CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA DAN KEBODOHAN
Mall..


__ADS_3

Zionathan yang merasa di pukul seseorang, langsung berbalik badan.


"Mama. Kenapa memukul Zionathan, sih?!"


"Mama kira kamu maling. Lagian kamu sih, jam segini bukan nya tidur. Malah berisik di dapur." Ucap Elena.


"Aku lapar ma."


"Tumben."


"Gak tau, tiba tiba aja lapar."


"Ya sudah kalau gitu. Mama mau lanjut tidur. Gak jadi ada maling."


"Mama aneh. Masak mansion sebesar ini bisa ada maling."


" Ya kalik aja malingnya kepepet gitu."


"Mana ada maling kepepet. Mama ada ada aja." Ketus Zionathan.


"Kamu tuh, kenapa gak telepon pelayan aja buat masakin kamu."


"Males. Udah mama pergi sana."


"Eh anak laqnat, kau usir mama?" Teriak Elena.


"Aduh ma. Udah malem, gak usah pakek teriak kenapa." Ketus Zionathan.


"Ohya mama lupa. Ya udah mama balik tidur." Ucap Elena sambil berlalu.


"Ohya Zionathan." Elena kembali menghampiri Zionathan.


"Aduh mama, apa lagi sih. Baru mau menikmati telur ala chef Zionathan."


" Pffftt... Telur ala chef. Telur gosong gitu di bilang telur chef."


"Mama.!!!"


"Iya iya, maaf."


"Mama kenapa balik lagi?!."


" Itu. Mama mau kembali ke xxx. Kasihan papa mu."


"Kasihan papa, atau kasihan mama sendiri?." Ucap Zionathan sambil terus menikmati telur dan roti selai.


"Loh. Kok jadi mama sih?"


"Ya kali aja, mama disini kesepian. Gak ada yang ngelus ngelus." goda Zionathan


"Dasar anak durjana kamu ya."


Elena berdiri dan meninggalkan Zionathan.


"Hei ma. Zionathan belum selesai bicara. Ma.. Mama.."


Elena tak menghiraukan panggilan Zionathan. Dia terus berjalan hingga tidak terlihat lagi.


"Udah tua, masih bisa ngambek rupa nya."


Keesokan hari nya...


"Bye mom.. Kami akan merindukan momy. I love you mom." Teriak anak anak.


"Ya ya ya, momy juga akan merindukan kalian.." Ucap Briana melambaikan tangan pada anak anak.


"Mereka melakukan nya lagi." Ucap Zionathan yang sudah siap pergi ke kantor.


" Ha?, apa?. Ohya, hampir setiap hari mereka berteriak begitu. Membuat pagi ku jadi lebih indah." Ucap Briana yang membenarkan dasi Zionathan.


"Sayang aku ke kantor dulu yaa." Zionathan mencium kening Briana.


"Iya, hati hati sayang.."


"Jaga dirimu dan bayi kita baik baik."


"Tentu saja."


" Emm, Zi.." Panggil Briana .


"Ya sayang."


"Bolehkah jika aku jalan jalan dengan Lala. Aku bosan di rumah. Boleh ya.. aku mohon..." Briana dengan mata merayu.


"Briana ..."


"Aku mohon aku mohon..." Puppy eyes.


"Baiklah. Janji tidak boleh sampai lelah."


"Siap bos."


"Hanya itu.?" Cibir Zionathan.


"Lalu?"


"Apa tidak ada hadiah, setelah aku mengijinkan mu untuk pergi bersama dengan Lala?" Ucap Zionathan.


Cup.


Tanpa aba aba, Briana langsung mencium bibir Zionathan.


"Terima kasih sayang. Aku mencintai mu." Bisik Briana.


"Me too.., sebaiknya aku segera berangkat. Sebelum terjadi sesuatu." Kekeh Zionathan.


Briana melambaikan tangan ke arah mobil Zionathan yang perlahan mulai berjalan menjauh.


"Anak anak tidak ada, Briana sudah pergi. Saat nya menelpon Lala." Ucap Briana.


Setelah memastikan bahwa Lala ada waktu untuk bersama dengan Briana. Briana masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.


" Sayang.., kau mau kemana?" Tanya Elena saat melihat Briana berpakaian rapi dan membawa tas.


"Mama mengagetkan ku saja. Aku akan jalan jalan bersama Lala."

__ADS_1


"Jalan jalan?, tapi kondisi kamu, bagaimana jika terjadi sesuatu pada mu dan bayi mu?." Elena merasa cemas.


"Mama tenang saja. Aku akan baik baik saja. Zionathan juga sudah mengijinkan aku pergi."


