
Malam harinya...
Pria berkemeja hitam itu datang membawa sekuntum bunga untuk seorang wanita yang tinggal di salah satu apartemen ibu kota. Yang mana semalam telah menghabiskan waktu bersamanya. Namun, karena pagi-pagi harus bekerja, ia pun meninggalkan wanita itu. Dan kini ia kembali untuk bertemu. Ialah Naga yang datang ke apartemen Nana.
Naga berdandan tampan dan elegan malam ini. Ia juga telah menyiapkan kado istimewa untuk Nana. Namun sayang, setelah memencet bel apartemen beberapa kali, tidak ada juga yang membukakan pintu untuknya. Hingga akhirnya Naga mencoba menelepon Nana.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Begitulah kata operator saat Naga berulang kali menelepon Nana. Ternyata nomor Nana sudah tidak aktif lagi. Padahal Naga amat berharap bisa bertemu Nana malam ini.
"Ke mana dia? Kenapa nomornya tidak aktif?"
Naga merasa cemas karena pintu apartemen terkunci dan tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Ia pun mencoba menunggu di sana. Hingga akhirnya ada seorang bell boy apartemen yang lewat mengantarkan makanan.
"Maaf, Tuan. Anda mencari siapa?" tanya bell boy itu.
__ADS_1
Naga tampak ragu mengatakannya. "Wanita yang tinggal di apartemen ini ke mana ya? Sedari tadi kupencet belnya tidak ada yang membukakan pintu." Naga penasaran.
"Oh, maksud Anda nona Nana, Tuan?" tanya bell boy itu.
"Iya. Benar." Naga mengiyakan.
"Oh, mungkin saja nona Nana sedang menjemput suaminya. Biasanya dia seperti itu," ucap sang bell boy.
"Apa?!! Suami?!!"
"Suami? Jadi dia telah bersuami?" tanya Naga lagi.
"Iya, Tuan. Mereka baru saja menikah sekitar dua atau tiga bulan yang lalu. Saya kurang tahu persisnya. Tapi mereka memang sudah menikah," jawab bell boy tersebut.
Astaga ... kesalahan apa yang telah kuperbuat?
__ADS_1
Naga pun tak menyangka dengan apa yang didengarnya malam ini. Hatinya pecah berkeping-keping dan tak berbentuk lagi. Ternyata Nana sudah bersuami.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan." Sang bell boy pun berpamitan.
Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Mungkin pepatah itulah yang tepat untuk menggambarkan perasaan Naga malam ini. Setelah apa yang terjadi semalam, ternyata ia harus menerima kepahitan. Karena ternyata wanita yang disukainya telah bersuami. Naga pun tak percaya menjadi-jadi.
Naga frustrasi. Ia kemudian membuang sekuntum bunga yang dibawanya. Sebuah kado spesial itu juga tak jadi ia berikan kepada Nana. Naga pulang dengan kehampaan dan kehancuran hatinya. Ia merasa terluka dengan kenyataan yang harus diterimanya. Padahal di hatinya telah dipenuhi oleh nama Nana. Naga mengaku jika ia jatuh hati. Tapi kini hatinya hancur tak bersisa lagi.
Satu jam kemudian...
Pria berjaket kuning itu pulang dengan raut wajah yang lelah sehabis melakukan perpisahan dengan teman-teman hackernya. Ialah Iko yang kembali ke apartemennya. Ia pulang dengan membawa kabar gembira. Tapi saat menekan bel apartemen, saat itu juga hatinya mulai gelisah. Tidak ada yang membukakan pintu untuknya.
"Nana ke mana?"
Lantas Iko pun mencoba untuk mengubungi istrinya. Satu, dua, tiga kali panggilan ia coba. Namun, tetap saja tidak tersambung pada istrinya. Iko pun mulai gelisah. Pikirannya ke mana-mana. Ia khawatir terjadi sesuatu kepada istrinya.
__ADS_1