CINTA DAN KRIMINAL

CINTA DAN KRIMINAL
Pertemuan Dua Sahabat


__ADS_3

Iko dan Hans menuju ke tempat di mana Hanzi dibawa oleh bodyguard-bodyguard-nya. Yang mana ternyata pimpinan dewan perwakilan itu menuju ke ruang bawah tanah yang ada di sana. Mereka mengambil jalur aman agar tidak terdeteksi oleh lawan. Karena bagaimanapun Hanzi sudah tahu jika akan menjadi target sasaran. Ia akhirnya menyiapkan diri setelah menandatangani perjanjian bersama Oda. Ia tahu akan menjadi incaran kubu yang berlawanan.


Sementara itu Hans terus menoleh ke belakang sambil memegang senjata laras panjangnya. Ia melindungi Iko dari bahaya tak terduga. Sedang Iko terus berjalan ke depan sesuai instruksi yang Deni arahkan. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan.


"Kita ke dalam."


Pintu didobrak, senjata ditodongkan. Tapi di saat yang bersamaan terdengar kereta yang bergerak di bawah tanah. Iko dan Hans pun segera menyusulnya. Mereka meyakini Hanzi ada di sana.


.........


"Semua sudah masuk!"


"Baik. Kita berangkat!"

__ADS_1


Ifdan pun mulai mengambil alih kemudi mobil. Sementara Dino dan Deni tetap berada di depan layar komputer. Mereka akan terus mengawasi Iko dan Hans yang mengejar Hanzi.


"Banyak sekali kartu kredit miliknya."


Dino pun melihat apa yang didapatkan Nana. Ia segera melakukan peretasan terhadap rekening Hanzi di saat itu juga. Sedang tim penyerang tampak membuka penutup kepala mereka. Mereka beristirahat sejenak dari misi yang baru dijalankan.


Di pintu masuk belakang gedung...


"Sudah lama kita tidak bertemu, Hara." Ternyata Bram tahu siapa yang berada di hadapannya.


Hara pun mengenali suara yang menyebut namanya. "Bram? Kaukah itu?" Hara pun menyadari siapa yang berada di hadapannya.


Bram melepas masker yang ia pakai. Tampaklah wajah Bram yang sudah berkepala tiga. Ia tampak tersenyum kepada Hara.

__ADS_1


"Apakah sekarang kau berpihak kepada para penjahat?" tanya Hara kepada Bram. Ia melihat Bram bak mata-mata yang menunggu di sana.


Suasana di lorong pintu masuk tampak sepi. Hanya ada Hara dan Bram di sana. Keduanya akhirnya bertemu lagi setelah belasan tahun terpisah. Tampak Hara yang tak menyangka dengan keadaan Bram saat ini.


"Kau tidak mengerti bagaimana penderitaan kami dan penderitaan rakyat di negeri ini, Hara. Kau hanya membela yang membayarmu saja. Bukankah hal itu lebih memalukan dari langkah yang kuambil sekarang?" Bram balik bertanya. Saat itu juga Hara terkejut seketika.


"Bram, jadi benar ...?" Hara tampak tak percaya menemui Bram yang sudah berlawanan dengannya.


Bram adalah teman sekaligus rekan Hara di akademik kepolisian. Tapi ia dikeluarkan dari akademik karena berani melawan atasannya yang bertindak membabi buta terhadap anak baru di sana. Bram pun kecewa dengan sikap atasannya. Dan kini ia memutuskan untuk melawan pihak kepolisian yang telah memberinya didikan latihan.


"Bram, aku memang bertindak berdasarkan uang.Tapi itu tidak selamanya benar. Aku juga mendapat perintah dari atasan," sanggah Hara.


"Baiklah, kalau begitu mari kita tunjukkan siapa yang benar," sahut Bram.

__ADS_1


__ADS_2