"Kau yakin?"


"Ya ma. Aku janji tidak akan terjadi hal buruk."


"Baiklah. Hati hati ya. Ingat jangan terlalu lelah."


"Terima kasih ma."


Briana mencium pipi Elena dan langsung keluar rumah karena Lala sudah menunggu dengan mobil nya didepan pintu.


"Hai.., waow lihat perutmu." Ucap Lala saat Briana masuk dan duduk di samping Lala.


"Kenapa?"


" Sangat besar. Kau yakin isi nya hanya satu?" Tanya Lala.


"Tidak. Isi nya dua."


"Apa?, benarkah??."


"Kembar laki laki."


"Astaga. Zionathan sungguh luar biasa."


"Apa kita hanya akan mengobrol di sini. Atau pergi jalan jalan." Ketus Briana.


"Haha, maaf maaf. Aku sampai lupa jika kita akan pergi jalan jalan." Kekeh Lala.


Lala pun segera melajukan mobilnya menuju salah satu pusat pembelanjaan terbesar di kota.


"Jadi kapan, kau dan Pohan akan menikah."


"Mungkin satu atau dua tahun lagi." Ucap Lala sambil tetap fokus menatap jalanan yang cukup ramai.


"Ya ampun Lala. Itu akan sangat lama. Bagimana jika Pohan berpaling."


"Itu tidak mungkin."


Lala mengangkat tangan nya, dan menunjukan cincin yang melingkar di jari nya.


"Apa ini. Kau dan Pohan. Sudah resmi bertunangan, kenapa tidak mengundangku." Briana cemberut.


"Kami bertunangan saat Zionathan sedang koma. Kami tidak sampai hati memberitahu mu. Jadi kami pikir akan memberitahu mu saat Zionathan sadar. Tapi Zionathan malah hilang ingatan. hehe."


Percakapan mereka pun terhenti, karena mobil sudah sampai di area plaza.


"Ingat. Jika lelah. Segera beri tahu aku. Kita akan langsung pulang." Ucap Lala.


"Iya iya. Kenapa tiba tiba kau jadi bawel sih." Ketus Briana.


"Lihat ini."


Lala menunjukan isi pesan Pohan yang membuat Briana terkekeh.


"Hahaha, ini pasti ulah Zionathan. Ya sudah ayo."


"Baru pertama kali aku masuk kesini." Ucap Briana.


"Benarkah?, ini adalah yang terbesar di kota ini."


"Kalau begitu, ayo kita keliling." Ucap Briana antusias.


"Kau ingin naik kereta itu?, jadi kita bisa berkeliling tanpa berjalan kaki. Dan tidak akan lelah." Ucap Lala sambil menunjuk sebuah kereta yang memang di sewa kan, untuk memudahkan para pengunjung berkeliling.


"Ide bagus. Ayo"


Mereka pun menaiki kereta, dan mulai berkeliling.


Tak lama kemudian mereka berhenti di sebuah toko pakaian anak anak.


"Ayo bantu aku memilih baju untuk anak anak." Ucap Briana.


"Dengan senang hati."


Saat hendak memasuki toko, Briana tak sengaja melihat sosok mirip Zionathan.


" Emm, Lala Kau masuk saja dulu. Aku akan ke toilet. Kebetulan toiletnya di belakang toko ini. Lihatlah."


Briana menunjukan papan tanda toilet kepada Lala.


"Baiklah. Hati hati dan segera kembali." Ucap Lala, kemudian masuk ke dalam toko.


Setelah memastikan Lala sibuk memilih baju. Briana berjalan. Bukan menuju toilet, melainkan mengikuti laki laki yang di duga Zionathan, yang sedang bersama seorang wanita.


Laki laki yang mirip Zionathan berhenti di sebuah toko tas wanita.


Saat Briana akan mendatangi mereka tiba tiba seseorang mengejutkan Briana.


"Hei.. Briana.."


"Briana." Sapa seorang laki laki.


" Ck.., aku kehilangan dia." Lirih Briana kesal sebelum kemudian menoleh melihat siapa yang memanggilnya.


"Kamu..??"


Briana terkejut, saat mengetahui, bahwa yang memanggil nya ada pria yang menolongnya waktu itu. Ryan.


"Aku mencari mu, kebetulan kita bertemu di sini." Ucap Ryan.


"Ohya. Untuk apa mencari ku." Ucap Briana, sambil terus memantau sekitar. Berharap orang yang mirip Zionathan akan muncul lagi.


"Apa aku menganggu mu, kau seperti sedang mencari seseorang." Ucap Ryan.


