat mom."


Briana menatap kepergian anak anaknya.


Lalu sebuah tangan memeluknya dari belakang.


"Zionathan, kau tidak pergi ke kantor."


"Tidak. Aku akan disini bersama mu. Menemani mu."


"Tapi..."


"Sttt.... Ini perintah."


"Hai boy. Apa kau baik baik saja disana?, maafkan dady yang telah melukai hati momy kalian."


Cup.


Zionathan berbalik dan mencium serta mengelus perut buncit Briana.


Seharian Zionathan menemani Briana, membuat Briana melupakan apa yang terjadi di antara mereka.


"Ya. Aku janji. Terima kasih karena sudah mau memaafkan aku." Zionathan mencium kening Briana.


"Zi. Bagaimana jika ternyata Lidia benar benar hamil anakmu"


"Itu tidak mungkin. Karena aku tidak pernah menyentuhnya."


"Bagaimana jika benar anakmu."


"Entahlah. Menurut mu bagaimana?" Zionathan bertanya balik.


"Tentu saja kau harus menikahi nya."


"Jangan aneh aneh deh. Tidak mungkin aku menikahi nya."


"Tapi..."


"Sayang.. Ini adalah hari kita. Bisakah kita tidak membahas tentang wanita itu. Aku mohon."


"Baiklah. Aku minta maaf."


Briana mencium Zionathan.


Zionathan mempererat pelukannya.


Bagaimana jika yang dikatakan Briana benar?. Bagaimana jika ternyata anak Lidia adalah anak ku?. Haruskah aku menikahinya?, tidak, tidak. Aku tidak akan menyakiti hati Briana . Batin Zionathan.


...****************...


Siang hari berikutnya....


"Nona, dimana tuan muda." Ucap Pohan mengejutkan Briana yang tengah membuat cemilan untuk anak anak.


"PoHan, kau mengagetkan ku."


"Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkan anda."


"Ada apa kau kesini Han?" Ucap Zionathan yang datang dari arah lain.


" lMaafkan saya tuan. Tapi anda ada jadwal pertemuan dengan klien dari perusahaan xx. Ini mengenai kelanjutan kerjasama kita."


"Astaga. Bagaimana aku bisa lupa. Han, apa tidak bisa diundur besok atau lusa."


"Maaf tuan tidak bisa. Kerja sama ini sangat berpengaruh besar bagi perusahaan, terutama untuk jangka waktu ke depan."


"Pergilah sayang.." Ucap Briana yang mengetahui kebimbangan Zionathan.


"Tapi aku...."


Briana mendekati Zionathan, Han menunduk. Seakan tahu apa yang akan terjadi berikutnya.


"Tidak apa apa. Kerja kerasmu untuk masa depan anak anak. Jadi pergilah. Dan lekas kembali, aku menunggumu. Oke."


Seperti dugaan Han. Briana mencium Zionathan. Dan mereka saling bercvmbv sekarang.


"Maaf boy. Dady harus pergi. Tapi dady janji akan segera kembali dan membawakan makanan kesukaan kalian." Ucap Zionathan sambil mencium perut Briana.


Zionathan dan han pun segera berangkat, karena pertemuan penting itu, akan di gelar dua puluh menit lagi.


Setelah selesai melakukan pertemuan, dan hasilnya seperti yang di harapkan. Zionathan menyuruh Han untuk kembali ke kantor. Sementara Zionathan akan langsung pulang.

__ADS_1


"Bagaimana jika saya mengantar anda terlebih dahulu. Lalu kembali ke kantor." Tawar Han.


"Tidak perlu Han. Aku akan naik taxi. Lagi pula aku sudah janji pada Briana, akan membawakan makanan kesukaan nya."


"Baiklah. Kalau begitu hati hati."


Bersamaan dengan pergi nya mobil Han, tiba tiba hujan turun. Dan saat Zionathan menunggu taxi. Sebuah mobil berhenti didepan nya.


"Hei masuklah."


"Lidia?"


"Ayo sebelum hujan semakin deras."


Tidak ada pilihan lain, Zionathan masuk ke dalam mobil.


" Tumben tidak bawa mobil. Kau mau dari mana dan mau kemana?" Tanya Lidia.


"Aku selesai meeting dan hendak ke restoran xx."


"Kenapa tidak di antar Han?"


"Aku menyuruhnya kembali ke kantor."


"Kau mau ku antar ke restoran xx?"


