CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Curhat


__ADS_3

Sementara itu di kelab malam...


Pesta perayaan atas keberhasilan Iko dan teman-temannya masih berlangsung. Tampak mereka yang bergembira sambil minum-minuman di kelab malam. Deru suara musik terdengar menggema ke seluruh sudut ruangan. Deni pun mengajak Ifdan untuk menari bersama seorang striptis. Sontak Ifan menolaknya. Ia belum terbiasa dengan itu semua.


"Ayolah, kita ikut menari bersama mereka. Jangan diam saja," ajak Deni sambil memegang gelas birnya.


"Maaf, aku minum saja. Aku belum terbiasa." Ifdan pun menolaknya.


"Huh, payah! Percuma punya uang banyak tapi tidak dimanfaatkan!" gerutu Deni ke Ifdan.


Ifdan pun tidak memedulikan perkataan Deni. Ia terus saja minum sambil menikmati setiap tetes dari wine miliknya. Ifdan hanya ingin minum di sana.


Lampu berwarna-warni terlihat berputar-putar di sekeliling ruangan. Suara musik juga semakin lama semakin terdengar besar. Tampak Iko yang sedari tadi hanya diam. Ia juga hanya meminum beberapa tegukan. Sepertinya Iko sangat kelelahan. Ia duduk bersama Afgan di salah satu sudut ruangan.


"Hei, kau diam saja. Apakah malam pertamamu sangat melelahkan?" tanya Afgan yang tampak memegang gelas wisky-nya.

__ADS_1


Iko telah menikah. Baru kemarin ia melangsungkan pernikahannya di gereja. Tak banyak sanak-saudara yang diundang. Hanya kerabat terdekat saja. Dan kini statusnya sudah tidak lagi melajang. Iko resmi mempersunting Nana.


"Entahlah. Aku merasa setelah menikah bawaannya malah tidak ingin berada di rumah," tutur Iko kepada Afgan.


"Maksudmu?" tanya Afgan lagi.


"Hm, ya ... aku ingin terus bekerja saja. Aku ingin menabung untuk masa depan yang lebih cerah. Tidak hanya bagiku dan Nana, tapi juga bagi anak-anakku kelak nantinya." Iko mengungkapkan isi pikirannya.


Afgan mengerti. "Lusa kita akan menjalankan misi lagi. Kau jangan khawatir." Afgan menerangkan.


"Hei, kalian sedang membicarakan apa?" tanya Ifdan yang datang. Ia meninggalkan Deni yang semakin menggila di kelab malam.


"Masa depan. Tak ada yang lain. Bagaimana dengan kekasihmu sendiri? Apakah dia sudah memberikan kabar?" tanya Iko kepada Ifdan.


Ifdan tampak menaruh gelas minumannya ke atas meja. "Entahlah, mungkin dia sedang dalam perjalanan," jawab Ifdan.

__ADS_1


"LDR itu memang tidak enak ya. Untung saja aku masih sendiri. Jadi tidak perlu repot-repot seperti kalian." Afgan menimpali.


"Hah, kau ini!"


Ifdan pun memukul-mukul Afgan karena kesal. Temannya itu tampak mengejeknya malam ini. Iko pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah keduanya. Karena bagaimanapun mereka adalah keluarga yang membesarkannya. Mereka saling percaya dan juga setia.


Esok harinya...


"Berani-beraninya kalian mencuri barang daganganku!"


Di salah satu pasar tradisional tampak sedang terjadi keributan karena ada dua anak kecil yang mencuri sayur-sayuran milik pedagang. Pedagang sayur itupun melempari dua anak kecil tersebut dengan sisa tomat yang busuk. Sontak kejadian itu menarik perhatian Odi, Hans, dan Bram yang juga ada di sana.


"Ada apa ini?" tanya Bram kepada pedagang sayur itu.


"Ini mereka mencuri barang daganganku, Tuan," ucap pedagang sayur itu kepada Bram.

__ADS_1


__ADS_2