"Ah tidak tidak. Aku hanya..."


"Briana ...." Teriak Lala, yang terlihat berlari ke arah Briana.


"Kau disini rupa nya. Aku mencari mu kemana mana. Ke toilet kok lama." Omel Lala.


"Maaf, hehe."

__ADS_1


"Siapa dia?" Tanya Lala menatap Ryan.


"Dia Ryan, orang yang membantuku mendobrak pintu, dimana anak anak di sekap."


"Oo ya ya. Salam kenal. Aku Lala."


"Ryan."


"Kalau begitu, kami permisi ya Ryan. Bye." Ucap Briana.


"Bye."


Padahal aku belum sempat mengobrol dengan nya." lirih Ryan, menatap kepergian Briana.


"Kau darimana saja sih. Membuatku khawatir." Ketus Lala.


"Tadi aku.. tadi aku tidak sengaja melihat seseorang mirip Zionathan. Jadi aku membuntuti nya. Lalu Ryan datang, membuatku kehilangan dia." Ucap Briana lesu.


"Tidak mungkin Zionathan ada disini. Lagi pula ini kan tempat umum. Bisa saja banyak orang yang mirip dengan nya."


"Ya.. Kau benar."


Di toko tas yang juga masih satu mall dimana Briana berada...


"Jadi bagus yang mana?, ini atau ini?" Lidia menunjukan dua tas merk terkenal.


"Ayolah. Kau mengajakku hanya untuk bertanya hal tidak penting seperti ini?" Ucap Zionathan kesal.


"Ini sangat penting. Aku akan menghadiri acara pembukaan butik ternama. Dimana aku lah model nya. Jadi, aku harus tampil sempurna."


"Terserah kau saja. Aku pergi."


"Hei.. kau mau kemana?" Teriak Lidia.


Zionathan keluar dari toko. Lidia berlari mengejar Zionathan.


"Zionathan.. tunggu." Teriak Lidia.


"Ah.." linda terjatuh.


"Ck. Sial." Zionathan berbalik.


"Ayo cepatlah."


Zionathan membantu Lidia berdiri. Lidia tersenyum smirk.


"Ah, kaki ku sakit. Aku tidak bisa berjalan. Dan perutku mendadak kram."


Mau tak mau, Zionathan menggendong Lidia. Mereka berjalan menuju lift.


Ting..


Lift terbuka. Sepi. Zionathan dan Lidia masuk, dan Zionathan menekan tombol menuju basement.


Briana dan Lala yang baru saja selesai belanja. Langsung berjalan turun dengan eskalator.


"Bagaimana, apa kau ingin mencari yang lain lagi?" Tanya Lala saat mereka sudah membeli pakaian untuk anak anak.


"Aku lapar." Ucap Briana


"Kalau begitu ayo kita ke restoran. Kau ingin makan apa?" Tanya Lalq.


"Aku ingin steak. Tapi yang ada direstoran XXX" Ucap Briana.


"Ya sudah kita kesana."


"Tapi, apa kau tidak keberatan."


"Haiss.., tentu saja tidak. Ayo kita turun dengan lift saja."


Mereka yang tadi nya berniat menelusuri bagian lain dari plaza ini. Kemudian langsung berjalan menuju lift.


"Lift nya terbuka, ayo Lala." Briana menarik tangan Lala.


"Hei pelan pelan. Kau ini seperti tidak sedang hamil saja." Keluh Lala.


"Hehe, maaf. Bayangan steak itu membuatku bersemangat."


Saat hendak memasuki lift. Betapa terkejutnya Briana sekaligus Lala melihat pemandangan di dalam lift.


"Briana..." Ucap Zionathan syok.


Zionathan yang masih dalam posisi mengendong Lidia, membuat Briana terbakar amarah. Selera makan nya tiba tiba lenyap.


"Briana, tunggu.. Aku bisa jelas..."


Tring.


Briana langsung menekan tombol agar pintu lift segera menutup. Membuat Zionathan tidak bisa meneruskan kata kata nya.


" La, kita pakai lift satu nya."


"Briana, kau baik baik saja."


"Tentu."


Di dalam mobil..


"Briana .. Kau baik baik saja." Tanya Lala dengan sangat hati hari.


"Tentu saja." Briana melihat Lala sekilas lalu tersenyum.


"Kita jadi ke restoran XXX kan?" Ucap Lala.


"Aku ingin pulang, aku merasa lelah. Kau tidak keberatan kan jika kita pergi lain kali." Ucap Briana.


"Ha.. apa. Tentu saja tidak. Jadi kita pulang?"


"Ya."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2