"Kau tidak keberatan?"


"Tentu saja tidak. Bayi kita pasti akan senang dapat bersama dengan ayahnya." Ucap Lidia. Zionathan terdiam.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di restoran. Saat mereka hendak berjalan untuk memesan makanan. Seorang pelayan tidak sengaja menumpahkan sup panas ke arah Lidia.


"Aw.. panas. Kau tidak punya mata ya.." Ketus Lidia.


"Ma..maafkan aku nyonya. Ak..aku tidak sengaja."


"Aw.. ini sangat panas. Kau mau membunuhku?" Lidia memegang paha nya yang tersiram kuah sup.


"Sungguh saya tidak sengaja nyonya."


"Lidia sudah. Lihat kita jadi tontonan. Sebaiknya kita pergi dari sini."


Zionathan membopong tubuh Lidia, dan berjalan menuju mobil.


"Duduklah. Biar aku yang menyetir." Ucap Zionathan.


"Terima kasih."


Zionathan segera melajukan mobil menuju apartemen Lidia. Tak lupa ia juga membeli obat di apotik.


Sesampainya di apartemen...


"Aw.. sssttt.. Ini semakin sakit. Aku tidak kuat berjalan." Ucap Lidia.


"Ayo ku bantu."


"Langsung ke kamar saja Zi." Ucap Lidia, saat Zionathan akan mendudukkannya di sofa.


"Hmmm, baiklah."


Zionathan kemudian membawa Lidia dan membaringkan nya di atas kasur.


"Terima kasih."


"Sama sama. Oh ya, aku belikan obat. oleskan pada kaki mu yang merah. Ini akan mencegah agar tidak semakin parah."


"Bisa tolong bantu oleskan."


"Aku harus pulang." Ucap Zionathan.


"Diluar masih hujan lebat. Tinggal lah sebentar di sini. Kau bisa pesan taxi nanti."


"Baiklah."


Lidia berjalan tertatih menuju kamar mandi dan keluar dengan mengenakan gaun transparan.


"Zionathan. Bisa bantu aku mengoleskan obat ini?, aku sungguh tidak bisa melihat luka nya" Ucap Lidia.


"Itu hanya merah, bukan luka."


Zionathan mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia tak ingin tergoda dengan penampilan Lidia.


Bagaimana pun juga Zionathan adalah pria normal. Yang punya gairah tinggi.


"Ayolah, aku mohon.."


Dengan terpaksa, Zionathan membantu Lidia mengoleskan obat pada bercak merah di paha nya.


"Baju mu basah. sebaiknya ganti lah pakaian mu dulu. Kau bisa sakit nanti. Aku punya beberapa pakaian laki laki di lemari ku. Kau bisa menggunakan nya lebih dulu."


"Baiklah, terima kasih."


Zionathan segera masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian. Saat dia kembali, lidia sudah meninggalkan gaun nya, dan hanya memakai pakaian dalam.


Lidia berjalan ke arah Zionathan.


"Kenapa kau berpakaian seperti itu?"


"AC nya mati. Jadi aku kepanasan." Ucap Lidia.


Lidia yang terus mendekati Zionathan, dan menggoda nya. Membuat jiwa lekaki Zionathan meronta ronta.


Dia menikmati sentuhan demi sentuhan Lidia. Hingga saat Lidia tau jika Zionathan sudah masuk ke dalam buaian nya.


Lidia langsung mendorong Zionathan, hingga terjatuh di sofa.


Lidia mulai menikmati junior Zionathan, yang sudah terbangun sempurna.


"Lidia. Stop."


Zionathan berdiri, hendak keluar kamar. Namun justru Lidia menarik tangan Zionathan. Dan memaksa nya menyentuh bukit indah miliknya..


Zionathan tak dapat lagi menahan gairahnya. Dia terbuai dengan Lidia yang begitu agresif. Hingga mereka melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan.


Hari itu, dengan hujan sebagai saksi. Lidia berhasil menaklukan Zionathan.


Kedua nya melakukan nya dengan sadar dan penuh gairah. Permainan Lidia, benar benar membuat Zionathan lupa bahwa dia sudah menjadi milik Briana .


...----------------...


...----------------...


Catatan dari Mak phi-khun : Sesuai judulnya yaa.. CINTA DAN KEBODOHAN.

__ADS_1


Jadi, jangan marah kalau peran prianya bodoh.. 😊😊😊


__ADS_2